<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mind.donnyreza.net &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://mind.donnyreza.net/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mind.donnyreza.net</link>
	<description>Catatan, celoteh, curhat, caper</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 17:55:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Prosedur Memanusiakan Manusia</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/02012010/prosedurmanusia/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/02012010/prosedurmanusia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 18:22:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan masa kini, rasa-rasanya, semakin dibikin rumit dari waktu ke waktu. Karena dibikin rumit, manusia seperti kehilangan selera humor. Barangkali lebih parah, nuraninya mati. Gara-gara kentut, orang bisa dipenjara. Gara-gara memungut kakao yang jatuh, sebuah perusahaan menuntut seorang nenek ke pengadilan. Segalanya dibuat harus prosedural.
Lucunya, semakin prosedural suatu sistem, seringkali jadi bikin rumit. Acara open [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kehidupan masa kini, rasa-rasanya, semakin dibikin rumit dari waktu ke waktu. Karena dibikin rumit, manusia seperti kehilangan selera humor. Barangkali lebih parah, nuraninya mati. Gara-gara kentut, orang bisa dipenjara. Gara-gara memungut kakao yang jatuh, sebuah perusahaan menuntut seorang nenek ke pengadilan. Segalanya dibuat harus prosedural.</p>
<p>Lucunya, semakin prosedural suatu sistem, seringkali jadi bikin rumit. Acara<em> open house</em> presiden misalnya. Orang miskin mustahil bisa masuk apalagi bertemu sang presiden, karena untuk menghadiri acara semacam itu, seseorang harus berpenampilan sesuai prosedur. Harus memakai kemeja, harus memakai sepatu, dan lain-lain. Ironinya, presiden tersebut dipilih juga oleh mereka yang kesehariannya bersendal jepit dan berkaos oblong. Bayangkan, hal tersebut terjadi di sebuah negara yang memiliki falsafah &#8216;<em>Bhinneka Tunggal Ika</em>&#8216; dan sangat gemar meneriakkan demokrasi, toleransi, pluralisme, dan anti-diskriminasi. Lucu, bukan?!</p>
<p>Seorang yang menjadi korban kecelakaan, misalnya tertabrak mobil, tidak bisa langsung mendapatkan perawatan dari rumah sakit, meskipun sekarat, jika tidak ada orang lain yang bertanggung jawab dan menanggung biaya perawatan. Padahal, bisa jadi orang tersebut hidup seorang diri, atau keluarganya jauh. Mungkin perawat dan dokter ingin menolong, tapi prosedur melarang. Di sisi lain mereka pun belum tentu sanggup menanggung biaya sang korban. Prosedural, tapi amoral.</p>
<p>Lalu, bukankah cerita korupsi di negeri ini juga bermula karena segala sesuatunya harus prosedural?! Bukannya anti-prosedur, tapi sebuah prosedur semestinya tidak menghalangi seseorang untuk bersikap sebagai manusia. Atau barangkali lebih baik jika suatu prosedur dibuat untuk memanusiakan manusia. Misalnya, jika Anda sebagai seorang Lurah, Anda tidak layak menyalahkan seseorang yang tidak mau membuat KTP karena penghasilan orang tersebut setiap bulannya belum tentu mencukupi untuk kebutuhan makan sehari-hari, sementara proses pembuatan KTP di kelurahan yang Anda pimpin bisa mencapai harga setengah dari penghasilan orang tersebut. Justru tugas Anda lah -sebagai lurah- untuk membuatkan KTP bagi orang tersebut. Meskipun menyalahi prosedur.</p>
<p>Sebuah prosedur dibuat pada dasarnya untuk memudahkan, bukan menyulitkan. Agar suatu proses dilakukan secara bertahap, teratur serta &#8216;adil&#8217;. Akan tetapi, manusia sebagai unsur terpenting dari suatu proses yang dilakukan secara prosedural, seringkali dilupakan. Kondisi manusia yang berbeda-beda sering menjadi unsur penyebab suatu prosedur tidak berjalan sempurna. Sayangnya, penyusun prosedur, yang juga manusia, selalu melupakan hal ini.</p>
<p>Contoh sebuah prosedur yang baik, yang dapat kita temukan adalah prosedur shalat. Normalnya, shalat wajib dilakukan dengan berdiri. Akan tetapi, prosedur normal itu boleh dan malah dianjurkan untuk dilanggar jika seseorang dalam kondisi sakit, atau tidak mampu untuk melakukan shalat. Misalnya sambil duduk. Jika tidak mampu duduk, boleh berbaring. Anda juga boleh bertayammum dalam keadaan sakit atau dalam situasi tidak ada air sama sekali. Justru ketika seseorang tidak mampu, tapi memaksakan diri, maka orang tersebut wajib untuk diberi peringatan.</p>
<p>Prosedur semacam itu, terus terang saja, sulit ditemukan. Entah dengan sekarang, tapi bertahun-tahun lalu kita sering menemukan seorang anak yang berhenti sekolah gara-gara belum membayar uang bulanan sekolah. Itu terjadi di sekolah, lembaga yang bidang utamanya mengajar dan mendidik manusia. Maka, tidak mengherankan jika dari sekolah tersebut menghasilkan manusia-manusia yang &#8216;kejam&#8217;, tapi dibenarkan oleh prosedur.</p>
<p>Komputer dan robot adalah contoh benda-benda yang bisa melakukan segalanya sesuai prosedur, dan harus sesuai prosedur, karena keduanya diciptakan untuk itu. Maka, jika manusia dituntut harus selalu melakukan segalanya sesuai prosedur dan tidak boleh sedikitpun keluar dari prosedur tersebut, bukankah itu sebuah cara untuk menjadikan manusia sebagai benda?! Yakin, siapa pun tidak ingin hal tersebut terjadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/02012010/prosedurmanusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Halal, Label Halal dan Jaminan Halal</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/14092009/halal/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/14092009/halal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 14:46:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Propaganda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Masalah kehalalan harta dan makanan merupakan persoalan yang sangat penting bagi Umat Islam, tapi sering terlupakan atau sengaja diabaikan. Saking pentingnya, do&#8217;a seorang muslim yang sedikit saja terdapat makanan haram atau makanan yang dibeli dari harta haram dalam tubuhnya, terancam tidak akan dikabulkan oleh Allah SWT. Bahkan kehalalan suatu makanan, bagi seorang muslim, merupakan sesuatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masalah kehalalan harta dan makanan merupakan persoalan yang sangat penting bagi Umat Islam, tapi sering terlupakan atau sengaja diabaikan. Saking pentingnya, do&#8217;a seorang muslim yang sedikit saja terdapat makanan haram atau makanan yang dibeli dari harta haram dalam tubuhnya, terancam tidak akan dikabulkan oleh Allah SWT. Bahkan kehalalan suatu makanan, bagi seorang muslim, merupakan sesuatu yang wajib diperjuangkan karena menyangkut tetesan darah yang mengalir dalam dirinya, anak-istrinya, juga persoalan pertanggungjawaban kepada Allah SWT.</p>
<p>Terminologi &#8216;halal&#8217; dan &#8216;haram&#8217; memang lekat dengan Islam. Namun, pada dasarnya setiap agama memiliki kriteria halal dan haram-nya masing-masing. Dalam agama Yahudi dikenal kata &#8216;kosher&#8217;, mirip dengan halal, namun kriterianya berbeda. Seperti juga Umat Islam, orang-orang Yahudi juga cukup berhati-hati terkait makanan yang masuk ke perutnya. Konon, mereka lebih cerewet dibandingkan muslim dalam hal pelabelan &#8216;kosher&#8217; pada kemasan makanan yang diperjualbelikan.</p>
<p>Indonesia mayoritas penduduknya muslim, namun selama ini hampir tidak ada jaminan dari pemerintah bahwa pasar-pasar yang memasok makanan untuk mayoritas tersebut menyediakan makanan yang halal. Bisa dikatakan, makanan yang beredar di pasaran, mayoritas sebetulnya masuk dalam kategori syubhat, terutama daging-dagingan. Mengapa syubhat? karena memang meragukan, tidak ada jaminan bahwa makanan tersebut halal. Halal bahannya, halal cara penyembelihannya, halal cara mendapatkannya (bukan barang curian).</p>
<p>Lalu, apa yang menyebabkan kita masih membeli makanan-makanan tersebut? Kepercayaan. Kita percaya bahwa makanan tersebut tidak mengandung unsur haram, kita percaya bahwa makanan tersebut diproses dengan cara yang halal, kita percaya bahwa makanan tersebut didapatkan dengan cara yang halal. Oleh sebab itu, setiap pedagang atau pengusaha mestinya merasa malu apabila dalam dagangannya terdapat unsur-unsur yang haram dijual, apalagi dengan sengaja melakukannya hanya untuk mendapatkan keuntungan.</p>
<p>Saya tidak sependapat dengan mereka yang mengatakan bahwa masalah halal-haram tidak perlu diurus dengan undang-undang. Mereka berpendapat, biarkan pasar yang menentukan, toh kalau seorang muslim peduli, mereka tidak akan membeli makanan yang haram. Pertanyaannya? siapa yang menjamin makanan yang dibeli memang halal? penjualnya? jangan-jangan dia pun tidak tahu kehalalan makanan yang dijualnya. Sebab, seringkali seorang penjual pun hanya menjadi &#8216;agen&#8217; saja atau ujung tombak, sehingga makanan yang dijual sampai dari produsen pada konsumen.</p>
<p>Seorang konsumen akan perlu waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk mencari tahu apakah makanan tersebut diproses secara halal atau bahannya memang halal. Seorang muslim bukan tidak peduli dengan makanan yang dibelinya, akan tetapi, seperti yang sudah disebutkan, tingkat kepercayaan pada pasar memang tinggi, apalagi mayoritas penjual pun orang Islam. Sehingga, seorang konsumen merasa tidak perlu untuk melakukan cek dan ricek. Saya berani bertaruh soal ini. Untuk membuktikannya, beri makan 100 orang Islam, lalu setelah mereka makan, beri tahu bahwa makanan yang sudah dimakannya mengandung daging babi. Saya jamin, 90% lebih akan marah pada anda.</p>
<p>Seperti halnya ketika kita membeli -katakanlah- handphone. Kita percaya saja bahwa handphone yang kita beli bermerk Nokia atau Siemens. Akan tetapi, berapa banyak dari kita yang mau bersusah payah membuktikan bahwa handphone yang kita beli dirakit oleh Nokia? atau untuk membuktikan bahwa komponen pada handphone kita asli dari Nokia? Sedikit. Sangat Sedikit. Seperti itu juga halnya ketika seorang muslim ingin membuktikan bahwa makanan yang dibelinya terdapat unsur haram atau tidak.</p>
<p>Pasar tidak bisa dipercaya 100%, karena tabiatnya mencari keuntungan. Kalau bisa, dengan modal yang 100 ribu, untungnya 1 milyar. Meskipun harus berbohong dan menipu. Ada banyak contoh penipuan di pasar. Berapa banyak kasus yang ditemukan di Indonesia soal bakso yang dicampur daging babi atau daging tikus? berapa banyak kasus daging sapi <em>glonggongan</em> atau ayam tiren?</p>
<p>Beruntung, beberapa bulan terakhir, DPR mulai menggodok RUU Jaminan Halal. Namun, seperti biasa, ini juga bukan persoalan mudah, karena ada saja yang menolaknya, meskipun mayoritas anggota dewan sebetulnya mendukungnya. Penolakan memang berasal dari sebagian non-muslim. Akan tetapi, non-muslim sebetulnya tidak perlu khawatir dengan hal tersebut. Bahkan, sebetulnya tidak ada satu pun non-muslim yang terganggu dengan adanya UU tersebut -jika jadi disyahkan.</p>
<p>RUU ini bukan bertujuan mengubah status makanan dari halal menjadi haram, atau sebaliknya. RUU tersebut juga bukan bertujuan melarang penjualan makanan yang oleh agama lain halal, tapi haram bagi Umat Islam. Babi, meskipun dilabeli haram oleh Umat Islam, tetap tidak dilarang bagi orang Hindu Bali. Begitu pun, daging sapi yang halal bagi orang Islam, akan tetap haram bagi orang Hindu Bali. Sama sekali tidak ada yang berubah. Jaminan halal diperlukan hanya untuk memastikan bahwa makanan yang dijual di pasaran, memang layak, dalam hal ini bagi Umat Islam. Sehingga, dengan adanya hal tersebut, dapat mengurangi kekisruhan yang terjadi di masyarakat gara-gara ditemukannya makanan haram yang dijual di pasaran.</p>
<p>Saya malah mengharapkan bahwa jaminan halal itu bukan hanya untuk Umat Islam saja. Umat Kristen, Hindu, Buddha atau bahkan Yahudi sekalipun mau ikut berperan serta dengan -misalnya- bersedia mengusahakan agar dalam tiap makanan yang dijual pun tercantum label halal versi mereka. Sehingga, label halal bisa bersanding dengan label halal versi Kristen, yang berarti makanan tersebut halal untuk Umat Islam dan Umat Kristen. Dari segi bisnis, hal tersebut jelas akan menguntungkan. Tingkat kepercayaan masyarakat, yang menjadi target utama penjualan, akan menjadi lebih tinggi.</p>
<p>Tidak hanya makanan, akan lebih baik jika restoran, rumah makan, tempat pemotongan hewan, setiap kios di pasar-pasar pun diwajibkan mendapatkan sertifikasi halal, meskipun di wilayah dengan mayoritas muslim. Sebab, bagi setiap muslim yang baik, mengetahui makanan yang dimakannya halal, akan membuat jiwa dan hatinya tenang ketika menyantapnya. Akan tetapi, jika tidak tahu atau ragu-ragu, akan selalu dihantui rasa khawatir. Makanan juga berpengaruh terhadap tabiat seseorang, itulah sebabnya kehalalan makanan perlu mendapatkan perhatian serius. Barangkali, makanan-makanan yang sudah jelas kehalalannya akan dapat mengubah tabiat masyarakat Indonesia, yang katanya mayoritas muslim, untuk menjadi lebih baik. Sehingga, tidak berlarut-larut dalam hal-hal syubhat, sebagaimana yang dapat kita temui di setiap sendi kehidupan di negeri ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/14092009/halal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ya, Saya Sudah Menikah</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/13042009/saya-sudah-menikah/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/13042009/saya-sudah-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 11:01:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, atas izin-Nya, saya ditakdirkan memiliki seorang istri.  Aqad nikah dilakukan pada hari Ahad, tanggal 5 April 2009 yang lalu, di rumah orang tua istri saya, Hegarmanah, Bandung.  Pernikahan yang sangat sederhana, tanpa pemberitahuan kepada publik, tanpa undangan, hanya dihadiri keluarga besar saja.  Total acara sudah selesai dalam waktu yang cukup singkat, 1 jam.  Jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, atas izin-Nya, saya ditakdirkan memiliki <a href="http://nyonya.donnyreza.net/" target="_blank">seorang istri</a>.  Aqad nikah dilakukan pada hari Ahad, tanggal 5 April 2009 yang lalu, di rumah orang tua istri saya, Hegarmanah, Bandung.  Pernikahan yang sangat sederhana, tanpa pemberitahuan kepada publik, tanpa undangan, hanya dihadiri keluarga besar saja.  Total acara sudah selesai dalam waktu yang cukup singkat, 1 jam.  Jika saja sahabat-sahabat saya tidak menodong  dengan pertanyaan soal pernikahan seminggu sebelumnya, hampir saja pernikahan saya nyaris tidak diketahui oleh siapa pun di luar pihak keluarga.</p>
<p>Bukan hal yang kami inginkan untuk merahasiakan rencana pernikahan kami. Inginnya kami juga mengundang sahabat, kolega dan seluruh relasi kami untuk menghadiri acara aqad tersebut.  Bahkan, kami ingin seluruh semesta mengetahui pernikahan kami.  Sebab, kami tahu bahwa pernikahan adalah hal yang sangat sakral dalam kehidupan kami.  Akan tetapi, kami pun memiliki alasan sehingga rencana acara aqad nikah kami &#8216;rahasiakan&#8217;.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-250 aligncenter" title="donnyrosi5" src="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2009/04/donnyrosi5.jpg" alt="donnyrosi5" width="300" height="400" /></p>
<p>Permasalahan utama sebetulnya adanya benturan paradigma antara kami dan orang tua kami.  Hal yang lumrah terjadi sebetulnya.  Kami yang masih muda-muda ini tidak terlalu ketat, bahkan tidak terlalu peduli dengan adat istiadat, harus menghadapi orang tua yang cukup ketat dalam hal ini.  Bagi saya, kalau bisa, tidak perlu lah acara adat yang lebih cenderung mengarah kepada hal-hal yang sifatnya syirik itu dilakukan.  Cukup penuhi rukun-rukun nikahnya saja, sesuai tuntunan Islam.  Belum lagi ketika membicarakan soal waktu.</p>
<p>Setidaknya selama 5 bulan, saya dan istri saling mengomunikasikan tentang rencana pernikahan kami.  Untunglah, istri saya waktu itu berada di pihak saya, jadi cenderung lebih mudah bagi saya untuk meyakinkan pihak keluarga istri.  Dalam hal ini, istri saya jadi semacam jembatan komunikasi antara saya dan pihak keluarganya.  Beban yang berat bagi istri saya pastinya untuk bisa mengomunikasikan pikiran-pikiran kami, akan tetapi karena kesabarannya juga, kami bisa menikah sesuai dengan apa yang kami harapkan.</p>
<p>Dalam hal ini, saya memang sangat ngotot untuk bisa menikah sesegera mungkin, sesuai dengan titah Rasulullah SAW.  Bukan sekedar buru-buru, tapi hal tersebut sebagai usaha kami untuk menjaga diri kami dari berbagai macam fitnah yang mungkin muncul.  Juga agar hubungan kami segera diridhai oleh Allah SWT, ini yang paling penting.  Sementara orang tua kami meminta agar kami &#8217;santai&#8217; saja, jangan terlalu cepat-cepat.  Apalagi kakak istri saya baru saja menikah bulan Desember yang lalu.  Hal ini semakin membuat alasan keluarga kami untuk menunda pernikahan kami semakin kuat.</p>
<p>Kami memang tidak berpacaran saat itu.  Sejak awal berkomitmen satu sama lain, tujuan kami adalah menikah.  Bahkan 1 minggu setelah kami berkomitmen, tujuan saya mendatangi rumahnya adalah untuk meminta izin orang tuanya agar saya bisa menikahi putri mereka.  Jarang sekali bertemu, kemana pun kami pergi sendiri-sendiri.  Komunikasi terbanyak kami hanya melalui SMS, itu pun paling banyak mengomunikasikan rencana pernikahan kami.  Bahwa kemudian muncul rasa rindu, saya kira itu adalah hal yang wajar saja terjadi.  Hal ini pula yang semakin menguatkan pihak keluarga kami untuk tidak terlalu terburu-buru melangsungkan pernikahan.</p>
<p>Pihak keluarga inginnya kami menikah bulan Juni karena kondisi finansial juga menjadi kendala, sementara kami berdua ingin lebih cepat, April bagi kami sudah terlalu lama.  Saya berfikir cukup keras bagaimana sebaiknya agar kami bisa menikah paling lambat di bulan April.  Akhirnya, saya menawarkan sebuah solusi yang menurut saya &#8217;sama-sama enak&#8217;.  Saya mengusulkan untuk memisahkan aqad nikah dan resepsi.  Aqad nikah dilakukan di bulan April, sebagaimana keinginan kami berdua, sementara Resepsi dilakukan di bulan Juni, sesuai keinginan orang tua.  Tanpa diduga, Alhamdulillah, usul saya tersebut diterima oleh keluarga istri saya.  Dengan catatan, ketika aqad nikah hanya keluarga besar saja dulu yang diundang, sementara yang lain akan diundang pada saat resepsi.</p>
<p>Setelah disetujui, proses selanjutnya menjadi sangat mudah dan berjalan sangat lancar.  Alhamdulillah.  Bagi saya, dengan disetujuinya hal tersebut menjadikan hati saya lebih tenang dan santai.  Hal tersebut sempat membuat istri saya salah paham, karena menganggap saya terlalu cuek dengan rencana pernikahan kami.  Padahal yang terjadi sebetulnya adalah, &#8220;<em>apalagi yang harus saya pusingkan? tinggal tunggu waktu saja agar segalanya menjadi halal</em>, Insya Allah&#8221;.  Ya, begitulah.  Saya menjalani hari-hari pra-nikah justru dengan perasaan yang sangat damai dan tidak terlalu memusingkan apa yang harus saya persiapkan di hari pernikahan.</p>
<p>Lamaran berjalan dengan baik, begitu juga persiapan aqad nikah tidak terlalu merepotkan karena praktis kami tidak terlalu dipusingkan dengan banyaknya undangan dan mempersiapkan jamuan untuk undangan.  Bahkan beberapa hari sebelum aqad nikah, saya masih bisa melakukan hal-hal yang tidak penting seperti facebook-an semalam suntuk, olahraga pagi atau futsal.  Saya membeli peci khusus untuk aqad nikah pada hari Sabtu sore, dan menyadari kalau tidak punya kaus kaki yang bagus beberapa jam sebelum acara aqad nikah, sehingga memaksa saya menggunakan kaus kaki butut untuk acara aqad nikah.  Akan tetapi, bagi saya saat itu segalanya sangat terkendali dan lancar.  Istri saya juga masih bisa mengajar seperti biasa sehari sebelumnya.</p>
<p>Acara Aqad nikah sendiri berjalan sangat khidmat dan cukup singkat, bagi saya sangat mengharukan.  Hanya dalam 1 jam seluruh kegiatan sudah selesai.  Akan tetapi, kami memiliki harapan agar pernikahan kami bisa dijadikan contoh oleh keluarga kami yang lainnya, bahwa sebuah pernikahan bisa dilakukan dengan cukup mudah.  Acara adat yang biasanya ada di pernikahan kakak-kakak istri saya sebelumnya, dihilangkan sama sekali.  Hanya lantunan ayat Al-Qur&#8217;an dan beberapa lagu sunda dari kaset yang meramaikan pernikahan kami.  Anehnya, saya memang pernah menginginkan acara pernikahan yang sederhana seperti itu.</p>
<p>Selanjutnya, saat ini kami berdua sedang menyusun rencana untuk melaksanakan acara resepsi, sesuai dengan janji kami kepada orang tua.  Insya Allah, acara resepsi akan dilaksanakan pada hari Ahad, tanggal 7 Juni 2009, bertempat di Masjid Salman, Bandung.  Kali ini kami akan mengundang saudara, kerabat, kolega dan relasi kami, sebanyak yang kami mampu <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> Lagi-lagi, saya pernah memimpikan acara resepsi di Salman.  Mudah-mudahan tidak ada halangan yang merintang.  Mudahkanlah, Ya Allah, Ya Rabb.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/13042009/saya-sudah-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekelumit &#8216;Penafsiran&#8217; Sejarah Pangeran Diponegoro</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/15032009/sekelumit-penafsiran-sejarah-pangeran-diponegoro/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/15032009/sekelumit-penafsiran-sejarah-pangeran-diponegoro/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 20:35:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Adalah Don Lopez comte de Paris yang kekar itu, dan berbicara lebih fasih berbahasa Prancis ketimbang bahasa ayah-ibunya Spanyol, yang pertama kali menyuruh budak-budak perempuan itu menutup payudaranya.
Kepada budak-budak perempuan di Semarang yang mengerjakan pos di kota ini &#8212; yaitu jalan besar yang sampai 1950-an bernama Bojong, dan kini Pemuda &#8212; Don Lopez memotong-motong kain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Adalah Don Lopez comte de Paris yang kekar itu, dan berbicara lebih fasih berbahasa Prancis ketimbang bahasa ayah-ibunya Spanyol, yang pertama kali menyuruh budak-budak perempuan itu menutup payudaranya.</p>
<p>Kepada budak-budak perempuan di Semarang yang mengerjakan pos di kota ini &#8212; yaitu jalan besar yang sampai 1950-an bernama Bojong, dan kini Pemuda &#8212; Don Lopez memotong-motong kain putih dan memberi kepada salah seorang budak perempuan yang tergolong cantik dan belia.</p>
<p>Sambil memberikan potongan kain putih itu kepada budak perempuan tersebut, dia berkata, &#8220;Tutup Bagian berharga itu.&#8221; Dia menggunakan bahasa Prancis untuk kata &#8216;berharga&#8217; tersebut. Dalam bahasa Prancis, <em>coutant</em> berarti &#8216;berharga&#8217;.</p>
<p>Sambil menerima kain putih yang diberi oleh Don Lopez, budak perempuan itu memandang bingung.</p>
<p>&#8220;<em>Kangge nopo iki, ndoro Tuan?</em>&#8221; tanya budak cantik itu.</p>
<p>Sambil menunjuk-nunjuk payudara perempuan itu, Don Lopez berkata, &#8220;<em>Coutant! Coutant!</em>&#8221;</p>
<p>Budak perempuan itu makin bingung.  Dia melihat payudaranya, apakah ada yang salah dari payudaranya itu.</p>
<p>&#8220;<em>Kulo boten ngertos, ndoro Tuan,</em>&#8221; katanya.</p>
<p>Lagi Don Lopez berkata, &#8220;<em>Coutant!</em>&#8221;</p>
<p>Orang-orang melihat adegan itu sertamerta mengira bahwa kain putih yang ditunjuk-tunjuk ke payudara untuk dipakai sebagai penutup adalah namanya <em>coutant</em>.</p>
<p>Seorang budak yang berdiri di dekat budak perempuan itu lantas berkata kepadanya, &#8220;O kuwi jenenge <em>kutang</em>.&#8221;</p>
<p>Sejak itu lahirlah entri baru dalam bahasa rakyat yang salah kaprah, bahwa &#8216;kutang&#8217; adalah kain pembungkus payudara.</p></blockquote>
<p>Cerita di atas tidak ada urusannya dengan pornografi.  Di atas adalah sekelumit dari sebuah buku berjudul &#8220;<strong>Novel Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil</strong>&#8220;, karya Remy Sylado, penerbit Tiga Serangkai. Sebuah buku yang bercerita tentang masa kecil Ontowiryo, seorang Pangeran dari kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dibesarkan oleh nenek buyutnya di sebuah desa bernama Tegalrejo, jauh dari hiruk pikuk kraton. Kelak, Ontowiryo dikenal dan dikenang sejarah sebagai Pangeran Diponegoro.</p>
<p>Sejak pertama dilahirkan, Ontowiryo &#8216;diramal&#8217; oleh kakek buyutnya, Sultan Hamengku Buwono I, akan menjadi seorang yang besar. Seorang Herucokro atau Ratu Adil. Oleh sebab itu, Sultan meminta istrinya, Ratu Ageng, untuk mendidik dan membesarkan Ontowiryo. Dikarenakan perselisihan dengan anaknya, Sultan Hamengku Buwono II, yang kemudian menggantikan tahta ayahnya, Ratu Ageng memilih untuk memisahkan diri dari Kraton dan tinggal di Tegalrejo dengan membawa serta Ontowiryo.</p>
<p>Dibesarkan dalam budaya Jawa dan akhlak Islam, Ontowiryo tumbuh menjadi sosok yang rendah hati, santun, cerdas sekaligus berani dan berakhlak mulia. Keyakinan terhadap nilai-nilai kebenaran yang dipegangnya, ditunjang dengan keterampilan berperang yang dilatih oleh paman-pamannya, menjadikan Ontowiryo juga tumbuh menjadi sosok yang kuat. Itulah sebabnya, ketika tidak ada satu pun yang berani menentang perintah Belanda yang sangat zalim, membiarkan dan melarang menguburkan sesosok mayat petani yang tidak membayar pajak di tengah lapang, Ontowiryo sendiri yang melakukannya. Seperti halnya para pemimpin besar lainnya, Ontowiryo juga sangat menggandrungi buku dan memahami isinya.</p>
<p>Secara keseluruhan, buku ini bercerita tentang proses dan masa persiapan Ontowiryo untuk menjadi seorang Herucokro (Ratu Adil), yang sejak kecil ditanamkan oleh Ratu Ageng. Buku ini juga merupakan buku pertama dari rangkaian &#8220;<strong>Novel Pangeran Diponegoro</strong>&#8220;. Oleh sebab itu, di akhir halaman buku ini, cerita dibiarkan menggantung. Masih jauh dari peristiwa Perang Jawa yang bersejarah itu.</p>
<p>Sebagai sebuah &#8216;penafsiran&#8217; atas sebuah sejarah, Remy Sylado berhasil menyajikan buku ini dengan sangat baik. Selain dilengkapi dengan fakta-fakta yang cukup menarik, Remy juga berani menyisipkan kata-kata yang memaksa kita untuk membuka kamus Bahasa Indonesia lagi. Sebagai seorang Kristen, Remy juga cukup piawai menggambarkan dan menceritakan nuansa Islam dalam buku ini. Dalam beberapa halaman, Remy bahkan mengutip beberapa hadits.</p>
<p>Bagi saya, hal yang menarik dari sebuah novel yang mengadaptasi sejarah adalah menghubungkannya dengan konteks kekinian. Terkadang juga bisa menjadi sebuah koreksi sejarah. Sebagai contoh, buku sejarah yang diajarkan di sekolah hanya menyebut Belanda, Inggris, Portugis dan Jepang yang pernah menjajah Indonesia. Itu pun, Portugis hanya di beberapa daerah Indonesia Timur. Dalam buku ini, Daendells, yang dikenal karena membuat jalan pos Anyer-Panarukan, ternyata datang atas nama Pemerintah Prancis. Daendells sendiri orang Belanda asli, tapi dia datang tidak atas nama Belanda yang saat itu di bawah kekuasaan Prancis.</p>
<p>Dalam hal konteks kekinian, korupsi bisa dijadikan contoh. Bahkan ketika Indonesia masih dikuasai VOC, korupsi sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh pejabat-pejabatnya. Sudah mendarah-daging mengurat-akar. Begitu juga pengkhianat sekaligus penjilat, demi harta dan kekuasaan, sudah bukan barang yang &#8216;aneh&#8217; sejak berabad lalu. Dalam buku ini, Danurejo II, yang kemudian dihukum mati oleh Sultan Hamengku Buwono II, merupakan contoh karakter terakhir itu. Dalam masa kini, kita bisa menyaksikan BUMN-BUMN yang seharusnya dipertahankan mati-matian lantas dijual begitu mudahnya. Bagi saya, itu sebuah pengkhianatan. Sama halnya dengan produk hukum kita yang sejak dulu hanya menyentuh &#8216;orang kecil&#8217;, sampai detik ini pun -nyaris- tidak pernah menyentuh pejabat atau mereka yang menguasai uang.</p>
<p>Begitu juga dengan cerita kutang di atas. Bahkan seorang yang dianggap penjajah sekalipun, bisa menilai bahwa payudara wanita begitu berharga. Wanita mana pun tidak mau dianggap budak, tapi bukankah dengan membiarkan payudaranya terbuka -dan bangga dengan keterbukaannya- itu berarti menjadikannya sama saja atau bahkan lebih rendah dari budak?</p>
<p>Ketebalan buku ini standar saja, 340 halaman. Tidak terlalu tebal, tidak juga terlalu tipis. Dijual dengan harga Rp.66.000,- di gramedia, atau bisa didapatkan dengan diskon 20% &#8211; 30% di Palasari (Bandung) atau di pameran-pameran buku. Bagi saya, cukup mahal sebetulnya, tapi saya sangat merekomendasikan buku ini sebagai bahan bacaan, terutama bagi yang menyukai novel yang diadaptasi dari sejarah. Hanya satu saja kekurangannya menurut saya, beberapa halaman yang memuat dialog bahasa jawa, tidak disertai dengan translasi dalam bahasa Indonesia-nya. Sehingga, memaksa saya untuk melompati bagian itu, meskipun tidak menggangu jalan cerita seluruhnya. Selebihnya, laik beli dan laik baca.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/15032009/sekelumit-penafsiran-sejarah-pangeran-diponegoro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Virus</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/07022009/virus/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/07022009/virus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 11:19:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Informatika]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Tingkah laku para pembuat virus komputer, saya anggap, terwakili oleh virus yang dibuatnya.  Di dunia komputer, ia menjadi virus, di dunia nyata sang pembuat virus tidak akan berbeda jauh, ia adalah virus itu sendiri.  Perusuh, pembuat onar, pengacau, egois.  Karenanya dia menjadi &#8216;makhluk&#8217; paling dibenci oleh setiap orang.
Mungkin saya terlalu &#8216;pukul rata&#8217;.  Bisa jadi sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tingkah laku para pembuat virus komputer, saya anggap, terwakili oleh virus yang dibuatnya.  Di dunia komputer, ia menjadi virus, di dunia nyata sang pembuat virus tidak akan berbeda jauh, ia adalah virus itu sendiri.  Perusuh, pembuat onar, pengacau, egois.  Karenanya dia menjadi &#8216;makhluk&#8217; paling dibenci oleh setiap orang.</p>
<p>Mungkin saya terlalu &#8216;pukul rata&#8217;.  Bisa jadi sang pembuat virus sesungguhnya adalah seorang yang jenius, tapi jelas dia tidak memiliki kehidupan sosial yang baik.  Dan biasanya, dia adalah seorang psikopat. Meskipun, bagi saya, seorang jenius beda tipis dengan seorang idiot ketika kejeniusannya tidak digunakan dengan baik.  Dia tidak mendapatkan apa pun dari kejeniusannya, selain caci maki, sumpah serapah dan berbagai macam kutukan lainnya.  Ya, paling hanya semacam kepuasan ketika virus yang dibuatnya kemudian menyebar dan berhasil membuat pusing ribuan atau bahkan jutaan orang.  Akan tetapi, hanya sebatas itu saja, tidak membuktikan bahwa sang pembuat virus memang orang pintar.  Dia tetaplah dikenal -kalau kemudian terkenal- sebagai perusuh.  Tidak lebih.</p>
<p>Di Indonesia, saya mendapati para pembuat virus hanya sekumpulan orang-orang frustasi dan kekanak-kanakan, dan memang sebagiannya adalah para ABG pencari jati diri.  Biasanya karena patah hati, entah ditolak, entah diputuskan, atau bahkan cinta tak berbalas.  Kita bisa mendapati itu semua dari pesan-pesan yang mereka sampaikan. Dan entah kenapa mereka merasa sebagai orang-orang yang paling menderita.  Sebuah pertanda bahwa mereka tidak memiliki kehidupan sosial yang cukup baik, atau tidak memiliki kepekaan sosial sama sekali &#8230; dan jelas, sangat kekanak-kanakan, plus egois.</p>
<p>Beberapa pesan dalam virus terkadang hanya mencantumkan <em>nickname</em> sang pembuat virus.  Identitasnya tidak ingin diketahui.  Ciri khas penjahat &#8230;atau banci.  Ah, tapi seorang banci sekalipun masih bisa kita ketahui nama aslinya.  Bandingkan saja dengan &#8216;jagoan&#8217; di dunia maya, entah itu di dunia <em>programming</em>, <em>networking </em>atau <em>designing</em>.  Mereka bangga dengan namanya.  Sebab namanya sendiri sudah mewakili citra dari orang tersebut.  Hal ini disebabkan karena mereka merasa sudah melakukan hal yang baik dan bermanfaat untuk orang banyak.</p>
<p>Seorang <em>hacker</em> sejati, misalnya, justru adalah seorang yang sangat rendah hati.  Ilmu dan pengetahuannya tentang jaringan komputer sangat tinggi, tapi tidak sedikitpun dia merasa perlu untuk melakukan <em>show off</em> seperti orang-orang yang mengaku <em>hacker</em> atau ingin disebut <em>hacker</em>.  Ketika seorang yang mengaku <em>hacker</em> berbicara tentang bagaimana menjebol keamanan jaringan komputer, seorang <em>hacker</em> sejati berbicara tentang bagaimana mencegah agar keamanan jaringan tidak jebol.  Apa yang dibahas sama saja sebetulnya, tapi &#8216;judul&#8217;-nya berbeda.  Yang satu berbicara tentang &#8220;merusak&#8221;, satunya lagi berbicara tentang &#8220;menjaga&#8221;.</p>
<p>Sungguh sangat disayangkan ketika kemampuan untuk berkarya digunakan untuk merusak.  Padahal, dengan kemampuan yang sama, saya yakin seorang pembuat virus bisa membuat program yang lebih bermanfaat.  Sehingga, khazanah dunia telematika di Indonesia bisa semakin kaya.  Bukan oleh hal-hal yang merusak, tapi bermanfaat.  Sampai saat ini, kita masih menanti kemunculan &#8216;pengganti&#8217; Microsoft Windows, SAP, Oracle, atau UNIX yang berasal dari Indonesia.  Mungkinkah? <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/07022009/virus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melampaui Materi</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/25012009/melampaui-materi/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/25012009/melampaui-materi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 16:05:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Sepulang dari tugas dan melakukan perjalanan hampir setengah hari dan setengah malam, saya tiba di Bandung menjelang tengah malam.  Dengan kondisi lelah dan lapar, saya memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di sebuah warung mie rebus langganan.  Demi untuk menghilangkan rasa lapar tersebut.
Di warung tersebut terdapat sebuah televisi yang sedang menyiarkan berita-berita terkini.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepulang dari tugas dan melakukan perjalanan hampir setengah hari dan setengah malam, saya tiba di Bandung menjelang tengah malam.  Dengan kondisi lelah dan lapar, saya memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di sebuah warung mie rebus langganan.  Demi untuk menghilangkan rasa lapar tersebut.</p>
<p>Di warung tersebut terdapat sebuah televisi yang sedang menyiarkan berita-berita terkini.  Bang Jek, pemilik warung tersebut, memang menyukai berita dan film <em>action </em>Oh, ya &#8230; satu lagi, acaranya si Tukul yang sempat dilarang itu.  Oleh karena kesukaannya itu, saya seringkali menghindari datang di-jam-nya si Tukul itu.</p>
<p>Setiap kali saya datang, seringkali dia &#8216;mengajak&#8217; saya untuk berdiskusi perihal masalah-masalah terkini.  Apa pun yang sedang ramai di televisi saat itu.  Seperti biasa, Bang Jek akan melontarkan opininya tentang apa pun.  Adakalanya saya layani, seringkali saya cuma manggut-manggut saja, atau saya berikan jawaban ketika dia menanyakan sesuatu, atau bahkan saya diamkan, karena saya sedang malas untuk sekedar memberikan tanggapan.</p>
<p>Hanya karena pendidikan saya lebih tinggi, Bang Jek sering memosisikan saya sebagai orang yang lebih tahu daripada dirinya.  Dalam hal apa pun.  Meskipun saya juga sudah berkali-kali memberikan jawaban &#8220;tidak tahu&#8221; atau memang tidak saya berikan jawaban, karena saya bingung untuk menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah dimengerti.  Saya selama ini tidak pernah menggunakan istilah-istilah asing ketika berdiskusi dengan Bang Jek, tapi tetap saja, mengemasnya menjadi sangat sederhana juga perlu seni tersendiri.</p>
<p>Televisi sedang menayangkan tentang Gaza ketika saya sedang menyantap mie rebus pesanan saya, juga segelas teh hangat.  Bang Jek mulai berbicara tentang kekesalannya terhadap Israel, juga keheranannya -sekaligus kagum- terhadap warga Palestina yang meskipun sudah berkali-kali diserang, tapi jumlahnya seperti tidak habis-habis. Lalu mulai berbicara tentang Obama, tentang HAMAS, tentang pemerintah Indonesia dan tentang orang-orang Arab.  Ketika berbicara tentang orang-orang Arab itu, tiba-tiba Bang Jek mengeluarkan pernyataan &#8230;&#8221;<em>Orang-orang Arab mah enak ya? Mereka bisa naik haji kapan pun, nggak perlu bayar ongkos tinggi-tinggi.  Nggak seperti kita yang harus nyediain uang puluhan juta.</em>&#8221;</p>
<p>Mie rebus sudah habis ketika pernyataan itu keluar dari mulut Bang Jek.  Saya tergelitik untuk memberikan tanggapan.  Saya kemudian menjelaskan, orang-orang Arab memang diberikan keistimewaan seperti itu, mereka juga bisa mendapatkan uang banyak setiap saat karena banyaknya umat Islam yang melakukan Umroh dan Haji.  Buat mereka, ibadah haji tidak menjadi sebuah &#8216;persoalan&#8217; seperti bagi umat Islam di negara lainnya, terutama negara miskin.  Mereka bisa berhaji kapan pun, asal mereka mau.  Tidak seperti orang-orang Indonesia yang harus jual tanah, atau menabung bertahun-tahun untuk bisa berangkat melaksanakan ibadah Haji.  Bahkan banyak juga yang sepanjang hidupnya menabung, dan tetap belum bisa berangkat haji sampai ajal tiba.  Ibadah haji menjadi sebuah impian dan cita-cita.  Minimal sekali dalam seumur hidup, oleh sebab itu, ibadah Haji jadi &#8216;barang&#8217; yang mahal.</p>
<p>Akan tetapi, umat Islam Arab, khususnya Mekah, tidak akan memperolah keistimewaan lainnya yang hanya akan diberikan kepada mereka yang berada jauh dari Mekah.  Keistimewaan tersebut adalah pahala dari Allah SWT bagi mereka yang berusaha untuk melaksanakan ibadah haji dengan segala daya dan upayanya.  Setiap rupiah yang ditabung dan diniatkan untuk beribadah tersebut, akan menjadi tabungan pahala juga.  Bahkan jika kemudian meninggal sebelum berangkat Haji, orang tersebut, insya Allah, akan mendapatkan pahala yang bisa jadi nilainya juga lebih besar daripada hajinya orang-orang Arab.  Nilai dan arti sebuah pengorbanan sangat terasa bagi umat Islam yang jauh dari Arab.</p>
<p>Keistimewaan lainnya, barangkali, kenikmatan menjalankan ibadah Haji tersebut.  Sebuah perjalanan haji bagi seorang muslim layaknya perjalanan pulang.  Perjalanan kembali untuk mengenal &#8216;akar&#8217; darimana dia berasal.  Oleh sebab itu, ibadah haji begitu dirindukan oleh setiap muslim.  Dan karenanya, ibadah haji menjadi begitu sangat berharga.  Perjalanan haji juga menjadi sebuah perjalanan yang penuh kesan, terkadang mengharukan.  Maka, tidak mengherankan jika hampir sebagian besar mereka yang pernah melakukan ibadah haji, dipastikan menangis ketika melakukan ibadah tersebut.</p>
<p>Cerita mengharukan tentang seseorang yang mengorbankan ongkos hajinya untuk mengobati tetangganya yang sedang sakit, sementara dia merelakan dirinya tidak jadi berangkat haji. Lalu kemudian Malaikat mengabari dirinya memperoleh pahala Haji mabrur, hanya bisa muncul dari negara yang jauh dari Arab, seperti Indonesia ini. Begitu juga bermacam-macam cerita mengharukan bagaimana seseorang bisa berangkat haji, hanya muncul dari negara yang jauh dari Arab.  Karena itu, sebuah perjalanan haji juga bisa berubah menjadi sebuah perjalanan spiritual seseorang.  Saya yakin, orang-orang Mekah tidak akan merasakan kenikmatan yang dirasakan oleh mereka yang berangkat haji dari negara seperti Indonesia.</p>
<p>Jika perjalanan ibadah haji bisa dilakukan dimanapun, tidak akan muncul film sebagus &#8220;Le Grande Voyage&#8221;, misalnya.  Begitu pula sinetron &#8220;Para Pencari Tuhan&#8221;, atau bahkan cerita-cerita &#8217;seru&#8217; lainnya yang bisa kita dapatkan dari mereka yang pernah melakukan ibadah haji.  Maka, disinilah letak adilnya Allah SWT.  Orang-orang Arab mendapatkan materi, tapi orang-orang Indonesia yang berhaji mendapatkan lebih banyak hal, yang nilainya melampaui materi.  Ibadah haji bisa menjadi kebahagiaan, kenikmatan, pengalaman spiritual atau bahkan kebanggaan seseorang, yang tidak bisa begitu saja hilang dari diri seseorang.  Maka, inilah kekayaan sesungguhnya.  Kekayaan yang bahkan materi pun tidak bisa menggantikannya, malahan orang-orang rela mengorbankan materi untuk mendapatkannya.</p>
<p>Tentu saja, apa yang saya tulis di atas tidak persis dengan apa yang saya jelaskan pada Bang Jek.  Saya menjelaskan jauh lebih sedikit.  Saya cukupkan penjelasan ketika Bang Jek mengatakan, &#8220;<em>oh &#8230;iya, ya</em>?!&#8221;.  Bagi saya, itu artinya Bang Jek sudah cukup memahami apa yang saya maksud, tidak perlu berpanjang-panjang lebar seperti tulisan ini.</p>
<p>Di perjalanan pulang dari warung Bang Jek ke kostan yang berjarak 100 meter, saya kemudian teringat tentang sebuah komentar.  Isinya tentang tuduhan bahwa ibadah haji merupakan rekayasa orang-orang Arab agar mereka bisa mendapatkan devisa yang banyak dari negara lain.  Umat Islam selama ratusan tahun sudah dibodoh-bodohi oleh orang-orang Arab.  Sekilas memang tampak benar, tapi saya kemudian berani mengambil kesimpulan bahwa orang yang menuduh tersebut tidak pernah atau belum pernah merasakan nikmatnya sebuah keimanan dan beribadah.  Cara berfikir orang tersebut sangat materialistis. Padahal, jika nikmatnya keimanan sudah merasuki jiwa seseorang, jangankan berkorban harta, dirinya pun akan dikorbankan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/25012009/melampaui-materi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benar-Salah</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/14012009/benar-salah/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/14012009/benar-salah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 10:35:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/14012009/benar-salah/</guid>
		<description><![CDATA[Melakukan hal yang benar, diomongin &#8230;
yang salah, diomongin juga&#8230;
mending yang benar aja sekalian!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melakukan hal yang benar, diomongin &#8230;<br />
yang salah, diomongin juga&#8230;<br />
mending yang benar aja sekalian!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/14012009/benar-salah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Art of Decision Making</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/25122008/decisionmaking/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/25122008/decisionmaking/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 12:24:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Ada saat dimana mengambil sebuah keputusan bukan hal yang mudah.  Bahkan menjadi teramat sulit.  Kesulitannya bukan pada bagaimana keputusan itu diambil atau keputusan apa yang akan diambil.  Akan tetapi, lebih kepada apa dampak yang mungkin timbul ketika suatu keputusan diambil.  Apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan masa depan kita, atau bahkan nasib seseorang atau orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada saat dimana mengambil sebuah keputusan bukan hal yang mudah.  Bahkan menjadi teramat sulit.  Kesulitannya bukan pada bagaimana keputusan itu diambil atau keputusan apa yang akan diambil.  Akan tetapi, lebih kepada apa dampak yang mungkin timbul ketika suatu keputusan diambil.  Apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan masa depan kita, atau bahkan nasib seseorang atau orang lain.  Persoalannya, pikiran-pikiran buruk tentang dampak yang akan timbul setelah keputusan diambil lebih sering terbayang-bayang daripada hal-hal baik yang mungkin terjadi.</p>
<p>Keputusan untuk berhenti kerja atau menikah, misalnya, adakalanya menjadi sangat rumit.  Muncul macam-macam pertimbangan yang sebetulnya hanya ketakutan-ketakutan saja.  Takut susah dapat pekerjaan lain, takut susah memberi makan anak dan istri, dan lain-lain.  Sementara pada saat yang bersamaan, hati dan pikiran sudah tidak ada di tempat kerja sekarang.  Resah, mengawang kemana-mana.  Sudah tidak nyaman, sudah tidak fokus lagi.  Sehingga, akhirnya, kinerja semakin menurun tapi takut untuk keluar dari pekerjaan yang sudah tidak bisa dinikmati lagi.</p>
<p>Situasi seperti sekarang, dimana banyak perusahaan kolaps akibat krisis ekonomi dan terjadi PHK dimana-mana, membuat keputusan untuk keluar dari tempat kerja menjadi semakin sulit.  Jangan-jangan, tidak ada lowongan di tempat lain yang akan menerima kita.  Sementara untuk membuka usaha sendiri belum mampu, skill juga pas-pasan dan pengalaman kerja juga belum banyak.</p>
<p>Anda mungkin pernah ada dalam situasi dimana anda tidak pernah benar-benar bisa menikmati apa yang sedang anda kerjakan.  Akan tetapi, tuntutan kebutuhan untuk bertahan hidup membuat anda tetap bertahan melakukan pekerjaan tersebut.  Bagaimanapun memuakan, <em>stressfull</em> dan membosankannya pekerjaan tersebut, anda tetap bertahan. Bahkan untuk mencari pekerjaan lain pun anda tidak sempat, karena waktu anda habis tercurah untuk pekerjaan sekarang.   Meskipun ketika anda bekerja, anda tidak merasakan apa yang disebut dengan antusiasme, <em>passion</em>, <em>with pleasure</em>, apalagi cinta.  Padahal itu merupakan faktor paling penting anda bisa bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh.  Akhirnya, anda mengeluh terus setiap bekerja.  Ketika mengeluh sudah menjadi bagian pekerjaan anda setiap saat, bisa dipastikan anda sudah tidak nyaman dengan pekerjaan anda.</p>
<p>&#8220;<strong><em>Berhenti saja!</em></strong>&#8220;, Itu yang sering saya katakan kepada orang lain jika ada yang curhat tentang hal semacam itu.  Tentunya kepada diri sendiri juga.  Beberapa kali juga saya mengatakan kalau memang sudah tidak bisa merasa bahagia dengan apa yang dikerjakan sekarang, untuk apalagi dipertahankan?  Soal besok kerja apa? kerja dimana? makan apa? Itu urusan besok, bukan sekarang.  Anda kan tidak tahu apa besok masih hidup atau tidak?  Anda juga tidak pernah benar-benar tahu tempat bekerja anda sekarang akan  bertahan atau tidak esok pagi?  Daripada menyiksa diri terus-menerus, ya sudah, berhenti saja.  Jika dengan berhenti dari tempat kerja sekarang membuat bahagia, lakukan saja! Besok-besok, jika masih hidup, berusaha lagi saja mencari tempat kerja lain, yang bisa anda nikmati, yang bisa anda cintai.</p>
<p>Ekstrim? mungkin. Akan tetapi, dengan argumen semacam itu, setidaknya sudah dua orang yang terpengaruh dan memutuskan untuk berhenti bekerja dari tempat kerjanya dengan alasan sudah tidak nyaman lagi.  Toh, kenyataannya mereka masih hidup sampai sekarang.  Terlepas dari apakah mereka bahagia dengan kehidupannya yang sekarang atau tidak.  Setidaknya, satu beban pikiran sudah lepas, daripada sepanjang hidup dibebani oleh hal semacam itu terus menerus.</p>
<p>Tidak perlu menunggu &#8220;waktu yang tepat&#8221;, sebab barangkali apa yang disebut dengan waktu yang tepat itu tidak pernah ada.  Anda lah yang menciptakan waktu yang tepat itu untuk anda sendiri.  Bukan orang lain, bukan situasi tempat kerja anda, bukan juga manajemen perusahaan.  Seburuk apa pun situasinya, atau bahkan sepenting apa pun posisi anda di perusahaan, waktu yang tepat itu anda yang tentukan.  Sebab, jika tidak begitu, anda akan terus terseret dan semakin larut bahkan dibebani pekerjaan yang tidak anda sukai setiap saat.  Orang lain atau manajeman bahkan akan merasa tidak perlu dan tidak ingin tahu kalau anda suka atau tidak dengan pekerjaan itu.  Buat mereka, profesionalisme anda yang dituntut, sebab anda digaji untuk itu.  Masa bodoh anda suka atau tidak dengan tugas yang dibebankan kepada anda.</p>
<p>Tidak perlu juga merasa kasihan kepada orang-orang yang akan anda tinggalkan di tempat kerja.  Percayalah, mereka juga tidak akan merasa kasihan kepada anda jika menyangkut urusan pekerjaan.  Tega sajalah! Jika tidak begitu, anda yang ditegai, sebab -sekali lagi- profesionalisme anda yang dituntut.  Anda juga tidak bisa mengharapkan orang memahami perasaan anda, karena orang lain juga barangkali memiliki masalah yang sama atau bahkan lebih berat daripada anda.</p>
<p>Sungguh sangat merugi jika sepanjang hidup anda dihabiskan dengan hal-hal yang membuat anda tidak bisa merasakan hidup itu sendiri.  Jika selama ini anda sudah berusaha untuk berdamai dengan apa yang anda lakukan, dan masih sulit atau bahkan tidak bisa juga merasakan kebahagiaan, sudah saatnya anda berhenti melakukannya.  Cari hal lain yang bisa anda lakukan, dan anda senang melakukannya.  Jika masih belum dapat juga, teruskan melakukan pencarian.  Itu lebih baik daripada anda terjebak dalam sesuatu yang anda benci dan menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan bahkan mengeluhkannya.</p>
<p>Saya <em>sih</em> percaya satu hal.  Pemberi rezeki itu bukan manusia, ada Allah SWT  yang Maha Pemberi Rezeki.  Dia yang lebih kaya daripada manusia.  Kekayaan manusia itu tidak ada &#8217;seujungkukunya&#8217; kekayaan Allah SWT.  Saya juga sangat yakin bahwa pintu rezeki yang Allah miliki tidak hanya satu, tapi ribuan atau bahkan jutaan pintu rezeki.  Maka, ketika kita meninggalkan satu pintu rezeki, yang sesungguhnya kita lakukan adalah membuka peluang pada diri sendiri untuk bisa membuka pintu yang lain, bahkan tidak hanya satu pintu, tapi juga berpintu-pintu.  Hanya saja, ada pintu yang perlu usaha keras untuk membukanya, ada juga yang sangat mudah membukanya.  Ada pintu yang memberi rezeki banyak, ada juga yang tidak.  Jika anda sudah sangat yakin bahwa Allah SWT akan tetap memberikan rezekinya sepanjang hidup anda, apa lagi yang perlu anda takuti?</p>
<p>NB: Kamu memintaku untuk menuliskan sesuatu, inilah yang bisa kutuliskan.  Tidak banyak &#8230; tapi barangkali bisa memberikan arti <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/25122008/decisionmaking/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jakarta</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/31102008/jakarta/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/31102008/jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 18:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Sebetulnya, bagi saya selama ini, nyaris tidak ada satu pun hal yang menarik dari kota Jakarta.  Satu-satunya yang saya suka adalah kerlap-kerlip lampu yang mewarnai Jakarta di malam hari.  Itu saja.
Ah, ya &#8230; Jakarta memang menawarkan mimpi dan harapan.  Pusat bisnis di Indonesia, sudah pasti Jakarta.  Perputaran uang terbesar di Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebetulnya, bagi saya selama ini, nyaris tidak ada satu pun hal yang menarik dari kota Jakarta.  Satu-satunya yang saya suka adalah kerlap-kerlip lampu yang mewarnai Jakarta di malam hari.  Itu saja.</p>
<p>Ah, ya &#8230; Jakarta memang menawarkan mimpi dan harapan.  Pusat bisnis di Indonesia, sudah pasti Jakarta.  Perputaran uang terbesar di Indonesia ada di Kota ini, yang zaman VOC berkuasa lebih dikenal sebagai Batavia.  Semua fasilitas, ada di Jakarta.  Gaji pegawai di sini, lebih besar dari kota lain.  Meskipun, berbanding lurus juga dengan kebutuhan untuk hidup di Jakarta.</p>
<p>Bukan suatu kebetulan Jakarta menjadi Ibukota Indonesia, sebab sejak zaman Hindia Belanda, Batavia sudah menjadi pusat pemerintahan.  Dan tidak tergantikan meskipun Jepang berhasil menguasai Indonesia.  Hingga akhirnya bangsa Indonesia memiliki kembali negeri ini, Jakarta tetap menjadi pilihan untuk menjadi Ibukota.  Meskipun dalam satu waktu, Yogyakarta pernah menjadi ibukota Indonesia, namun hal tersebut tidak berlangsung lama.</p>
<p>Kesan pertama saya bertahun-tahun lalu, ketika masih kecil, Jakarta panas.  Dan itu membuat saya tidak betah.  Pernah, saya bertekad, Jakarta adalah pilihan terakhir untuk mencari pekerjaan.  Namun, toh, di Jakarta juga pekerjaan pertama saya.  Meski pada akhirnya saya tidak bertahan lama juga, hanya 9 bulan.  Atmosfir Jakarta bagi saya terlalu &#8216;keras&#8217;.  Tidak pernah terpikir untuk bisa berlama-lama hidup di Jakarta.  Kalau bisa, tidak perlu lah saya hidup di Jakarta.  Biarlah orang lain saja yang berlomba-lomba hidup di kota ini. Jakarta bukan bagian saya dan hati saya juga tidak pernah &#8216;berada&#8217; di sana, meskipun dengan resiko penghasilan saya tidak sebesar teman-teman yang bekerja di Jakarta.</p>
<p>Herannya, dalam beberapa bulan terakhir, saya malah lebih akrab dengan Jakarta.  Meskipun tidak sampai jatuh cinta.  Biasa saja.  Ada kalanya dalam satu minggu, 3 kali bolak-balik Bandung-Jakarta.  Semuanya karena tuntutan tugas dan profesionalisme.  Selebihnya, karena saya suka perjalanan daripada &#8216;terkurung&#8217; di kantor.</p>
<p>Beruntunglah Jakarta yang telah &#8216;melahirkan&#8217; penulis sekaliber Alwi Shahab.  Seorang penulis, mantan jurnalis Antara dan Republika.  Lewat tulisan-tulisannya di Republika, yang kemudian dibukukan menjadi 4 buah judul buku, Alwi berhasil membawa gambaran <em>tempo doeloe</em> kota Jakarta ke masa kini.  Melalui buku-buku berjudul &#8220;<strong>Robin Hood dari Betawi</strong>&#8220;, &#8220;<strong>Queen of The East</strong>&#8220;, &#8220;<strong>Saudagar Baghdad dari Betawi</strong>&#8221; dan &#8220;<strong>Maria van Engels Menantu Habib Kwitang</strong>&#8220;, Alwi menceritakan fakta sejarah yang menarik tentang tempat-tempat di Jakarta.  Bahkan, saya jadi tertarik untuk mendatangi tempat-tempat yang diceritakan oleh Alwi dalam buku-buku tersebut.  Meskipun, tetap tidak sampai membuat saya jadi berminat untuk tinggal di Jakarta, tapi setidaknya ada alasan lain yang menjadikan Jakarta menarik bagi saya.</p>
<p>Merujuk ke buku-buku tersebut, dalam banyak hal, Jakarta <em>tempo doeloe</em> masih lebih baik.  Bahkan, bisa dikatakan, yang terjadi di Jakarta sekarang bukanlah sebuah kemajuan, tetapi sebuah kemunduran.  Julukan <em>Queen of The East</em>, Ratu dari Timur, yang pernah melekat pada kota Jakarta (Batavia) adalah sebuah pengakuan.  Bahkan, saat itu, orang-orang Singapura yang lebih tertarik untuk datang ke Batavia.  Sedangkan sekarang, sebaliknya &#8230; orang Indonesia yang berlomba-lomba untuk ke Singapura.</p>
<p>Sepanjang membaca buku-buku tersebut, imaji saya bekerja.  Membayangkan Batavia.  Indah, meski saya tidak tahu pasti seperti apa Batavia yang sesungguhnya.  Saya membayangkan seandainya Batavia dulu ada di masa kini, tentu menyenangkan.  Walaupun di sisi lain, adalah sebuah fakta kelam juga bahwa di Batavia pernah terjadi pembantaian terhadap lebih dari 10000 orang etnis China.  Juga sebuah fakta, selain julukan &#8220;Ratu dari Timur&#8221;, Batavia juga dikenal sebagai &#8220;Kuburan orang Belanda&#8221;, karena 25% orang Belanda yang datang ke Batavia, mati di kota tersebut.</p>
<p>Selain itu, Batavia juga pernah mendapat julukan &#8220;Venesia dari Timur&#8221;, karena banyaknya kanal-kanal di kota tersebut.  Karena sungai dan kanal-kanal tersebut merupakan salah satu sarana transportasi yang cukup vital di Batavia.  Itulah sebabnya, Jakarta sekarang menjadi rawan banjir, karena banyaknya kanal-kanal air yang sudah berubah bentuk.  Fakta lainnya, ternyata memang sejak dulu juga kawasan Gajah Mada dan Hayam Wuruk sekarang, terkenal sebagai daerah &#8216;hitam&#8217;, terutama urusan prostitusi.</p>
<p>Satu lagi fakta yang sebetulnya sangat ironis.  Meskipun warga Betawi adalah penduduk asli kota Jakarta, namun Jakarta tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka.  Satu contoh saja, nama jalan.  Nyaris sulit didapati nama jalan yang diambil dari &#8216;pahlawan&#8217; Betawi.  Padahal, sesungguhnya banyak warga Betawi yang berjuang untuk mengusir penjajah dari kota tersebut.  Hal tersebut, dianggap sebagai sikap toleran warga Betawi yang sejak dahulu sudah terbiasa hidup dalam kemajemukan.  Meskipun, saya berpendapat, hal tersebut karena ketidakberdayaan warga Betawi karena kurangnya -atau bahkan tidak adanya- kesempatan dalam sektor pemerintahan. Saat ini, cukup sulit mendapati warga Betawi yang tinggal di tengah Kota.  Sebagian besar &#8216;terusir&#8217; ke daerah pinggiran Jakarta.</p>
<p>Satu buku lain karya Ridwan Saidi, sejarahwan dan budayawan asli Betawi, juga sahabat Alwi Shahab.  Buku tersebut berjudul &#8220;<strong>Anak Betawi diburu Intel Yahudi</strong>&#8220;.  Sebuah cerpen yang berlatar belakang budaya Betawi, juga disisipi beberapa fakta tentang Jakarta <em>tempo doeloe</em>, terutama gambaran Jakarta tahun 50-70an.  Meskipun, buku tersebut tidak memuat fakta sejarah sebanyak buku-buku Alwi Shahab.  Namun, buku tersebut bisa dijadikan sebagai referensi untuk mengenal Jakarta <em>tempo doeloe</em>.</p>
<p>Sisa-sisa peninggalan Batavia, masih bisa ditemukan di kawasan sekitar Stasiun Kota, berupa gedung-gedung peninggalan VOC.  Sebab kawasan Kota dulunya merupakan pusat kota Batavia, itu sebabnya disebut Kota.  Namun, setelah Daendels berkuasa, pusat kota dipindahkan ke kawasan sekitar Monas, Senen dan Masjid Istiqlal sekarang.  Pemindahan pusat kota disebabkan sudah mulai padatnya kawasan Kota dan mulai mewabahnya berbagai macam penyakit, diantaranya Malaria.</p>
<p>Setelah membaca buku-buku tersebut, setiap kali ke Jakarta, mata saya mulai tertuju ke gedung-gedung lama, atau nama-nama jalan.  Setiap kali menemukan nama gedung atau jalan yang diceritakan dalam buku-buku tersebut, spontan hati saya berkata, &#8220;<em>oh, ini tempat terjadinya bla bla bla &#8230;</em>&#8220;, atau &#8220;<em>oh, di sini ternyata daerah yang dulu bla bla bla&#8230;</em>&#8220;.  Selebihnya, Jakarta masih belum mampu membuat saya jatuh cinta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/31102008/jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagi, Tentang Kuliner</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/20102008/lagikuliner/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/20102008/lagikuliner/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 17:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[SerbaSerbi]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Saya dapat sebuah pesan di friendster yang berisi tentang tips kesehatan a la Rasulullah SAW.  Sebetulnya isi pesan tersebut cukup panjang, tapi akan saya copy-paste beberapa baris terkait makanan.
Ini adalah diet Rasullulah SAW. Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya dapat sebuah pesan di <a href="http://www.friendster.com" target="_blank">friendster</a> yang berisi tentang tips kesehatan <em>a la</em> Rasulullah SAW.  Sebetulnya isi pesan tersebut cukup panjang, tapi akan saya <em>copy-paste</em> beberapa baris terkait makanan.</p>
<blockquote><p>Ini adalah diet Rasullulah SAW. Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasullullah ini, anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.</p>
<ol>
<li>Jangan makan SUSU bersama DAGING</li>
<li>Jangan makan DAGING bersama IKAN</li>
<li>Jangan makan IKAN bersama SUSU</li>
<li>Jangan makan AYAM bersama SUSU</li>
<li>Jangan makan IKAN bersama TELUR</li>
<li>Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD</li>
<li>Jangan makan SUSU bersama CUKA</li>
<li>Jangan makan BUAH bersama SUSU, CTH : KOKTEL</li>
</ol>
</blockquote>
<p>Oke.  Saya kira memang dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk hal tersebut.  Artinya, data-data penelitian mutlak ada untuk mendukung pernyataan-pernyataan tersebut.  Sayangnya saya tidak tahu harus mencari tahu kemana data-data tersebut.  Saya tidak tahu siapa itu Ustadz Abdullah Mahmood, akan tetapi jika ternyata pernyataan-pernyataan tersebut benar adanya, maka tentu saja hal tersebut harus menjadi perhatian kita.</p>
<p>Berikut komentar saya soal pernyataan-pernyataan tersebut:</p>
<p>Point 1, praktis saya akan terselamatkan dari efek campuran dua jenis makanan tersebut karena SUSU dan DAGING bukan makanan favorit saya, alias tidak suka sama sekali.  Akan tetapi, saya juga kekurangan gizi dari kedua jenis makanan tersebut <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/unhappy.png' alt=':-(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Point 2, ini juga aman.  Saya penyuka IKAN, tapi tidak dengan DAGING.</p>
<p>Point 2, aman.  Suka IKAN, anti SUSU.</p>
<p>Point 3, masih aman.  AYAM adalah makanan favorit saya yang lain, tapi akan selalu anti dengan SUSU.</p>
<p>Point 4, agak terancam.  IKAN dan TELUR, dua makanan yang tak tegantikan.  Agak sering juga menyantap kedua jenis makanan tersebut dalam sekali makan.</p>
<p>Point 6, cukup aman.  Apa itu DAUN SALAD? Haha.  Jarang makan sayur-sayuran.</p>
<p>Point 7, aman.  CUKA yang masuk ke dalam tubuh saya hanya lewat Bakso saja.  Itu pun sangat jarang.</p>
<p>Point 8, <em>absolutely safe</em>.  Coba ya, yang sering <em>ngeledekin</em> saya karena tidak pernah makan es buah atau jus campur SUSU.  Perhatikan tuh, jangan cuma bisa meledek saja! <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/tongue.png' alt=':p' class='wp-smiley' /> *yes, serasa di atas angin*</p>
<p>Meskipun, tentu saja, Rasulullah SAW menyukai Susu dan Daging.  Hanya beliau tidak mencampur keduanya dengan makanan yang jika tercampur, akan memberikan dampak penyakit.  Setahu saya, orang China juga punya aturan untuk tidak mencampur daging merah dan daging putih.  Artinya, Ayam dan Daging Sapi misalnya, tidak pernah ada dalam satu piring ketika makan.  Rasulullah SAW pun ternyata melakukan hal yang sama.</p>
<p>Faktanya, saya juga sangat langka mengalami sakit perut.  Pernah mules, tapi biasanya akibat makanan yang pedas.  Perut saya memang tidak terbiasa dengan makanan yang pedas-pedas.</p>
<p>Namun, sekali lagi, diperlukan data-data yang akurat untuk mendukung pernyataan-pernyataan tersebut.  Jika sains mendukung, maka bisa menjadi satu lagi bukti bahwa Rasulullah SAW memang manusia yang luar biasa.  Shalawat dan Salam untukmu, ya Rasul&#8230; <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>PS: Kamu tahu &#8230; bahkan soal makanan pun, Rasulullah SAW mengajari kita banyak hal.  Beruntunglah manusia-manusia yang pernah bertemu dan bergaul dengannya.  Akan tetapi, kita pun masih punya kesempatan untuk meneladaninya, agar kelak, beliau mengenali kita sebagai umatnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/20102008/lagikuliner/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
