Buku Terjemahan dan Program Beasiswa Luar Negeri Sebagai Salah Satu Faktor Kemajuan Sebuah Bangsa

Science, Artikel May 20th, 2008

Belajar dari sejarah, ada dua hal yang menurut saya cukup penting dan terlupakan oleh bangsa kita, atau setidaknya oleh pemerintah kita. Kalau pun sudah dilakukan, namun sepertinya kurang optimal. Pertama, soal penerjemahan buku, dan yang kedua adalah soal pengiriman orang-orang terbaik kita untuk mengenyam pendidikan di luar negeri dan mengaplikasikan serta mengamalkannya di dalam negeri.

Buku Terjemahan

Setidaknya ada dua fase yang menjadi rujukan saya untuk membuktikan betapa pentingnya buku terjemahan sebagai salah satu faktor kemajuan sebuah bangsa. Pertama, ketika Islam berhasil menguasai peradaban dan yang kedua ketika Eropa mulai menunjukkan kemajuan dalam bidang teknologi.

Ketika Islam mulai menguasai sebagian belahan bumi ini, salah satu hal yang dilakukan oleh pemerintahnya adalah mendorong kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan menerjemahkan buku-buku atau manuskrip-manuskrip yang berhubungan dengan iptek, yang berasal dari berbagai sumber. Diantaranya adalah buku-buku filsafat Yunani, kedokteran, matematika dan lain-lain.

Hal yang sama juga dilakukan oleh bangsa Eropa di masa-masa awal berakhirnya Perang Salib. Ribuan buku berbahasa arab diterjemahkan. Beberapa buku yang diterjemahkan diantaranya, “Muqaddimah” karya Ibnu Khaldun, buku-buku kedokteran Ibnu Syifa (Avicenna) dan buku-buku Ibnu Rusyd (Averos).

Penerjemahan buku bertujuan untuk mempermudah akses bagi para calon ilmuwan terhadap sumber-sumber utama ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagaimanapun, tidak semua orang Indonesia mengerti bahasa Inggris atau Jepang. Juga akan menyita cukup banyak waktu jika setiap orang harus belajar atau harus bisa bahasa asing terlebih dahulu agar bisa memahami isi buku dari luar negeri.

Pengiriman Mahasiswa ke Luar Negeri

Jepang pernah melakukan ini, Malaysia bahkan sampai mengirim orang-orangnya untuk belajar dari Indonesia, itu juga yang pernah dilakukan oleh India. Begitu pula ketika Eropa mengirim orang-orang terbaiknya untuk belajar dari pemimpin peradaban saat itu. Dan hasilnya bisa kita lihat sekarang.

Jepang menjadi pemimpin dalam bidang teknologi. Malaysia sudah jauh meninggalkan Indonesia. Bahkan India, yang selama ini kita olok-olok karena filmnya, adalah penyumbang terbanyak orang-orang yang memimpin dunia ICT.

Memang banyak orang Indonesia yang menuntut ilmu di Luar Negeri atau di ‘kantung-kantung’ ilmu pengetahuan. Akan tetapi, banyak pula yang menyatakan tidak ingin kembali ke Indonesia. Ada berbagai macam alasan, diantaranya adalah karena apresiasi pemerintah Indonesia dirasa sangat kurang terhadap mereka. Selain itu, mereka pergi atas biaya sendiri atau beasiswa dari lembaga-lembaga yang berasal dari luar negeri, sehingga merasa tidak memiliki tanggung jawab apa pun terhadap negara.

Akan berbeda halnya jika mahasiswa-mahasiswa yang kuliah ke luar negeri dibiayai sepenuhnya oleh negara. Lalu setelah masa pendidikan selesai mereka diberi ruang untuk mengembangkan seluruh ilmu yang dimilikinya. Lebih dari itu, diberikan apresiasi, entah berupa uang, penghargaan atau pun proyek-proyek penelitian. Ini yang kurang diberikan oleh pemerintah Indonesia.

Tanggung Jawab Pemerintah

Meskipun ada ratusan penerbit buku di Indonesia, akan tetapi penerbit-penerbit buku tersebut hanya akan menerbitkan buku-buku yang diyakini menjanjikan dalam hal penjualan. Oleh sebab itu, mudah dimengerti jika buku terjemahan yang tersedia di Indonesia lebih banyak didominasi oleh buku-buku nonfiksi semacam novel. Sementara buku-buku sains terjemahan masih jauh lebih sedikit.

Akan berbeda halnya jika dalam hal terjemahan tersebut, pemerintah mengambil peran. Katakanlah dengan mendirikan Lembaga Penerjemahan, yang terdiri dari orang-orang yang kompeten dan memiliki penguasaan bahasa asing yang mumpuni. Jika 100 orang dibebani tugas untuk menerjemahkan masing-masing 1 judul buku dalam 3 bulan, maka dalam 1 tahun pemerintah Indonesia sudah memiliki 300 judul buku terjemahan.

Agar penerbit juga diuntungkan, buku-buku tersebut diorderkan ke-300 penerbit. Bisa juga dengan sistem kerjasama atau sponsorship, agar beban pemerintah juga tidak terlalu berat. Katakanlah sekali terbit, pemerintah membayar atau bekerja sama dengan para penerbit itu untuk mencetak 1000 eksemplar. Kemudian buku-buku tersebut disebarkan ke perpustakaan-perpustakaan umum, sekolah dan universitas. Tanpa biaya.

Agar lebih memudahkan lagi, tidak ada larangan bagi setiap orang untuk memperbanyak buku tersebut. Oleh sebab itu, permasalahan lisensi buku menjadi tanggung jawab pemerintah untuk membicarakannya dengan pengarang dan penerbit aslinya. Dengan cara seperti itu, setiap orang akan lebih mudah mengakses ‘isi’ buku tersebut. Entah itu difotokopi, atau membeli bajakannya sekalipun tidak akan menjadi masalah.

Apalagi dengan adanya internet, semakin lebih mudah lagi. Pemerintah tinggal menyediakan situs khusus yang berisi seluruh ebook terjemahan tersebut. Setiap orang bebas mengunduh file-file yang tersedia dan diperbolehkan untuk membuat versi cetaknya, bahkan menjualnya, meskipun sebatas pengganti ongkos cetak.

Selain itu, ada cara lain lagi. Adanya kontrak kerja dengan mahasiswa yang dikirim ke luar negeri dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Misalnya, setiap mahasiswa yang mendapatkan beasiswa diwajibkan untuk menerjemahkan minimal sebuah buku yang terkait bidang pendidikan mahasiswa tersebut.

Selain menerjemahkan buku, mahasiswa tersebut juga diwajibkan menulis minimal satu judul buku. Buku tersebut harus berhubungan dengan bidang yang diambilnya. Kemudian buku tersebut diserahkan kepada pemerintah. Namun, mahasiswa tersebut tetap mendapatkan hak dari terbitnya buku tersebut. Seperti, namanya tercantum sebagai penulis buku dan mendapatkan uang lelah. Meskipun, dengan sepenuhnya dibiayai beasiswa itu saja sudah cukup.

Kontrak kerja lainnya adalah dengan mewajibkan para penerima beasiswa tersebut untuk kembali ke Indonesia dan mengajar di universitas-universitas atau sekolah-sekolah yang ditunjuk oleh pemerintah. Katakanlah untuk jangka waktu 5 tahun. Atau ditempatkan di lembaga-lembaga pemerintah yang terkait dengan bidang pendidikan penerima beasiswa, dan dituntut untuk menyumbangkan dan mengembangkan berbagai inovasi di bidang tersebut. Untuk kemudian menuliskan dan mempublikasikan hasil-hasil penelitiannya.

Penerima beasiswa yang tidak kembali ke Indonesia akan mendapatkan hukuman. Misalnya, dicap “pengkhianat” dan dalam KTP keluarganya akan diberikan cap “keluarga pengkhianat”, sehingga anggota keluarga lainnya tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan beasiswa serupa. Persis seperti yang dilakukan pemerintah kita terhadap keluarga PKI. Itu hanya salah satu contoh saja. Tentunya ada berbagai macam hukuman yang bisa diberikan.

Penutup

Saran-saran dalam tulisan ini hanyalah sumbangan pemikiran dan opini pribadi. Terlepas dari apakah saran tersebut kongkrit atau tidak, realistis atau tidak dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Mudah-mudahan, jika ada pemerintah yang baca, tulisan ini bisa memberikan sumbangan yang berarti. Meskipun hanya dalam tataran wacana.

Bandung. 19 Mei 2008. 21.00.

NB: Bhehehe, judulnya panjang pisan ya? Bingung atuh da, judul yang pas kira-kira apa ya? :D Tulisan ini terinspirasi ketika mengingat betapa kesulitannya saya mendapatkan referensi buku-buku berbahasa Indonesia terkait tema skripsi yang saya ambil.

Popularity: 36% [?]

Link Terkait

Tambah Katalog
BBM, Buku dan Kurang Gizi
Resensi Baru
Minus
Islam Versi Bajakan: Ahmadiyah Ditinjau Sebagai Sebuah Sistem Operasi Komputer
Kejar Setoran
Kabar Baru, Tantangan Baru
Menanti Terwujudnya Sebuah Impian
Istiqamah KuadratTM
Ikut-ikutan Bikin Kaleidoskop-BlogTM

Blogger Ulul Albab

Esai, Science, Artikel, Islamologi May 5th, 2008

Jika ditanyakan kepada saya, blog seperti apakah yang membuat saya iri? Jawabannya bukan blog yang banyak komentarnya, bukan blog yang membuat orang jadi terkenal atau pun blog yang besar traffic-nya.  Meskipun kadang merasa iri juga, tapi sejak awal blogging saya tidak terlalu tertarik untuk menjadikan hal semacam itu sebagai tujuan utama saya.   Kalau menurut saya, sayang sekali jika tujuan blogging hanya untuk itu.

Saya sangat iri kepada blogger yang bisa men-sinergi-kan antara sains dan agama dalam tulisan-tulisannya.  Dalam kasus saya, Islam adalah agama yang dimaksud.  Ilmiah sekaligus memiliki dan memberikan pengalaman spiritual kepada pembacanya.  Membuat cerdas sekaligus menjadikan seseorang mendekatkan dirinya kepada sang pencipta.  Memberi pencerahan otak sekaligus kepada hati.

Terus terang saja, tidak banyak saya temukan blog semacam itu.  Blog ini pun belum bisa dikategorikan seperti itu, meskipun pada mulanya tujuan saya blogging adalah untuk itu.  Apa daya, kemampuan saya belum sampai ke tahap itu.  (kok jadi ber-rima begini ?)  :angelpusing:

Sejak masa sekolah, saya termasuk orang yang tidak menyetujui dikotomi antara agama dan sains, atau antara dunia dan akhirat.  Oleh sebab itu, saya tidak bisa menerima sekularisasi dalam bidang apa pun.  Bagi saya agama dan sains mestilah saling mendukung, saling melengkapi atau saling menyempurnakan.  Bahkan, perintah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW adalah “Iqra!“, bacalah! Sebab membaca adalah kunci dari sains, kunci dari ilmu pengetahuan.

Indonesia saat ini kekurangan orang-orang semacam itu.  Ada yang shalih, tapi kurang cerdas di bidang lainnya.  Orang-orang semacam ini cenderung menerima “apa adanya” dan mudah dibodoh-bodohi.  Ada yang cerdas, tapi kurang shalih.  Orang semacam ini cenderung untuk sombong dan membodoh-bodohi orang lain.  Benarlah pernyataan Einstein,” (ber)-ilmu tanpa (ber-)agama adalah pincang, (ber-)agama tanpa ilmu adalah buta.”

Saya kemudian jadi teringat ucapan seorang Ulama yang tidak terlalu banyak dikenal ketika melihat barang-barang elektronik yang menurutnya sangat canggih.  Katanya, “ini adalah mutiara umat Islam yang hilang“.  Beliau berkata seperti itu karena meyakini bahwa seharusnya umat Islam menguasai teknologi.  Sementara teknologi akan terkuasai jika kita menguasai ilmu pengetahuan sebagai pondasinya.  Selama kita tidak pernah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, selama itu juga kita hanya akan menjadi ‘penonton’ peradaban.

Pada acara bedah buku “Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran” karya Dr. Syamsudin Arif di Masjid Salman ITB beberapa saat lalu, Adian Husaini mengatakan bahwa di Indonesia belum ditemukan seorang pun doktor di bidang Islam-Saintis.  Sementara Malaysia sudah memiliki beberapa orang yang bergelar doktor di bidang Islam-Saintis.  Saya saja baru tahu kalau ada orang yang mendalami tentang Islam-Saintis.  Andaikan diberi kesempatan, ingin juga rasanya untuk mendalami tentang Islam-Saintis yang dimaksud oleh Adian Husaini tersebut.

Dalam Islam, orang-orang yang bisa men-sinergi-kan dan mengharmonisasikan agama dan sains inilah yang kemudian disebut ulul albab.  Tidak hanya sekedar beragama, tapi juga berilmu.  Tidak hanya sekedar berilmu, tapi juga beragama.  Dalam diri seorang ulul albab, keduanya memiliki porsi yang seimbang.  Ilmuwan sekaligus ulama.  Meskipun tergolong ‘radikal’ dalam beragama, tapi lebih mengedepankan jalur diskusi atau melalui tulisan dan tidak menyukai jalur kekerasan, sesuai kapasitas ke-ilmuwan-an dan ke-ulama-an mereka.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 050508. 00.00

Popularity: 43% [?]

Link Terkait

Pesta Blogger, Pesta Orang-orang Besar
Facts About Donny Reza, I Think
Senangkanlah Hatimu!
Ngelemesin Jari
Kejar Setoran
Tetangga
Ruang Kosong
Ikut-ikutan Bikin Kaleidoskop-BlogTM
Seri Takdir
Belajar Bijak

Islam Versi Bajakan: Ahmadiyah Ditinjau Sebagai Sebuah Sistem Operasi Komputer

Artikel, IT Worlds, Islamologi April 19th, 2008

Latar Belakang

Jika diibaratkan sebuah Sistem Operasi dalam komputer, Islam adalah sebuah merk dagang Sistem Operasi yang terkenal, jaminan mutu, fleksibel, berdaya saing dan berdaya jual tinggi serta most-recomended. Kualitasnya menyebabkan produk tersebut bisa bertahan lama sejak pertama kali masuk ke pasar. Dengan alasan kualitas itu pula, produk Islam digunakan turun temurun dan bahkan setiap orang tua mewajibkan anak-anak bahkan cucu-cucunya untuk menggunakan produk tersebut.

Islam menyebar menggunakan metode Dakwah dengan tim marketingnya terdiri dari orang-orang yang berkualitas tinggi dan sangat memahami seluk beluk Islam. Hebatnya lagi, tim marketing Islam adalah orang-orang yang melakukan dakwah secara sukarela. Barangkali persis seperti apa yang dilakukan oleh para pengguna Linux dan Open Source Software(OSS) di seluruh dunia.

Metode dakwah adalah sebuah metode marketing yang sangat fleksibel, bisa disesuaikan dengan kondisi psikologi sang juru dakwah maupun calon konsumennya. Namun sang juru dakwah dituntut untuk lebih memahami psikologi calon konsumen. Selain itu, seorang juru dakwah dilarang untuk memaksa calon konsumen menggunakan produk tersebut.

Tugas seorang juru dakwah hanya menyampaikan bahwa ada sebuah Sistem Operasi dengan merk dagang Islam yang memiliki berbagai kelebihan dibandingkan Sistem Operasi yang lain. Setiap orang bisa terlibat menjadi seorang juru dakwah. Bahkan, seringkali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sudah berperan menjadi seorang juru dakwah dan menyebabkan orang lain tertarik kepada Islam.

Islam kemudian tumbuh menjadi sebuah Sistem Operasi yang tidak lepas dari kehidupan sehari-hari seseorang. Oleh karenanya, Islam begitu dicintai oleh mereka yang menamakan dirinya Umat Islam atau Kaum Muslimin. Setiap orang yang sudah menggunakan Sistem Operasi Islam, maka dia sudah menjadi bagian dari Umat Islam.

Setiap pengguna Sistem Operasi Islam dianjurkan untuk membaca buku panduan Sistem Operasi tersebut agar tidak salah jalan dalam menggunakan Islam. Buku panduan tersebut dinamakan Al-Quran. Al-Quran diyakini berasal dari yang menciptakan Islam itu sendiri dan hanya satu-satunya buku panduan yang legal. Setiap pemalsuan ataupun modifikasi terhadap buku panduan ini tidak pernah berhasil karena ternyata isi buku panduan tersebut banyak dihafal oleh Umat Islam. Maka kesalahan satu huruf saja bisa langsung terdeteksi.

Al-Quran adalah sebuah produk open source dan berlisensi. Lisensi yang digunakan adalah Creative Commons Attribution-No Derivative Works 3.0 Unported License. Bebas diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Setiap orang bebas menyebarkan dan menjual duplikasi Al-Quran. Namun, setiap penjualan Al-Quran terjemahan harus disertai dengan sumber aslinya. Tujuannya sebagai fungsi koreksi jika terdapat kesalahan dalam terjemahan. Redaksi dari sumber aslinya tidak boleh dimodifikasi sedikitpun. Akan tetapi desain, penggunaan huruf dan penambahan ornamen pada Al-Quran -selama tidak merubah redaksi dari Al-Quran- diperbolehkan. Bahkan sebagian Umat Islam ada yang menganjurkan untuk memperindah bentuk tulisan kode sumbernya.

Sang Kreator Islam, Allah, memilih dan mengutus seseorang yang bernama Muhammad sebagai guru, pengajar dan pendidik yang memberikan pencerahan tentang bagaimana mengaplikasikan Islam yang baik dan benar. Oleh sebab itu, Muhammad bergelar Rasulullah, Sang Utusan Allah. Rasulullah memiliki otoritas penuh untuk menentukan mana yang boleh dilakukan, mana yang tidak boleh dilakukan dalam mengaplikasikan Islam. Rasulullah juga diyakini paling memahami penafsiran terhadap Al-Quran untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah kemudian mengajarkan apa yang dipahaminya dalam bentuk ucapan, perintah, larangan, sikap, tindakan, persetujuannya atau mencontohkannya. Kesemuanya itu ternyata memiliki makna yang mendalam bagi para sahabatnya. Oleh karena itu, tidak sedikit pula yang menuliskannya dan mengajarkannya ke anak atau murid-murid mereka, karena lebih banyak berisi teknis menjalankan Sistem Operasi Islam. Al-Quran tidak memuat teknis mengoperasikan Islam, hanya petunjuk-petunjuk umum. Step by Step atau How To pengoperasian tidak dibahas di dalam Al-Quran. Petunjuk teknis inilah yang kemudian dibukukan juga dan diberi nama Al-Hadits.

Sayangnya, jika dibandingkan membaca Al-Quran, sangat sedikit sekali Kaum Muslimin yang tertarik untuk membaca Al-Hadits. Barangkali karena terlalu banyak, dirasa membebani. Implikasinya, dalam hal melakukan praktik maintenance atau diistilahkan Ibadah dalam Islam, banyak yang tidak sesuai dengan petunjuk teknisnya. Perbedaan pemahaman dalam hal teknis inilah yang kemudian memunculkan berbagai Mazhab di tubuh Umat Islam.

Umat Islam yang memiliki pemahaman sama terhadap suatu pelaksanaan teknis, biasanya mendirikan sebuah organisasi, agar terakomodir dengan baik. Maka kemudian muncul berbagai organisasi dengan Platform Islam. Dalam Islam, platform tersebut berarti Aqidah. Berbagai macam organisasi ini dalam dunia Linux barangkali lebih dikenal sebagai Distro. Platformnya sama, Islam, tetapi citarasanya berbeda. Meskipun kerap kali terjadi ‘gesekan’ antar-pengguna Distro, tetapi tidak satu pun yang menyatakan mereka bukan ‘pengguna’ Islam.

Sebuah distro (organisasi) dikatakan memiliki Platform Islam jika: Pertama, menyatakan bahwa Allah adalah Sang Kreator Islam, tidak ada Kreator selain Allah; kedua Al-Quran merupakan satu-satunya Buku Panduan yang legal; ketiga Muhammad adalah Rasulullah dan merupakan utusan terakhir. Ini semua adalah harga mati. Oleh sebab itu, Muhammadiyah, NU, Persis, Hidayatullah, Hizbut Tahrir atau PKS di Indonesia masih dalam Platform Islam. Sama halnya dengan Fedora, Redhat, Ubuntu atau Mandriva yang masih disebut Linux.

Dalam keyakinan Kaum Muslimin, Islam yang ada sekarang merupakan Islam Final Release. Tidak akan mungkin muncul Islam versi yang baru ataupun utusan yang baru. Islam Final Release juga diklaim sebagai Sistem Operasi yang paling sempurna oleh sang Kreator. Oleh sebab itu, tidak akan pernah muncul Islam Service Pack 1 atau 2 atau berapapun yang berisi patch terhadap Islam Final Release.

Munculnya Ahmadiyah dan Penolakan Kaum Muslimin

Di tengah-tengah kemapanan Islam, di India muncul seseorang yang mengklaim dirinya sebagai utusan baru. Sang Utusan bernama Mirza Ghulam Ahmad (MZA). MZA kemudian menawarkan sebuah Sistem Operasi baru yang ‘dimodifikasi’ dari Islam. Sistem Operasi baru tersebut kemudian dikenal sebagai Ahmadiyah.

Masalah muncul ketika MZA memasarkan Sistem Operasi tersebut dengan merk dagang Islam. Selain itu, pengguna Ahmadiyah juga diberikan buku panduan baru yang diberi nama Tadzkirah. Ternyata, Tadzkirah sebagian besar diambil dari Al-Quran yang kemudian dimodifikasi oleh MZA. Selain itu, posisi Muhammad tidak menjadi utusan terakhir lagi dan posisinya digantikan oleh MZA.

Hal tersebut tentu saja menyulut keberatan dan kemarahan sebagian besar Kaum Muslimin. MZA diklaim telah melakukan pembajakan merk dagang Islam. Posisi Ahmadiyah pun menjadi serba tanggung, tidak bisa dikatakan Islam juga tidak bisa dikatakan sebagai sebuah Distro baru, karena platform yang digunakan sudah berbeda.

Sebagian besar Kaum Muslimin tidak terlalu mempermasalahkan terjadinya perubahan platform. Masalah terbesar adalah penggunaan merk dagang Islam sebagai Sistem Operasi baru tersebut. Jika dilihat dari sudut pandang pengusaha atau sebuah perusahaan, hal ini tentu saja sebuah masalah besar, bahkan hidup-matinya sebuah perusahaan. Terlebih jika merk dagang tersebut sudah mendarah daging dikalangan penggunanya. Dari sisi hukum, penggunaan merk dagang yang sama tidak bisa dibenarkan dan merupakan sebuah pelanggaran berat. Apalagi dilakukan secara terang-terangan.

Oleh sebab itu, kekhawatiran Kaum Muslimin sangat bisa dimengerti dan menjadi sebuah kewajaran jika Kaum Muslimin menuntut pembubaran Ahmadiyah atau meminta menggantinya dengan merk dagang yang baru. Inti masalahnya bukan terletak pada ketakutan atas berkurangnya pengguna Islam, akan tetapi lebih kepada kesalahpahaman yang dimungkinkan akan terjadi terhadap Kaum Muslimin dan Islam itu sendiri. Hanya saja, tetap tidak dibenarkan Kaum Muslimin melakukan perusakan terhadap Sistem Operasi tersebut.

Sebuah Opini

Shakespeare berpendapat, “apalah artinya sebuah nama“. Saya berpendapat, “hanya orang bodoh yang percaya pendapat Shakespeare“. Sebab ternyata pe-nama-an menjadi sangat penting dalam banyak hal. Allah saja mengajarkan Adam nama-nama benda terlebih dahulu. Di sisi lain, nama juga bisa menjadi fungsi koreksi jika ada pernyataan atau kutipan yang diatasnamakan terhadap seseorang.

Dalam kasus Ahmadiyah, penggunaan nama Islam jelas tidak bisa diterima karena ‘barang’-nya saja sudah berbeda. Di dalam agama Kristen pun pernah terjadi ‘perubahan’ platform tersebut. Sehingga muncul Protestan sebagai nama baru sebuah agama. Orang Katolik tidak mau disebut Protestan, begitu juga sebaliknya.

Penggunaan isu HAM pun menjadi tidak relevan karena persoalannya bukan terletak pada boleh-tidaknya seseorang beribadah dan meyakini sesuatu. Bayangkan saja anda memiliki sebuah perusahaan yang sudah anda bangun bertahun-tahun, sudah memiliki nama besar dan dikenal banyak orang. Lalu tiba-tiba, muncul sebuah perusahaan dengan nama yang sama dan diklaim sebagai perusahaan yang sama dengan perusahaan yang anda miliki.

Saya yakin anda pun akan menuntut pembubaran atau meminta perusahaan tersebut mengganti nama bahkan anda pun berhak untuk meminta ganti rugi atau menuntut mereka ke pengadilan. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan HAM, karena itu adalah sebuah pelanggaran. Justru anda dan perusahaan anda telah menjadi korban pembajakan. Jika kemudian terjadi penyimpangan di lapangan oleh karyawan perusahaan tersebut, perusahaan anda pun akan menjadi terkena imbasnya. Anda tentu tidak ingin nama baik perusahaan rusak atau memberikan ganti rugi jika terjadi kerugian dipihak pengguna.

Di sisi lain, anda pun tentu akan melakukan gerakan penyadaran kepada para pengguna produk perusahaan ’saingan’ anda tersebut bahwa produk tersebut bukan produk anda. Atau anda akan mengatakan bahwa perusahaan anda tidak pernah mengeluarkan produk seperti itu. Keberatan anda bukan pada para pengguna karena menggunakan produk ‘bajakan’ tersebut, akan tetapi pada perusahaan pembajak tersebut yang sudah semena-mena menggunakan nama perusahaan anda. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kaum Muslimin terhadap Ahmadiyah, demi menjaga nama Islam itu sendiri.

Kesimpulan

Inti permasalah kasus Ahmadiyah adalah pada penggunaan nama Islam oleh Ahmadiyah. Salah satu cara agar Ahmadiyah tetap bisa leluasa bergerak dan ‘menjual produknya’ adalah dengan mengganti nama dan melepaskan embel-embel Islam. Selama nama Islam masih melekat pada Ahmadiyah, selama itu pula Kaum Muslimin akan tetap mempermasalahkan. Sayangnya, Ahmadiyah sepertinya tidak pernah berniat mengganti nama Islam.

Oleh sebab itu, dalil HAM tidak bisa digunakan dan tidak relevan karena kasus yang terjadi sesungguhnya bukan pada pelarangan Jemaah Ahmadiyah untuk meyakini apa yang diyakininya atau pelarangan beribadah. Persoalan keyakinan dan ibadah adalah urusan personal yang dilindungi dan dihormati oleh Islam. Akan tetapi, penggunaan nama Islam untuk Ahmadiyah tetap tidak bisa dibenarkan. Sebab Ahmadiyah merupakan sebuah entitas yang berbeda dengan Islam jika ditinjau dari platform (aqidah) Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW.

Saran

Bagi Ahmadiyah, Ganti nama. Dengan resiko Ahmadiyah akan kehilangan beberapa Jemaahnya karena tidak merasa lagi sebagai orang Islam. Saya berpendapat begitu karena saya meyakini bahwa banyaknya Jemaah Ahmadiyah di Indonesia sebagiannya karena mengusung nama Islam. Oleh sebab itu, ketika Ahmadiyah dinyatakan bukan Islam, ada kemungkinan banyak Jemaah yang keluar dari Ahmadiyah.

Namun, tentunya Ahmadiyah tidak akan merasa khawatir dengan hal tersebut jika meyakini bahwa banyaknya Jemaah Ahmadiyah bukan karena mengusung nama Islam.

Bagi Pemerintah, segera buat kebijakan yang menjelaskan status Ahmadiyah. Jika mencontoh kepada Pakistan, Brunei dan Malaysia serta merujuk kepada Rabithah Alam Islami, maka Ahmadiyah dinyatakan sebagai sebuah agama. [Harry Sufehmi, Hidup Damai Bersama Ahmadiyah]

Bagi Umat Islam, tetap sabar, hindari pengrusakan dan perbanyak dialog. Kenali Islam dengan baik agar tidak salah pilih.

Bandung, 22.00, 19 April 2008.

Tulisan Terkait dari Blogger lain

Update: Kata Open Source pada tulisan ini saya coret setelah merujuk ke sini.  Ada kesalahpahaman dari saya pribadi.  Terima kasih.

Popularity: 61% [?]

Link Terkait

Blogger Ulul Albab
Mitos Sialan
Kiamat Itu Ilmiah
Breaking The Rules
Lebaran Yang Lucu
Love, Faith & Freedom
Lebih Baik Menolak
Buku Terjemahan dan Program Beasiswa Luar Negeri Sebagai Salah Satu Faktor Kemajuan Sebuah Bangsa
Takdir: Rezeki, Jodoh dan Kematian
Purnama, Shaum dan Simbol Romantisme

Tentang Wanita Berjilbab

Artikel April 13th, 2008

Banyak yang tidak percaya dan penasaran dengan kalimat “Tergila-gila wanita berjilbab sejak balita” dalam tulisan Facts About Donny Reza. Beberapa diantaranya adalah teman kerja saya. Sebagian besar yang bertanya merasa tidak percaya bahkan menganggap saya hanya sekedar bercanda. Salah satu yang penasaran adalah ‘rekan’ penulis buku Istikharah Cinta, mbak Soraya Fadillah, yang dapat dibaca di komen ini. Asli nih, bakal panjang!!

Sejak kecil, saya sering dititipkan oleh orang tua saya ke tempat saudara-saudara mereka. Minggu ini di rumah Paman saya di Sumedang, minggu depan saya sudah di Nenek saya di Garut, esoknya di rumah Uwak saya di Cianjur. Maklum, jarak antara saya dan adik saya dan adik bungsu saya memang sangat rapat. Saya dan adik perempuan saya berselang satu tahun setengah, adik perempuan saya dengan si bungsu berselang 2 tahun. Sebagai anak yang paling tua, saya harus rela berbagi kasih sayang dengan kedua adik saya. Namun, saya dapat kasih sayang dari keluarga yang lain. Tentu saja.

Saya lupa lagi kapan tepatnya, yang jelas sebelum saya masuk SD, suatu hari saya diajak oleh paman saya untuk bertemu dengan teman-temannya. Saya masuk SD tahun 1988. Bagi Donny kecil saat itu yang penting dibelikan Teh Botol atau Teh Kotak, Donny kecil pasti ikut. Apalagi paman saya tersebut yang ‘meracuni’ saya dengan Teh Botol dan Teh Kotak.

Saat itulah, saya melihat sesosok wanita yang berbeda dari biasanya. Saya masih saja ingat, dengan pakaian berwarna merah agak tua dan jilbab bercorak dengan warna dasar sama, wanita tersebut sangat menonjol dibandingkan yang lainnya. Wanita tersebut sangat cantik dan manis di mata Donny kecil saat itu. Dan dia juga hanya satu-satunya wanita berjilbab saat itu diantara teman-teman Paman saya. Cinta pertama Donny? Entahlah. Kurang mengerti saya. :D

Tahun 80-an barangkali adalah masa perjuangan bagi para wanita berjilbab karena seringkali mendapatkan ‘perlawanan’ dari tempatnya sekolah atau bekerja. Kalau pun ada yang berjilbab, biasanya ibu-ibu dan nenek-nenek, anak muda jarang. Donny kecil tidak mengerti soal itu, yang jelas sejak saat itu, dalam benak Donny kecil sudah tertanam sesosok wanita seperti itu.

Waktu berlalu, Donny kecil beranjak menjadi Donny ABG. Sekitar kelas 6 SD Ibu saya mengikutsertakan saya belajar mengaji di sekitar kompleks tempat tinggal kami. Pengajarnya beberapa orang mahasiswa, berjilbab semua. Donny ABG menemukan kembali mutiaranya yang hilang. Donny ABG semangat datang ke tempat itu bukan untuk mengaji, tapi untuk bisa dekat-dekat dengan mutiara-mutiara itu. :setannyengir: Saya jadi berpikir, jangan-jangan anak jalanan yang sekarang ‘diurus’ oleh sahabat-sahabat saya juga memiliki pikiran yang sama dengan Donny ABG ya? :D

Hanya saja, kegiatan mengaji tersebut tidak berlangsung lama. Donny ABG sudah beranjak menjadi anak SMP. Saat itu Donny ABG mulai mengenal yang namanya Cinta sama Monyet. Donny ABG jatuh cinta sama salah seorang wanita paling cantik di SMP tersebut. Gebetan sekaligus saingan, sebab dalam 3 tahun di SMP tersebut Donny ABG dan gebetan selalu berebut posisi siswa teladan. :gaya: (Gini-gini juga mantan siswa teladan)

Awalnya dia tidak berjilbab. Suatu pagi Donny ABG kebingungan karena tidak menemukan sang gebetan. Namun, Donny ABG terkejut melihat seorang wanita berjilbab di lapangan sedang mendapat hukuman karena datang terlambat. Dan ternyata, itu dia!! :angelcinta: Wow! Makin kelihatan cantik. Dan, lagi-lagi, Donny ABG serasa menemukan kembali mutiaranya yang hilang. Ketika itu, dia merupakan siswi pertama di SMP tersebut yang memakai jilbab. Sejak saat itu, sahabat-sahabatnya pun banyak yang memutuskan untuk mengikuti jejaknya. Saya sendiri jadi sangat termotivasi untuk shalat, biasanya hanya shalat maghrib saja, kala itu jadi rajin.

Waktu berlalu. Masa perpisahan tiba. Donny ABG memilih untuk melanjutkan ke sekolah favorit di Bogor. SMUN 3 Bogor. Sang gebetan memilih untuk ke Pesantren Gontor. Kami berpisah. Tanpa pernah ada pernyataan “cinta” atau “suka” diantara kami, meskipun kata teman-teman saya dia menunggu pernyataan itu. :angelpusing: Yah, Donny ABG memang tidak pernah PD soal cinta-cintaan. Sebenernya sampai sekarang juga begitu. Kabar terakhir, dia sudah menjadi seorang ustadzah sekarang. Alhamdulillah.

Saatnya masa SMA. Masa yang katanya paling indah. Memang, saya pun mengakui. Di sini Donny ABG menemukan juga tambatan hati yang lainnya. Halah. Sama, sang tambatan hati awalnya belum memakai jilbab. Lagi, hari pertama kelas 2, Donny ABG dikagetkan dengan peristiwa yang sama. Sang tambatan hati memakai jilbab juga, meskipun saat itu sudah mulai banyak yang memakai jilbab. Sejak hari itu, saya merasa hal semacam itu menjadi sebuah “kutukan” buat saya. Namun, kutukan yang baik tentunya.

Mengapa kutukan? Begini…Di dalam kepala saya mungkin sudah banyak lintasan-lintasan pikiran mengenai beberapa nama wanita. Hanya lintasan pikiran saja. “Kalau si A gimana ya?“, “Kalau si B gimana ya?“. Baik yang berjilbab, maupun yang tidak. Herannya, hampir semua wanita tidak berjilbab yang sempat saya pikirkan itu, sekarang memakai jilbab. Sebagian besar. Hanya saja, saya tidak mungkin menyebut nama. Ini tentu saja mengherankan saya. Bahkan sempat terpikir, “jangan-jangan kekuatan pikiran saya yang menyebabkan mereka memakai jilbab“. Hihi. Saya nggak ngerti soal itu. Saya juga bukan peramal. Bagi saya hanya sebuah ‘kebetulan’ saja, atau mungkin juga insting saya yang cukup tajam.

Akan tetapi, jangan diartikan teman-teman saya yang memakai jilbab juga karena saya pun pernah memikirkannya. Bisa merusak tatanan persahabatan. Itu sih kesadaran mereka sendiri. Untungnya, kalau wanita berjilbab yang masuk ke dalam pikiran saya tidak satu pun yang akhirnya membuka kembali jilbab mereka. Malah biasanya semakin istiqamah.

Masa SMA dilalui kurang lebih sama dengan masa SMP. Maksudnya dalam urusan cinta-cintaan. Donny ABG tidak pernah merasakan pacaran, sampai sekarang. Untungnya hal tersebut jadi sesuatu yang saya syukuri sekarang. Saya masih orisinil, beruntung banget kan yang jadi istri saya? Heu3x.

Perlu dicatat, dengan kedua wanita berjilbab yang saya ceritakan di sini, jarang sekali saya mengobrol dengan mereka. Kecuali setelah lulus. Ah, Donny memang seperti itu. Tidak pernah PD kalau urusan wanita. :D Sekalinya ke-PD-an, malah patah hati berbulan-bulan. Heu3x. Makanya, sekarang saya tidak terlalu tertarik lagi urusan cinta-cintaan zaman ABG dulu. Lebih tertarik ikutan jalurnya Fahri di Ayat-ayat Cinta :D

Baru setelah lulus SMA, saya mulai membatasi diri untuk ‘mencari’ dan mensyaratkan jilbab untuk calon pendamping. Alasan saya sederhana. Wanita berjilbab 99% Muslim. Saya tidak perlu repot mengira-ngira lagi, “agama dia apa ya?“. Sudah jelas, meskipun di Indonesia muslim masih mayoritas. Sesuai juga dengan apa yang tercantum dalam Al-Quran, “agar mudah dikenali“. Meskipun tidak selalu, tapi jilbab juga merupakan simbol ketaatan, simbol keshalihan. Kalau pada Allah Yang Maha Agung saja taat, mestinya ke suami juga taat. Dalam arti yang positif tentunya. Dan bagi saya, jilbab juga sebuah simbol pembebasan, bukan pengekangan.

Saya merasa, peristiwa masa kecil yang telah terjadi merupakan sebuah pengkondisian dari Allah untuk saya. Sampai akhirnya saya pernah dan masih serta mudah-mudahan selalu istiqamah untuk terlibat dalam organisasi yang -katanya- bergerak di bidang dakwah. Satu hal lagi yang sebetulnya patut saya syukuri. Perlu saya akui bahwa orientasi hidup saya berubah cukup drastis setelah berkecimpung di ranah dakwah yang berat berliku tajam dan kadang-kadang menukik. Meskipun, sejujurnya saya menjalaninya masih setengah-setengah, bahkan saya masih merasa belum berdakwah sama sekali, masih takut-takut dan malu-malu gitu deh. Tanda kurang iman sebetulnya.

So, begitulah. Asal muasal mengapa saya lebih tertarik wanita berjilbab. Awalnya faktor psikologis masa kecil, kemudian dikuatkan dengan peristiwa-peristiwa yang ‘memaksa’ saya tidak bisa lepas dari kutukan baik ini. Akhirnya, semuanya saya lakukan dengan penuh kesadaran dan menjadi pilihan hidup saya juga. Dan saya sangat bersyukur untuk itu.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 130308. 06.00.

Popularity: 68% [?]

Link Terkait

Facts About Donny Reza, I Think
Penting, Kurang Penting, Tidak Penting
Wanita-Wanita Tangguh
Pada Suatu Pernikahan
Self Motivation
Karena Wanita Ingin Dimarahi
Love, Faith & Freedom
Dunia di Pinggir Lapang
Ikut-ikutan Bikin Kaleidoskop-BlogTM
Bakat Terpendam: Jadi Psikopat!!

Ruang Kosong

Esai, Refleksi, Artikel March 23rd, 2008

Salah satu favorit saya dalam buku Filosofi Kopi karya Dee (Dewi Lestari) adalah tulisan yang berjudul Spasi.

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tak dipakai 2 kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

Dewi Lestari - Spasi

Spasi atau ruang kosong atau jarak. Sudah sejak lama sebetulnya saya ingin menulis tentang ini. Bahkan, sebelum membaca tulisan Dee tersebut. Sebetulnya sudah banyak juga yang membahasnya.

Akan tetapi, beberapa minggu yang lalu untuk kedua kalinya saya menonton Kick Andy episode AA Gym. Kali ini versi lengkapnya. Ternyata, banyak juga quote dan rahasia menarik dari cerita AA Gym yang tidak ditampilkan pada episode sebelumnya. Hanya saja, fokus saya kali ini bukan pada hal itu.

Sehubungan dengan spasi, ada yang menarik dari cerita pengalaman AA Gym di acara tersebut. Berdasarkan pengakuan AA Gym, tidak banyak yang tahu bahwa ternyata kesibukan dakwahnya selama ini malah menjerumuskan dirinya ke dalam rutinitas yang tidak sehat dan menjauhkannya dari keluarga. Tidak ada waktu untuk dirinya dan keluarga. Bahkan dalam dunia dakwah sekali pun, ternyata jika dilakukan terlalu berlebihan berdampak tidak sehat juga. Beliau menganalogikan dirinya dengan gergaji yang digunakan terus-menerus selama 5 tahun tanpa henti. Pada akhirnya gergaji tersebut akan tumpul, rusak dan tidak efektif lagi untuk memotong kayu.

Sudah sangat lumrah jika setiap orang memerlukan waktu untuk bisa menyendiri, merenung dan beristirahat. Itulah spasi, jarak, ruang kosong. Hanya saja, tidak sedikit juga yang menyadari fungsi aktivitas tersebut untuk kesehatan jiwanya. Memang setiap malam kita tidur, tapi itu hanya memenuhi kebutuhan fisik saja. Dan itu pun tidak selalu efektif. Sebab tidak jarang juga kita tidur dengan otak yang sibuk memikirkan pekerjaan dan rutinitas lainnya. Sementara kebutuhan jiwa seringkali tidak terpenuhi.

Oleh sebab itu, saya sangat memahami ketika beberapa orang sahabat saya belakangan ini melakukan kontemplasi. Bagaimanapun, kontemplasi adalah kebutuhan jiwa. Saya termasuk orang yang sering melakukan kontemplasi. Untungnya saya bisa berkontemplasi di mana pun. Bahkan dikeramaian. Paling sering di jalanan. Makanya, saya lebih suka duduk di dekat kaca bus atau kereta. Selain bisa menikmati pemandangan, pikiran saya bisa mengawang-awang. Merenung, muhasabah, berencana…apa saja yang terpikirkan. Itu sebabnya, saya memilih sendiri dan kurang berminat untuk mengobrol dengan orang lain jika melakukan perjalanan. Saya lebih suka membiarkan pikiran saya ‘melayang’ kemana-mana. Ada kalanya, ide muncul ketika itu. Ide apa pun.

Jiwa manusia itu memang unik. Ketika sudah ‘penuh’ yang terjadi adalah kejenuhan, saat itulah perlu ‘dikosongkan’. Ketika sudah kosong, tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Harus diisi kembali. Dengan ilmu, dengan nasihat, dengan membaca. Barangkali, itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa para penulis adalah orang-orang yang sehat jiwanya. Sebab dalam diri penulis terjadi siklus ‘mengisi-mengosongkan’ yang kontinyu. Jiwanya selalu ‘baru’.

Ada saat mengisi jiwanya dengan bacaan-bacaan, dengan pengalaman dan informasi. Lalu, ketika seluruh ‘bahan’ tersebut terkumpul, bisa dipastikan, setiap penulis akan merasakan kegelisahan ketika ide-idenya belum tertuangkan ke dalam sebuah tulisan. Sangat mudah saja jika ingin ‘menyiksa’ penulis atau para blogger. Hindarkan dia dari kertas, dari buku, dari alat tulis, dari komputer, dari mesin tik…seorang penulis sejati akan gila diperlakukan seperti itu. Sebetulnya hal tersebut tidak hanya berlaku bagi para penulis, tapi juga untuk segala profesi yang berbasis karya. Musisi, penyair, pelukis, programer, desainer atau bahkan fotografer.

Dalam mitologi Yunani, diceritakan ada seorang tokoh yang dihukum oleh Dewa. Sisifus namanya. Hukumannya sederhana saja. Dia harus mengangkat sebuah batu yang besar, hingga ke puncak gunung, setelah tiba di atas gunung, batu itu harus digelindingkan lagi. Didorong lagi ke atas, untuk kemudian digelindingkan lagi. Seperti itu, terus menerus.

Bagi saya itu sebuah hukuman yang menyakitkan. Memang hukuman yang sederhana, tapi bayangkan yang terjadi pada jiwa kita. Kehampaan, kejenuhan, kebosanan. Kita melakukan hal tersebut terus menerus, sepanjang hidup, tanpa jeda. Tidak ada kesempatan untuk sekedar berencana. Ditambah lagi apa yang kita lakukan benar-benar tidak ada artinya. Bagi saya mengerikan. Tidak ada harapan, tidak ada impian sama sekali. Padahal impian dan harapan yang menjadikan hidup menjadi ’sedikit’ lebih indah bukan?

Saya kemudian jadi terbayang, Islam menggambarkan berbagai macam hukuman dalam neraka bentuknya seperti itu. Bahkan, jika misalkan saya masuk neraka dan dihukum persis seperti Sisifus, itu saja sudah bisa membuat saya sangat tersiksa dan menderita. Apalagi pakai api segala…dibakar, hancur lebur, utuh lagi, dibakar lagi, hancur lebur, utuh lagi…neverending. Naudzubillahi.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 230308.10.30

NB: ini sebetulnya draft tulisan yang tertunda sejak 2 bulan yang lalu. Rasanya kok nggak fokus ya? melenceng kemana-mana?

Popularity: 37% [?]

Link Terkait

Ruang Foto
Pernak-Pernik
Para Tetangga
Kejar Setoran
Buku Terjemahan dan Program Beasiswa Luar Negeri Sebagai Salah Satu Faktor Kemajuan Sebuah Bangsa
Total Football, Where Are You?
Love, Faith & Freedom