Islam Versi Bajakan: Ahmadiyah Ditinjau Sebagai Sebuah Sistem Operasi Komputer
5, Artikel, Islam April 19th, 2008
Latar Belakang
Jika diibaratkan sebuah Sistem Operasi dalam komputer, Islam adalah sebuah merk dagang Sistem Operasi yang terkenal, jaminan mutu, fleksibel, berdaya saing dan berdaya jual tinggi serta most-recomended. Kualitasnya menyebabkan produk tersebut bisa bertahan lama sejak pertama kali masuk ke pasar. Dengan alasan kualitas itu pula, produk Islam digunakan turun temurun dan bahkan setiap orang tua mewajibkan anak-anak bahkan cucu-cucunya untuk menggunakan produk tersebut.
Islam menyebar menggunakan metode Dakwah dengan tim marketingnya terdiri dari orang-orang yang berkualitas tinggi dan sangat memahami seluk beluk Islam. Hebatnya lagi, tim marketing Islam adalah orang-orang yang melakukan dakwah secara sukarela. Barangkali persis seperti apa yang dilakukan oleh para pengguna Linux dan Open Source Software(OSS) di seluruh dunia.
Metode dakwah adalah sebuah metode marketing yang sangat fleksibel, bisa disesuaikan dengan kondisi psikologi sang juru dakwah maupun calon konsumennya. Namun sang juru dakwah dituntut untuk lebih memahami psikologi calon konsumen. Selain itu, seorang juru dakwah dilarang untuk memaksa calon konsumen menggunakan produk tersebut.
Tugas seorang juru dakwah hanya menyampaikan bahwa ada sebuah Sistem Operasi dengan merk dagang Islam yang memiliki berbagai kelebihan dibandingkan Sistem Operasi yang lain. Setiap orang bisa terlibat menjadi seorang juru dakwah. Bahkan, seringkali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sudah berperan menjadi seorang juru dakwah dan menyebabkan orang lain tertarik kepada Islam.
Islam kemudian tumbuh menjadi sebuah Sistem Operasi yang tidak lepas dari kehidupan sehari-hari seseorang. Oleh karenanya, Islam begitu dicintai oleh mereka yang menamakan dirinya Umat Islam atau Kaum Muslimin. Setiap orang yang sudah menggunakan Sistem Operasi Islam, maka dia sudah menjadi bagian dari Umat Islam.
Setiap pengguna Sistem Operasi Islam dianjurkan untuk membaca buku panduan Sistem Operasi tersebut agar tidak salah jalan dalam menggunakan Islam. Buku panduan tersebut dinamakan Al-Quran. Al-Quran diyakini berasal dari yang menciptakan Islam itu sendiri dan hanya satu-satunya buku panduan yang legal. Setiap pemalsuan ataupun modifikasi terhadap buku panduan ini tidak pernah berhasil karena ternyata isi buku panduan tersebut banyak dihafal oleh Umat Islam. Maka kesalahan satu huruf saja bisa langsung terdeteksi.
Al-Quran adalah sebuah produk open source dan berlisensi. Lisensi yang digunakan adalah Creative Commons Attribution-No Derivative Works 3.0 Unported License. Bebas diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Setiap orang bebas menyebarkan dan menjual duplikasi Al-Quran. Namun, setiap penjualan Al-Quran terjemahan harus disertai dengan sumber aslinya. Tujuannya sebagai fungsi koreksi jika terdapat kesalahan dalam terjemahan. Redaksi dari sumber aslinya tidak boleh dimodifikasi sedikitpun. Akan tetapi desain, penggunaan huruf dan penambahan ornamen pada Al-Quran -selama tidak merubah redaksi dari Al-Quran- diperbolehkan. Bahkan sebagian Umat Islam ada yang menganjurkan untuk memperindah bentuk tulisan kode sumbernya.
Sang Kreator Islam, Allah, memilih dan mengutus seseorang yang bernama Muhammad sebagai guru, pengajar dan pendidik yang memberikan pencerahan tentang bagaimana mengaplikasikan Islam yang baik dan benar. Oleh sebab itu, Muhammad bergelar Rasulullah, Sang Utusan Allah. Rasulullah memiliki otoritas penuh untuk menentukan mana yang boleh dilakukan, mana yang tidak boleh dilakukan dalam mengaplikasikan Islam. Rasulullah juga diyakini paling memahami penafsiran terhadap Al-Quran untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah kemudian mengajarkan apa yang dipahaminya dalam bentuk ucapan, perintah, larangan, sikap, tindakan, persetujuannya atau mencontohkannya. Kesemuanya itu ternyata memiliki makna yang mendalam bagi para sahabatnya. Oleh karena itu, tidak sedikit pula yang menuliskannya dan mengajarkannya ke anak atau murid-murid mereka, karena lebih banyak berisi teknis menjalankan Sistem Operasi Islam. Al-Quran tidak memuat teknis mengoperasikan Islam, hanya petunjuk-petunjuk umum. Step by Step atau How To pengoperasian tidak dibahas di dalam Al-Quran. Petunjuk teknis inilah yang kemudian dibukukan juga dan diberi nama Al-Hadits.
Sayangnya, jika dibandingkan membaca Al-Quran, sangat sedikit sekali Kaum Muslimin yang tertarik untuk membaca Al-Hadits. Barangkali karena terlalu banyak, dirasa membebani. Implikasinya, dalam hal melakukan praktik maintenance atau diistilahkan Ibadah dalam Islam, banyak yang tidak sesuai dengan petunjuk teknisnya. Perbedaan pemahaman dalam hal teknis inilah yang kemudian memunculkan berbagai Mazhab di tubuh Umat Islam.
Umat Islam yang memiliki pemahaman sama terhadap suatu pelaksanaan teknis, biasanya mendirikan sebuah organisasi, agar terakomodir dengan baik. Maka kemudian muncul berbagai organisasi dengan Platform Islam. Dalam Islam, platform tersebut berarti Aqidah. Berbagai macam organisasi ini dalam dunia Linux barangkali lebih dikenal sebagai Distro. Platformnya sama, Islam, tetapi citarasanya berbeda. Meskipun kerap kali terjadi ‘gesekan’ antar-pengguna Distro, tetapi tidak satu pun yang menyatakan mereka bukan ‘pengguna’ Islam.
Sebuah distro (organisasi) dikatakan memiliki Platform Islam jika: Pertama, menyatakan bahwa Allah adalah Sang Kreator Islam, tidak ada Kreator selain Allah; kedua Al-Quran merupakan satu-satunya Buku Panduan yang legal; ketiga Muhammad adalah Rasulullah dan merupakan utusan terakhir. Ini semua adalah harga mati. Oleh sebab itu, Muhammadiyah, NU, Persis, Hidayatullah, Hizbut Tahrir atau PKS di Indonesia masih dalam Platform Islam. Sama halnya dengan Fedora, Redhat, Ubuntu atau Mandriva yang masih disebut Linux.
Dalam keyakinan Kaum Muslimin, Islam yang ada sekarang merupakan Islam Final Release. Tidak akan mungkin muncul Islam versi yang baru ataupun utusan yang baru. Islam Final Release juga diklaim sebagai Sistem Operasi yang paling sempurna oleh sang Kreator. Oleh sebab itu, tidak akan pernah muncul Islam Service Pack 1 atau 2 atau berapapun yang berisi patch terhadap Islam Final Release.
Munculnya Ahmadiyah dan Penolakan Kaum Muslimin
Di tengah-tengah kemapanan Islam, di India muncul seseorang yang mengklaim dirinya sebagai utusan baru. Sang Utusan bernama Mirza Ghulam Ahmad (MZA). MZA kemudian menawarkan sebuah Sistem Operasi baru yang ‘dimodifikasi’ dari Islam. Sistem Operasi baru tersebut kemudian dikenal sebagai Ahmadiyah.
Masalah muncul ketika MZA memasarkan Sistem Operasi tersebut dengan merk dagang Islam. Selain itu, pengguna Ahmadiyah juga diberikan buku panduan baru yang diberi nama Tadzkirah. Ternyata, Tadzkirah sebagian besar diambil dari Al-Quran yang kemudian dimodifikasi oleh MZA. Selain itu, posisi Muhammad tidak menjadi utusan terakhir lagi dan posisinya digantikan oleh MZA.
Hal tersebut tentu saja menyulut keberatan dan kemarahan sebagian besar Kaum Muslimin. MZA diklaim telah melakukan pembajakan merk dagang Islam. Posisi Ahmadiyah pun menjadi serba tanggung, tidak bisa dikatakan Islam juga tidak bisa dikatakan sebagai sebuah Distro baru, karena platform yang digunakan sudah berbeda.
Sebagian besar Kaum Muslimin tidak terlalu mempermasalahkan terjadinya perubahan platform. Masalah terbesar adalah penggunaan merk dagang Islam sebagai Sistem Operasi baru tersebut. Jika dilihat dari sudut pandang pengusaha atau sebuah perusahaan, hal ini tentu saja sebuah masalah besar, bahkan hidup-matinya sebuah perusahaan. Terlebih jika merk dagang tersebut sudah mendarah daging dikalangan penggunanya. Dari sisi hukum, penggunaan merk dagang yang sama tidak bisa dibenarkan dan merupakan sebuah pelanggaran berat. Apalagi dilakukan secara terang-terangan.
Oleh sebab itu, kekhawatiran Kaum Muslimin sangat bisa dimengerti dan menjadi sebuah kewajaran jika Kaum Muslimin menuntut pembubaran Ahmadiyah atau meminta menggantinya dengan merk dagang yang baru. Inti masalahnya bukan terletak pada ketakutan atas berkurangnya pengguna Islam, akan tetapi lebih kepada kesalahpahaman yang dimungkinkan akan terjadi terhadap Kaum Muslimin dan Islam itu sendiri. Hanya saja, tetap tidak dibenarkan Kaum Muslimin melakukan perusakan terhadap Sistem Operasi tersebut.
Sebuah Opini
Shakespeare berpendapat, “apalah artinya sebuah nama“. Saya berpendapat, “hanya orang bodoh yang percaya pendapat Shakespeare“. Sebab ternyata pe-nama-an menjadi sangat penting dalam banyak hal. Allah saja mengajarkan Adam nama-nama benda terlebih dahulu. Di sisi lain, nama juga bisa menjadi fungsi koreksi jika ada pernyataan atau kutipan yang diatasnamakan terhadap seseorang.
Dalam kasus Ahmadiyah, penggunaan nama Islam jelas tidak bisa diterima karena ‘barang’-nya saja sudah berbeda. Di dalam agama Kristen pun pernah terjadi ‘perubahan’ platform tersebut. Sehingga muncul Protestan sebagai nama baru sebuah agama. Orang Katolik tidak mau disebut Protestan, begitu juga sebaliknya.
Penggunaan isu HAM pun menjadi tidak relevan karena persoalannya bukan terletak pada boleh-tidaknya seseorang beribadah dan meyakini sesuatu. Bayangkan saja anda memiliki sebuah perusahaan yang sudah anda bangun bertahun-tahun, sudah memiliki nama besar dan dikenal banyak orang. Lalu tiba-tiba, muncul sebuah perusahaan dengan nama yang sama dan diklaim sebagai perusahaan yang sama dengan perusahaan yang anda miliki.
Saya yakin anda pun akan menuntut pembubaran atau meminta perusahaan tersebut mengganti nama bahkan anda pun berhak untuk meminta ganti rugi atau menuntut mereka ke pengadilan. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan HAM, karena itu adalah sebuah pelanggaran. Justru anda dan perusahaan anda telah menjadi korban pembajakan. Jika kemudian terjadi penyimpangan di lapangan oleh karyawan perusahaan tersebut, perusahaan anda pun akan menjadi terkena imbasnya. Anda tentu tidak ingin nama baik perusahaan rusak atau memberikan ganti rugi jika terjadi kerugian dipihak pengguna.
Di sisi lain, anda pun tentu akan melakukan gerakan penyadaran kepada para pengguna produk perusahaan ’saingan’ anda tersebut bahwa produk tersebut bukan produk anda. Atau anda akan mengatakan bahwa perusahaan anda tidak pernah mengeluarkan produk seperti itu. Keberatan anda bukan pada para pengguna karena menggunakan produk ‘bajakan’ tersebut, akan tetapi pada perusahaan pembajak tersebut yang sudah semena-mena menggunakan nama perusahaan anda. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kaum Muslimin terhadap Ahmadiyah, demi menjaga nama Islam itu sendiri.
Kesimpulan
Inti permasalah kasus Ahmadiyah adalah pada penggunaan nama Islam oleh Ahmadiyah. Salah satu cara agar Ahmadiyah tetap bisa leluasa bergerak dan ‘menjual produknya’ adalah dengan mengganti nama dan melepaskan embel-embel Islam. Selama nama Islam masih melekat pada Ahmadiyah, selama itu pula Kaum Muslimin akan tetap mempermasalahkan. Sayangnya, Ahmadiyah sepertinya tidak pernah berniat mengganti nama Islam.
Oleh sebab itu, dalil HAM tidak bisa digunakan dan tidak relevan karena kasus yang terjadi sesungguhnya bukan pada pelarangan Jemaah Ahmadiyah untuk meyakini apa yang diyakininya atau pelarangan beribadah. Persoalan keyakinan dan ibadah adalah urusan personal yang dilindungi dan dihormati oleh Islam. Akan tetapi, penggunaan nama Islam untuk Ahmadiyah tetap tidak bisa dibenarkan. Sebab Ahmadiyah merupakan sebuah entitas yang berbeda dengan Islam jika ditinjau dari platform (aqidah) Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW.
Saran
Bagi Ahmadiyah, Ganti nama. Dengan resiko Ahmadiyah akan kehilangan beberapa Jemaahnya karena tidak merasa lagi sebagai orang Islam. Saya berpendapat begitu karena saya meyakini bahwa banyaknya Jemaah Ahmadiyah di Indonesia sebagiannya karena mengusung nama Islam. Oleh sebab itu, ketika Ahmadiyah dinyatakan bukan Islam, ada kemungkinan banyak Jemaah yang keluar dari Ahmadiyah.
Namun, tentunya Ahmadiyah tidak akan merasa khawatir dengan hal tersebut jika meyakini bahwa banyaknya Jemaah Ahmadiyah bukan karena mengusung nama Islam.
Bagi Pemerintah, segera buat kebijakan yang menjelaskan status Ahmadiyah. Jika mencontoh kepada Pakistan, Brunei dan Malaysia serta merujuk kepada Rabithah Alam Islami, maka Ahmadiyah dinyatakan sebagai sebuah agama. [Harry Sufehmi, Hidup Damai Bersama Ahmadiyah]
Bagi Umat Islam, tetap sabar, hindari pengrusakan dan perbanyak dialog. Kenali Islam dengan baik agar tidak salah pilih.
Bandung, 22.00, 19 April 2008.
Tulisan Terkait dari Blogger lain
Update: Kata Open Source pada tulisan ini saya coret setelah merujuk ke sini. Ada kesalahpahaman dari saya pribadi. Terima kasih.
Lakukan Saja Pak Menteri!
5, SerbaSerbi March 29th, 2008
Saya belum selesai membaca Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE). Malas sebetulnya. Akan tetapi, saya perlu tahu karena bagaimanapun saya ‘orang IT’, ditambah sekarang di tempat kerja sedang mengurusi hal yang berhubungan dengan perundang-undangan. Meskipun cuma mengurusi kulitnya saja.
Berhubungan dengan UU-ITE tersebut, manuver pertama yang dilakukan oleh pemerintah kita adalah dengan mengeluarkan kebijakan untuk menangkal situs-situs p0r170 (supaya nggak kena sensor)
. Bahkan sampai mengeluarkan perangkat lunak untuk membantu menyensor situs-situs parno tersebut. Timbul pro dan kontra
. Seperti biasa. Ada yang optimis, ada yang pesimis.
ada juga yang masa bodoh
. Saya sudah pasti setuju. Niat baik perlu didukung. Bicara masalah teknis, nanti saja dulu.
Pihak yang kontra mengatakan bahwa pemerintah seharusnya jangan dulu mengurusi hal-hal ‘kecil’ semacam itu. Lebih baik urus saja masalah kemiskinan, pengangguran dan masalah lain yang ‘lebih besar’. Jadi, kasus seorang wanita diperkosa oleh 30 orang pria di Mataram setelah nonton VCD parno, yang dalam 2 hari terakhir ramai di berita-berita televisi kita adalah masalah kecil. Atau kasus seorang anak SD diperkosa oleh teman-teman sekelasnya, akibat VCD parno, juga masalah kecil. Hmmm.
Masih dari pihak kontra, mereka berpendapat bahwa informasi tidak perlu disaring. Sebaiknya yang perlu dilakukan pemerintah adalah berfikir untuk memberikan edukasi dan pembinaan mental yang baik. Dengan begitu, setiap orang tahu mana yang baik dan mana yang buruk sehingga memiliki filter sendiri.
Lha, bukankah apa yang dilakukan oleh pemerintah sekarang juga sebuah edukasi? Bahwa pornografi -bagaimanapun bentuknya- tidak bisa dibenarkan. Lagipula, sekuat dan sebesar apa sih ‘lubang’ saringan yang kita miliki?! Kalau lubangnya besar-besar, sama saja bohong kalau kita gunakan untuk menyaring yang katanya ‘kecil’ itu, masih tembus juga. Kalau kurang kuat, jebol juga kan? Jadi, mengandalkan filter dalam diri saja tidak cukup.
Garbage in, Garbage out. Sebuah istilah yang sangat familiar dalam dunia pemrograman. Sederhananya, input (informasi) yang baik (benar) akan menghasilkan output yang baik (benar) pula. Juga sebaliknya, yang dimasukan sampah, keluarannya sampah juga. Orang-orang yang berkecimpung di dunia IT mestinya sangat paham. Kalau istilahnya AA Gym, “teko hanya mengeluarkan apa yang dimasukan ke dalamnya“. Komputer memang tidak sama dengan manusia. Komputer tidak punya hati sebagai filter untuk menimbang mana yang benar dan mana yang salah. Akan tetapi, hati manusia juga bisa ‘mati’ jika otak disesaki oleh informasi yang salah apalagi informasi yang termasuk ke dalam kategori sampah.
Dari sisi ekonomi, ada yang berpendapat bahwa maraknya situs-situs p0r170 tersebut juga karena banyaknya permintaan. Sayangnya, pendapat ini juga tidak sepenuhnya benar. Ada kalanya -bahkan sering- sebuah produk menjadi laku karena bagusnya branding atau marketing meskipun awalnya konsumen tidak tertarik untuk melakukan permintaan. Maraknya peredaran pornografi di Indonesia -saya kira- justru karena faktor branding dan marketing ini. Apalagi, orang Indonesia ini terkenal dengan sifat penasaran dan latah. Ada yang rame…ikut ngeramein, padahal nggak ngerti apa yang diramein.
Kalau kata Bang Napi, “kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan“. So, inilah yang pemerintah kita lakukan. Mengurangi kesempatan itu. Perihal masih ada yang mencuri-curi kesempatan, bukan hal yang aneh lagi.
Kekhawatiran lain dengan dilakukannya bloking terhadap situs-situs p0r170 tersebut adalah akan membuka jalan untuk dibloknya informasi lain seperti politik. Disinilah kita perlu mengawal pemerintah. Jangan sampai pemerintah terlalu berlebihan dan masuk ke ranah non-pornografi. Caranya? Organisasi ke-internet-an di Indonesia kan lumayan banyak. Ada AWARI (Assosiasi Warnet Indonesia), IndoWLI, RuangKopi (loh, emang masuk?
), dll. Bersuaralah lewat itu, saya kira Pak Menteri akan memahami.
Itu baru non-teknis. Soal teknis, ya perlu diakui, ini adalah tantangan bagi kita, terutama para praktisi IT di Indonesia. Saya rasanya kurang setuju dengan sebagian orang yang meremehkan pemerintah kita. Memang benar bahwa hal ini akan menghabiskan biaya yang besar, sumber daya yang tidak kecil dan teknologi yang lebih canggih. Akan tetapi, itu adalah ongkos belajar, jika kemudian terbukti tidak efektif, setidaknya kita pernah berbuat salah. Daripada tidak pernah berbuat salah, kita tidak akan pernah belajar. Saya pikir, akan lebih besar lagi uang yang terbuang percuma hanya gara-gara mengakses situs parno. Bikin ‘macet’ bandwidth pula.
Jadi daripada bersikap pesimis, bukankah lebih baik jika kita membantu pemerintah dalam hal ini? Daripada sekedar berbicara,”mustahil, sistem yang dibangun pasti jebol…“. Well, itu benar, tapi itu sebuah tantangan kan bagi anda-anda yang merasa paham networking? Atau, jangan-jangan, saking mengertinya makanya berbicara seperti itu? Saya pun mengerti bahwa tidak ada sistem yang 100% aman, tidak mungkin 100% situs seperti itu kena bloking. Pemerintah pun pasti paham soal ini, tapi setidaknya kita bisa meminimalisir hal-hal semacam itu. Barangkali om Andri bisa berbicara lebih banyak soal teknis?!
Kalau kita menyikapi secara berbeda, mungkin Pak Nuh selaku Menkominfo secara tidak langsung ingin berkata seperti ini, “kami ingin menyensor situs-situs pornografi, tapi kami sadar bahwa itu bukan pekerjaan yang mudah. Jadi bagi anda-anda yang mengerti, tolong bantu kami dengan skill anda, dengan pikiran anda, demi kemajuan bangsa Indonesia….”. Halah!
Jangan diartikan bahwa saya dan orang yang mendukung langkah pemerintah sebagai orang-orang yang “sok suci”. Kata-kata yang selalu digunakan untuk ‘menyerang’ orang-orang yang mengajak kebaikan. Padahal, jujur saja, tidak ada pikiran bahwa saya adalah “orang suci”. Tidak sama sekali. Justru karena saya sudah sangat muak dengan kesalahan-kesalahan yang saya lakukan, saya ingin mengajak anda untuk menemani saya bersama-sama berjalan ke arah yang lebih baik. Itu saja.
Jadi, lakukan saja Pak Menteri!! I support U. Btw, Pak Menteri, blog saya jangan diblok ya?! Halah!
C 1 H 3 U L 4 17 6. 290308. 05.30.
Senangkanlah Hatimu!
5, Curhat March 18th, 2008
Assalamu ‘alaikum…
Apa kabar dunia blogger?
Belakangan sedang kerja rodi, kerja romusa atau yang sejenisnya deh ;-). Sekarang ini waktu saya memang lebih banyak terpakai untuk pekerjaan, even in holiday. Sesuatu yang tidak terlalu saya sukai, tapi itulah tuntutan profesionalisme. Tidak boleh terganggu oleh like or dislike. Dulu saya sempat ‘nyindir’ orang lain, “masa sih nggak ada waktu buat menulis gara-gara kerja?“. Kenyataannya, saya merasakannya sekarang. Betapa nasib selalu dipergulirkan ya? Inginnya sih seperti om Budi Putra yang memilih untuk jadi seorang blogger profesional. Hanya saja, saya belum percaya diri untuk itu.
Saya kerepotan juga jadi satu-satunya orang IT yang harus memberikan pencerahan dan melakukan perubahan di perusahaan tempat kerja saya sekarang. Sebetulnya sebuah tantangan juga, tantangan besar malah. Salah satunya yang ingin saya lakukan adalah meng-edukasi rekan-rekan kerja saya untuk mulai menggunakan produk-produk open source dan mulai melirik Linux daripada menggunakan “Windows Pirated Edition” seperti sekarang. Apalagi untuk level perusahaan, resikonya cukup besar juga. Masalahnya, saya pun belum sepenuhnya menggunakan produk-produk open source. Jadi, sebetulnya saya ingin ‘mengajak’ rekan-rekan untuk bersama-sama belajar menggunakan OSS (Open Source Software). Masalah lainnya, mayorits rekan saya adalah perempuan. Perlu diakui, Linux dan kawan-kawannya masih ‘milik’ kaum adam. Padahal sebetulnya tidak seperti itu juga. Sekarang sudah bukan zamannya lagi menggunakan Linux dengan command-line murni seperti awal-awal kemunculannya dulu.
Di tengah-tengah rasa suntuk akibat mengejar deadline pekerjaan, saya sempatkan diri untuk memberikan pencerahan kepada diri sendiri. Saya buka situs Hidayatullah, buka Catatan Akhir Pekan-nya Adian Husaini. Ada artikel dengan judul “Ilmu dan Kebahagiaan“, di dalamnya saya dapat kutipan dari bukunya HAMKA, “Tasauf Modern”.
”Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit….”
”Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang selalu menimpa orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepada engkau lagi, lantaran kemiskinanmu…”
”Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu!
Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacatmu...”
”Kalau tanah airmu dijajah atau dirimu diperbudak, senangkanlah hatimu! Sebab penjajahan dan perbudakan membuka jalan bagi bangsa yang terjajah atau diri yang diperbudak kepada perjuangan melepaskan diri dari belenggu.”
Hehe. Saya punya bukunya, tapi belum masuk ke bagian kutipan tersebut. Pantas saja saya kurang ngeh.
Apalagi ya? Sudah dulu ah. Masih harus ngebut kejar deadline dan shalat maghrib dulu.
C 1 T 4 m 1 4 17 6. 61. 180308. 18.15.
NB: Buat Agah, sabar ya?! Insya Allah, saya akan tulis reviewnya
Cerita Dari BHTV Gathering
5, SerbaSerbi November 9th, 2007
Berawal dari sebuah undangan di milis KLuB yang dikirimkan oleh Zaki Akhmad soal pertemuan BHTV (Bandung High-Tech Valley) yang akan diadakan di Bimbingan Belajar IZI, Jl. Ambon 19 Bandung, kemudian memunculkan minat saya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Meskipun sudah cukup sering mendengar membaca soal BHTV, tapi awalnya tidak terlalu membuat saya berminat, karena saya pikir komunitas tersebut bersifat tertutup. Namun, ketika undangan tersebut sampai ke email saya, apalagi melihat susunan acaranya yang bernuansa ilmiah, membuat saya tertarik untuk menghadiri acara tersebut. Sudah cukup lama saya tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ‘berbau’ ilmiah, tepatnya sejak lulus kuliah. Terus terang, saya merindukan suasana tersebut.
Read the rest of this entry »