mind.donnyreza.net

Author: Donny Reza Page 3 of 23

Berdo’a, di Media Sosial?

Media-media sosial semacam Facebook dan Twitter memang telah mengubah perilaku penggunanya, dari apa yang biasanya dilakukan di dunia nyata (offline). Kadang -atau sering(?)- terjadi, di dunia maya sudah tidak jelas lagi batasan apakah sesuatu itu lazim bagi publik atau tidak. Bertengkar dan disaksikan ratusan orang, di dunia nyata, mungkin hanya terjadi pada kegiatan debat terbuka. Akan tetapi, di media sosial, semua orang bisa menjadi pelaku … sekaligus ‘penonton’ dan komentator. Memang tidak semua orang juga melakukannya, penekanan saya ada pada kata “bisa”. Sebab, tidak semua orang benar-benar bisa berdebat di dunia nyata. Saya, misalnya, cenderung tidak nyaman berdebat langsung berhadap-hadapan dengan lawan debat dan lebih suka menghindari perdebatan, tapi di dunia maya, saya bisa melakukannya, meskipun belakangan mulai saya kurangi.

DomaiNesia

Saya sendiri, ketika membaca sebuah ‘kicauan’ di Twitter, sering membayangkan apa yang dituliskan tersebut, diucapkan di dunia nyata. Sebab, saya memposisikan Twitter dan Facebook seperti sebuah forum terbuka atau bahkan … warung kopi :p. Skenarionya sederhana saja. Saat seseorang menulis sebuah kicauan: “duh, lapar, pengen ayam bakar“. Jika kalimat tersebut diucapkan di tengah sebuah kumpulan manusia di warung kopi atau bahkan di tempat nongkrong, masih terdengar lazim, orang lain mungkin akan menimpali, “sama, gue juga“, yang lain mungkin akan ikut juga menimpali, “cari makan, yuk?“.

Bahkan, ketika seseorang melakukan kultwit sekalipun, masih dapat diterima dan lazim terjadi. Anggap saja sebuah kelompok diskusi, di mana salah seorang menjadi pembicaranya. Apa itu kultwit? Kultwit -atau Kuliah Twit(ter)- biasanya merujuk pada kicauan di twitter yang membahas suatu masalah dan sengaja dibuat berseri atau dipecah oleh penulisnya, karena keterbatasan karakter di twitter yang hanya bisa 140 karakter sekali kicau. Bayangkan tulisan ini dipecah per kalimat untuk dijadikan kicauan di twitter … itulah kultwit.

Sekarang bayangkan jika seseorang menulis seperti ini: “sedang pipis, lega sekali rasanya“. Pernahkah terjadi seseorang mengatakan itu di tengah sebuah kelompok? saat sedang pipis? tidak pernah terjadi, kan? Saya sih belum pernah menemukan tulisan seperti itu di Facebook atau Twitter. Beda kasusnya kalau misalkan seseorang menulis, “baru beres pipis” atau “duh, kebelet, kepengen pipis“. Sangat lazim terjadi di dunia nyata.

Kasus lain lagi, misalnya saat sedang berkumpul dengan teman-teman, risih gak sih kita kalau ada pasangan suami-istri bertengkar di tengah-tengah kita? Sama halnya di media sosial. Meskipun rasanya seperti hanya bertengkar berdua saja, tapi kenyataannya banyak orang yang menyaksikan. Sebagianorang akan bertepuk tangan sambil tertawa, sebagian mengelus dada, sebagian lagi tidak ambil pusing atau masa bodoh. Kenyataannya, saya sering menjadi orang yang disebut pertama itu: tepuk tangan dan menertawakan. Jarang-jarang kan ada hiburan suami-istri bertengkar di media sosial? 😀 Lagipula, yang namanya sedang emosi, baik itu di facebook, di twitter atau pun di dunia nyata, hasilnya hampir sama saja: caci maki, ungkapan kekesalan, galau, amarah … ya, yang begitu-begitu itu lah. Ya, saya juga pernah terjebak menjadi pelaku dalam situasi semacam itu, meskipun sejak awal tidak suka melihat orang yang mengumbar masalah rumah tangganya di media sosial, saya juga pernah melakukannya, dan ternyata memang tidak menyelesaikan masalah. Menambah masalah sih iya, malah akhirnya diolok-olok teman dan dipermalukan. Paling minimal, disindir… seperti saya menyindir mereka yang pernah melakukannya.

Bagaimana dengan status atau kicauan yang berisi do’a? Misal, “semoga Timnas Indonesia juara kali ini“? Iya, ini do’a, hanya redaksinya umum saja, diungkapkan di depan rekan-rekan sekantor yang sedang makan siang bersama pun akan dianggap biasa saja. Bahkan kemudian akan menjadi bahan diskusi seru. Begitu pula dengan do’a seperti ini, “hey, kamu ulang tahun? semoga Allah mempertemukan kamu dengan jodoh terbaik …”. Ini juga lazim terjadi di tengah-tengah kumpulan manusia, bahkan yang tadinya tidak tahu akan menjadi tahu dan akhirnya mendo’akan juga. Begitu pula dengan do’a seperti ini: “hari ini teman saya si Fulan menikah, semoga keluarganya diberkahi …“. Ini juga -rasanya- masih lazim, bagi sebagian orang akan dianggap sebuah informasi.

Web Hosting

Lantas, bagaimana dengan do’a seperti ini: “Ya, Allah … mengapa masalah ini terasa begitu sulit? berilah Hamba jalan keluar dari masalah ini…”. Atau, “Ya Allah, berilah hamba jodoh terbaik yang Engkau pilihkan untukku“. Serius, pernahkah Anda menemukan orang yang berdo’a seperti itu di tengah-tengah sebuah kerumunan manusia? Saya belum pernah. Kalau pun ada yang melakukannya, paling di dalam hati. Oleh sebab itu, hal semacam ini tidak lazim terjadi. Jika di dunia nyata saja langka terjadi, mestinya di media sosial pun berlaku hal yang sama. Apalagi, do’a semacam itu bersifat sangat personal. Do’a yang bersifat personal seperti itu, mestinya tidak keluar dari wilayah personal juga, apalagi dalam redaksi do’anya, memanggil (mention, dalam twitter) nama Allah. Ini yang saya sebut dengan salah tempat. Meskipun Allah Maha Mengetahui isi hati seluruh manusia, Twitter dan Facebook, bukan media yang tepat. Media sosial pada dasarnya hanya diciptakan untuk berkomunikasi dengan manusia.  Bukankah ada adab berdo’a? Saya sendiri sering tidak yakin, do’a seperti itu, yang dilakukan di media sosial, sungguh-sungguh sebuah do’a atau hanya sebuah pamer masalah dan penderitaan? Sedang bersungguh-sungguh, atau dilakukan sambil lalu? Sedang tengkurep atau sambil jalan kaki? Hanya si penulis saja yang tahu. Memang, segalanya tergantung pada niat. Justru, kalau tergantung niat, bukankah sebaiknya do’a tersebut cukup diketahui diri sendiri dan Allah saja? Haruskah orang lain tahu dengan do’a kita yang sangat personal tersebut? Mengapa tidak sekalian dilakukan sungguh-sungguh, dengan adab yang benar, daripada dituliskan sebagai sebuah kicauan di twitter atau status di facebook? Saya khawatir, jangan-jangan do’a tersebut hanya berhenti sampai ke server saja karena dilakukan secara sambil lalu. Sederhana saja, orang yang berdo’a secara sungguh-sungguh, secara khusyu, dengan adab yang benar, mungkin tidak akan pernah terpikir -apalagi sempat- untuk menuliskan do’a-do’a tersebut ke dalam Twitter atau Facebook.

Harmoni

Terus terang saja, saya termasuk terlambat mengetahui sebuah program musik di SCTV yang menurut saya luar biasa. Harmoni, nama program tersebut, tayang setiap tanggal 20, satu bulan sekali. Sebelumnya, saya sempat menonton acara itu, tapi hanya sekilas saja. Belakangan saya tahu nama program tersebut, setelah timeline di twitter saya selalu ramai membicarakan Harmoni setiap tanggal 20.

Saya pertama kali menontonnya saat Audy dan beberapa artis lainnya membawakan lagu-lagu ciptaan Dewiq. Saya pikir, saat itu, acara tersebut merupakan sebuah tribute untuk Dewiq, khusus untuk Dewiq saja, karena memang lagu-lagu ciptaan Dewiq termasuk lagu-lagu dengan kualitas bagus, meskipun tidak semua lagu ciptaannya saya suka. Subyektif, soal selera. Maka, wajar jika ada acara khusus digelar untuk menghargai Dewiq. Belakangan, saya tahu acara tersebut berjudul Harmoni, dan tidak hanya membawakan lagu-lagu ciptaan Dewiq. Malahan sangat beragam: rock, pop, r&B,rapp, dll.

Harmoni ‘diasuh’ oleh Andi Rianto, dengan dukungan Magenta Orchestra. Andi Rianto bukan nama sembarangan. Dia merupakan lulusan Berklee College of Music, Boston jurusan Film Scoring, lulus dengan predikat cum laude, dan mengantarkannya mengenyam pengalaman sebagai asisten profesor di tempat studinya tersebut. Di Indonesia, Andi Rianto dipercaya untuk menggarap score film-film layar lebar, sesuai dengan bidang studinya tersebut. Salah satu album yang pernah digarap adalah OST Badai Pasti Berlalu (2007), yang merupakan cover album dari album dengan judul yang sama, setelah sebelumnya Erwin Gutawa melakukan remake pada tahun 1999. Keduanya merupakan karya-karya yang patut diacungi jempol.

Musisi yang terlibat dalam program Harmoni juga bukan nama-nama sembarangan. Dua nama yang paling saya kenal adalah Edi Kemput dan Ronald. Edi Kemput adalah gitaris Grass Rock, group yang pernah berkibar di awal tahun 90-an, sekaligus seorang session player untuk mendukung album beberapa orang artis, antara lain: Chrisye dan Iwan Fals, dan tentunya di berbagai konser. Sementara Ronald merupakan mantan drumer GIGI dan DR.PM, juga pernah terlibat mendukung album Nicky Astria dan Chrisye. Gebukan drum Ronald juga pernah mewarnai beberapa lagu Dewa 19. Keduanya, Edi Kemput dan Ronald, juga terlibat dalam penggarapan album Badai Pasti Berlalu versi Erwin Gutawa.

Konsep musik orchestra yang digunakan menjanjikan beberapa hal: indah, elegan, megah. Lebih dari itu, Harmoni seringkali menampilkan berbagai kejutan yang dapat membuat penonton -pada akhirnya- terkagum-kagum. Misalnya: saat Tantri ‘Kotak’, seorang rocker wanita, yang ‘dipaksa’ tampil sangat feminim, atau saat mengaransemen ulang lagu ‘Lupa-Lupa Ingat’ dari Kuburan Band menjadi sebuah lagu yang luar biasa. Di saat lain, musik orchestra dan pop dikolaborasikan dengan pantomim. Vina Panduwinata sampai ‘dikerjai’ dengan menyanyikan lagu yang saat ini sedang populer, C-I-N-T-A dari D’Bagindas. Juga ada unsur humor, seperti ketika menampilkan Wawan, vokalis band parodi Teamlo, yang berhasil menghibur dan membuat tertawa penonton dengan menyanyikan lagu-lagu dari Chrisye dan Iwan Fals, dengan gaya seperti mereka.

Saya kemudian mulai membayangkan lagu-lagu yang ingin saya dengar dan diaransemen ulang oleh Andi Rianto dalam acara Harmoni. Ternyata, ada banyak lagu, meskipun sebagian besar lagu yang saya ingat merupakan lagu-lagu yang cukup lawas.

Beberapa lagu yang -sepertinya- akan menjadi luar biasa di antaranya: Gerangan Cinta (Java Jive), Damainya Cinta, Terbang dan Nirwana (GIGI), Buku Ini Aku Pinjam (Iwan Fals), Satu Kata (Adegan). Bahkan saya membayangkan lagu ‘Sekedar Bertanya’ (Dina Mariana), juga lagu-lagu Benyamin S. Tentu saya tidak lupa dengan lagu ‘Tentang Kita’ dan ‘Semoga’ dari Kla Project. Masih banyak lagi yang saya bayangkan. Hey, saya tidak tua kok, hanya soal selera musik saja yang ‘ketinggalan’. He he.

Kehadiran Harmoni ini membuktikan satu hal: pada dasarnya setiap lagu itu berpotensi menjadi lagu bagus jika digarap dengan benar, dan kita merindukan musik berkualitas yang sekarang mulai redup digilas kepentingan industri. Kualitas yang saya maksud adalah: aransemen yang baik, ditunjang dengan skill musisi yang baik, lirik lagu yang bagus dan berpotensi ‘abadi’. Enak didengar saja tidak cukup, sebab lagu enak seringkali jadi sangat membosankan. Dalam bidang apa pun memang akan selalu terjadi benturan antara idealisme dan pragmatisme. Banyak musisi yang bagus, tapi tidak disukai industri musik karena tidak menjanjikan keuntungan. Pada saat yang sama, muncul musisi yang biasa saja, tapi berpihak pada kepentingan bisnis perusahaan rekaman, yang artinya: menguntungkan.

Kenyataannya, program Harmoni juga tidak lepas dari benturan tersebut. Kita bisa melihat dari jam tayang acara tersebut, yang ditempatkan menjelang tengah malam, setelah ‘mengalah’ pada sinetron. Selain itu, durasi iklan yang nyaris sama bahkan lebih lama dari waktu tayang acara tersebut. Tentu saja, hal tersebut bukan tanpa alasan. Sinetron -pastinya- dinilai lebih menguntungkan bagi stasiun televisi tersebut jika dibandingkan dengan Harmoni, dan deretan iklan yang saya rasa terlalu panjang tersebut, sudah jelas ‘menyumbang’ pundi rupiah yang tidak sedikit. Bandingkan juga dengan acara musik lainnya seperti ‘Dahsyat’ dan ‘Inbox’ yang cenderung menampilkan lagu secara minus one. Meskipun, kalau bagi saya, jam-jam menjelang tengah malam justru waktu terbaik untuk menontonnya, karena seisi rumah sudah tidur, tinggal saya sendiri menguasai televisi. Haha.

Namun, kita masih harus bersyukur karena masih ada itikad baik untuk membuat acara yang berkelas. Semoga saja kehadiran Harmoni dapat ‘membuka mata’ penyedia ‘layanan tontonan’ untuk dapat menyajikan musik-musik yang lebih berkualitas dan beragam.

Catatan:

Gambar Andi Rianto diambil tanpa ijin dari http://andirianto.com

Gambar Ronald diambil tanpa ijin dari sini

Prosedur Memanusiakan Manusia

Kehidupan masa kini, rasa-rasanya, semakin dibikin rumit dari waktu ke waktu. Karena dibikin rumit, manusia seperti kehilangan selera humor. Barangkali lebih parah, nuraninya mati. Gara-gara kentut, orang bisa dipenjara. Gara-gara memungut kakao yang jatuh, sebuah perusahaan menuntut seorang nenek ke pengadilan. Segalanya dibuat harus prosedural.

Lucunya, semakin prosedural suatu sistem, seringkali jadi bikin rumit. Acara open house presiden misalnya. Orang miskin mustahil bisa masuk apalagi bertemu sang presiden, karena untuk menghadiri acara semacam itu, seseorang harus berpenampilan sesuai prosedur. Harus memakai kemeja, harus memakai sepatu, dan lain-lain. Ironinya, presiden tersebut dipilih juga oleh mereka yang kesehariannya bersendal jepit dan berkaos oblong. Bayangkan, hal tersebut terjadi di sebuah negara yang memiliki falsafah ‘Bhinneka Tunggal Ika‘ dan sangat gemar meneriakkan demokrasi, toleransi, pluralisme, dan anti-diskriminasi. Lucu, bukan?!

Seorang yang menjadi korban kecelakaan, misalnya tertabrak mobil, tidak bisa langsung mendapatkan perawatan dari rumah sakit, meskipun sekarat, jika tidak ada orang lain yang bertanggung jawab dan menanggung biaya perawatan. Padahal, bisa jadi orang tersebut hidup seorang diri, atau keluarganya jauh. Mungkin perawat dan dokter ingin menolong, tapi prosedur melarang. Di sisi lain mereka pun belum tentu sanggup menanggung biaya sang korban. Prosedural, tapi amoral.

Lalu, bukankah cerita korupsi di negeri ini juga bermula karena segala sesuatunya harus prosedural?! Bukannya anti-prosedur, tapi sebuah prosedur semestinya tidak menghalangi seseorang untuk bersikap sebagai manusia. Atau barangkali lebih baik jika suatu prosedur dibuat untuk memanusiakan manusia. Misalnya, jika Anda sebagai seorang Lurah, Anda tidak layak menyalahkan seseorang yang tidak mau membuat KTP karena penghasilan orang tersebut setiap bulannya belum tentu mencukupi untuk kebutuhan makan sehari-hari, sementara proses pembuatan KTP di kelurahan yang Anda pimpin bisa mencapai harga setengah dari penghasilan orang tersebut. Justru tugas Anda lah -sebagai lurah- untuk membuatkan KTP bagi orang tersebut. Meskipun menyalahi prosedur.

Sebuah prosedur dibuat pada dasarnya untuk memudahkan, bukan menyulitkan. Agar suatu proses dilakukan secara bertahap, teratur serta ‘adil’. Akan tetapi, manusia sebagai unsur terpenting dari suatu proses yang dilakukan secara prosedural, seringkali dilupakan. Kondisi manusia yang berbeda-beda sering menjadi unsur penyebab suatu prosedur tidak berjalan sempurna. Sayangnya, penyusun prosedur, yang juga manusia, selalu melupakan hal ini.

Contoh sebuah prosedur yang baik, yang dapat kita temukan adalah prosedur shalat. Normalnya, shalat wajib dilakukan dengan berdiri. Akan tetapi, prosedur normal itu boleh dan malah dianjurkan untuk dilanggar jika seseorang dalam kondisi sakit, atau tidak mampu untuk melakukan shalat. Misalnya sambil duduk. Jika tidak mampu duduk, boleh berbaring. Anda juga boleh bertayammum dalam keadaan sakit atau dalam situasi tidak ada air sama sekali. Justru ketika seseorang tidak mampu, tapi memaksakan diri, maka orang tersebut wajib untuk diberi peringatan.

Prosedur semacam itu, terus terang saja, sulit ditemukan. Entah dengan sekarang, tapi bertahun-tahun lalu kita sering menemukan seorang anak yang berhenti sekolah gara-gara belum membayar uang bulanan sekolah. Itu terjadi di sekolah, lembaga yang bidang utamanya mengajar dan mendidik manusia. Maka, tidak mengherankan jika dari sekolah tersebut menghasilkan manusia-manusia yang ‘kejam’, tapi dibenarkan oleh prosedur.

Komputer dan robot adalah contoh benda-benda yang bisa melakukan segalanya sesuai prosedur, dan harus sesuai prosedur, karena keduanya diciptakan untuk itu. Maka, jika manusia dituntut harus selalu melakukan segalanya sesuai prosedur dan tidak boleh sedikitpun keluar dari prosedur tersebut, bukankah itu sebuah cara untuk menjadikan manusia sebagai benda?! Yakin, siapa pun tidak ingin hal tersebut terjadi.

Halal, Label Halal dan Jaminan Halal

Masalah kehalalan harta dan makanan merupakan persoalan yang sangat penting bagi Umat Islam, tapi sering terlupakan atau sengaja diabaikan. Saking pentingnya, do’a seorang muslim yang sedikit saja terdapat makanan haram atau makanan yang dibeli dari harta haram dalam tubuhnya, terancam tidak akan dikabulkan oleh Allah SWT. Bahkan kehalalan suatu makanan, bagi seorang muslim, merupakan sesuatu yang wajib diperjuangkan karena menyangkut tetesan darah yang mengalir dalam dirinya, anak-istrinya, juga persoalan pertanggungjawaban kepada Allah SWT.

Terminologi ‘halal’ dan ‘haram’ memang lekat dengan Islam. Namun, pada dasarnya setiap agama memiliki kriteria halal dan haram-nya masing-masing. Dalam agama Yahudi dikenal kata ‘kosher’, mirip dengan halal, namun kriterianya berbeda. Seperti juga Umat Islam, orang-orang Yahudi juga cukup berhati-hati terkait makanan yang masuk ke perutnya. Konon, mereka lebih cerewet dibandingkan muslim dalam hal pelabelan ‘kosher’ pada kemasan makanan yang diperjualbelikan.

Indonesia mayoritas penduduknya muslim, namun selama ini hampir tidak ada jaminan dari pemerintah bahwa pasar-pasar yang memasok makanan untuk mayoritas tersebut menyediakan makanan yang halal. Bisa dikatakan, makanan yang beredar di pasaran, mayoritas sebetulnya masuk dalam kategori syubhat, terutama daging-dagingan. Mengapa syubhat? karena memang meragukan, tidak ada jaminan bahwa makanan tersebut halal. Halal bahannya, halal cara penyembelihannya, halal cara mendapatkannya (bukan barang curian).

Lalu, apa yang menyebabkan kita masih membeli makanan-makanan tersebut? Kepercayaan. Kita percaya bahwa makanan tersebut tidak mengandung unsur haram, kita percaya bahwa makanan tersebut diproses dengan cara yang halal, kita percaya bahwa makanan tersebut didapatkan dengan cara yang halal. Oleh sebab itu, setiap pedagang atau pengusaha mestinya merasa malu apabila dalam dagangannya terdapat unsur-unsur yang haram dijual, apalagi dengan sengaja melakukannya hanya untuk mendapatkan keuntungan.

Saya tidak sependapat dengan mereka yang mengatakan bahwa masalah halal-haram tidak perlu diurus dengan undang-undang. Mereka berpendapat, biarkan pasar yang menentukan, toh kalau seorang muslim peduli, mereka tidak akan membeli makanan yang haram. Pertanyaannya? siapa yang menjamin makanan yang dibeli memang halal? penjualnya? jangan-jangan dia pun tidak tahu kehalalan makanan yang dijualnya. Sebab, seringkali seorang penjual pun hanya menjadi ‘agen’ saja atau ujung tombak, sehingga makanan yang dijual sampai dari produsen pada konsumen.

Seorang konsumen akan perlu waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk mencari tahu apakah makanan tersebut diproses secara halal atau bahannya memang halal. Seorang muslim bukan tidak peduli dengan makanan yang dibelinya, akan tetapi, seperti yang sudah disebutkan, tingkat kepercayaan pada pasar memang tinggi, apalagi mayoritas penjual pun orang Islam. Sehingga, seorang konsumen merasa tidak perlu untuk melakukan cek dan ricek. Saya berani bertaruh soal ini. Untuk membuktikannya, beri makan 100 orang Islam, lalu setelah mereka makan, beri tahu bahwa makanan yang sudah dimakannya mengandung daging babi. Saya jamin, 90% lebih akan marah pada anda.

Seperti halnya ketika kita membeli -katakanlah- handphone. Kita percaya saja bahwa handphone yang kita beli bermerk Nokia atau Siemens. Akan tetapi, berapa banyak dari kita yang mau bersusah payah membuktikan bahwa handphone yang kita beli dirakit oleh Nokia? atau untuk membuktikan bahwa komponen pada handphone kita asli dari Nokia? Sedikit. Sangat Sedikit. Seperti itu juga halnya ketika seorang muslim ingin membuktikan bahwa makanan yang dibelinya terdapat unsur haram atau tidak.

Pasar tidak bisa dipercaya 100%, karena tabiatnya mencari keuntungan. Kalau bisa, dengan modal yang 100 ribu, untungnya 1 milyar. Meskipun harus berbohong dan menipu. Ada banyak contoh penipuan di pasar. Berapa banyak kasus yang ditemukan di Indonesia soal bakso yang dicampur daging babi atau daging tikus? berapa banyak kasus daging sapi glonggongan atau ayam tiren?

Beruntung, beberapa bulan terakhir, DPR mulai menggodok RUU Jaminan Halal. Namun, seperti biasa, ini juga bukan persoalan mudah, karena ada saja yang menolaknya, meskipun mayoritas anggota dewan sebetulnya mendukungnya. Penolakan memang berasal dari sebagian non-muslim. Akan tetapi, non-muslim sebetulnya tidak perlu khawatir dengan hal tersebut. Bahkan, sebetulnya tidak ada satu pun non-muslim yang terganggu dengan adanya UU tersebut -jika jadi disyahkan.

RUU ini bukan bertujuan mengubah status makanan dari halal menjadi haram, atau sebaliknya. RUU tersebut juga bukan bertujuan melarang penjualan makanan yang oleh agama lain halal, tapi haram bagi Umat Islam. Babi, meskipun dilabeli haram oleh Umat Islam, tetap tidak dilarang bagi orang Hindu Bali. Begitu pun, daging sapi yang halal bagi orang Islam, akan tetap haram bagi orang Hindu Bali. Sama sekali tidak ada yang berubah. Jaminan halal diperlukan hanya untuk memastikan bahwa makanan yang dijual di pasaran, memang layak, dalam hal ini bagi Umat Islam. Sehingga, dengan adanya hal tersebut, dapat mengurangi kekisruhan yang terjadi di masyarakat gara-gara ditemukannya makanan haram yang dijual di pasaran.

Saya malah mengharapkan bahwa jaminan halal itu bukan hanya untuk Umat Islam saja. Umat Kristen, Hindu, Buddha atau bahkan Yahudi sekalipun mau ikut berperan serta dengan -misalnya- bersedia mengusahakan agar dalam tiap makanan yang dijual pun tercantum label halal versi mereka. Sehingga, label halal bisa bersanding dengan label halal versi Kristen, yang berarti makanan tersebut halal untuk Umat Islam dan Umat Kristen. Dari segi bisnis, hal tersebut jelas akan menguntungkan. Tingkat kepercayaan masyarakat, yang menjadi target utama penjualan, akan menjadi lebih tinggi.

Tidak hanya makanan, akan lebih baik jika restoran, rumah makan, tempat pemotongan hewan, setiap kios di pasar-pasar pun diwajibkan mendapatkan sertifikasi halal, meskipun di wilayah dengan mayoritas muslim. Sebab, bagi setiap muslim yang baik, mengetahui makanan yang dimakannya halal, akan membuat jiwa dan hatinya tenang ketika menyantapnya. Akan tetapi, jika tidak tahu atau ragu-ragu, akan selalu dihantui rasa khawatir. Makanan juga berpengaruh terhadap tabiat seseorang, itulah sebabnya kehalalan makanan perlu mendapatkan perhatian serius. Barangkali, makanan-makanan yang sudah jelas kehalalannya akan dapat mengubah tabiat masyarakat Indonesia, yang katanya mayoritas muslim, untuk menjadi lebih baik. Sehingga, tidak berlarut-larut dalam hal-hal syubhat, sebagaimana yang dapat kita temui di setiap sendi kehidupan di negeri ini.

Puisi Tak Sempurna

aku memilihmu…
karena ketaksempurnaanmu
juga ketaksempurnaanku
sebab aku ingin mencapainya bersamamu
meski aku dan kamu tak akan pernah mencapainya
atau bahkan sekedar mendekatinya

tapi, cintaku …
bukankah karena ketaksempurnaan, kita belajar?
tentang sabar dan syukur?
tentang kepedulian dan pengorbanan?
tentang diri kita?
tentang … apapun!
aku ingin belajar itu semua … bersamamu

dan bukankah sabar dan syukur merupakan kunci pintu surga?
denganmu … aku ingin membuka pintu itu
dengan-mu …
de-ngan-mu …

NB: haks! setelah berminggu-minggu tenggalam di dunia facebook, cuma sempet bikin puisi … ini juga diambil dari wall yang saya tulis buat istri tercinta 🙂

Page 3 of 23

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén