Sekelumit ‘Penafsiran’ Sejarah Pangeran Diponegoro
Artikel March 15th, 2009
Adalah Don Lopez comte de Paris yang kekar itu, dan berbicara lebih fasih berbahasa Prancis ketimbang bahasa ayah-ibunya Spanyol, yang pertama kali menyuruh budak-budak perempuan itu menutup payudaranya.
Kepada budak-budak perempuan di Semarang yang mengerjakan pos di kota ini — yaitu jalan besar yang sampai 1950-an bernama Bojong, dan kini Pemuda — Don Lopez memotong-motong kain putih dan memberi kepada salah seorang budak perempuan yang tergolong cantik dan belia.
Sambil memberikan potongan kain putih itu kepada budak perempuan tersebut, dia berkata, “Tutup Bagian berharga itu.” Dia menggunakan bahasa Prancis untuk kata ‘berharga’ tersebut. Dalam bahasa Prancis, coutant berarti ‘berharga’.
Sambil menerima kain putih yang diberi oleh Don Lopez, budak perempuan itu memandang bingung.
“Kangge nopo iki, ndoro Tuan?” tanya budak cantik itu.
Sambil menunjuk-nunjuk payudara perempuan itu, Don Lopez berkata, “Coutant! Coutant!”
Budak perempuan itu makin bingung. Dia melihat payudaranya, apakah ada yang salah dari payudaranya itu.
“Kulo boten ngertos, ndoro Tuan,” katanya.
Lagi Don Lopez berkata, “Coutant!”
Orang-orang melihat adegan itu sertamerta mengira bahwa kain putih yang ditunjuk-tunjuk ke payudara untuk dipakai sebagai penutup adalah namanya coutant.
Seorang budak yang berdiri di dekat budak perempuan itu lantas berkata kepadanya, “O kuwi jenenge kutang.”
Sejak itu lahirlah entri baru dalam bahasa rakyat yang salah kaprah, bahwa ‘kutang’ adalah kain pembungkus payudara.
Cerita di atas tidak ada urusannya dengan pornografi. Di atas adalah sekelumit dari sebuah buku berjudul “Novel Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil“, karya Remy Sylado, penerbit Tiga Serangkai. Sebuah buku yang bercerita tentang masa kecil Ontowiryo, seorang Pangeran dari kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dibesarkan oleh nenek buyutnya di sebuah desa bernama Tegalrejo, jauh dari hiruk pikuk kraton. Kelak, Ontowiryo dikenal dan dikenang sejarah sebagai Pangeran Diponegoro.
Sejak pertama dilahirkan, Ontowiryo ‘diramal’ oleh kakek buyutnya, Sultan Hamengku Buwono I, akan menjadi seorang yang besar. Seorang Herucokro atau Ratu Adil. Oleh sebab itu, Sultan meminta istrinya, Ratu Ageng, untuk mendidik dan membesarkan Ontowiryo. Dikarenakan perselisihan dengan anaknya, Sultan Hamengku Buwono II, yang kemudian menggantikan tahta ayahnya, Ratu Ageng memilih untuk memisahkan diri dari Kraton dan tinggal di Tegalrejo dengan membawa serta Ontowiryo.
Dibesarkan dalam budaya Jawa dan akhlak Islam, Ontowiryo tumbuh menjadi sosok yang rendah hati, santun, cerdas sekaligus berani dan berakhlak mulia. Keyakinan terhadap nilai-nilai kebenaran yang dipegangnya, ditunjang dengan keterampilan berperang yang dilatih oleh paman-pamannya, menjadikan Ontowiryo juga tumbuh menjadi sosok yang kuat. Itulah sebabnya, ketika tidak ada satu pun yang berani menentang perintah Belanda yang sangat zalim, membiarkan dan melarang menguburkan sesosok mayat petani yang tidak membayar pajak di tengah lapang, Ontowiryo sendiri yang melakukannya. Seperti halnya para pemimpin besar lainnya, Ontowiryo juga sangat menggandrungi buku dan memahami isinya.
Secara keseluruhan, buku ini bercerita tentang proses dan masa persiapan Ontowiryo untuk menjadi seorang Herucokro (Ratu Adil), yang sejak kecil ditanamkan oleh Ratu Ageng. Buku ini juga merupakan buku pertama dari rangkaian “Novel Pangeran Diponegoro“. Oleh sebab itu, di akhir halaman buku ini, cerita dibiarkan menggantung. Masih jauh dari peristiwa Perang Jawa yang bersejarah itu.
Sebagai sebuah ‘penafsiran’ atas sebuah sejarah, Remy Sylado berhasil menyajikan buku ini dengan sangat baik. Selain dilengkapi dengan fakta-fakta yang cukup menarik, Remy juga berani menyisipkan kata-kata yang memaksa kita untuk membuka kamus Bahasa Indonesia lagi. Sebagai seorang Kristen, Remy juga cukup piawai menggambarkan dan menceritakan nuansa Islam dalam buku ini. Dalam beberapa halaman, Remy bahkan mengutip beberapa hadits.
Bagi saya, hal yang menarik dari sebuah novel yang mengadaptasi sejarah adalah menghubungkannya dengan konteks kekinian. Terkadang juga bisa menjadi sebuah koreksi sejarah. Sebagai contoh, buku sejarah yang diajarkan di sekolah hanya menyebut Belanda, Inggris, Portugis dan Jepang yang pernah menjajah Indonesia. Itu pun, Portugis hanya di beberapa daerah Indonesia Timur. Dalam buku ini, Daendells, yang dikenal karena membuat jalan pos Anyer-Panarukan, ternyata datang atas nama Pemerintah Prancis. Daendells sendiri orang Belanda asli, tapi dia datang tidak atas nama Belanda yang saat itu di bawah kekuasaan Prancis.
Dalam hal konteks kekinian, korupsi bisa dijadikan contoh. Bahkan ketika Indonesia masih dikuasai VOC, korupsi sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh pejabat-pejabatnya. Sudah mendarah-daging mengurat-akar. Begitu juga pengkhianat sekaligus penjilat, demi harta dan kekuasaan, sudah bukan barang yang ‘aneh’ sejak berabad lalu. Dalam buku ini, Danurejo II, yang kemudian dihukum mati oleh Sultan Hamengku Buwono II, merupakan contoh karakter terakhir itu. Dalam masa kini, kita bisa menyaksikan BUMN-BUMN yang seharusnya dipertahankan mati-matian lantas dijual begitu mudahnya. Bagi saya, itu sebuah pengkhianatan. Sama halnya dengan produk hukum kita yang sejak dulu hanya menyentuh ‘orang kecil’, sampai detik ini pun -nyaris- tidak pernah menyentuh pejabat atau mereka yang menguasai uang.
Begitu juga dengan cerita kutang di atas. Bahkan seorang yang dianggap penjajah sekalipun, bisa menilai bahwa payudara wanita begitu berharga. Wanita mana pun tidak mau dianggap budak, tapi bukankah dengan membiarkan payudaranya terbuka -dan bangga dengan keterbukaannya- itu berarti menjadikannya sama saja atau bahkan lebih rendah dari budak?
Ketebalan buku ini standar saja, 340 halaman. Tidak terlalu tebal, tidak juga terlalu tipis. Dijual dengan harga Rp.66.000,- di gramedia, atau bisa didapatkan dengan diskon 20% – 30% di Palasari (Bandung) atau di pameran-pameran buku. Bagi saya, cukup mahal sebetulnya, tapi saya sangat merekomendasikan buku ini sebagai bahan bacaan, terutama bagi yang menyukai novel yang diadaptasi dari sejarah. Hanya satu saja kekurangannya menurut saya, beberapa halaman yang memuat dialog bahasa jawa, tidak disertai dengan translasi dalam bahasa Indonesia-nya. Sehingga, memaksa saya untuk melompati bagian itu, meskipun tidak menggangu jalan cerita seluruhnya. Selebihnya, laik beli dan laik baca.
Virus
Artikel, Esai, Informatika February 7th, 2009
Tingkah laku para pembuat virus komputer, saya anggap, terwakili oleh virus yang dibuatnya. Di dunia komputer, ia menjadi virus, di dunia nyata sang pembuat virus tidak akan berbeda jauh, ia adalah virus itu sendiri. Perusuh, pembuat onar, pengacau, egois. Karenanya dia menjadi ‘makhluk’ paling dibenci oleh setiap orang.
Mungkin saya terlalu ‘pukul rata’. Bisa jadi sang pembuat virus sesungguhnya adalah seorang yang jenius, tapi jelas dia tidak memiliki kehidupan sosial yang baik. Dan biasanya, dia adalah seorang psikopat. Meskipun, bagi saya, seorang jenius beda tipis dengan seorang idiot ketika kejeniusannya tidak digunakan dengan baik. Dia tidak mendapatkan apa pun dari kejeniusannya, selain caci maki, sumpah serapah dan berbagai macam kutukan lainnya. Ya, paling hanya semacam kepuasan ketika virus yang dibuatnya kemudian menyebar dan berhasil membuat pusing ribuan atau bahkan jutaan orang. Akan tetapi, hanya sebatas itu saja, tidak membuktikan bahwa sang pembuat virus memang orang pintar. Dia tetaplah dikenal -kalau kemudian terkenal- sebagai perusuh. Tidak lebih.
Di Indonesia, saya mendapati para pembuat virus hanya sekumpulan orang-orang frustasi dan kekanak-kanakan, dan memang sebagiannya adalah para ABG pencari jati diri. Biasanya karena patah hati, entah ditolak, entah diputuskan, atau bahkan cinta tak berbalas. Kita bisa mendapati itu semua dari pesan-pesan yang mereka sampaikan. Dan entah kenapa mereka merasa sebagai orang-orang yang paling menderita. Sebuah pertanda bahwa mereka tidak memiliki kehidupan sosial yang cukup baik, atau tidak memiliki kepekaan sosial sama sekali … dan jelas, sangat kekanak-kanakan, plus egois.
Beberapa pesan dalam virus terkadang hanya mencantumkan nickname sang pembuat virus. Identitasnya tidak ingin diketahui. Ciri khas penjahat …atau banci. Ah, tapi seorang banci sekalipun masih bisa kita ketahui nama aslinya. Bandingkan saja dengan ‘jagoan’ di dunia maya, entah itu di dunia programming, networking atau designing. Mereka bangga dengan namanya. Sebab namanya sendiri sudah mewakili citra dari orang tersebut. Hal ini disebabkan karena mereka merasa sudah melakukan hal yang baik dan bermanfaat untuk orang banyak.
Seorang hacker sejati, misalnya, justru adalah seorang yang sangat rendah hati. Ilmu dan pengetahuannya tentang jaringan komputer sangat tinggi, tapi tidak sedikitpun dia merasa perlu untuk melakukan show off seperti orang-orang yang mengaku hacker atau ingin disebut hacker. Ketika seorang yang mengaku hacker berbicara tentang bagaimana menjebol keamanan jaringan komputer, seorang hacker sejati berbicara tentang bagaimana mencegah agar keamanan jaringan tidak jebol. Apa yang dibahas sama saja sebetulnya, tapi ‘judul’-nya berbeda. Yang satu berbicara tentang “merusak”, satunya lagi berbicara tentang “menjaga”.
Sungguh sangat disayangkan ketika kemampuan untuk berkarya digunakan untuk merusak. Padahal, dengan kemampuan yang sama, saya yakin seorang pembuat virus bisa membuat program yang lebih bermanfaat. Sehingga, khazanah dunia telematika di Indonesia bisa semakin kaya. Bukan oleh hal-hal yang merusak, tapi bermanfaat. Sampai saat ini, kita masih menanti kemunculan ‘pengganti’ Microsoft Windows, SAP, Oracle, atau UNIX yang berasal dari Indonesia. Mungkinkah?
Melampaui Materi
Artikel January 25th, 2009
Sepulang dari tugas dan melakukan perjalanan hampir setengah hari dan setengah malam, saya tiba di Bandung menjelang tengah malam. Dengan kondisi lelah dan lapar, saya memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di sebuah warung mie rebus langganan. Demi untuk menghilangkan rasa lapar tersebut.
Di warung tersebut terdapat sebuah televisi yang sedang menyiarkan berita-berita terkini. Bang Jek, pemilik warung tersebut, memang menyukai berita dan film action Oh, ya … satu lagi, acaranya si Tukul yang sempat dilarang itu. Oleh karena kesukaannya itu, saya seringkali menghindari datang di-jam-nya si Tukul itu.
Setiap kali saya datang, seringkali dia ‘mengajak’ saya untuk berdiskusi perihal masalah-masalah terkini. Apa pun yang sedang ramai di televisi saat itu. Seperti biasa, Bang Jek akan melontarkan opininya tentang apa pun. Adakalanya saya layani, seringkali saya cuma manggut-manggut saja, atau saya berikan jawaban ketika dia menanyakan sesuatu, atau bahkan saya diamkan, karena saya sedang malas untuk sekedar memberikan tanggapan.
Hanya karena pendidikan saya lebih tinggi, Bang Jek sering memosisikan saya sebagai orang yang lebih tahu daripada dirinya. Dalam hal apa pun. Meskipun saya juga sudah berkali-kali memberikan jawaban “tidak tahu” atau memang tidak saya berikan jawaban, karena saya bingung untuk menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah dimengerti. Saya selama ini tidak pernah menggunakan istilah-istilah asing ketika berdiskusi dengan Bang Jek, tapi tetap saja, mengemasnya menjadi sangat sederhana juga perlu seni tersendiri.
Televisi sedang menayangkan tentang Gaza ketika saya sedang menyantap mie rebus pesanan saya, juga segelas teh hangat. Bang Jek mulai berbicara tentang kekesalannya terhadap Israel, juga keheranannya -sekaligus kagum- terhadap warga Palestina yang meskipun sudah berkali-kali diserang, tapi jumlahnya seperti tidak habis-habis. Lalu mulai berbicara tentang Obama, tentang HAMAS, tentang pemerintah Indonesia dan tentang orang-orang Arab. Ketika berbicara tentang orang-orang Arab itu, tiba-tiba Bang Jek mengeluarkan pernyataan …”Orang-orang Arab mah enak ya? Mereka bisa naik haji kapan pun, nggak perlu bayar ongkos tinggi-tinggi. Nggak seperti kita yang harus nyediain uang puluhan juta.”
Mie rebus sudah habis ketika pernyataan itu keluar dari mulut Bang Jek. Saya tergelitik untuk memberikan tanggapan. Saya kemudian menjelaskan, orang-orang Arab memang diberikan keistimewaan seperti itu, mereka juga bisa mendapatkan uang banyak setiap saat karena banyaknya umat Islam yang melakukan Umroh dan Haji. Buat mereka, ibadah haji tidak menjadi sebuah ‘persoalan’ seperti bagi umat Islam di negara lainnya, terutama negara miskin. Mereka bisa berhaji kapan pun, asal mereka mau. Tidak seperti orang-orang Indonesia yang harus jual tanah, atau menabung bertahun-tahun untuk bisa berangkat melaksanakan ibadah Haji. Bahkan banyak juga yang sepanjang hidupnya menabung, dan tetap belum bisa berangkat haji sampai ajal tiba. Ibadah haji menjadi sebuah impian dan cita-cita. Minimal sekali dalam seumur hidup, oleh sebab itu, ibadah Haji jadi ‘barang’ yang mahal.
Akan tetapi, umat Islam Arab, khususnya Mekah, tidak akan memperolah keistimewaan lainnya yang hanya akan diberikan kepada mereka yang berada jauh dari Mekah. Keistimewaan tersebut adalah pahala dari Allah SWT bagi mereka yang berusaha untuk melaksanakan ibadah haji dengan segala daya dan upayanya. Setiap rupiah yang ditabung dan diniatkan untuk beribadah tersebut, akan menjadi tabungan pahala juga. Bahkan jika kemudian meninggal sebelum berangkat Haji, orang tersebut, insya Allah, akan mendapatkan pahala yang bisa jadi nilainya juga lebih besar daripada hajinya orang-orang Arab. Nilai dan arti sebuah pengorbanan sangat terasa bagi umat Islam yang jauh dari Arab.
Keistimewaan lainnya, barangkali, kenikmatan menjalankan ibadah Haji tersebut. Sebuah perjalanan haji bagi seorang muslim layaknya perjalanan pulang. Perjalanan kembali untuk mengenal ‘akar’ darimana dia berasal. Oleh sebab itu, ibadah haji begitu dirindukan oleh setiap muslim. Dan karenanya, ibadah haji menjadi begitu sangat berharga. Perjalanan haji juga menjadi sebuah perjalanan yang penuh kesan, terkadang mengharukan. Maka, tidak mengherankan jika hampir sebagian besar mereka yang pernah melakukan ibadah haji, dipastikan menangis ketika melakukan ibadah tersebut.
Cerita mengharukan tentang seseorang yang mengorbankan ongkos hajinya untuk mengobati tetangganya yang sedang sakit, sementara dia merelakan dirinya tidak jadi berangkat haji. Lalu kemudian Malaikat mengabari dirinya memperoleh pahala Haji mabrur, hanya bisa muncul dari negara yang jauh dari Arab, seperti Indonesia ini. Begitu juga bermacam-macam cerita mengharukan bagaimana seseorang bisa berangkat haji, hanya muncul dari negara yang jauh dari Arab. Karena itu, sebuah perjalanan haji juga bisa berubah menjadi sebuah perjalanan spiritual seseorang. Saya yakin, orang-orang Mekah tidak akan merasakan kenikmatan yang dirasakan oleh mereka yang berangkat haji dari negara seperti Indonesia.
Jika perjalanan ibadah haji bisa dilakukan dimanapun, tidak akan muncul film sebagus “Le Grande Voyage”, misalnya. Begitu pula sinetron “Para Pencari Tuhan”, atau bahkan cerita-cerita ’seru’ lainnya yang bisa kita dapatkan dari mereka yang pernah melakukan ibadah haji. Maka, disinilah letak adilnya Allah SWT. Orang-orang Arab mendapatkan materi, tapi orang-orang Indonesia yang berhaji mendapatkan lebih banyak hal, yang nilainya melampaui materi. Ibadah haji bisa menjadi kebahagiaan, kenikmatan, pengalaman spiritual atau bahkan kebanggaan seseorang, yang tidak bisa begitu saja hilang dari diri seseorang. Maka, inilah kekayaan sesungguhnya. Kekayaan yang bahkan materi pun tidak bisa menggantikannya, malahan orang-orang rela mengorbankan materi untuk mendapatkannya.
Tentu saja, apa yang saya tulis di atas tidak persis dengan apa yang saya jelaskan pada Bang Jek. Saya menjelaskan jauh lebih sedikit. Saya cukupkan penjelasan ketika Bang Jek mengatakan, “oh …iya, ya?!”. Bagi saya, itu artinya Bang Jek sudah cukup memahami apa yang saya maksud, tidak perlu berpanjang-panjang lebar seperti tulisan ini.
Di perjalanan pulang dari warung Bang Jek ke kostan yang berjarak 100 meter, saya kemudian teringat tentang sebuah komentar. Isinya tentang tuduhan bahwa ibadah haji merupakan rekayasa orang-orang Arab agar mereka bisa mendapatkan devisa yang banyak dari negara lain. Umat Islam selama ratusan tahun sudah dibodoh-bodohi oleh orang-orang Arab. Sekilas memang tampak benar, tapi saya kemudian berani mengambil kesimpulan bahwa orang yang menuduh tersebut tidak pernah atau belum pernah merasakan nikmatnya sebuah keimanan dan beribadah. Cara berfikir orang tersebut sangat materialistis. Padahal, jika nikmatnya keimanan sudah merasuki jiwa seseorang, jangankan berkorban harta, dirinya pun akan dikorbankan.
Hentikan Pemakaian Lampu Putih pada Kendaraan!!
Feature, Propaganda, SerbaSerbi January 20th, 2009
Saya termasuk salah seorang biker yang sering melakukan perjalanan malam, entah di dalam kota atau ke luar kota. Paling sering di dalam kota, tentu saja. Meskipun saya juga kadang-kadang banyak gaya, kalau kata orang sunda “loba gaya”, atau mungkin sok keren, tapi saya paling benci sama pengendara yang banyak gaya. Soalnya saya nggak suka kalau orang lain lebih keren daripada saya. Halah!! Maaf, sedang narsis.
Oke. Point-nya adalah begini … Belakangan saya merasa semakin banyak pengendara -entah mobil atau motor- yang menggunakan lampu putih di jalanan. Saya tidak tahu nama lampu tersebut, yang jelas membuat jalanan menjadi ‘terang benderang’. Saya tidak akan terlalu mempermasalahkan jika hal tersebut tidak terlalu mengganggu. Sialnya, penggunaan lampu putih tersebut sangat mengganggu bagi saya.
Anda yang menggunakan lampu putih pada kendaraannya, boleh saja tidak setuju dengan saya. Akan tetapi, begitulah kenyataannya. Lampu tersebut sangat menyilaukan bagi pengendara dari arah berlawanan, terutama pengendara motor seperti saya. Apalagi jika lampu tersebut digunakan untuk pemakaian lampu jauh, yang sialnya banyak juga digunakan oleh para pengendara. Lampu-lampu tersebut sering kali ‘telak’ mengenai mata saya dan membuat pandangan menjadi terganggu. Alhasil, sering kali saya harus menggunakan rem mendadak gara-gara orang yang menyeberang atau objek di depan saya menjadi ‘tidak terlihat’.
Jika anda sering bepergian ke pegunungan atau hutan belantara yang memang belum ada jaringan listrik, boleh lah anda gunakan lampu tersebut. Akan tetapi, ini di kota!! Lampu di mana-mana, bahkan anda masih bisa melihat objek di depan anda yang berjarak 100 meter. Jika alasan anda agar bisa melihat objek dengan jelas, lampu yang standar pun sudah cukup memberikan penerangan di jalanan. Jika alasan anda agar menarik perhatian, anda salah tempat! Jika alasan anda agar disebut keren, anda bodoh! Sebab yang menarik perhatian dan disebut keren, kendaraan anda, bukan anda! Bisa jadi, orang lain berharap bukan anda yang mengendarai kendaraan tersebut, karena anda tidak cocok dengan kendaraan tersebut.
Tentu saja, bukan tanpa alasan jika produsen kendaraan memasang lampu yang ’standar’, karena mereka pun sudah memperkirakan dampak dari penggunaan lampu di jalanan ketika malam hari. Faktor intensitas cahaya pun sudah pasti menjadi perhitungan. Begitu juga dengan klakson, knalpot dan berbagai aksesoris lainnya. Semuanya dirancang, selain untuk keamanan dan kenyamanan pemakai, juga untuk keamanan dan kenyamanan orang lain.
Saya mendukung 100% dengan peraturan tentang kewajiban penggunaan helm standar. Saya pun salah satu ‘maniak’ helm full face. Rasanya tidak nyaman jika menggunakan helm yang half-face, apalagi yang catok, meskipun motor saya ‘cuma motor angsa’. Jika anda pernah melihat dengan mata sendiri bagaimana dua pengendara motor tabrakan, kemudian wajah mereka nyungsep ke aspal dengan kecepatan 70-80 km/jam, dan mereka masih bisa tertawa gara-gara wajah mereka ‘diselamatkan’ helm, mungkin anda akan mengikuti apa yang saya lakukan juga. Jadi, bukan hanya sekedar gaya, tapi saya juga memikirkan keselamatan diri sendiri.
Begitu pun saya sangat mendukung jika dalam hal aksesoris kendaraan, semua dibuat aturannya. Tidak boleh seseorang seenaknya pasang knalpot dengan frekuensi yang memekakan telinga. Atau pasang lampu dengan intensitas cahaya yang menyilaukan mata melebihi kemampuannya menangkap cahaya. Selain mengganggu, juga mengancam keselamatan di jalanan.
Saya tidak bermaksud melarang untuk melakukan modifikasi atau membuat tampilan kendaraan anda menjadi lebih keren. Akan tetapi, please, sebelum anda memasang aksesoris-aksesoris tersebut, pertimbangkan juga keselamatan dan kenyamanan orang lain. Setidaknya orang lain tidak tergangggu, apalagi sampai merasa ‘terancam’ keselamatan dirinya. Terlebih lagi jangan sampai anda dikutuk orang lain dengan bermacam-macam kutukan, “mampus lu!“, “setaann!“, “mudah-mudahan dia tabrakan, biar tahu rasa!“. Jika sampai terjadi orang-orang mengutuk anda, tinggal tunggu waktu saja kutukan-kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sebab, bagaimanapun mereka tidak akan sampai mengutuk jika tidak merasa teraniaya. Dan anda tentu sering mendengar, do’a orang teraniaya itu cepat dikabulkan.
Benar-Salah
Artikel January 14th, 2009
Melakukan hal yang benar, diomongin …
yang salah, diomongin juga…
mending yang benar aja sekalian!
