Author: Donny Reza (Page 2 of 23)

Sebelas Tahun Qwords: Sebuah Testimoni

Sembilan tahun yang lalu, saat blogging menjadi salah satu aktivitas yang saya seriusi, maka kebutuhan akan alamat domain sendiri di internet menjadi suatu keniscayaan. Selain karena sebelumnya sudah lama mengidamkan domain sendiri, memiliki website pribadi dengan domain sendiri dan hosting berbayar tentulah menjadi suatu pencapaian yang dapat dibanggakan, setidaknya untuk saya saat itu. Pada mulanya memiliki domain sendiri ditujukan untuk keperluan personal branding, agar lebih mudah diingat. Namun kemudian website dan blog ini lebih banyak diabaikan oleh saya, terutama sejak berbagai media sosial memasuki kehidupan umat manusia di jagat raya.

qwords.com
 

Penyedia layanan web hosting dan domain yang saya gunakan adalah Qwords. Saya tidak ingat jelas bagaimana menemukan layanan hosting ini. Mungkin dari pencarian melalui mesin pencari, atau karena saya mengetahui langsung dari pemiliknya, Rendy Maulana, melalui aktivitas media sosial yang sama-sama kami ikuti, entah kronologger, atau facebook, atau bahkan di milis yang sama-sama kami ikuti, bisa jadi juga dari forum webhostingtalk. Tidak ingat. Blank.

Keputusan saya menggunakan Qwords saat itu semata-mata karena kantornya yang berlokasi di kota yang sama dengan saya, Bandung. Bahkan, lokasi kantornya pun relatif dekat dengan tempat tinggal saya. Qwords di Cisitu, dan saya di Sekeloa. Enteng lah, jalan kaki pun tidak terlampau jauh. Tujuannya, agar ketika terjadi masalah atau sedang memiliki kebutuhan yang terkait dengan pelayanannya, mudah bagi saya untuk mendatangi kantor tersebut. Karena saat itu adalah pertama kali saya menggunakan layanan hosting berbayar, ada saja ketakutan kalau-kalau terjadi ini-itu, baik teknis maupun non-teknis.

Sekarang, sampai tahun 2016 ini, saya belum pernah memindahkan layanan hosting saya dari Qwords. Sepanjang 9 tahun menggunakan layanan tersebut, saya nyaris tidak pernah mengalami kendala yang berarti. Salah satu yang mengikat saya untuk terus menggunakan Qwords adalah paket hosting yang saya gunakan selalu bertambah kapasitas penyimpanannya, meskipun setiap tahun saya membayar biaya sewa hampir sama dengan yang saya bayar saat pertama kali menyewa hosting di Qwords. Saya ingat persis, pada mulanya kapasitas penyimpanan yang saya sewa hanya 100 MB, kemudian bertambah  menjadi 250 MB, dan bertambah lagi menjadi 400 MB. Terakhir, kapasitas yang bisa saya gunakan saat ini adalah 1 GB. Perubahan biaya sewa hosting sempat terjadi ketika Qwords mulai membebankan pajak kepada pelanggan, itu pun karena melakukan penyesuaian dengan peraturan pemerintah.

Memiliki domain sendiri, serta menggunakan hosting berbayar tentunya sedikit meningkatkan kepercayaan diri saya. Terutama saat berbagi tautan. Apalagi saya sedang dalam fase sangat produktif dalam hal menulis blog. Pernah dalam 1 hari saya mampu menulis sampai 3 tulisan. Dengan kapasitas penyimpanan yang cukup besar untuk sebuah blog, saya tentu tidak merasa khawatir akan kehabisan ruang penyimpanan untuk tulisan-tulisan tersebut.

Salah satu permasalahan dari seorang penulis adalah kurangnya rasa percaya diri kalau tulisannya cukup baik untuk dibaca orang lain. Hal yang sama pun terjadi pada saya. Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa tulisan yang saya buat akan disukai atau bahkan dapat memengaruhi orang lain. Saya hanya menuliskan apa yang saya pikirkan, itu saja. Kalau orang lain suka, ya bagus. Kalau orang lain tidak suka, ya gak masalah.

Namun, dari sekian banyak tulisan, ternyata ada juga yang memiliki kesan untuk orang lain. Bahkan, dianggap layak untuk ‘diadu’ dengan tulisan orang lain. Salah satu blogger dan juga salah seorang dosen serta penulis, M Shodiq Mustika, tanpa saya ketahui sebelumnya menyertakan tulisan saya dalam perlombaan-perlombaan yang diselenggarakannya. Meskipun perlombaan tersebut diadakan di blog pribadinya, tidak ada hadiah khusus, namun bagi penulis pemula seperti saya, hal tersebut ternyata memberi dampak positif. Kepercayaan diri saya semakin meningkat. Bahkan, setelah beberapa tulisan saya diikutsertakan lomba tersebut, saya ditawarinya berkontribusi dan berkolaborasi dalam sebuah buku. Tahun 2007, sebuah buku berjudul “Istikharah Cinta” berhasil dipublikasikan melalui sebuah penerbit, dengan nama saya tercantum di dalamnya, sebagai salah seorang penulis. Keterkejutan saya belum berhenti, karena ternyata buku tersebut terjual puluhan ribu eksemplar. Tentu saja, royaltinya pun menggembirakan.

Salah satu kelebihan dari menggunakan domain sendiri adalah kita dapat membuat subdomain, yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Salah satu subdomain yang saya buat adalah ruangfoto.donnyreza.net, yang saya gunakan untuk keperluan photoblogging, aktivitas blogging yang khusus menampilkan foto-foto. Subdomain tersebut saat ini sudah tidak aktif. Dari aktivitas photoblogging tersebut, saya pernah menjadi juara 2 dalam lomba Photo Blog yang diadakan oleh Qwords juga.

Tanpa saya sadari, ternyata Qwords sudah memasuki usia 11 tahun. Sembilan tahun juga Qwords menjadi bagian dari “kehidupan” saya di internet. Selama itu juga, setiap tautan dengan domain donnyreza.net atau subdomainnya, yang terindeks oleh mesin pencari, akan mengarah pada website atau blog saya yang di-hosting di Qwords.

loading...

Curriculum Vitae Mukidi

Nama: Mukidi

Alamat: Berubah-ubah, tergantung operator yang sedang digunakan.

Usia: lihat bagian [Pengalaman Kerja]

Profesi Asli: Bisa apapun, bisa jadi siapapun.

Profesi di Media Sosial: pengacara, atau jaksa, tergantung situasi. Jika diperlukan jadi hakim sekaligus.

Deskripsi Kerja:

  • Mencari dan membagikan berita serta bukti-bukti agar tokoh atau kelompok yang dikaguminya tidak pernah berbuat kesalahan, serta membela mati-matian dengan berbagai argumen.
  • Mencari dan membagikan berita serta bukti supaya tokoh atau kelompok yang dibencinya terlihat selalu salah, serta menyerang membabi-buta dengan berbagai argumen.
  • Apabila seorang tokoh atau kelompok tersebut tidak dikagumi dan dibenci, berusaha mengadudomba kubu pencinta dan pembenci tokoh atau kelompok tersebut.

Sifat Pekerjaan: pro bono, gratis, sukarela, gak perlu bayar. Sudah kaya dari adsense, clickbait dan sejenisnya.

Pengalaman Kerja: sejak media sosial hadir di internet, ya telat-telat dikit lah.

Review Singkat: Tulus – Monokrom

Ketika saya menuliskan review singkat ini, saya baru mendengarkan 1-2 kali untuk setiap lagu. Jadi, kalau saya dengarkan dan menuliskan review 6 bulan atau 1 tahun yang akan datang, atau setelah lebih dari 10 kali, mungkin akan berbeda hasilnya.

Intinya;

Saya paham kenapa “Ruang Sendiri” jadi single yang dirilis ke publik. Chorus-nya paling cepat nempel, sih. Selain itu, lagu ini terasa lebih ringan di telinga dibandingkan dengan lagu lainnya. Dengan durasi 4:29, menjadi lagu terpanjang di album “Monokrom“. Lagu-lagu selebihnya di bawah 4 menit.

Manusia Kuat” itu lagu yang megah, cocok sebagai pembuka album, tapi lagu seperti ini akan cenderung dilupakan publik, walau berpotensi jadi mars kaum patah hati, err… lebih tepatnya mars para pengejar cita-cita, ehe ehe. Sangat terasa nuansa lagu “Negeriku” (Chrisye). Lagu penyemangat yang mungkin akan diputar di acara-acara motivasi, 17 Agustus-an, atau ospek sekolah dan kampus. Heu heu.

Saya tidak mengerti kenapa “Pamit” disimpan di #2, padahal -sepertinya- cocok disimpan di akhir, ditukar posisinya dengan “Monokrom“. Mungkin, khawatir kalau disimpan di akhir akan jadi pertanda buruk. 😀 Selain itu, rasanya menjadi ganjil begitu selesai mendengar lagu pertama yang bersemangat dan menggelora seperti itu, diturunkan lagi mood-nya oleh lagu ini.

Ada lagu yang hanya cocok untuk didengarkan, tapi tidak cocok untuk dinyanyikan oleh orang kebanyakan, “Tukar Jiwa” menurut saya masuk pada kategori ini. Enak, sih, tapi repot menyanyikannya.

Lagu “Tergila-Gila” akan jadi favorit makhluk-makhluk yang baru jatuh cinta lagi. Mungkin akan seperti “Lagu Cinta“-nya Dewa, walau beda mood musiknya.

Cahaya” itu semacam “More Than Words” versi Tulus, namun sedikit diperkaya dengan suara instrumen lain.

Lekas” berpotensi jadi hits selanjutnya. Kalau saya jadi produsernya, maka lagu ini yang akan saya pilih untuk promosi album.

Monokrom“, dari sisi lirik itu semacam “Kisah Klasik untuk Masa Depan” (Sheila on 7)  atau “Ingatlah Hari Ini” (Project Pop). Lagu persahabatan yang akan dikenang generasi anak sekolah menengah dan kuliahan.

Dua lagu, “Mahakarya” dan “Langit Abu-Abu“, belum saya dengarkan dengan seksama, baru sesingkat-singkatnya saja :p

Secara keseluruhan, sih… album yang sangat baik. Sepertinya akan mendapatkan penghargaan-penghargaan lagi.

Serba-serbi Pilpres 2014: Sebuah Sikap

Dalam 3 kata, apa kesimpulan kang Donny tentang pilpres 2014?
Beautiful. Unethical. Dangerous.

Sebentar… kayaknya pernah denger…
Hahaha. Lucius Fox, The Dark Knight.

Jadi, yang sebenernya gimana?
Gak tahu juga :-))

Pandangan terhadap 4 orang capres-cawapres tersebut?
Kenyataan bahwa mereka menjadi capres-cawapres adalah sebuah bukti bahwa mereka termasuk orang-orang yang memiliki kelebihan dibandingkan orang kebanyakan di Indonesia. Namun, paling aman, dan menurut saya lebih mendekati adil adalah dengan melihat mereka sebagai manusia, yang punya kelebihan dan kekurangan. Tidak mengangkat ke level malaikat, atau menarik ke level setan. Secara pribadi, pada siapa pun, dengan jabatan apa pun, saya berusaha untuk selalu memandang setiap orang seperti melihat pada diri sendiri. Punya kelebihan, tapi sudah pasti ada kekurangan dan aib yang masih tersembunyi. Cara seperti ini yang saya yakini dapat lebih mendekatkan untuk bersikap adil.

Sejujurnya, komposisi capres+pendukungnya buat saya “enggak banget”, lebih mudah kalau misalnya Prabowo diusung partai pendukung Jokowi sekarang +ARB, dan Jokowi diusung pendukung Prabowo -ARB :v atau mungkin ada calon ke-3 😀

Jelasnya, setelah melihat kenyataan komposisi calon+pendukungnya, saya sudah menyiapkan mental untuk di-presiden-i oleh siapapun. Halah, kesannya kayak apa aja. Heuheu.

Read More

Males

Kalau diperhatikan, kesemrawutan di jalan itu akar masalahnya cuma satu: males.

Males muter, jadi mending lawan arus.
Males berhenti di belakang garis putih, enakan di zebra cross dong, kan asyik bikin kesel penyeberang jalan.
Males ngerem, jadi kalau ada yang nyebrang tarik gas aja.
Males nunggu, serobot aja lampu merah.
Males macet, jadi sikat aja jalur trotoar, kalau selokan bisa dilewati, mungkin disikat juga.
Males pake lampu sein, paling yang kaget cuma pengendara di belakang *kemudian tabrakan beruntun*
Males pake helm, gak masalah juga kalau kepala pecah… kalau helm kan mahal, tapi kepala dapat gratisan, murah.

Semrawut – Sumber: antarafoto.com (digunakan tanpa izin, males)

Bikin SIM lewat jalur resmi mah lama, males.
Pak Polisi juga males sih nguji, cepetan lewat jalur gak resmi aja. Kalau ada yang melanggar, males ah ngurusin surat tilang, mending beresin di jalan aja. Bantuin pak hakim supaya gak terlalu pusing urusin sidang.

Males banget deh nganterin anak sekolah, bellin motor aja… mumpung uang muka kredit murah, yang penting hutang makin banyak. Kalau ugal-ugalan, namanya juga anak muda, sekali-kali nabrak orang sih biasa. Kan nyawa orang juga pemberian Allah, gratisan.

NB: seharusnya “malas”, tapi males benerin ah.

Page 2 of 23

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén