Author: Donny Reza (Page 1 of 23)

Pengembangan Website dan Kebutuhan Hosting yang Dapat Diandalkan

Bagi seorang web programmer, server hosting yang dapat diandalkan merupakan kebutuhan primer. Baik seorang pemula maupun profesional yang membuat website sendiri ataupun website untuk rekanan (client) yang minta dibuatkan website. Istilah hosting secara sederhana dapat diartikan sebagai tempat menyimpan file-file agar dapat diakses melalui internet. Idealnya, file-file tersebut disimpan pada mesin server yang terkoneksi ke internet. Kendalanya adalah tidak semua orang memiliki mesin komputer yang layak menjadi server hosting, serta tidak memiliki koneksi internet 24 jam setiap hari karena biayanya yang mahal. Jasa layanan hosting ada untuk menjembatani masalah tersebut.

Secara khusus, jasa hosting menyediakan tempat penyimpanan untuk file-file website yang telah kita buat. Selain itu, pada server hosting biasanya sudah terinstall berbagai software yang mendukung agar website berjalan dengan baik, seperti web server, database server, ataupun bahasa pemrograman yang digunakan untuk membangun website tersebut. Oleh sebab itu, layanan hosting yang baik, yang sangat mendukung operasional website kita, menjadi ujung tombak hidup-matinya website tersebut. Tentu kita tidak ingin mengalami ‘sakit kepala’ gara-gara website tidak dapat diakses, atau dapat diakses tapi sangat lambat.

Pencarian akan jasa hosting yang dapat diandalkan (reliable) tersebut mengantarkan saya pada DomaiNesia. Salah satu indikator bahwa DomaiNesia adalah jasa hosting yang dapat diandalkan adalah respon Customer Service (CS) yang baik dan cepat, serta deretan nama yang menjadi pelanggan/pengguna jasa (customer) yang dapat dilihat di websitenya. Nama-nama seperti IEEE dan ITB Career Center sudah cukup menjadi bukti bahwa DomaiNesia bukan penyedia hosting yang main-main. Segera setelah saya memesan dan melakukan konfirmasi pembayaran, saya dibuat semakin kagum dengan proses verifikasi pembayaran yang sangat cepat, tidak sampai setengah jam. Sehingga saya dapat langsung mengakses ruang hosting yang akan saya gunakan.

Bagaimana dengan fasilitas hosting di DomaiNesia? Sebelum membahas fitur-fitur yang terdapat pada hosting DomaiNesia, saya akan membahas sedikit masalah teknis yang sering dihadapi oleh seorang pengembang website. Saat akan mempublikasi website ke internet, terkadang terjadi perbedaan lingkungan (environment) antara mesin komputer yang kita gunakan dengan server hosting. Terkadang gap yang terjadi sangat besar, sehingga akhirnya website tidak berjalan sesuai dengan rencana. Misalnya, saat website dibuat, untuk koneksi ke server database menggunakan PDO, atau menggunakan beberapa library lainnya yang menjadi ‘nyawa’ website tersebut. Tetapi, begitu website tersebut di-deploy ke server hosting, website tersebut tidak dapat terkoneksi ke database karena ternyata library PDO pada hosting tersebut dimatikan (disable) atau tidak diinstal. Kalau sudah seperti ini, pilihannya hanya dua; mengubah kode-kode pada website kita agar sesuai dengan lingkungan server, atau mengganti jasa hosting. Keduanya bukan pilihan yang menyenangkan, karena akan menyita waktu dan mengeluarkan biaya lagi. Hal ini terjadi karena biasanya saat membangun sebuah website, di mana kita akan meng-hosting adalah hal terakhir yang kita pikirkan.

Hal tersebut juga masih terjadi pada saya. Oleh sebab itu, sebelum menggunakan jasa DomaiNesia, saya menyempatkan diri untuk bertanya kepada CS mereka melalui fasilitas live chat online yang bisa diakses di websitenya. Ketika itu saya menanyakan dukungan paket-paket shared hosting yang ditawarakan DomaiNesia terhadap Laravel, salah satu framework yang saya gunakan untuk mengembangkan website. Saya sangat terkesan ketika CS tersebut menjawab bahwa semua paket tersebut mendukung Laravel. Wow. Ini luar biasa! Dari komunikasi saya sebelumnya dengan penyedia layanan hosting lain, mereka hanya memberikan dukungan terhadap Laravel untuk paket-paket tertentu yang lebih mahal.

Setiap paket shared hosting yang ditawarkan DomaiNesia terhitung murah, karena menyediakan kapasitas ruang penyimpanan yang cukup besar dan jaminan Unlimited Bandwidth untuk masing-masing paket. Biasanya, sebuah layanan hosting hanya mendukung satu bahasa pemrograman saja, PHP. Tetapi, setiap paket DomaiNesia mendukung bahasa pemrograman web lainnya, yaitu: Node.js, Python dan Ruby. Hal ini menjadi pertanda bahwa DomaiNesia mempertimbangkan kebutuhan pengembang website yang menggunakan berbagai bahasa pemrograman. Selain itu, kita dapat memilih salah satu dari beberapa lokasi server yang ditawarkan yaitu Jakarta, Singapura, Jepang (Tokyo) dan Amerika (Dallas).

Pengelolaan hosting di DomaiNesia sangat terbantu dengan disediakannya cPanel bagi setiap customer. Dengan cPanel proses pengelolaan hosting menjadi mudah, karena hal-hal yang sifatnya sangat teknis dapat dilakukan menjadi lebih cepat. Misalnya, membuat database, membuat user database, menambah subdomain, mengelola DNS, serta backup dan recovery. Salah satu keunggulan lainnya adalah integrasi cPanel dengan Let’s Encrypt untuk pengelolaan sertifikat SSL, sehingga website dapat diakses secara lebih aman melalui protokol HTTPS.

Bagi pemula yang ingin memiliki website tanpa perlu ribet dengan berbagai hal teknis, DomaiNesia menyediakan fasilitas instant deploy, yang merupakan keunggulan lainnya. Dengan fasilitas ini, customer dapat dengan mudah dan cepat memiliki sebuah website . Ada beragam jenis Content Management System (CMS) dan Framework untuk berbagai kebutuhan seperti blog, toko online, forum atau development (pengembangan). Di antaranya, WordPress, Joomla, Prestashop, OpenCart, Laravel bahkan Moodle. Semuanya dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan, dan prosesnya sangat mudah.

Dengan berbagai keunggulan di atas, tidak diragukan lagi bahwa DomaiNesia sangat cocok sebagai hosting bagi pemula maupun untuk kebutuhan yang lebih profesional.

loading...

Walikota

Walikota. Kabarnya kata tersebut merupakan gabungan dari kata “wali” dan “kota”. Beberapa saat lalu, dan bahkan sampai hari ini, masih saja terjadi perdebatan soal makna wali, seolah-olah kata tersebut dikreasi oleh alay-alay zaman kiwari.

Kata wali sendiri yang berasal dari bahasa arab, umumnya diartikan sebagai “teman setia”, atau “sekutu”. Akan tetapi, kok ya rasanya kurang pas kalau Ridwan Kamil disebut “Teman Setia Kota Bandung” atau “Sekutu Kota Bandung”, seolah-olah warga Kota Bandung akan bermusuhan dengan Ridwan Kamil di kemudian hari.

Makna lainnya yang disebut-sebut adalah “pelindung”. Masih oke lah kalau Bima Arya disebut “Pelindung Kota” Bogor. Walaupun tidak jelas juga beliau ini pelindung dari apa? Barangkali dari kezaliman sopir angkot yang ngetem semaunya. Maklum, di Bogor sopir angkot itu raja jalanan yang bisa berkehendak semaunya.

Perdebatan mulai seru saat wali diartikan sebagai “pemimpin” yang tentu saja bernuansa politis. Biasa lah, kalau sudah dukung-dukungan di dunia politik, orang-orang cenderung jadi kaku seperti kanebo kering dan sensitif seperti testpack.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang memang besar (tebal) itu, jika dibandingkan dengan komik-komik X-Men, walikota diartikan sebagai “kepala kota madya; kepala wilayah kota administratif“. Lho, bukan pemimpin rupanya? Cuma “kepala”, badan dan buntutnya ya rakyat-rakyat seperti kita ini.

Konon, dahulu kala, pada zaman penjajahan Belanda dan zaman Republik Indonesia Serikat, pernah digunakan frasa “wali negara”, yang diartikan “kepala negara dari negara bagian“. Beda lagi dengan “wali negeri”, yang diartikan 1) kepala negeri; 2) gubernur jenderal. Begitu menurut KBBI daring.

Ah, masih tidak ada kata pemimpin disebut-sebut. Kepala kota, kepala wilayah, kepala negara, kepala negeri atau gubernur jenderal itu rupanya masih belum juga disebut pemimpin. Mungkin mereka-mereka itu cuma sebatas “teman setia” saja, tidak lebih. Korban friendzone rupanya.

Temuan Baru! Inilah Persamaan FPI dan GMBI!




Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016, Sekolah Tidak Gratis Lagi?

Berikut ini merupakan ringkasan dari apa yang saya baca dan pahami dalam Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016. Jika terjadi kesalahan dalam memahami isi Permendikbud tersebut, maka itu semata-mata karena kekurangan di pihak saya.

Pada dasarnya Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 itu mengatur tentang revitalisasi Komite Sekolah.

Komite Sekolah berfungsi dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

Tugas Komite Sekolah adalah;

  1. memberikan pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan,
  2. menggalang dana dan sumber daya pendidikan dari masyarakat,
  3. mengawasi pelayanan pendidikan,
  4. menindaklanjuti keluhan, saran dan kritik dari peserta didik, orang tua/wali dan masyarakat.

Anggota Komite Sekolah terdiri dari; maksimal 50% orang tua/wali yang masih aktif, maksimal 30% tokoh masyarakat, dan maksimal 30% pakar pendidikan. Dengan jumlah anggota Komite Sekolah minimal 5 orang, dan maksimal 15 orang.

Anggota Komite Sekolah tidak boleh berasal dari; pendidik, tenaga kependidikan dan penyelenggara sekolah yang bersangkutan, pemerintah desa, anggota DPRD, pejabat pemerintah yang membidangi pendidikan.

Komite Sekolah melakukan penggalangan dana dan sumber daya pendidikan lainnya. Sumber dana berbentuk bantuan dan/atau sumbangan. Sumber dana tidak boleh berbentuk pungutan.

Istilah-istilah yang perlu diperhatikan;

  • Bantuan berasal dari luar siswa atau orang tua/walinya.
  • Sumbangan berasal dari siswa atau orang tua/walinya, dan tidak mengikat.
  • Pungutan berarti penarikan dana oleh sekolah kepada murid atau orang tua/walinya. Bersifat wajib, mengikat, serta jumlah dan jangka waktunya ditentukan oleh sekolah.

Sebelum melakukan penggalangan dana, Komite Sekolah wajib membuat proposal yang diketahui penyelenggara sekolah. Sekolah dapat menggunakan dana tersebut atas sepengetahuan Komite Sekolah.

Lantas, apakah itu berarti nanti akan ada pembayaran SPP lagi? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung Komite Sekolah di masing-masing sekolah. Dalam hal penggalangan dana yang dimaksud oleh Permendikbud ini, peran pihak sekolah justru sangat kecil sekali. Meskipun pihak sekolah bisa saja berinisiatif memberikan saran dan masukan ke Komite Sekolah. Lagipula, dana dikelola oleh Komite Sekolah, bukan oleh pihak penyelenggara sekolah.

Dalam hal ini, jika anggota Komite Sekolah aktif, kreatif, berorientasi meningkatkan mutu pendidikan di sekolah tersebut, maka penyelenggara sekolah, siswa dan orang tua bisa diuntungkan. Misalnya, dengan berinisiatif melakukan penggalangan dana ke perusahaan-perusahaan. Selama perusahaan tersebut bukan perusahaan rokok dan minuman keras.

Namun, di sisi lain, jika anggota Komite Sekolah terdiri dari orang-orang yang korup, rentan juga terjadi penyalahgunaan keuangan. Meskipun dalam Permendikbud tersebut sangat ditekankan dalam hal transparansi keuangan. Salah satu antisipasinya dengan membuat rekening bersama Komite Sekolah dan Penyelenggara Sekolah.

Kesimpulan:

  • Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tidak membahas mengenai kewajiban peserta didik dan orang tua/wali untuk mengeluarkan sejumah uang sebagai biaya pendidikan. Jadi, Permendikbud ini tidak menentukan apakah sekolah akan gratis atau tidak.
  • Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 mendorong peran serta masyarakat melalui pembentukan Komite Sekolah dalam hal peningkatan mutu pendidikan. Salah satunya dengan melakukan penggalangan dana untuk mendukung kegiatan sekolah.
  • Penggalangan Dana yang dimaksud berbentuk bantuan (dari pihak luar sekolah), dan sumbangan (dari dalam; siswa/orang tua/wali). Tidak boleh berbentuk pungutan yang sifatnya wajib dan mengikat.

Sumber & Referensi:

Kebijakan Personal di Media Sosial

Setiap orang memiliki preferensi yang berbeda dalam memandang media sosial, yang berakibat pada berbeda-bedanya tujuan setiap orang dalam menggunakannya. Salah satu perbedaan pandangan yang tidak akan pernah berujung mengenai media sosial berhubungan dengan status materi yang diunggah, apakah masuk ranah sosial, atau ranah pribadi? Materi di media sosial dapat berupa teks, gambar, audio, atau video.

Saya termasuk yang berpandangan bahwa aktivitas di media sosial merupakan aktivitas di ranah publik. Ini pula yang mendasari qaul qadim saya dalam tulisan mengenai Berdo’a di Media Sosial, dengan penekanan pada do’a yang bersifat pribadi. Qaul jadid saya sih masih belum berubah banyak, heu heu…

Di facebook, misalnya, ketika kita berteman dengan orang lain, secara tidak langsung sudah terjadi kesepakatan, bahwa kita dapat melihat apa pun aktivitas teman kita, dan sebaliknya. Kita dapat mengunggah materi apa pun, entah itu baik atau buruk, entah teman-teman kita suka atau tidak dengan materi tersebut.

Ketika materi tersebut sudah diunggah, maka kita sudah tidak memiliki kendali terhadap dampak yang akan ditimbulkan setelahnya. Kita tidak memiliki kendali untuk mengatur bagaimana orang lain bereaksi. Kita tidak akan sanggup menghentikan orang lain menampakkan ketidaksetujuan atau kebencian terhadap materi tersebut. Setiap orang dapat meng-capture, menyalin materi, mengunduh gambar atau video dari akun media sosial kita. Persoalannya bukan apakah orang lain boleh melakukan itu semua atau tidak. Kita bisa berdebat berbusa-busa mengenai hal tersebut. Namun, yang perlu ditekankan adalah mereka bisa melakukan itu di media sosial.

Kendali yang kita miliki dalam media sosial sesungguhnya sangat kecil dan sedikit sekali. Paling hanya bagaimana reaksi kita terhadap materi orang lain, dan materi apa yang dapat kita unggah ke dalam media sosial. Tidak jarang pula, kita kehilangan kendali terhadap reaksi spontan yang ditimbulkan oleh materi orang lain. Bahkan, bisa jadi kemudian berpengaruh terhadap mood kita selanjutnya selama seharian.

Kita dapat saja mengatur siapa saja yang dapat melihat dan berinteraksi di media sosial. Di facebook kita bisa mengatur apakah materi yang kita unggah dapat dilihat oleh publik, hanya kawan saja, atau hanya orang tertentu saja. Di instagram dan twitter, kita dapat mengatur agar materi kita dapat dilihat oleh pengikut saja. Namun, selama isi media sosial kita masih bisa dilihat orang lain, entah itu sahabat, keluarga, tetangga, atau baru dikenal di internet, maka tidak sedikitpun kita dapat mengatur reaksi mereka. Sedekat-dekatnya seorang sahabat, tidak akan selalu menyukai, atau menyetujui apa pun yang kita katakan, lakukan, ungkapkan. Apalagi orang yang baru dikenal di internet. Maka, potensi menimbulkan konflik akan selalu ada.

Kalau memang ingin materi-materi di media sosial tidak masuk ke ranah publik, atur agar materi-materi tersebut hanya bisa dilihat sendiri. Tidak perlu punya follower di twitter atau instagram. Atur agar akun-akun tersebut jadi private. Cukup sendiri saja. Hanya saja, kalau begitu buat apa juga punya akun media sosial? Lebih baik menulis diary saja. Lalu sembunyikan. Dijaga oleh anjing galak. Tiga ekor sekaligus, jika perlu.

Berdasarkan hal tersebut, dalam melakukan aktivitas di media sosial, saya cenderung tidak serius, sedikit berhati-hati, cenderung menghindari perdebatan, walau kadang tak tertahankan untuk bersikap nyinyir dan sok tahu. Demi menjaga agar aktivitas media sosial saya tetap pada “jalan yang lurus”, ada beberapa policy (kebijakan) yang saya tekankan pada diri saya sendiri dalam melakukan aktivitas di media sosial.

Berikut ini merupakan beberapa kebijakan yang saya pegang dalam beraktivitas di media sosial;

Tidak menuliskan aib atau permasalahan rumah tangga dan keluarga. Keluarga di sini selain anggota inti, yaitu; anak & pasangan, juga termasuk orang tua, mertua, adik, sepupu, ipar, dan lain-lain. Pokoknya siapa pun yang dianggap sebagai anggota keluarga, jika terjadi permasalahan, sebisa mungkin saya hindari untuk membahasnya di media sosial. Ini perkara menjaga kehormatan keluarga. Membahas di media sosial malah akan merusak hubungan baik di dalam keluarga. Masalah belum tentu selesai, dibenci keluarga sudah pasti.

Tidak mengangkat atau mengeluhkan permasalahan di tempat kerja, terutama yang berhubungan dengan rekan kerja. Tempat bekerja semestinya dapat kita kondisikan agar menyenangkan, atau kalau pun ada masalah, tidak terlalu mengganggu pekerjaan. Permasalahan yang muncul di tempat kerja sebetulnya hal yang lumrah, baik itu dengan rekan kerja, dengan atasan atau dengan bawahan.

Pekerjaan rutin kita saja bisa jadi sumber masalah setiap harinya. Mengangkat atau lebih tepatnya mengeluhkan persoalan pekerjaan, apalagi orang-orang di tempat kerja, hanya akan menambah sumber masalah, dan menimbulkan suasana tempat kerja yang kurang nyaman.

Di luar rekan kerja, orang-orang yang membaca materi kita di media sosial akan khawatir dengan apa yang kita lakukan. “Jangan-jangan, kalau nanti saya satu tempat kerja sama dia, saya akan dibegitukan juga“, atau “Ngeluh aja sama kerjaannya, kenapa gak resign aja, sih?

Jelasnya, hal-hal semacam itu bukan materi yang akan disukai oleh tim HRD suatu perusahaan. Lain kali akan menulis mengenai persoalan di tempat kerja, bayangkan ada HRD dari perusahaan lain sedang memantau media sosial anda. Heu heu.

Terbukti kemudian, hubungan saya dengan mantan rekan kerja tidak pernah ada masalah. Tidak bekerja bersama lagi, bukan berarti kemudian saling melupakan. Di media sosial kami masih saling menghargai, meski tidak selalu berinteraksi.

Tidak menulis status yang marah pada…tembok. Pernah melihat curhatan semacam, “awas aja, nanti kalau gue gak ada lu baru tahu rasa“, “sudah dikerjakan serius, eh gak dihargai“, “udah gue bantuin, ngomongnya malah gak enak gitu“, dan lain-lain yang senada dengan itu? Di media sosial, itu adalah materi-materi yang tidak pernah saya respon atau saya cuekin kalau muncul di timeline saya. Materi seperti itu berpotensi memancing kerusuhan, karena bisa jadi ada orang yang merasa, meskipun orang tersebut bukan orang yang dimaksud dalam curhatan itu.

Mengurangi bahasan tentang anak. Saya belakangan langka sekali membahas tentang anak. Tentu saja, di awal memiliki anak sering melakukan itu, terutama mengunggah foto. Tidak membahas tentang anak di media sosial, bukan berarti tidak sayang pada mereka. Sudah pasti, saya sangat menyayangi mereka. Namun, justru itu masalahnya. Orang lain pun sangat menyayangi anak-anaknya. Sehingga, ketika saya membahas anak, kemungkinannya; orang lain tidak peduli, atau malah membandingkan dengan anak mereka. You know lah, ya… mentalitas “anak saya paling hebat sedunia“. Akhirnya, isi komentar di media sosial jadi saling membanggakan anak. Lah, kan saya lagi bahas anak saya…? Heu heu. Kebijakan ini berlaku juga di luar internet, sih. Saya langka bahas anak dengan orang lain dalam keseharian, karena biasanya ending-nya sama. Wkwkwkwk.

Terkait membahas anak juga termasuk tidak mengeluhkan mereka. Alasannya; merasa malu kepada orang tua dulu, yang meskipun bisa jadi beban mereka lebih berat daripada saya, tapi mampu melewatinya. Beruntunglah belum ada media sosial di zaman mereka. Hahaha. Selain itu, saya khawatir saat anak-anak sudah besar, lalu menemukan dan membaca keluhan saya di media sosial, keluhan-keluhan itu akan menyedihkan mereka.

Tidak Berjualan. Tidak di akun personal, tentu saja. Saya hanya merasa lebih nyaman kalau untuk akun personal tidak digunakan untuk berjualan. Untuk keperluan berjualan, di facebook saya buat page, di twitter buat akun baru lagi khusus dengan nama brand yang akan dijual. Jadinya lebih berat, sih… karena orang lain tidak mengenal brand yang sedang coba kita jual tersebut. Ini bukan soal benar dan salah, soal kenyamanan hati saja. Hey, i’m an introvert. Selling is not our strength. Ya, saya tahu… ini hanya alasan. :-))

Itu adalah beberapa poin kebijakan saya di media sosial. Pegangan saja. Meski terkadang berkhianat juga. Ada kalanya, sebuah kebijakan diputuskan setelah melihat materi orang lain. Jika terasa salah bagi saya, maka sebisa mungkin saya hindari. Tentu saja, ini belum tentu berlaku untuk orang lain. Namun, nyatanya, dalam bertahun-tahun “hidup” di media sosial, langka sekali saya bermasalah dengan orang lain. Prinsipnya, berteman lebih baik daripada bermusuhan. Melakukan perbaikan lebih baik daripada berbuat kerusakan. Atau, diam…

Page 1 of 23

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén