Serba-serbi Pilpres 2014: Sebuah Sikap

Dalam 3 kata, apa kesimpulan kang Donny tentang pilpres 2014?
Beautiful. Unethical. Dangerous.

Sebentar… kayaknya pernah denger…
Hahaha. Lucius Fox, The Dark Knight.

Jadi, yang sebenernya gimana?
Gak tahu juga :-))

Pandangan terhadap 4 orang capres-cawapres tersebut?
Kenyataan bahwa mereka menjadi capres-cawapres adalah sebuah bukti bahwa mereka termasuk orang-orang yang memiliki kelebihan dibandingkan orang kebanyakan di Indonesia. Namun, paling aman, dan menurut saya lebih mendekati adil adalah dengan melihat mereka sebagai manusia, yang punya kelebihan dan kekurangan. Tidak mengangkat ke level malaikat, atau menarik ke level setan. Secara pribadi, pada siapa pun, dengan jabatan apa pun, saya berusaha untuk selalu memandang setiap orang seperti melihat pada diri sendiri. Punya kelebihan, tapi sudah pasti ada kekurangan dan aib yang masih tersembunyi. Cara seperti ini yang saya yakini dapat lebih mendekatkan untuk bersikap adil.

Sejujurnya, komposisi capres+pendukungnya buat saya “enggak banget”, lebih mudah kalau misalnya Prabowo diusung partai pendukung Jokowi sekarang +ARB, dan Jokowi diusung pendukung Prabowo -ARB :v atau mungkin ada calon ke-3 😀

Jelasnya, setelah melihat kenyataan komposisi calon+pendukungnya, saya sudah menyiapkan mental untuk di-presiden-i oleh siapapun. Halah, kesannya kayak apa aja. Heuheu.

Apakah itu artinya jadi golput?
Tidak. Saya tentunya cenderung pada salah satu calon.

Kalau memilih salah satu, mengapa tidak menampakkan dukungan di media sosial?
Setiap orang punya prioritas, dan urusan dukung-dukungan capres di tahun 2014 ini gak ada dalam prioritas saya :v
Selain itu, saya merasakan ‘tensi’ antar-pendukung di media sosial cenderung tinggi. Nah, agar dapat lebih mendekati adil, terutama saat memberikan respon, saya memilih untuk merahasiakan pilihan saya, terutama di media sosial.

Saya lebih mementingkan hubungan baik dengan teman-teman saya. Beda pilihan itu biasa.

Memang, pada akhirnya saya kadang malah terjebak jadi nyinyirin pendukung capres dua-duanya, terutama urusan black campaign. Bukannya menjaga hubungan baik, malah berisiko dimusuhi dua-duanya :v Namun, sepertinya hal itu tidak terjadi. Lagipula saya sebetulnya kan jarang juga bahas copras-capres ini.

Apa mungkin bisa adil?
Sangat mungkin. Meski barangkali tidak sampai 100%, tapi bisa mendekati. Justru yang disebut adil itu salah satunya karena bisa memberikan penilaian dan bersikap netral, yang berpihak pada kebenaran, saat hatinya memiliki kecenderungan pada salah satu pilihan. Sebagai contoh, setiap anggota KPU dan Bawaslu, tentu mereka memiliki kecenderungan terhadap salah satu pasangan, tapi karena tuntutan tugas, mereka tidak boleh menampakan keberpihakan kepada salah satu pasangan. Cukup dalam hati saja. Jika kemudian pasangan yang dia sukai itu melakukan pelanggaran, suka atau tidak suka dia harus menegur pasangan tersebut, tidak boleh membiarkan begitu saja.

Contoh lain, wasit, guru, hakim, polisi, merupakan profesi-profesi yang dituntut memiliki keadilan. Orang tua dituntut adil pada anak-anaknya, atau suami yang dituntut adil pada istri-istrinya. Halah.

Nah, dalam hal pilpres ini, saya berusaha memposisikan diri ke tengah, mencoba memposisikan diri seperti Bawaslu, atau wasit pertandingan, meski kenyataannya bukan. Buat orang lain, apa yang saya lakukan mungkin tidak penting, tapi buat saya tentunya penting, jangan sampai jadi dzalim 😀

Kalau ada sumbu-X, di mana posisi -10 sampai 0 itu sebaga nilai kecenderungan kepada salah satu capres, dan 0 sampai 10 itu kepada capres lainnya, posisi saya kira-kira ada di angka 0,5 :v

Kenapa begitu?
Demi menjaga kewarasan :v

Semakin ke tengah mendekati posisi 0, kita semakin bisa melihat masing-masing sisi dengan hampir seimbang. Semakin mendekati 10 atau -10, itu yang perlu dikhawatirkan kewarasannya :v Sudah sulit untuk objektif, karena sudah menganggap pilihannya sebagai malaikat, dan lawannya sebagai setan. Padahal, sebetulnya mereka lebih berpotensi menciptakan Firaun modern.

Di posisi 0.5 itu kan masih bisa kelihatan apa yang ada di -1, atau bahkan -3. Jadi, kalau ada yang bagus-bagus di sekitar situ, ya bisa kita lihat, mungkin bisa kita apresiasi juga. Coba kalau di posisi 8 atau -8, kan jauh banget itu, kalau ada yang bagus di sisi lawannya jadi gak kelihatan.

Amannya sih, saya gak perlu tahu dan mikirin pilpres ini, terutama di facebook atau twitter. Nah, itu barangkali yang perlu saya usahakan di pilpres selanjutnya :v

Apa sudah merasa adil?
Gak tahu, cuma bisa berusaha 🙂

Apa yang menjadi referensi untuk besikap demikian?
Dalam konteks pilpres ini, di antaranya:

  • “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. [QS. Al-Baqarah 2: 216]Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. [QS. Al-Baqarah 2: 216]”
  • “Cintailah kekasihmu secara sedang-sedang saja siapa tahu suatu hari dia akan menjadi musuhmu: dan bencilah orang yang engkau benci secara biasa-biasa saja siapa tahu suatu hari dia akan menjadi kekasihmu. (HR. Turmudzi)”
  • “Hidup ini jangan serba terlalu, yang sedang-sedang saja, Karena semua yang serba terlalu, bikin sakit kepala (Vetty Vera)” :v
  • Meski tidak terkait langsung, karena saya pernah menjadi PMR dan KSR PMI, beberapa prinsip dalam 7 Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, saya jadikan pegangan untuk bersikap.

Ada lagi 1 ayat Al-Qur’an yang populer saat pilpres, yaitu:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al Hujuraat:6]

Sayangnya, ketika seseorang membagikan status ini di statusnya, terkesan digunakan untuk ‘menyerang’ pendukung lawannya agar tidak menyebarkan black campaign, tapi sendirinya menyebarkan kabar-kabar yang perlu diperjelas lagi. Padahal kan sebetulnya itu untuk semua orang, termasuk yang menyebarkan ayat tersebut, sebagai pengingat agar terhindar dari berbuat dzalim, apalagi pada orang-orang yang kenalnya saja saat capres ini 😀

Apakah cara seperti ini berhasil?
Gak tahu juga :-)) Hanya yang jelas, saya bisa membicarakan atau mengkritik kelakuan masing-masing pendukung, baik positif atau negatifnya, dengan siapa saja, meski langka juga saya lakukan 😀 Selain itu, ada yang menganggap saya memilih Jokowi-JK, ada juga yang menganggap saya memilih Prabowo-Hatta :v

Jadi, sebetulnya pilih siapa?
Prabowo-Hatta

Kenapa pilih itu?
Terpaksa. Disodorinnya cuma 2 pilihan, kan? Coba kalau saya bisa nentuin sendiri capres-cawapresnya, kan beda lagi urusannya :v

Kenapa bukan Jokowi-JK?
Faktor PDI-P. LOL.
Namun, saya mengagumi apa yang sudah Jokowi kerjakan di Solo. Bahkan, sebelum jadi gubernur, saya suka lihat videonya di Youtube, saat berbagi cerita mengurus Solo. Inspiring. Selain itu, kami sama-sama suka Dream Theater juga :v
Kinerja JK juga saya kagumi saat menjadi wapres, ketum PMI dan DMI. Hanya, menurut saya, sudah saatnya pensiun 😀

Percaya dengan isi black dan negative campaign yang beredar selama pilpres?
Ada yang saya baca, tapi saya tidak begitu saja percaya, lha saya gak punya waktu untuk menuruti anjuran “periksalah dengan teliti” seperti pada ayat tadi :v Apalagi penulisnya juga biasanya tidak saya kenal.
Berita baik tentang masing-masing capres masih saya baca, tapi kalau isi beritanya tentang tuduhan ini-itu, saya memilih mengabaikan saja deh 😀

Pendapat soal tuduhan bahwa Jokowi kafir?
Kita tidak tahu isi hati seseorang, yang bisa kita nilai adalah perbuatannya. Setahu saya dia shalat, pergi umroh juga, bahkan haji(?), maka bagi saya dia seorang muslim. Tidak ada ucapan tegas bahwa dia bukan muslim. Urusan yang di dalam hatinya, itu urusan dia dengan Allah SWT.

Saat pengumuman Quick Count, salah satu stasiun TV mewawancarai adik-kakaknya, 3 orang, dan tiga-tiganya berkerudung, mengucapkan Alhamdulillaah. Bagi saya itu menegaskan kalau Jokowi muslim. Ya, mungkin ada perbuatannya yang dianggap melanggar agama, itu kan jadinya tugas sesama muslim untuk mendakwahi. 🙂

Pendapat soal penculikan oleh Prabowo?
Saya tidak tahu. Tidak terlalu paham konteks mengenai apa yang terjadi saat itu.

Jadi, apa dasar yang menjadi keputusan untuk memilih salah satu capres?
Percaya saja, tapi tidak yakin-yakin amat. :))

Lho, kenapa tidak yakin?
Ya, gimana lagi coba? Ukuran keberhasilannya kan 5 tahun mendatang. Kita bisa tahu jawaban apakah kita benar atau salah memilih, 5 tahun mendatang juga. Apa yang kita yakini, misal lebih baik, lebih makmur, dll, belum tentu jadi kenyataan. Kekhawatiran bahwa calon ini atau calon itu akan dzalim juga belum pasti, baru sebatas kekhawatiran.

Nah, salah satu pencerahan yang saya dapat dari pilpres 2014 ini adalah bahwa beragama terasa jadi semakin masuk akal, sebab saat kita memilih suatu agama, modal kita juga hanya percaya dan yakin. Pendukung capres yakin pilihannya dapat membawa kebahagiaan, kemakmuran, atau meyakini janji-janji kampanyenya. Begitu juga pengikut suatu agama, percaya dan yakin terhadap apa-apa yang dikatakan nabi atau pendiri agamanya tentang surga-neraka, tentang Tuhan, dll. Kapan kita mengetahui jawaban kalau agama yang kita pilih itu benar? Ya, tunggu mati saja :v

Pendapat Tentang Quick Count?
Secara ilmu pengetahuan, QC dapat dipertanggungjawabkan, selama dilakukan dengan jujur. QC kan menggunakan sampling, kalau kita meragukan metode ini, maka ada ribuan skripsi, thesis dan disertasi yang harus dibatalkan karena menggunakan metode sampling :v

Saat melihat hasil berbeda di stasiun TV pendukung masing-masing capres, saya berpikir, tidak mungkin dua-duanya benar, mesti salah satu yang benar, atau mungkin saja dua-duanya yang salah, karena ada kemungkinan suara draw, meskipun langka.
Pada akhirnya, hasil survei RRI menjadi kunci, karena saya anggap lebih netral 😀

Jadi, sudah mengakui bahwa pilihannya kalah?
Iya, meski tidak langsung dipublikasikan juga. Sejak hari ke-2 atau 3, setelah hari pemilihan.

Tapi, kubu Prabowo-Hatta menuduh terjadi kecurangan?
Ya, silahkan saja lakukan prosesnya melalui jalur hukum. Bahkan, saya percaya, seandainya Prabowo-Hatta yang menang, kubu Jokowi-JK pun akan melakukan hal yang sama. Ini kan kisah lama setiap kali pemilu :v
Beban membuktikan ada pada yang menuduh, dan semoga dapat berbuat adil juga. Artinya, kalau di pihak pendukungnya ada kecurangan, ya diproses juga, jangan diabaikan 🙂

Pendapat Tentang Open Data KPU?
Bagus itu, saya malah berharap dapat diterapkan di KPU masing-masing daerah, untuk mengawal suara dan meminimalisir kecurangan.

Percaya dengan situs crowdsourcing?
Ya, percaya saja. Saya sendiri sempat ikut serta mengisi dan memverifikasi beberapa data, tidak banyak, tidak sampai 30 data. Saya kerjakan apa adanya, sesuai dengan yang tertera pada hasil scan formulir C5. Spontan saja, saat link situs-situs crowdsourcing itu muncul di facebook, saya klik, dan jadi relawan dadakan.
Oleh sebab itu, saya tidak menaruh kecurigaan pada relawan lain yang barangkali melakukannya secara spontan juga. Saya tidak tahu siapa saja yang menjadi relawan. Jadi, mustahil juga bisa sepakat untuk berbuat curang.

Harapan untuk presiden terpilih?
Semoga menjadi pemimpin yang adil 🙂

Previous

Males

Next

Review Singkat: Tulus – Monokrom

2 Comments

  1. pilper 2014 banyak sekali konflik

  2. keren info dan artikelnya

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén