Month: August 2016

Curriculum Vitae Mukidi

Nama: Mukidi

Alamat: Berubah-ubah, tergantung operator yang sedang digunakan.

Usia: lihat bagian [Pengalaman Kerja]

Profesi Asli: Bisa apapun, bisa jadi siapapun.

Profesi di Media Sosial: pengacara, atau jaksa, tergantung situasi. Jika diperlukan jadi hakim sekaligus.

Deskripsi Kerja:

  • Mencari dan membagikan berita serta bukti-bukti agar tokoh atau kelompok yang dikaguminya tidak pernah berbuat kesalahan, serta membela mati-matian dengan berbagai argumen.
  • Mencari dan membagikan berita serta bukti supaya tokoh atau kelompok yang dibencinya terlihat selalu salah, serta menyerang membabi-buta dengan berbagai argumen.
  • Apabila seorang tokoh atau kelompok tersebut tidak dikagumi dan dibenci, berusaha mengadudomba kubu pencinta dan pembenci tokoh atau kelompok tersebut.

Sifat Pekerjaan: pro bono, gratis, sukarela, gak perlu bayar. Sudah kaya dari adsense, clickbait dan sejenisnya.

Pengalaman Kerja: sejak media sosial hadir di internet, ya telat-telat dikit lah.

loading...

Review Singkat: Tulus – Monokrom

Ketika saya menuliskan review singkat ini, saya baru mendengarkan 1-2 kali untuk setiap lagu. Jadi, kalau saya dengarkan dan menuliskan review 6 bulan atau 1 tahun yang akan datang, atau setelah lebih dari 10 kali, mungkin akan berbeda hasilnya.

Intinya;

Saya paham kenapa “Ruang Sendiri” jadi single yang dirilis ke publik. Chorus-nya paling cepat nempel, sih. Selain itu, lagu ini terasa lebih ringan di telinga dibandingkan dengan lagu lainnya. Dengan durasi 4:29, menjadi lagu terpanjang di album “Monokrom“. Lagu-lagu selebihnya di bawah 4 menit.

Manusia Kuat” itu lagu yang megah, cocok sebagai pembuka album, tapi lagu seperti ini akan cenderung dilupakan publik, walau berpotensi jadi mars kaum patah hati, err… lebih tepatnya mars para pengejar cita-cita, ehe ehe. Sangat terasa nuansa lagu “Negeriku” (Chrisye). Lagu penyemangat yang mungkin akan diputar di acara-acara motivasi, 17 Agustus-an, atau ospek sekolah dan kampus. Heu heu.

Saya tidak mengerti kenapa “Pamit” disimpan di #2, padahal -sepertinya- cocok disimpan di akhir, ditukar posisinya dengan “Monokrom“. Mungkin, khawatir kalau disimpan di akhir akan jadi pertanda buruk. 😀 Selain itu, rasanya menjadi ganjil begitu selesai mendengar lagu pertama yang bersemangat dan menggelora seperti itu, diturunkan lagi mood-nya oleh lagu ini.

Ada lagu yang hanya cocok untuk didengarkan, tapi tidak cocok untuk dinyanyikan oleh orang kebanyakan, “Tukar Jiwa” menurut saya masuk pada kategori ini. Enak, sih, tapi repot menyanyikannya.

Lagu “Tergila-Gila” akan jadi favorit makhluk-makhluk yang baru jatuh cinta lagi. Mungkin akan seperti “Lagu Cinta“-nya Dewa, walau beda mood musiknya.

Cahaya” itu semacam “More Than Words” versi Tulus, namun sedikit diperkaya dengan suara instrumen lain.

Lekas” berpotensi jadi hits selanjutnya. Kalau saya jadi produsernya, maka lagu ini yang akan saya pilih untuk promosi album.

Monokrom“, dari sisi lirik itu semacam “Kisah Klasik untuk Masa Depan” (Sheila on 7)  atau “Ingatlah Hari Ini” (Project Pop). Lagu persahabatan yang akan dikenang generasi anak sekolah menengah dan kuliahan.

Dua lagu, “Mahakarya” dan “Langit Abu-Abu“, belum saya dengarkan dengan seksama, baru sesingkat-singkatnya saja :p

Secara keseluruhan, sih… album yang sangat baik. Sepertinya akan mendapatkan penghargaan-penghargaan lagi.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén