Adalah Don Lopez comte de Paris yang kekar itu, dan berbicara lebih fasih berbahasa Prancis ketimbang bahasa ayah-ibunya Spanyol, yang pertama kali menyuruh budak-budak perempuan itu menutup payudaranya.

Kepada budak-budak perempuan di Semarang yang mengerjakan pos di kota ini — yaitu jalan besar yang sampai 1950-an bernama Bojong, dan kini Pemuda — Don Lopez memotong-motong kain putih dan memberi kepada salah seorang budak perempuan yang tergolong cantik dan belia.

Sambil memberikan potongan kain putih itu kepada budak perempuan tersebut, dia berkata, “Tutup Bagian berharga itu.” Dia menggunakan bahasa Prancis untuk kata ‘berharga’ tersebut. Dalam bahasa Prancis, coutant berarti ‘berharga’.

Sambil menerima kain putih yang diberi oleh Don Lopez, budak perempuan itu memandang bingung.

Kangge nopo iki, ndoro Tuan?” tanya budak cantik itu.

Sambil menunjuk-nunjuk payudara perempuan itu, Don Lopez berkata, “Coutant! Coutant!

Budak perempuan itu makin bingung. Dia melihat payudaranya, apakah ada yang salah dari payudaranya itu.

Kulo boten ngertos, ndoro Tuan,” katanya.

Lagi Don Lopez berkata, “Coutant!

Orang-orang melihat adegan itu sertamerta mengira bahwa kain putih yang ditunjuk-tunjuk ke payudara untuk dipakai sebagai penutup adalah namanya coutant.

Seorang budak yang berdiri di dekat budak perempuan itu lantas berkata kepadanya, “O kuwi jenenge kutang.”

Sejak itu lahirlah entri baru dalam bahasa rakyat yang salah kaprah, bahwa ‘kutang’ adalah kain pembungkus payudara.

Cerita di atas tidak ada urusannya dengan pornografi. Di atas adalah sekelumit dari sebuah buku berjudul “Novel Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil“, karya Remy Sylado, penerbit Tiga Serangkai. Sebuah buku yang bercerita tentang masa kecil Ontowiryo, seorang Pangeran dari kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dibesarkan oleh nenek buyutnya di sebuah desa bernama Tegalrejo, jauh dari hiruk pikuk kraton. Kelak, Ontowiryo dikenal dan dikenang sejarah sebagai Pangeran Diponegoro.

Sejak pertama dilahirkan, Ontowiryo ‘diramal’ oleh kakek buyutnya, Sultan Hamengku Buwono I, akan menjadi seorang yang besar. Seorang Herucokro atau Ratu Adil. Oleh sebab itu, Sultan meminta istrinya, Ratu Ageng, untuk mendidik dan membesarkan Ontowiryo. Dikarenakan perselisihan dengan anaknya, Sultan Hamengku Buwono II, yang kemudian menggantikan tahta ayahnya, Ratu Ageng memilih untuk memisahkan diri dari Kraton dan tinggal di Tegalrejo dengan membawa serta Ontowiryo.

Dibesarkan dalam budaya Jawa dan akhlak Islam, Ontowiryo tumbuh menjadi sosok yang rendah hati, santun, cerdas sekaligus berani dan berakhlak mulia. Keyakinan terhadap nilai-nilai kebenaran yang dipegangnya, ditunjang dengan keterampilan berperang yang dilatih oleh paman-pamannya, menjadikan Ontowiryo juga tumbuh menjadi sosok yang kuat. Itulah sebabnya, ketika tidak ada satu pun yang berani menentang perintah Belanda yang sangat zalim, membiarkan dan melarang menguburkan sesosok mayat petani yang tidak membayar pajak di tengah lapang, Ontowiryo sendiri yang melakukannya. Seperti halnya para pemimpin besar lainnya, Ontowiryo juga sangat menggandrungi buku dan memahami isinya.

Secara keseluruhan, buku ini bercerita tentang proses dan masa persiapan Ontowiryo untuk menjadi seorang Herucokro (Ratu Adil), yang sejak kecil ditanamkan oleh Ratu Ageng. Buku ini juga merupakan buku pertama dari rangkaian “Novel Pangeran Diponegoro“. Oleh sebab itu, di akhir halaman buku ini, cerita dibiarkan menggantung. Masih jauh dari peristiwa Perang Jawa yang bersejarah itu.

Sebagai sebuah ‘penafsiran’ atas sebuah sejarah, Remy Sylado berhasil menyajikan buku ini dengan sangat baik. Selain dilengkapi dengan fakta-fakta yang cukup menarik, Remy juga berani menyisipkan kata-kata yang memaksa kita untuk membuka kamus Bahasa Indonesia lagi. Sebagai seorang Kristen, Remy juga cukup piawai menggambarkan dan menceritakan nuansa Islam dalam buku ini. Dalam beberapa halaman, Remy bahkan mengutip beberapa hadits.

Bagi saya, hal yang menarik dari sebuah novel yang mengadaptasi sejarah adalah menghubungkannya dengan konteks kekinian. Terkadang juga bisa menjadi sebuah koreksi sejarah. Sebagai contoh, buku sejarah yang diajarkan di sekolah hanya menyebut Belanda, Inggris, Portugis dan Jepang yang pernah menjajah Indonesia. Itu pun, Portugis hanya di beberapa daerah Indonesia Timur. Dalam buku ini, Daendells, yang dikenal karena membuat jalan pos Anyer-Panarukan, ternyata datang atas nama Pemerintah Prancis. Daendells sendiri orang Belanda asli, tapi dia datang tidak atas nama Belanda yang saat itu di bawah kekuasaan Prancis.

Dalam hal konteks kekinian, korupsi bisa dijadikan contoh. Bahkan ketika Indonesia masih dikuasai VOC, korupsi sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh pejabat-pejabatnya. Sudah mendarah-daging mengurat-akar. Begitu juga pengkhianat sekaligus penjilat, demi harta dan kekuasaan, sudah bukan barang yang ‘aneh’ sejak berabad lalu. Dalam buku ini, Danurejo II, yang kemudian dihukum mati oleh Sultan Hamengku Buwono II, merupakan contoh karakter terakhir itu. Dalam masa kini, kita bisa menyaksikan BUMN-BUMN yang seharusnya dipertahankan mati-matian lantas dijual begitu mudahnya. Bagi saya, itu sebuah pengkhianatan. Sama halnya dengan produk hukum kita yang sejak dulu hanya menyentuh ‘orang kecil’, sampai detik ini pun -nyaris- tidak pernah menyentuh pejabat atau mereka yang menguasai uang.

Begitu juga dengan cerita kutang di atas. Bahkan seorang yang dianggap penjajah sekalipun, bisa menilai bahwa payudara wanita begitu berharga. Wanita mana pun tidak mau dianggap budak, tapi bukankah dengan membiarkan payudaranya terbuka -dan bangga dengan keterbukaannya- itu berarti menjadikannya sama saja atau bahkan lebih rendah dari budak?

Ketebalan buku ini standar saja, 340 halaman. Tidak terlalu tebal, tidak juga terlalu tipis. Dijual dengan harga Rp.66.000,- di gramedia, atau bisa didapatkan dengan diskon 20% – 30% di Palasari (Bandung) atau di pameran-pameran buku. Bagi saya, cukup mahal sebetulnya, tapi saya sangat merekomendasikan buku ini sebagai bahan bacaan, terutama bagi yang menyukai novel yang diadaptasi dari sejarah. Hanya satu saja kekurangannya menurut saya, beberapa halaman yang memuat dialog bahasa jawa, tidak disertai dengan translasi dalam bahasa Indonesia-nya. Sehingga, memaksa saya untuk melompati bagian itu, meskipun tidak menggangu jalan cerita seluruhnya. Selebihnya, laik beli dan laik baca.

loading...