Month: January 2009

Melampaui Materi

Sepulang dari tugas dan melakukan perjalanan hampir setengah hari dan setengah malam, saya tiba di Bandung menjelang tengah malam. Dengan kondisi lelah dan lapar, saya memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di sebuah warung mie rebus langganan. Demi untuk menghilangkan rasa lapar tersebut.

Di warung tersebut terdapat sebuah televisi yang sedang menyiarkan berita-berita terkini. Bang Jek, pemilik warung tersebut, memang menyukai berita dan film action Oh, ya … satu lagi, acaranya si Tukul yang sempat dilarang itu. Oleh karena kesukaannya itu, saya seringkali menghindari datang di-jam-nya si Tukul itu.

Setiap kali saya datang, seringkali dia ‘mengajak’ saya untuk berdiskusi perihal masalah-masalah terkini. Apa pun yang sedang ramai di televisi saat itu. Seperti biasa, Bang Jek akan melontarkan opininya tentang apa pun. Adakalanya saya layani, seringkali saya cuma manggut-manggut saja, atau saya berikan jawaban ketika dia menanyakan sesuatu, atau bahkan saya diamkan, karena saya sedang malas untuk sekedar memberikan tanggapan.

Hanya karena pendidikan saya lebih tinggi, Bang Jek sering memosisikan saya sebagai orang yang lebih tahu daripada dirinya. Dalam hal apa pun. Meskipun saya juga sudah berkali-kali memberikan jawaban “tidak tahu” atau memang tidak saya berikan jawaban, karena saya bingung untuk menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah dimengerti. Saya selama ini tidak pernah menggunakan istilah-istilah asing ketika berdiskusi dengan Bang Jek, tapi tetap saja, mengemasnya menjadi sangat sederhana juga perlu seni tersendiri.

Televisi sedang menayangkan tentang Gaza ketika saya sedang menyantap mie rebus pesanan saya, juga segelas teh hangat. Bang Jek mulai berbicara tentang kekesalannya terhadap Israel, juga keheranannya -sekaligus kagum- terhadap warga Palestina yang meskipun sudah berkali-kali diserang, tapi jumlahnya seperti tidak habis-habis. Lalu mulai berbicara tentang Obama, tentang HAMAS, tentang pemerintah Indonesia dan tentang orang-orang Arab. Ketika berbicara tentang orang-orang Arab itu, tiba-tiba Bang Jek mengeluarkan pernyataan …”Orang-orang Arab mah enak ya? Mereka bisa naik haji kapan pun, nggak perlu bayar ongkos tinggi-tinggi. Nggak seperti kita yang harus nyediain uang puluhan juta.

Mie rebus sudah habis ketika pernyataan itu keluar dari mulut Bang Jek. Saya tergelitik untuk memberikan tanggapan. Saya kemudian menjelaskan, orang-orang Arab memang diberikan keistimewaan seperti itu, mereka juga bisa mendapatkan uang banyak setiap saat karena banyaknya umat Islam yang melakukan Umroh dan Haji. Buat mereka, ibadah haji tidak menjadi sebuah ‘persoalan’ seperti bagi umat Islam di negara lainnya, terutama negara miskin. Mereka bisa berhaji kapan pun, asal mereka mau. Tidak seperti orang-orang Indonesia yang harus jual tanah, atau menabung bertahun-tahun untuk bisa berangkat melaksanakan ibadah Haji. Bahkan banyak juga yang sepanjang hidupnya menabung, dan tetap belum bisa berangkat haji sampai ajal tiba. Ibadah haji menjadi sebuah impian dan cita-cita. Minimal sekali dalam seumur hidup, oleh sebab itu, ibadah Haji jadi ‘barang’ yang mahal.

Akan tetapi, umat Islam Arab, khususnya Mekah, tidak akan memperolah keistimewaan lainnya yang hanya akan diberikan kepada mereka yang berada jauh dari Mekah. Keistimewaan tersebut adalah pahala dari Allah SWT bagi mereka yang berusaha untuk melaksanakan ibadah haji dengan segala daya dan upayanya. Setiap rupiah yang ditabung dan diniatkan untuk beribadah tersebut, akan menjadi tabungan pahala juga. Bahkan jika kemudian meninggal sebelum berangkat Haji, orang tersebut, insya Allah, akan mendapatkan pahala yang bisa jadi nilainya juga lebih besar daripada hajinya orang-orang Arab. Nilai dan arti sebuah pengorbanan sangat terasa bagi umat Islam yang jauh dari Arab.

Keistimewaan lainnya, barangkali, kenikmatan menjalankan ibadah Haji tersebut. Sebuah perjalanan haji bagi seorang muslim layaknya perjalanan pulang. Perjalanan kembali untuk mengenal ‘akar’ darimana dia berasal. Oleh sebab itu, ibadah haji begitu dirindukan oleh setiap muslim. Dan karenanya, ibadah haji menjadi begitu sangat berharga. Perjalanan haji juga menjadi sebuah perjalanan yang penuh kesan, terkadang mengharukan. Maka, tidak mengherankan jika hampir sebagian besar mereka yang pernah melakukan ibadah haji, dipastikan menangis ketika melakukan ibadah tersebut.

Cerita mengharukan tentang seseorang yang mengorbankan ongkos hajinya untuk mengobati tetangganya yang sedang sakit, sementara dia merelakan dirinya tidak jadi berangkat haji. Lalu kemudian Malaikat mengabari dirinya memperoleh pahala Haji mabrur, hanya bisa muncul dari negara yang jauh dari Arab, seperti Indonesia ini. Begitu juga bermacam-macam cerita mengharukan bagaimana seseorang bisa berangkat haji, hanya muncul dari negara yang jauh dari Arab. Karena itu, sebuah perjalanan haji juga bisa berubah menjadi sebuah perjalanan spiritual seseorang. Saya yakin, orang-orang Mekah tidak akan merasakan kenikmatan yang dirasakan oleh mereka yang berangkat haji dari negara seperti Indonesia.

Jika perjalanan ibadah haji bisa dilakukan dimanapun, tidak akan muncul film sebagus “Le Grande Voyage”, misalnya. Begitu pula sinetron “Para Pencari Tuhan”, atau bahkan cerita-cerita ‘seru’ lainnya yang bisa kita dapatkan dari mereka yang pernah melakukan ibadah haji. Maka, disinilah letak adilnya Allah SWT. Orang-orang Arab mendapatkan materi, tapi orang-orang Indonesia yang berhaji mendapatkan lebih banyak hal, yang nilainya melampaui materi. Ibadah haji bisa menjadi kebahagiaan, kenikmatan, pengalaman spiritual atau bahkan kebanggaan seseorang, yang tidak bisa begitu saja hilang dari diri seseorang. Maka, inilah kekayaan sesungguhnya. Kekayaan yang bahkan materi pun tidak bisa menggantikannya, malahan orang-orang rela mengorbankan materi untuk mendapatkannya.

Tentu saja, apa yang saya tulis di atas tidak persis dengan apa yang saya jelaskan pada Bang Jek. Saya menjelaskan jauh lebih sedikit. Saya cukupkan penjelasan ketika Bang Jek mengatakan, “oh …iya, ya?!”. Bagi saya, itu artinya Bang Jek sudah cukup memahami apa yang saya maksud, tidak perlu berpanjang-panjang lebar seperti tulisan ini.

Di perjalanan pulang dari warung Bang Jek ke kostan yang berjarak 100 meter, saya kemudian teringat tentang sebuah komentar. Isinya tentang tuduhan bahwa ibadah haji merupakan rekayasa orang-orang Arab agar mereka bisa mendapatkan devisa yang banyak dari negara lain. Umat Islam selama ratusan tahun sudah dibodoh-bodohi oleh orang-orang Arab. Sekilas memang tampak benar, tapi saya kemudian berani mengambil kesimpulan bahwa orang yang menuduh tersebut tidak pernah atau belum pernah merasakan nikmatnya sebuah keimanan dan beribadah. Cara berfikir orang tersebut sangat materialistis. Padahal, jika nikmatnya keimanan sudah merasuki jiwa seseorang, jangankan berkorban harta, dirinya pun akan dikorbankan.

loading...

Hentikan Pemakaian Lampu Putih pada Kendaraan!!

Saya termasuk salah seorang biker yang sering melakukan perjalanan malam, entah di dalam kota atau ke luar kota. Paling sering di dalam kota, tentu saja. Meskipun saya juga kadang-kadang banyak gaya, kalau kata orang sunda “loba gaya”, atau mungkin sok keren, tapi saya paling benci sama pengendara yang banyak gaya. Soalnya saya nggak suka kalau orang lain lebih keren daripada saya. Halah!! Maaf, sedang narsis.

Oke. Point-nya adalah begini … Belakangan saya merasa semakin banyak pengendara -entah mobil atau motor- yang menggunakan lampu putih di jalanan. Saya tidak tahu nama lampu tersebut, yang jelas membuat jalanan menjadi ‘terang benderang’. Saya tidak akan terlalu mempermasalahkan jika hal tersebut tidak terlalu mengganggu. Sialnya, penggunaan lampu putih tersebut sangat mengganggu bagi saya.

Anda yang menggunakan lampu putih pada kendaraannya, boleh saja tidak setuju dengan saya. Akan tetapi, begitulah kenyataannya. Lampu tersebut sangat menyilaukan bagi pengendara dari arah berlawanan, terutama pengendara motor seperti saya. Apalagi jika lampu tersebut digunakan untuk pemakaian lampu jauh, yang sialnya banyak juga digunakan oleh para pengendara. Lampu-lampu tersebut sering kali ‘telak’ mengenai mata saya dan membuat pandangan menjadi terganggu. Alhasil, sering kali saya harus menggunakan rem mendadak gara-gara orang yang menyeberang atau objek di depan saya menjadi ‘tidak terlihat’.

Jika anda sering bepergian ke pegunungan atau hutan belantara yang memang belum ada jaringan listrik, boleh lah anda gunakan lampu tersebut. Akan tetapi, ini di kota!! Lampu di mana-mana, bahkan anda masih bisa melihat objek di depan anda yang berjarak 100 meter. Jika alasan anda agar bisa melihat objek dengan jelas, lampu yang standar pun sudah cukup memberikan penerangan di jalanan. Jika alasan anda agar menarik perhatian, anda salah tempat! Jika alasan anda agar disebut keren, anda bodoh! Sebab yang menarik perhatian dan disebut keren, kendaraan anda, bukan anda! Bisa jadi, orang lain berharap bukan anda yang mengendarai kendaraan tersebut, karena anda tidak cocok dengan kendaraan tersebut.

Tentu saja, bukan tanpa alasan jika produsen kendaraan memasang lampu yang ‘standar’, karena mereka pun sudah memperkirakan dampak dari penggunaan lampu di jalanan ketika malam hari. Faktor intensitas cahaya pun sudah pasti menjadi perhitungan. Begitu juga dengan klakson, knalpot dan berbagai aksesoris lainnya. Semuanya dirancang, selain untuk keamanan dan kenyamanan pemakai, juga untuk keamanan dan kenyamanan orang lain.

Saya mendukung 100% dengan peraturan tentang kewajiban penggunaan helm standar. Saya pun salah satu ‘maniak’ helm full face. Rasanya tidak nyaman jika menggunakan helm yang half-face, apalagi yang catok, meskipun motor saya ‘cuma motor angsa’. Jika anda pernah melihat dengan mata sendiri bagaimana dua pengendara motor tabrakan, kemudian wajah mereka nyungsep ke aspal dengan kecepatan 70-80 km/jam, dan mereka masih bisa tertawa gara-gara wajah mereka ‘diselamatkan’ helm, mungkin anda akan mengikuti apa yang saya lakukan juga. Jadi, bukan hanya sekedar gaya, tapi saya juga memikirkan keselamatan diri sendiri.

Begitu pun saya sangat mendukung jika dalam hal aksesoris kendaraan, semua dibuat aturannya. Tidak boleh seseorang seenaknya pasang knalpot dengan frekuensi yang memekakan telinga. Atau pasang lampu dengan intensitas cahaya yang menyilaukan mata melebihi kemampuannya menangkap cahaya. Selain mengganggu, juga mengancam keselamatan di jalanan.

Saya tidak bermaksud melarang untuk melakukan modifikasi atau membuat tampilan kendaraan anda menjadi lebih keren. Akan tetapi, please, sebelum anda memasang aksesoris-aksesoris tersebut, pertimbangkan juga keselamatan dan kenyamanan orang lain. Setidaknya orang lain tidak tergangggu, apalagi sampai merasa ‘terancam’ keselamatan dirinya. Terlebih lagi jangan sampai anda dikutuk orang lain dengan bermacam-macam kutukan, “mampus lu!“, “setaann!“, “mudah-mudahan dia tabrakan, biar tahu rasa!“. Jika sampai terjadi orang-orang mengutuk anda, tinggal tunggu waktu saja kutukan-kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sebab, bagaimanapun mereka tidak akan sampai mengutuk jika tidak merasa teraniaya. Dan anda tentu sering mendengar, do’a orang teraniaya itu cepat dikabulkan.

Benar-Salah

Melakukan hal yang benar, diomongin …
yang salah, diomongin juga…
mending yang benar aja sekalian!

Agar Bangsa Indonesia Tahu Balas Budi

Heran, sudah 2 kali tulisan ini diposting, selalu ada kendala koneksi. Menyebalkan juga. Entah apa yang salah. Seharusnya tulisan ini tampil sehari sebelumnya. Akan tetapi, karena terkendala koneksi, isi tulisan ini tidak tersimpan di database.

Saya paling malas ‘mencaplok’ atau melakukan copy-paste dari tulisan orang lain. Akan tetapi, menurut saya, tulisan di bawah ini memuat data-data penting terkait sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Saya dapatkan tulisan ini dari forum hidayatullah.com. Sengaja saya tulis apa adanya, agar tidak ada lagi pernyataan …”untuk apa bantu negara lain, negara sendiri saja sedang repot…” atau apa pun penyataan yang mempertanyakan atau bahkan mencela terkait wacana bantuan terhadap Gaza (Palestina). Toh, Indonesia pun sebetulnya sangat akrab dibantu oleh negara lain. Contoh nyata adalah ketika Bencana Tsunami Aceh dan Gempa Jogja.

Dalam tulisan di bawah ini termuat sebuah judul buku. Saya ingin mendapatkan dan membaca buku tersebut. Saya tidak memiliki waktu untuk melacak validitas data-data yang termuat dalam tulisan tersebut. Untuk sementara, saya anggap data tersebut valid. Jika suatu saat, terbukti bahwa data-data dalam tulisan di bawah ini tidak benar atau bahkan tidak pernah ada, maka saya akan segera menghapus tulisan ini.

Sekedar sharing mengenai info sejarah kemerdekaan RI yang tidak pernah dipublikasikan atau diajarkan di sekolah , yaitu mengenai dukungan kemerdekaan RI oleh Palestina. Jadi sebenarnya kita berhutang dukungan kepada Palestina. Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.
Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini-mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:
.., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan’ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini .

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..

Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ‘Panitia Pembela Indonesia ‘. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan -dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu.Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih -tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk “Volendam” bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.

Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan:
Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerangkamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.

Statement Tokoh dalam buku ini:
A.H. Nasution
Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ’45 : “ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cintamencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satuanggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dantidak dapat tidur.” (HR Bukhari)

I Support Palestine!

Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu saudara-saudara saya di Palestina sana. Akan tetapi, mudah-mudahan, bisa cukup memberi arti. Ini bukan propaganda untuk melakukan kebencian, tapi sebuah perlawanan. Meski hanya sebuah tulisan, meski hanya sebuah banner terpasang. Akan tetapi, setidaknya sudah mewakili sikap saya.

Bagi saya tragedi penyerangan Israel di Gaza membuktikan satu hal. Bahwa demokrasi hanya sebuah omong kosong yang diagung-agungkan. Bahwa HAM tidak lebih hanya sebuah dongengan semata. HAM hanya berlaku jika warga Israel, Amerika dan penjilat-penjilatnya menjadi ‘korban’, tapi tidak berlaku bagi yang menentangnya. Meski para penentang tersebut berada di pihak yang benar. Perhatikan saja, tidak akan ada satu pun tindakan yang akan dilakukan oleh PBB atau Amerika untuk menghentikan serangan tersebut. Paling hanya kecaman keras, seperti yang saya lakukan sekarang. Kalau begitu, untuk apa ada PBB? bubarkan saja!!

Bom di Bali yang dilakukan oleh Imam Samudera cs, meskipun saya tidak pernah menyetujuinya, belum ada seujung kukunya dibandingkan penderitaan puluhan tahun rakyat Palestina. Akan tetapi, tidak satupun pemimpin yang bertanggung jawab untuk itu yang mati dieksekusi dalam penjara. Tidak satupun.

Israel dan Amerika boleh saja berbusa-busa mengatakan bahwa yang diserang adalah pusat persenjataan HAMAS. Akan tetapi, adalah sebuah kenyataan bahwa korban terbesar adalah rakyat sipil. Anak-anak dan wanita diantaranya. Bancinya, penyerangan juga dilakukan di malam hari, dengan persenjataan tercanggih pula. Saya tidak yakin pasukan Israel cukup berani untuk bertempur saling berhadap-hadapan, seperti perang-perang zaman dulu. Perang yang lebih adil. Terhadap anak-anak bersenjata batu dan ketapel pun mereka tunggang langgang.

Saya tidak pernah merasa yakin dengan perundingan damai atau gencatan senjata akan menyelesaikan masalah di Palestina. Satu-satunya cara adalah hilangkan Israel dari muka bumi!! Sudah puluhan kali gencatan senjata dan perundingan damai dilakukan, tapi nihil hasilnya. Selalu nihil. Bagi Israel, tidak boleh satupun warga Palestina yang tinggal di tanah itu. Itu adalah tujuan utamanya. Selanjutnya, tinggal pintar-pintar mereka saja mencari alasan penyerangan dan melakukan genosida.

Kalau pemerintah Indonesia mau, sebetulnya tinggal kirim pasukan saja. Daripada TNI di Indonesia juga menganggur dan seringnya malah ribut sama saudara sendiri. Setidaknya, dengan dikirm ke Palestina, latihan perang yang dilakukan selama ini akan ada manfaatnya. Siapa tahu bisa jadi orang-orang yang mati syahid!! Apakah saya terlihat kejam kalau mengusulkan ini? Ya, ya… saya tahu, tidak bisa mengharapkan pemerintah Indonesia dalam hal ini. Saya pun, toh, tidak bisa berbuat banyak. Cuma bisa cuap-cuap tanpa aksi. Setidaknya saya sudah berusaha untuk mengatakan hal yang menurut saya benar. Wallahu’alam…

NB:

Banner diambil dari blognya Dhika. Kalau mau berbuat lebih banyak, baca juga posting Dhika yang ini dan posting Bambang yang ini.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén