Month: October 2008

Jakarta

Sebetulnya, bagi saya selama ini, nyaris tidak ada satu pun hal yang menarik dari kota Jakarta. Satu-satunya yang saya suka adalah kerlap-kerlip lampu yang mewarnai Jakarta di malam hari. Itu saja.

Ah, ya … Jakarta memang menawarkan mimpi dan harapan. Pusat bisnis di Indonesia, sudah pasti Jakarta. Perputaran uang terbesar di Indonesia ada di Kota ini, yang zaman VOC berkuasa lebih dikenal sebagai Batavia. Semua fasilitas, ada di Jakarta. Gaji pegawai di sini, lebih besar dari kota lain. Meskipun, berbanding lurus juga dengan kebutuhan untuk hidup di Jakarta.

Bukan suatu kebetulan Jakarta menjadi Ibukota Indonesia, sebab sejak zaman Hindia Belanda, Batavia sudah menjadi pusat pemerintahan. Dan tidak tergantikan meskipun Jepang berhasil menguasai Indonesia. Hingga akhirnya bangsa Indonesia memiliki kembali negeri ini, Jakarta tetap menjadi pilihan untuk menjadi Ibukota. Meskipun dalam satu waktu, Yogyakarta pernah menjadi ibukota Indonesia, namun hal tersebut tidak berlangsung lama.

Kesan pertama saya bertahun-tahun lalu, ketika masih kecil, Jakarta panas. Dan itu membuat saya tidak betah. Pernah, saya bertekad, Jakarta adalah pilihan terakhir untuk mencari pekerjaan. Namun, toh, di Jakarta juga pekerjaan pertama saya. Meski pada akhirnya saya tidak bertahan lama juga, hanya 9 bulan. Atmosfir Jakarta bagi saya terlalu ‘keras’. Tidak pernah terpikir untuk bisa berlama-lama hidup di Jakarta. Kalau bisa, tidak perlu lah saya hidup di Jakarta. Biarlah orang lain saja yang berlomba-lomba hidup di kota ini. Jakarta bukan bagian saya dan hati saya juga tidak pernah ‘berada’ di sana, meskipun dengan resiko penghasilan saya tidak sebesar teman-teman yang bekerja di Jakarta.

Herannya, dalam beberapa bulan terakhir, saya malah lebih akrab dengan Jakarta. Meskipun tidak sampai jatuh cinta. Biasa saja. Ada kalanya dalam satu minggu, 3 kali bolak-balik Bandung-Jakarta. Semuanya karena tuntutan tugas dan profesionalisme. Selebihnya, karena saya suka perjalanan daripada ‘terkurung’ di kantor.

Beruntunglah Jakarta yang telah ‘melahirkan’ penulis sekaliber Alwi Shahab. Seorang penulis, mantan jurnalis Antara dan Republika. Lewat tulisan-tulisannya di Republika, yang kemudian dibukukan menjadi 4 buah judul buku, Alwi berhasil membawa gambaran tempo doeloe kota Jakarta ke masa kini. Melalui buku-buku berjudul “Robin Hood dari Betawi“, “Queen of The East“, “Saudagar Baghdad dari Betawi” dan “Maria van Engels Menantu Habib Kwitang“, Alwi menceritakan fakta sejarah yang menarik tentang tempat-tempat di Jakarta. Bahkan, saya jadi tertarik untuk mendatangi tempat-tempat yang diceritakan oleh Alwi dalam buku-buku tersebut. Meskipun, tetap tidak sampai membuat saya jadi berminat untuk tinggal di Jakarta, tapi setidaknya ada alasan lain yang menjadikan Jakarta menarik bagi saya.

Merujuk ke buku-buku tersebut, dalam banyak hal, Jakarta tempo doeloe masih lebih baik. Bahkan, bisa dikatakan, yang terjadi di Jakarta sekarang bukanlah sebuah kemajuan, tetapi sebuah kemunduran. Julukan Queen of The East, Ratu dari Timur, yang pernah melekat pada kota Jakarta (Batavia) adalah sebuah pengakuan. Bahkan, saat itu, orang-orang Singapura yang lebih tertarik untuk datang ke Batavia. Sedangkan sekarang, sebaliknya … orang Indonesia yang berlomba-lomba untuk ke Singapura.

Sepanjang membaca buku-buku tersebut, imaji saya bekerja. Membayangkan Batavia. Indah, meski saya tidak tahu pasti seperti apa Batavia yang sesungguhnya. Saya membayangkan seandainya Batavia dulu ada di masa kini, tentu menyenangkan. Walaupun di sisi lain, adalah sebuah fakta kelam juga bahwa di Batavia pernah terjadi pembantaian terhadap lebih dari 10000 orang etnis China. Juga sebuah fakta, selain julukan “Ratu dari Timur”, Batavia juga dikenal sebagai “Kuburan orang Belanda”, karena 25% orang Belanda yang datang ke Batavia, mati di kota tersebut.

Selain itu, Batavia juga pernah mendapat julukan “Venesia dari Timur”, karena banyaknya kanal-kanal di kota tersebut. Karena sungai dan kanal-kanal tersebut merupakan salah satu sarana transportasi yang cukup vital di Batavia. Itulah sebabnya, Jakarta sekarang menjadi rawan banjir, karena banyaknya kanal-kanal air yang sudah berubah bentuk. Fakta lainnya, ternyata memang sejak dulu juga kawasan Gajah Mada dan Hayam Wuruk sekarang, terkenal sebagai daerah ‘hitam’, terutama urusan prostitusi.

Satu lagi fakta yang sebetulnya sangat ironis. Meskipun warga Betawi adalah penduduk asli kota Jakarta, namun Jakarta tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka. Satu contoh saja, nama jalan. Nyaris sulit didapati nama jalan yang diambil dari ‘pahlawan’ Betawi. Padahal, sesungguhnya banyak warga Betawi yang berjuang untuk mengusir penjajah dari kota tersebut. Hal tersebut, dianggap sebagai sikap toleran warga Betawi yang sejak dahulu sudah terbiasa hidup dalam kemajemukan. Meskipun, saya berpendapat, hal tersebut karena ketidakberdayaan warga Betawi karena kurangnya -atau bahkan tidak adanya- kesempatan dalam sektor pemerintahan. Saat ini, cukup sulit mendapati warga Betawi yang tinggal di tengah Kota. Sebagian besar ‘terusir’ ke daerah pinggiran Jakarta.

Satu buku lain karya Ridwan Saidi, sejarahwan dan budayawan asli Betawi, juga sahabat Alwi Shahab. Buku tersebut berjudul “Anak Betawi diburu Intel Yahudi“. Sebuah cerpen yang berlatar belakang budaya Betawi, juga disisipi beberapa fakta tentang Jakarta tempo doeloe, terutama gambaran Jakarta tahun 50-70an. Meskipun, buku tersebut tidak memuat fakta sejarah sebanyak buku-buku Alwi Shahab. Namun, buku tersebut bisa dijadikan sebagai referensi untuk mengenal Jakarta tempo doeloe.

Sisa-sisa peninggalan Batavia, masih bisa ditemukan di kawasan sekitar Stasiun Kota, berupa gedung-gedung peninggalan VOC. Sebab kawasan Kota dulunya merupakan pusat kota Batavia, itu sebabnya disebut Kota. Namun, setelah Daendels berkuasa, pusat kota dipindahkan ke kawasan sekitar Monas, Senen dan Masjid Istiqlal sekarang. Pemindahan pusat kota disebabkan sudah mulai padatnya kawasan Kota dan mulai mewabahnya berbagai macam penyakit, diantaranya Malaria.

Setelah membaca buku-buku tersebut, setiap kali ke Jakarta, mata saya mulai tertuju ke gedung-gedung lama, atau nama-nama jalan. Setiap kali menemukan nama gedung atau jalan yang diceritakan dalam buku-buku tersebut, spontan hati saya berkata, “oh, ini tempat terjadinya bla bla bla …“, atau “oh, di sini ternyata daerah yang dulu bla bla bla…“. Selebihnya, Jakarta masih belum mampu membuat saya jatuh cinta.

loading...

Rindu di Malam Setengah Purnama

Malam setengah purnama, di dalam sebuah mobil yang beranjak dari Jakarta menuju Bandung, Kabayan dan Iteung zaman kiwari1 berkomunikasi via SMS:

Kabayan: Hmm, Rindu…

Iteung: Hmm, Rindu…?

Kabayan: Iya, Rindu…

Iteung: Si Rindu bilang apa cenah2?

Kabayan: Nggak bilang apa-apa, tiba-tiba saja dia menyelinap dan mengganggu perasaan.

Iteung: Di sini juga ada si Rindu lagi menari, dia membuatku senyum-senyum 🙂

Kabayan: Perlukah si Rindu kubunuh saja? atau biarkan saja dia terus mengganggu? atau kamu punya cara agar si Rindu tidak lagi mengganggu?

Iteung: Tak perlu, biarkan saja selama si Rindu tak menggoda logika untuk takluk pada perasaan. Jika dia membuatmu begitu terganggu, tersenyumlah dalam kesabaran menanti. Niscaya dia kan beranjak.

Kabayan: Aku sudah sangat akrab dengan penantian. Tetap saja … RINDU!!

Iteung: Hmm, kalau begitu nikmati saja lah saat-saat merindu dalam penantian itu.

Kabayan: Yah, sekarang pun memang sedang aku nikmati …

Di Radio mobil yang dikendarai Kabayan, lamat-lamat terdengar sebuah lagu. Reflek, dari bibir Kabayan mengalir beberapa baris lirik, mengikuti alunan nada lagu tersebut.

ku berharap engkau lah
jawaban sgala risau hatiku
dan biarkan diriku
mencintaimu hingga ujung usiaku

jika nanti ku sanding dirimu
miliki aku dengan segala kelemahanku
dan bila nanti engkau di sampingku
jangan pernah letih tuk mencintaiku

(NAFF – Akhirnya Ku Menemkunmu)

Selesai mengirim SMS, Kabayan menyandarkan badannya ke kursi. Memejamkan mata, berharap bisa tidur. Hari itu memang terasa sangat melelahkan. Udara dan suasana kota Jakarta memang dirasa tidak pernah bersahabat dengan Kabayan. Akan tetapi, jalan Tol Cipularang yang bergelombang cukup mengganggu usaha tidur Kabayan. Ditambah, si Rindu benar-benar sangat mengganggu. Hingga akhirnya tiba di Bandung, mata Kabayan belum mampu terpejam sedetik pun. Sepanjang jalan itu, sosok Iteung tak henti-hentinya beranjak dari pikiran Kabayan. Namun, mengetahui Iteung baik-baik saja, Kabayan merasa tidak perlu merasa khawatir.

Tiba di rumah menjelang tengah malam, Kabayan tidak langsung tidur. Komputer tua dinyalakan. Icon si Rubah Api diklik. Membaca email, mencari bahan tulisan, membaca blog, membalas komentar di blog. Walaupun bahan yang dicari tidak ditemukan, Kabayan tidur cukup larut, dua jam menjelang Shubuh. Padahal, sebelum terbit Matahari, Kabayan harus beranjak meninggalkan lagi kota Bandung. Di sisa malam setengah purnama itu, Kabayan tidur membawa serta kelelahan dan kerinduan pada Iteung. Watir pisan, nya?3

Ket:

1bahasa sunda: sekarang, masa kini

2bahasa sunda: katanya

3bahasa sunda: kasihan sekali, ya?

Lagi, Tentang Kuliner

Saya dapat sebuah pesan di friendster yang berisi tentang tips kesehatan a la Rasulullah SAW. Sebetulnya isi pesan tersebut cukup panjang, tapi akan saya copy-paste beberapa baris terkait makanan.

Ini adalah diet Rasullulah SAW. Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasullullah ini, anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.

  1. Jangan makan SUSU bersama DAGING
  2. Jangan makan DAGING bersama IKAN
  3. Jangan makan IKAN bersama SUSU
  4. Jangan makan AYAM bersama SUSU
  5. Jangan makan IKAN bersama TELUR
  6. Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD
  7. Jangan makan SUSU bersama CUKA
  8. Jangan makan BUAH bersama SUSU, CTH : KOKTEL

Oke. Saya kira memang dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk hal tersebut. Artinya, data-data penelitian mutlak ada untuk mendukung pernyataan-pernyataan tersebut. Sayangnya saya tidak tahu harus mencari tahu kemana data-data tersebut. Saya tidak tahu siapa itu Ustadz Abdullah Mahmood, akan tetapi jika ternyata pernyataan-pernyataan tersebut benar adanya, maka tentu saja hal tersebut harus menjadi perhatian kita.

Berikut komentar saya soal pernyataan-pernyataan tersebut:

Point 1, praktis saya akan terselamatkan dari efek campuran dua jenis makanan tersebut karena SUSU dan DAGING bukan makanan favorit saya, alias tidak suka sama sekali. Akan tetapi, saya juga kekurangan gizi dari kedua jenis makanan tersebut 🙁

Point 2, ini juga aman. Saya penyuka IKAN, tapi tidak dengan DAGING.

Point 2, aman. Suka IKAN, anti SUSU.

Point 3, masih aman. AYAM adalah makanan favorit saya yang lain, tapi akan selalu anti dengan SUSU.

Point 4, agak terancam. IKAN dan TELUR, dua makanan yang tak tegantikan. Agak sering juga menyantap kedua jenis makanan tersebut dalam sekali makan.

Point 6, cukup aman. Apa itu DAUN SALAD? Haha. Jarang makan sayur-sayuran.

Point 7, aman. CUKA yang masuk ke dalam tubuh saya hanya lewat Bakso saja. Itu pun sangat jarang.

Point 8, absolutely safe. Coba ya, yang sering ngeledekin saya karena tidak pernah makan es buah atau jus campur SUSU. Perhatikan tuh, jangan cuma bisa meledek saja! :p *yes, serasa di atas angin*

Meskipun, tentu saja, Rasulullah SAW menyukai Susu dan Daging. Hanya beliau tidak mencampur keduanya dengan makanan yang jika tercampur, akan memberikan dampak penyakit. Setahu saya, orang China juga punya aturan untuk tidak mencampur daging merah dan daging putih. Artinya, Ayam dan Daging Sapi misalnya, tidak pernah ada dalam satu piring ketika makan. Rasulullah SAW pun ternyata melakukan hal yang sama.

Faktanya, saya juga sangat langka mengalami sakit perut. Pernah mules, tapi biasanya akibat makanan yang pedas. Perut saya memang tidak terbiasa dengan makanan yang pedas-pedas.

Namun, sekali lagi, diperlukan data-data yang akurat untuk mendukung pernyataan-pernyataan tersebut. Jika sains mendukung, maka bisa menjadi satu lagi bukti bahwa Rasulullah SAW memang manusia yang luar biasa. Shalawat dan Salam untukmu, ya Rasul… 🙂

PS: Kamu tahu … bahkan soal makanan pun, Rasulullah SAW mengajari kita banyak hal. Beruntunglah manusia-manusia yang pernah bertemu dan bergaul dengannya. Akan tetapi, kita pun masih punya kesempatan untuk meneladaninya, agar kelak, beliau mengenali kita sebagai umatnya.

Parade Kemiskinan

Sepanjang sejarah manusia, tidak ada satu hal yang lebih ditakuti, dihindari dan dibenci melebihi kemiskinan. Tidak ada orang yang ingin disebut orang miskin atau ingin menjadi orang miskin. Status dan harga diri suatu bangsa pun dinilai dari jumlah orang miskinnya. Semakin banyak angka kemiskinan, semakin rendah harga diri bangsa tersebut dihadapan bangsa lainnya.

Persoalan kemiskinan bukan masalah kontemporer saja, tapi sudah terjadi sepanjang zaman. Hal tersebut juga menjadi tantangan yang selalu dihadapi oleh para pemimpin dunia. Adalah suatu aib bagi seorang pemimpin, jika dibawah kepemimpinannya, jumlah orang miskin tidak berkurang, apalagi malah semakin bertambah. Angka kemiskinan juga menjadi obyek politik yang cukup ampuh untuk menjatuhkan seorang pemimpin. Tidak heran jika setiap kelompok mengumpulkan angka kemiskinan untuk mempromosikan dirinya sekaligus menjatuhkan kelompok lain.

Kemiskinan -meskipun tidak selalu- identik dengan kriminalitas, kebodohan, penindasan, kelemahan dan -jika dipandang dari sudut agama Islam- bisa mendekati kekufuran. Bahkan, barangkali sering terjadi, secara tidak sadar kita memandang orang lain yang secara materi termasuk dalam kategori miskin, dengan sebelah mata, merendahkan atau menghinakan. Meskipun dengan kemiskinannya, orang tersebut tidak memberikan masalah sedikit pun bagi kita.

Kemiskinan bisa dipandang sebagai dua hal. Sebagai sebab dan sebagai akibat. Sebagai sebab, kemiskinan adalah akar dari sebagian besar tindak kriminalitas. Barangkali sudah cukup bosan kita mendengar atau membaca berita tentang pencurian, perampokan atau pembunuhan yang disebabkan kondisi kemiskinan pelakunya. Tidak sedikit pula berita tentang kasus-kasus bunuh diri atau kelaparan yang disebabkan kemiskinan. Dari sisi ini, kita dapat memandang bahwa kemiskinan sangat jahat.

Sebagai sebuah akibat, kemiskinan merupakan suatu produk. Produk dari ketidakadilan. Ketidakadilan pemimpin, hukum atau sistem, bahkan ketiganya. Pemimpin yang tidak adil akan menempatkan orang miskin sebagai ‘sampah’ yang tidak perlu dipikirkan. Sehingga, pemimpin seperti ini hanya akan mementingkan kepentingan dirinya dan orang-orang disekitarnya, tidak peduli jutaan orang merintih dalam kemiskinannya. Ketidakadilan hukum akan menempatkan orang miskin dalam posisi lemah, apalagi jika hukum bisa dijualbelikan, semakin menderitalah orang miskin. Padahal, hukum harus seimbang dan adil. Ketidakadilan sistem akan membuka peluang orang miskin tertindas, karena dalam sistem yang tidak adil, terjadi hukum rimba; yang kuat dan ber-uang lah yang berkuasa. Suara orang miskin tidak akan didengarkan.

Untuk mengatasi permasalahan kemiskinan, akan lebih mudah jika memandang kemiskinan sebagai akibat atau produk dari ketidakadilan. Artinya, dengan cara tersebut, pertanyaan apa yang menyebabkan terjadinya kemiskinan akan lebih mudah terjawab. Meskipun bukan hal yang mudah menanggulangi kemiskinan, dengan mengetahui sumber penyebab kemiskinan, setidaknya solusi yang bisa diberikan sudah bisa terbayangkan.

Tentu saja, kita merindukan rasa tenang, nyaman, aman dan damai. Akan tetapi, percayalah, hal itu semua tidak akan tercapai jika persoalan kemiskinan masih menjadi masalah terbesar di sekitar kita. Bahkan, barangkali yang sebenarnya terjadi, persoalan kemiskinan merupakan akibat dari ketidakpedulian kita terhadap hal-hal yang menjadi sumber kemiskinan.  Atau, jangan-jangan, kita lah penyebab terjadinya kemisikinan itu!!

Salut dan respek terhadap mereka yang turun langsung dan mengorbankan seluruh waktu, tenaga, materi dan pikirannya untuk mengentaskan kemiskinan.  Sekecil apa pun usaha mereka.  Dan kita? Masa hanya sekedar mau jadi penonton?! :angelpusing:

PS: Ini tulisan yang dibuat karena terpaksa, hasilnya juga rada maksa, salah sendiri maksa-in ikut-ikutan  blogactionday2008 dengan tema poverty. :setan1:

Another PS: Kamu tahu … ada yang lebih menakutkanku daripada miskin materi, adalah miskin cinta-Nya dan miskin mencintai-Nya.

Bukan Hanya Salah Fir’aun

Sebuah kesalahan, betapa pun kecilnya, akan menjadi besar tingkat mudharat nya apabila dibiarkan oleh orang-orang yang mengetahui kebenaran, tapi mendiamkannya, menolerir atau bahkan menyetujuinya. Pada akhirnya, kesalahan tersebut akan membudaya dan sulit untuk diperbaiki. Bahkan ketika sesuatu yang benar disampaikan, hal tersebut akan dianggap aneh, asing dan dianggap melawan arus.

Masjid di dekat tempat tinggal saya adalah sebuah contoh. Sudah menjadi hal yang lumrah apabila setiap Masjid memiliki satu atau beberapa imam yang tetap. Persoalannya, di Masjid tersebut, imam-imam yang eksis selama ini memiliki beberapa masalah. Pertama, usia nya yang rata-rata sudah tua. Kedua, tentang bacaan surat yang ‘berantakan’ ketika melakukan shalat shubuh, maghrib dan isya yang dalam dua raka’at awal dikeraskan bacaannya. Umur tua tidak menjadi masalah, jika persoalan kedua, bacaan surat, juga tidak bermasalah. Persoalannya justru di situ. Rata-rata bacaannya bermasalah. Ada yang tersengal-sengal. Ada yang terdengar seperti dalang wayang golek. Ada yang seperti berkumur-kumur, meskipun kaidah-kaidah bacaannya baik. Pernah suatu ketika ada orang baru yang menjadi makmum sampai berkali-kali membetulkan bacaan surat sang imam. Pada akhirnya, yang bersangkutan bosan juga membetulkan, dan akhirnya membiarkan.

Di sisi lain, ada orang lain yang seusia dengan imam-imam tersebut atau bahkan yang lebih muda, memiliki kemampuan yang jauh lebih baik. Mereka ini biasanya mengalah jika salah seorang diantara imam tersebut ada. Mereka menjadi imam, hanya jika imam-imam tersebut tidak hadir atau terlambat menghadiri shalat berjama’ah. Meskipun, saya yakin dalam hati mereka juga keberatan di-imam-i oleh imam-imam tersebut. Saya termasuk salah satu yang sering merasa berat hati ketika shalat berjama’ah di-imam-i mereka. Akan tetapi, saya pun tidak bisa menyuarakan perihal itu karena saya juga pendatang di tempat tersebut. Ada kalanya, saya memilih untuk terlambat datang atau bahkan menunggu sampai shalat berjama’ah selesai. Akan tetapi, belakangan saya menyadari bahwa hal tersebut juga tidak bisa dibenarkan. Bagaimanapun, shalat berjama’ah di awal waktu lebih utama. Juga ada tuntunan yang menyatakan seorang makmum (yang dipimpin) harus bersabar terhadap kesalahan imam (pemimpin). Meskipun, tidak boleh juga mendiamkan begitu saja.

Saya menilai, rasa sungkan dan alasan kesopanan menjadi penyebab mandegnya fungsi koreksi di Masjid tersebut. Tidak sekedar di Masjid tersebut, di hampir segala aspek kehidupan kita, bisa ditemukan dengan mudah hal-hal seperti itu. Saya juga barangkali termasuk pelaku yang paling kronis dalam hal mendiamkan suatu kesalahan. Padahal, menghormati orang tua atau yang dituakan, tidak berarti tanpa koreksi atau kritik. Begitupun, orang tua dalam menyikapi koreksi, bukan berarti koreksi tersebut untuk melecehkan mereka. Koreksi, kritik justru bisa menjadi sebuah indikator cinta atau tanda hormat. Hanya barangkali yang menjadi persoalan adalah bagaimana cara yang paling tepat untuk menyampaikan koreksi atau kritik tersebut? Maka, teknik komunikasi yang baik menjadi sangat bermanfaat di sini.

‘Amar ma’ruf nahyi munkar itu bersifat universal dan menjadi kewajiban semua orang. Tidak memandang status sosial seseorang di masyarakat. Seseorang yang memahami fungsi ‘amar ma’ruf nahyi munkar tidak akan anti atau alergi terhadap kritik, koreksi dan saran-saran yang bersifat membangun. Dia juga tidak akan memandang remeh orang yang memberikan kritik atau koreksi kepadanya, meskipun seorang gelandangan, jika koreksi yang diberikan memiliki nilai kebenaran.

Dalam sebuah artikel berjudul “Bukan Hanya Salah Fir’aun1, dalam buku dengan judul yang sama, terdapat beberapa paragraf yang menarik:

Mengapa Fir’aun sampai menganggap dirinya serba cukup, paling hebat dan paling kuat? Bagaimana ia berani bertindak melampaui batas-batas nurani dan kemanusiaan? Di satu sisi menjadi binatang, di sisi lain menjadi “tuhan”? Bukankah dulu pernah ada Raja Sulaiman, yang walaupun kekuasaannya amat besar tapi tak membuatnya arogan. Begitu juga dengan Ratu Balqis. Kerajaannya yang besar tak membuatnya merasa jadi tuhan. Mengapa?

Al-Qur’an telah memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Ternyata orang-orang disekitarnyalah yang membuat Fir’aun merasa serba cukup, paling hebat sekaligus penguasa nan tak tertandingi. Memang Fir’aun bukanlah orang shalih. Tapi segala kejahatan Fir’aun mungkin takkan jadi besar jika ada orang yang berani mengatakan “tidak”. “Maka ia merendahkan kaumnya lalu mereka patuh kepadanya,” (QS az-Zukhruf: 54)

Kekejian Fir’aun adalah berperilaku diktator dan berobsesi menjadi satu-satunya pihak yang harus dipatuhi. Sedangkan kedegilan para pendukungnya adalah tidak berani menolak segala titah Fir’aun betapa pun busuknya. Kejahatan Fir’aun adalah serakah dan kejahatan orang-orang di sekitarnya adalah meluluskan segala kehendak Fir’aun. Kecongkakan Fir’aun adalah memperbudak rakyat jelata. Namun kebodohan rakyat adalah membiarkan dirinya dalam keadaan layak dijajah dan diperbudak. (hal 43-44)

Rumusan yang sama juga terjadi terhadap Hitler, Mussolini, George W. Bush dan yang lainnya. Terlebih lagi jika disekitar pemimpin tersebut berdiri para penjilat yang mementingkan dirinya sendiri, yang penting posisinya aman dan bisa menikmati kekuasaan atau kekayaan, meskipun bukan menjadi orang yang paling berkuasa.

Bandingkan dengan sikap ‘Umar bin Khattab r.a seketika diangkat menjadi Khalifah,

Umar berkata kepada kaum muslimin, “Barang siapa yang melihat ada kebengkokan pada diriku maka luruskanlah” lantas seorang menyambutnya dengan mengatakan, “Andaikan kami melihat suatu kebengkokan pada dirimu maka akan meluruskannya dengan pedang kami (maksudnya akan dikoreksi)”. Umar saat itu hanya mengatakan, “Segala pujibagi Allah yang menjadikan dalam umat Muhammad orang yang mau meluruskan sesuatu yang bengkok pada diri Umar dengan mata pedangnya

Berbagai macam permasalahan yang menjerat dan sudah membudaya di Indonesia pun berawal dari kesalahan yang sebetulnya sangat sepele. Akan tetapi, dampaknya ternyata menjadi luar biasa. Membuang sampah misalnya. Satu orang membuang ke sungai, dibiarkan saja. Orang lain kemudian mengikuti, bahkan semakin banyak. Jadilah sungai sebuah tempat sampah terpanjang yang bisa ditemui. Sekali kita coba mengingatkan, cibiran yang kita terima. Persoalan korupsi, rokok, pelanggaran lalu lintas … awalnya dari sebuah kesalahan yang dibiarkan, maka menjadi sebuah budaya pada akhirnya. Dengan memahami dan mengamalkan spirit ‘amar ma’ruf nahyi munkar, sudah seharusnya sebuah kesalahan tidak dibiarkan berlarut-larut apalagi sampai membudaya. Jika perlu, segala kesenangan dan jiwa kita korbankan. Sanggupkah kita??

Referensi:

1Tim Sabili. Bukan Hanya Salah Fir’aun. Cetakan I, QalamMas, Jakarta, 2004.

PS: Cintaku … kritik terkadang menyakitkan, tapi adakalanya itulah bentuk cinta yang sesungguhnya kita butuhkan untuk bisa tetap berlari di jalan-Nya.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén