Month: August 2008 (Page 1 of 2)

Dimaafin

Ya … ya…

Saya tahu anda banyak dosa, banyak salah, banyak khilaf.

Jadi, sejak dari awal sudah saya maafkan kok… :setannyengir:

Selamat Menjalankan Ibadah Shaum Ramadhan 1429H

Salam Cinta,

:setancinta: :bayikiss:

Donny Reza yang suka bikin Catatan, suka Curhat, seringnya ber-Celoteh dan lebih sering Caper-nya.

loading...

Terapi Energi

Kali ini, saya ingin menyoroti -lagi- salah satu cabang seni yang saya sukai. Musik. Khususnya perkembangan musik di Indonesia saat ini. Meskipun, saya sudah tidak terlalu mengikuti lagi perkembangannya. Anda tahu arah pembicaraan saya kemana? Bagus kalau begitu. Tidak mengerti? Ya, mau bagaimana lagi..? 😀

Bukan kapasitas saya untuk menentukan sebuah karya seni itu buruk atau baik. Meskipun, secara subjektif saya juga bisa menilai mana karya seni yang menurut saya baik, dan mana yang tidak. Baik menurut saya, belum tentu baik menurut orang lain. Selera berbicara. Ketika berbicara selera, maka perdebatan tentangnya akan menjadi sebuah debat kusir tak berujung. Menghabiskan energi.

Seperti juga dalam bidang-bidang lainnya, dalam (industri) musik juga muncul musisi-musisi yang idealis. Adalah mereka yang tidak mau atau enggan berkompromi dengan pasar. Lebih cenderung ingin menjadi trend-setter, meski tidak kunjung nge-trend, dan terkesan egois karena karya yang dihasilkan biasanya ‘beda’ jika tidak ingin dikatakan ‘aneh’. Akan tetapi, musisi semacam ini biasanya memiliki fans yang loyal dan fanatik, meskipun tidak sebanyak fans musisi yang mapan di ‘pasar’. Beberapa memang muncul dan tetap eksis dengan idealismenya, tapi lebih banyak yang mati di tengah jalan atau tergoda oleh kemapanan industri musik dengan mengikuti selera pasar. Begitulah nasib idealis, dimanapun. Selalu berada diantara pilihan antara tetap idealis, atau mengikuti selera pasar.

Memang, ketika berbicara tentang industri musik, tidak bisa dipisahkan dari yang namanya uang. Pastinya seorang idealis pun butuh uang, yang banyak kalau bisa. Lagipula, tidak ada ceritanya seorang idealis identik dengan kemiskinan. Toh, perkembangan musik saat ini juga ditentukan oleh para idealis. The Beatles, Queen atau Elvis Prestley adalah idealis di zamannya. Karena mereka unik, mereka menjadi ikon perubahan dan menginspirasi sampai sekarang. Di Indonesia contoh yang paling kongkrit adalah Slank dan Iwan Fals. Oh ya, satu lagi … Rhoma Irama dan Soneta-nya. Musisi mana yang memiliki fans lebih banyak daripada mereka?

Hanya saja, karena industri dikuasai oleh pemilik uang, maka yang bersangkutanlah yang menjadi decision maker. Pemilik uang tentulah mencari musisi yang -diperkirakan- akan menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan. Singkatnya, perusahaan mencari musisi yang karyanya dipastikan akan laku di pasaran. Sementara yang laku di pasaran biasanya hanya genre musik tertentu saja. Di sinilah sesungguhnya ‘malapetaka’ bagi seniman musik dan musik itu sendiri, terutama bagi para idealis. Sebab, peluang bagi karya musik yang termasuk kategori ‘tidak laku’, ‘kurang peminat’ atau ‘kurang dikenal’ menjadi sangat kecil untuk bisa memasuki industri musik, apalagi sampai masuk ke pasar.

Untungnya, tidak semua pelaku industri juga perilakunya sama. Ada juga yang idealis. Masalahnya, mempertemukan sesama idealis ini juga bukan hal yang mudah. Seperti mencari jodoh saja. Dirasa-rasa cocok, nyatanya tidak. Dirasa-rasa tidak cocok, ternyata memang tidak cocok. Harus sevisi atau setidaknya memiliki beberapa kesamaan maksud dan tujuan, meski tidak harus semua sama. Dan yang jelas, harus siap dengan segala kerugian yang mungkin ditanggung. Disinilah letak perjudiannya.

Pertengahan 90-an adalah saat dimana gerakan Indie (independent) Label mulai muncul. Bandung menjadi barometernya saat itu. Dari deretan musisi Indie, muncul nama-nama yang saat ini sudah cukup dikenal, PAS Band dan /rif. Saat itu, karya mereka memang unik dan beda. Beberapa nama band tetap berada di jalur Indie, atau bahkan ‘mati’. Puppen, Pure Saturday dan Koil adalah contohnya. Ide Indie Label adalah sebuah jawaban atas sulitnya memasuki industri musik saat itu. Dengan dana sendiri -atau patungan- musisi tersebut merekam, mendistribusikan dan mempromosikannya sendiri, tanpa mengorbankan ide-ide mereka dalam bermusik. “Ini karya gua, lu suka? Dengerin! Gak suka? Tinggalin!“, begitu barangkali dalam benak mereka.

Meskipun telinga saya juga terbiasa dengan musik-musik di pasaran, akan tetapi ada saat dimana saya merasa muak bosan dengan kondisi industri musik di Indonesia. Dalam penilaian saya, tidak ada bedanya situasi sekarang dengan era 80-an, ketika lagu-lagu didominasi oleh lagu melankolis nan sendu. Atau ketika musik Malaysia ‘menjajah’ Indonesia. Hanya beda karakter musik saja. Nyaris seluruh musisi baru saat ini menawarkan tipikal musik yang sama. Bertema cinta, romantis, mendayu-dayu, melankolis dan -kalau bisa- bikin nangis. Ah, siapa yang tidak suka lagu semacam itu?

Persoalannya, lagu-lagu semacam itu cenderung ‘melemahkan’ hati pendengarnya. Ya, ya … saya juga tahu rasanya menjadi sentimentil dan melankolis. Dan rasanya tidak bagus, serasa manusia paling apes sedunia. Pret!! Itulah sebabnya, ketika berlagu saya sudah tidak sampai pada tahap ‘menghayati’ isi lirik lagu lagi. Sekedar bersenandung saja, tanpa makna, apalagi sampai menyamakan suasana hati dengan lirik lagu. Kualitas musik adalah yang utama, isi lirik tidak terlalu diperhatikan. Kecuali pada beberapa lagu yang memang berisi pencerahan atau mengajak merenung atau liriknya lucu, seperti lagu “Kesaksian Diri” dari Opick. Sampai merinding saya dibuatnya.

Beruntung, saya masih mendapati dan bisa mendengarkan beberapa musisi yang berani tampil beda. Terus terang saja, di tengah gempuran musik-musik mellow seperti sekarang, musik rock berubah menjadi sesuatu yang begitu saya rindukan. Saya suka musik rock seperti juga saya menyukai genre musik yang lain. Musik alternatife rock pernah begitu berjaya di akhir 90-an dan awal 2000. Akan tetapi, saya kurang menyukai jenis musik tersebut saat itu. Berbeda situasinya dengan sekarang, rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran musik rock. Barangkali sebuah indikasi bahwa saya mulai jenuh dengan musik-musik yang mellow.

Maka, mulailah saya mencari musik-musik yang cenderung lebih nge-rock, berisik dan chaos. Ya, saya perlu musik-musik yang lebih bersemangat untuk didengarkan di pagi hari. Seakan-akan hari itu akan berangkat perang, berjuang. Saya memerlukan energi baru. Bukan akan patah hati. Dan ternyata saya mendapati beberapa lagu yang selama ini saya abaikan, lagu “What If” dari Creed dan “Simple” dari Collective Soul adalah contoh musik yang galak.

Lalu saya dipertemukan juga dengan musik-musik Bondan Prakoso & Fade2Black, The Miracle dan Saint Loco. Yeah, i like it. Saya sempat underestimate dengan The Miracle dan Saint Loco, tapi ternyata lagu-lagu mereka yang paling sering saya putar sekarang. Ketidaknyamanan saya hanya pada beberapa lirik lagu Bondan yang cenderung kasar.

The Miracle dijuluki Dream Theater nya Indonesia, karena pada awalnya mereka memang selalu membawakan lagu-lagu Dream Theater. Album perdananya, TheM, juga 80% terpengaruh Dream Theater. Meski tidak segarang Dream Theater. Ada kemegahan dalam musik mereka, keindahan melodi dan pastinya macho. Semuanya menjadi satu. Meski lirik lagu mereka lebih sederhana, tentang cinta juga, tapi musiknya lah yang menjadi kekuatan utamanya.

Diluar dugaan, saya benar-benar jatuh cinta pada musik yang ditawarkan Saint Loco. Sebagian besar materi musiknya bergenre hip rock a la Linkin Park, meski di beberapa bagian, saya merasa seperti mendengar influence Dream Theater. Beberapa lagu menjadi favorit saya, yaitu “Hip Rock”, “Get Up” dan “Terapi Energi”. Saya -sedang- suka sekali dengan geberan gitar dan hentakan drumnya yang ‘galak’. Musik yang benar-benar bisa menyuntikan energi baru.

Siapa Lu?! 2

Belum juga hilang rasa kesal ketika membuat tulisan Siapa Lu?! Eh, malah ada lagi yang bikin gregetan …

Rabiah seharusnya berterima kasih kepada Soetrisno Bachir karena dipublikasikan gratis di televisi. Perempuan yang dikenal sebagai Suster Apung itu, katanya, akan menjadi lebih terkenal nantinya setelah membintangi iklan Soetrisno.

Suster Apung seharusnya sadar, dirinya sedang berhadapan dengan ketua umum partai besar,” ungkap Ramli.

(http://www.detiknews.com/read/2008/08/15/172056/989424/10/dpw-pan-sulsel-akan-selidiki-orang-di-balik-protes-suster-apung)

Duh, yang mesti berterima kasih itu siapa, Pak?  Semestinya bapak, dong.  Bu Rabiah barangkali tidak membutuhkan ketenaran itu.  Bu Rabiah juga mungkin tidak peduli dengan kebesaran partai Bapak.  Buktinya, beliau keberatan diasosiasikan dengan partai bapak dan merasa terganggu.

Rabiah mengeluh pekerjaannya jadi terganggu dengan stigma masyarakat akibat dari iklan politik itu. Perempuan berjilbab ini ingin menjalankan tugasnya dengan tenang. Bagi Rabiah, pekerjaannya mengarungi laut lepas demi menolong warga adalah tanggung jawab sipil, tanpa embel-embel politik.

Tuh, lihat sendiri kan, Pak?

Kenapa mesti bapak yang berterima kasih? Ya, iya dong, masa ya iya lah… buah aja kedondong, bukan kedonlah.  Tuh, jadi aja…halah!!  Dibandingkan Soetrisno Bachir, Ibu Rabiah lebih dulu tenar, Pak.  Buktinya, bapak yang ngikut-ngikut bu Rabiah, bapak yang mendekati bu Rabiah.  Dibandingkan bapak, Bu Rabiah lebih menghayati jargon yang bapak gembar-gemborkan itu.

Kalau mau disebut orang yang peduli, nggak perlu bikin iklan, Pak.  Mending duitnya dipakai buat biayain Bu Rabiah.  Berapa milyar, tuh? Tenar mah datang sendiri, pak … kalau sudah ada hasil karyanya.  Atau kalau ngikutin jargon bapak, sudah ada perbuatannya.  Buktinya, Bu Rabiah jadi terkenal -mudah2an- karena keihklasannya.  Karena berbuat, pak.  Seperti yang bapak gembar-gemborkan itu …

Oh, ya.  Asal tahu saja, saya terganggu juga tuh dengan iklan-iklan bapak.  Sangat terganggu.  Terutama kalau yang sedang kepikiran adalah, berapa milyar duit yang terbuang karena iklan nggak penting semacam itu ya?  Lha, iya pak … pentingnya dimana coba?  Penting buat bapak, mungkin … tapi nggak penting buat saya.  Swear deh, pak … samber gledek deh bapak.

Hak bapak sih.  Duit, duit Bapak … mungkin.  Cuma, saya bingung, pak … sebenernya bapak ngiklan gitu pengen jadi presiden, ya, pak?  Ooppsss …

Siapa Lu?!

Rokok tidak haram, karena saya sendiri juga merokok, dan tidak ada akibat apapun yang terjadi. Intinya, rokok dalam islam dihukumkan tidak haram, asalkan tidak berbahaya bagi penggunanya,” kata Mbah Idris saat ditemui detiksurabaya.com di kediamannya, Jalam KH Abdul Karim, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Kamis (14/8/2008).

(http://surabaya.detik.com/read/2008/08/14/144501/988596/475/pimpinan-ponpes-lirboyo-rokok-tidak-haram)

Lho, memangnya SIAPA ANDA? Apakah kalau si Mbah berzina kemudian zina jadi halal? Kalau si Mbah korupsi, korupsi jadi halal?!  Subhanallah.  Si Mbah yakin tidak terjadi apa-apa? Hebat, mbah… Hebat!!  Cuma, barangkali, si Mbah belum periksa ke dokter, ya Mbah?

Tapi jumlah ulama yang mengharamkan dan menghalalkan, jauh lebih banyak yang menghalalkan. Di Arab Saudi, perokok justru disertai dengan candu dan itu sama sekali tidak membahayakan bagi mereka,” jelas Mbah Idris.

Seberapa banyak Mbah? Sudah dilakukan penelitian dan survey? Data statistiknya mana?  Memangnya kalau orang Arab mabok kita juga boleh mabok mbah?

Yang jelas saya nyatakan rokok tidak haram, karena saya memiliki pedoman sendiri. Jika umat islam di Indonesia tak ingin menuruti fatwa MUI ya itu hak mereka, asalkan mereka juga memiliki pedoman yang kuat,” tegas Mbah Idris.

Sekali lagi, memangnya SIAPA ANDA?!! Pedomannya apa, mbah?  Jangan-jangan pedomannya hawa nafsu, mbah? Ingat lho, Mbah… MUI saja masih berdiskusi soal ini, belum berani mengeluarkan fatwa.  Oh, mungkin si Mbah lebih hebat daripada orang-orang di MUI ya, Mbah?!  Pantas kalau begitu …

Secara keseluruhan, antara mudharat dan manfaat rokok lebih banyak mana, mbah?  Saya kok lebih melihat banyak mudharatnya, mbah.  Tanyakan saja pada yang merokok, Mbah!!  Apalagi sama yang tidak merokok, Mbah.  Si Mbah mungkin jantungnya masih kuat, paru-parunya masih sehat, tapi jutaan orang yang tidak merokok tersiksa, Mbah.

Memang benar ada ribuan orang jadi pegawai di perusahaan rokok, Mbah.  Puluhan juta rupiah juga masuk ke kas negara dari pajak rokok, Mbah.  Tapi, barangkali karena itulah, negara kita belum bisa jadi negara yang barokah, Mbah.  Sebab pendapatan negaranya didapat dari ‘menyiksa’ dan meracuni jutaan orang… Barangkali loh,  Mbah.  Saya kan cuma menduga-duga, si Mbah mestinya lebih paham daripada saya, iya kan, Mbah?

Lupakan soal Fatwa MUI, Mbah.  Lupakan soal haram-halal, karena akan selalu jadi perdebatan, Mbah.  Hanya saja, sebagai seorang Ulama, si Mbah mestinya lebih peka daripada kami yang lebih banyak kesalnya terhadap para perokok seperti si Mbah.  Terhadap kondisi lingkungan sekitar, terhadap kelangsungan hidup masyarakat, terhadap kenyamanan bersosialisasi.  Apalagi si Mbah banyak didengarkan orang, banyak dituruti orang, banyak dipuja orang…

Salam, Mbah… Bah!!

Penyakit Kuliner

Ibnu Khaldun, salah seorang filosof Islam klasik, dalam bukunya yang terkenal, Muqaddimah, membahas satu bab khusus soal pengaruh makanan terhadap karakter manusia.  Juga terhadap ketahanan tubuh, kecerdasan bahkan terhadap persoalan agama dan ibadah.

Bahwa makanan yang berlebih-lebihan dan pencampuradukan makanan yang terlalu banyak, makanan yang rusak dan basah yang tidak dapat dicernakan dengan baik di dalam perut dan meninggalkan endapan-endapan yang berbahaya yang menyebabkan gemuk, menutupi kulit dan mengubah bentuk badan.  Uap yang buruk yang ditimbulkan makanan itu kemudian naik ke otak dan menutupi proses pemikiran yang menyebabkan kedunguan, masa bodoh dan kurang sabar.

(Ibnu Khaldun. Muqaddimah. Pustaka Firdaus, Cetakan keenam: April 2006. Hal.102)

Orang-orang badui yang hidup sederhana, dan orang-orang kota yang hidup berlapar-lapar serta meninggalkan makanan yang mewah-mewah, mereka lebih baik dalam beragama dan dalam beribadah dibandingkan dengan orang-orang yang hidup mewah dan berlebih-lebihan.

(Ibnu Khaldun. Muqaddimah. Pustaka Firdaus, Cetakan keenam: April 2006. Hal.103)

Belakangan ini, saya banyak diingatkan soal makanan.  Di tengah zaman wisata kuliner seperti sekarang, saya justru sedang merasa takut dengan efek jangka panjang makanan.  Entah kekurangan asupan makanan bergizi, atau terlalu banyak makan yang tidak bergizi.  Dua-duanya bukan pilihan yang bagus.  Akan tetapi untuk sekedar memberi nutrisi yang baik bagi tubuh pun bukan masalah yang mudah, meskipun tidak terlalu sulit.  Hanya perlu sedikit disiplin.

Masalahnya ada di selera makanan.  Saya termasuk yang paling parah dalam hal selera makanan.  Tidak suka susu, tidak suka daging merah (sapi, kambing, dll), kurang minum air putih, jarang makan sayuran, dan sedikit makan buah.  Paling banyak makanan yang digoreng.  Sementara, minyak yang dipanaskan adalah salah satu sumber kolesterol.  Sementara nilai gizi dalam makanan yang digoreng, bisa dipastikan berkurang akibat panas minyak goreng.  Maka, sangat dimungkinkan terjadi penumpukan kolesterol dalam darah saya.  Ditambah kegiatan olahraga sudah semakin berkurang intensitasnya.  Inginnya melakukan cek kesehatan, tapi belum sempat – atau lebih tepatnya belum menyempatkan diri.

Tidak sedikit yang menyadari bahwa pola makan dan asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh sangat tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh.  Sebagai contoh, saya masih lebih memilih makanan yang saya sukai daripada yang tubuh saya butuhkan, meski saya tahu makanan tersebut tidak memiliki nilai gizi sama sekali.  Dan tidak sedikit juga yang menyadari efek dari terlalu banyak makan di masa depan.

Ayah saya adalah contoh yang baik mengenai makanan, meski beliau tidak menerapkan soal pola makan sehat dan bukan contoh yang paling baik juga.  Sampai saat ini satu-satunya penyakit yang sering dideritanya ‘hanya’ sakit kepala.  Sesekali terkena flu juga.  Itu pun jika beliau terlalu lelah saja.  Selebihnya, saya tidak mendapati adanya ancaman dari penyakit-penyakit serius semacam stroke, ginjal atau
jantung.  Bahkan, di usianya yang ke-54, dalam laporan medical check-up yang belum lama ini dilakukan, hasilnya dinyatakan normal hampir di seluruh organ tubuhnya.  Kecuali bahwa terdapat kelebihan kolesterol di dalam darah.  Dipastikan makanan yang digoreng adalah penyebabnya.

Seperti halnya saya, ayah saya tidak terlalu berminat untuk menyicipi jenis-jenis makanan yang asing bagi lidahnya.  Bedanya dengan saya, saya terlalu pilih-pilih soal makanan, sementara ayah saya cenderung apa adanya.  Apa yang ada di meja makan, itu yang dimakan.  Tidak pernah sekalipun saya mendengar ayah saya protes soal makanan kepada ibu saya, apalagi sampai marah-marah.  Seleranya juga memang sederhana, yang penting nikmat.  Itulah sebabnya, jika melakukan perjalanan ke kota-kota baru yang dikunjungi, saya tidak terlalu tertarik untuk menyicipi makanan khas kota tersebut.  Kecuali kalau saya yakin makanan tersebut akan masuk ke perut saya.  Begitu juga ayah saya.

Ayah saya juga cenderung mengalah kepada keluarganya soal makanan.  Tidak jarang, ketika yang lain makan ayam goreng, beliau hanya makan tempe goreng karena jatahnya diberikan untuk anak-anaknya.  Bahkan jika ditraktir makan di restoran yang cukup mahal pun, makanan yang beliau pilih adalah yang sederhana.  Berbeda dengan kakaknya.  Kakak ayah saya termasuk seorang ‘penjelajah’ makanan.  Tidak ada pantangan dalam hal makanan.  Dari daun-daunan sampai daging-dagingan.  Hampir segala jenis masakan di sebagian wilayah Indonesia dicicipinya.  Makanya, paman saya itu gemuk, sementara ayah saya kurus.

Akan tetapi, ketika mereka berdua diperiksa oleh ahli pengobatan alternatif, hasilnya cukup mencengangkan.  Ayah saya dinyatakan normal, sementara saraf-saraf dalam tubuh paman saya dinyatakan banyak yang sudah ‘mati’.  Itu pun setelah sebelumnya terkena stroke.  Menurut sang ahli tersebut, penyebabnya adalah makanan.  Dan yang paling menggelikan, paman saya dilarang untuk makan lagi makanan kesukaannya.  Dulu, paman saya sering ‘meledek’ ayah saya terkait makanan, sekarang paman saya mengakui bahwa apa yang ayah saya lakukan ternyata ‘benar’.

Pengalaman lain adalah dari salah seorang guru saya yang belum lama ini terkapar selama 2 bulan akibat penyakit asam urat.  Beliau juga mengingatkan agar berhati-hati soal makanan jika tidak ingin mengalami hal yang serupa.  “Kita tahunya makanan tersebut enak dan dimakan banyak-banyak, tapi kita tidak tahu prosesnya seperti apa, isinya apa saja.“, sembari menyebut jenis-jenis makanan ‘favorit’ seperti bakso dan makanan-makanan yang terlalu pedas sebagai penyebab penyakit tersebut.

Dari sisi Islam, selain gizinya, tentu saja kehalalannya wajib menjadi perhatian.  Jika seorang Abu Bakar ra sampai memuntahkan kembali makanan yang diketahuinya haram, maka umat Islam saat ini setidaknya wajib waspada terhadap makanan yang akan disantapnya.  Ada ‘kaidah’ yang sudah lumrah di masyarakat, (seolah-olah) tidak mengapa menyantap makanan yang haram selama tidak mengetahui.  Pertanyaannya sekarang, apakah kita berusaha untuk mencari tahu soal kehalalan makanan tersebut?  Sayangnya, hal ini jarang sekali dilakukan.  Padahal, yang  semestinya dilakukan adalah mencari tahu dulu sebelum makanan tersebut masuk ke dalam tubuh.  Hanya saja, kalau seperti itu, kapan makannya ya? 😀  Setidaknya, sisakan sedikit ruang ‘waspada’ dalam diri kita jika akan memakan sesuatu.  Bahkan jika makanan tersebut pun sudah dinyatakan halal.

Menurut saya, itulah sebabnya mengapa bisa terjadi praktek-praktek ilegal dalam perdagangan makanan di Indonesia.  Misalnya, ayam tiren, sapi glonggongan, kasus borax, dll.  Hal ini disebabkan kurang kritisnya kita terhadap kehalalan makanan sehari-hari.

Terakhir, tentu saja dari cara kita mendapatkan makanan tersebut.  Dengan cara haram atau cara halal?  Oleh sebab itu, makanan yang kita beli dari uang hasil korupsi hanya akan menjadi ‘penyakit’.  Meskipun perlu dilakukan penelitian secara lebih mendalam lagi, tapi sering juga saya mendengar kalau orang-orang yang sudah diketahui umum melakukan praktik korupsi, biasanya terkena stroke atau sakit parah (komplikasi) di hari tuanya.  Akan tetapi, sekali lagi, hal tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut, sebab yang jujur pun banyak juga yang terkena stroke.

Dalam Islam ada konsep “halalan thoyyiban“.  Arti sederhananya, halal serta baik.  Makanan halal akan berdampak terhadap sisi psikologis seseorang, sehingga ruhaninya menjadi sehat.  Sementara makanan yang baik gizi dan keadaannya, akan berdampak pada fisik seseorang, sehingga jasmaninya yang menjadi sehat.

Maka, atas dasar itulah saya berniat untuk memperbaiki pola makan dan asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh saya.  Masalahnya, ya… itu … makanan yang dibutuhkan tubuh saya justru merupakan makanan yang sebagian besar masuk kategori ‘tidak enak’ dalam kamus hidup saya selama ini.  Selain itu, tentu saja, mulai lebih memperhatikan kehalalan makanan tersebut, entah zatnya, atau pun cara mendapatkannya.  Daripada nanti di hari tua terancam sakit-sakitan, ‘ditunggu’ neraka pula.  Apes.

Page 1 of 2

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén