Bukan tanpa alasan ketika saya menolak permintaan Ochi untuk menulis atau berbicara lebih banyak tentang kasus Monas yang melibatkan FPI dan AKKBB. Meskipun, sebetulnya saya juga ingin sekali menulis soal kejadian tersebut.
Setidaknya ada dua alasan. Pertama, saya tidak berada di sana ketika kejadian. Kedua, saya tidak percaya 100% media massa. Dengan dua alasan tersebut, saya tidak berani memberikan penilaian tentang siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kasus tersebut. Bahkan mereka yang hadir di sana pun bisa saja salah. Akan tetapi, sikap saya jelas. Saya sangat menyesalkan terjadinya kasus tersebut.
Kekhawatiran saya hanya satu. Prasangka. Su’udzhan. Tentunya kepada dua pihak yang terlibat. Jangan sampai ketika saya menggebu-gebu membela salah satu pihak, saya malah membela yang seharusnya dihujat.
Ketika terjadi pertikaian, dipastikan akan selalu terbentuk minimal dua kubu dengan versi ceritanya masing-masing. Ada kalanya cerita yang kita dengarkan lebih bombastis daripada kejadian yang sesungguhnya. Bahkan seringkali ditemukan ‘fakta’ baru dalam cerita tersebut, entah benar adanya atau diada-adakan.
Sama halnya dengan sejarah. Satu hal yang pasti dari sejarah adalah -biasanya- tempat, waktu dan peristiwanya. Soal jalan cerita bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, tergantung pada siapa anda percaya atau -mungkin- tergantung selera anda juga. Bagi saya, kejadian Monas sudah jadi bagian dari sejarah.
Belum lagi munculnya teori-teori konspirasi dari mereka yang membela salah satu kubu. Semakin ruwet. Dengan minimnya data dan fakta yang saya miliki, mana berani saya menentukan siapa benar dan siapa salah. Jadi, silahkan saja yang berwajib yang mengurusi persoalan ini.
Lalu, ketidakpercayaan saya pada media massa lebih dikarenakan keyakinan saya bahwa tidak ada satu pun media yang benar-benar netral. Setiap media punya ideologi atau ‘sikap politik’. Keduanya ditentukan oleh’ pemegang duit’ di perusahaan media massa tersebut. Yah, memang senaif itu lah pikiran saya.
Lagipula, televisi atau koran hanya menampilkan frame-frame yang menurut mereka ‘menjual’. Padahal, suatu cerita selalu memiliki awal, tengah dan akhir cerita. Tidak selalu yang kita lihat sebagai pihak yang tertindas di televisi atau koran adalah mereka yang benar-benar tertindas. Bisa juga yang terjadi adalah sebaliknya, sebuah perlawanan terhadap suatu penindasan. Lantas, apa mungkin kita bisa menyimpulkan suatu kejadian hanya melihat satu bagian saja?
CTM61. 060608. 05.00.

