Month: June 2008

Guitar Player

Forgotten Guitar Player

Saya sedang merindukan bermain gitar. Terutama di waktu-waktu sedang sering menyendiri seperti sekarang. Setidaknya sudah hampir 4 tahun saya tidak benar-benar bermain gitar lagi. Pernah beberapa kali memegang gitar lagi, tapi tidak lama. Nyaris lupa dengan lagu-lagu yang pernah saya mainkan sejak SMP sampai awal-awal kuliah.

Saya pernah bermimpi menjadi seorang musisi. Tidak banyak yang tahu bahwa alasan saya memilih kuliah di Bandung sesungguhnya adalah untuk menjadi seorang musisi. Namun, justru setelah di Bandung, keinginan saya itu mulai terkikis. Saya merasa, dunia glamor, dunia panggung atau dunia hiburan, bukan dunia saya. Ada perasaan ketidaknyamanan dalam hati yang membuat saya memilih untuk tidak melanjutkan cita-cita tersebut.

Old Guitar Saya mulai bermain gitar sejak kelas 1 SMP. Alasan saya ingin belajar gitar karena rasanya cool dan macho kalau melihat para pemain gitar. Dan … sepertinya menyenangkan dikelilingi perempuan ketika bermain gitar. Saya tahu rasanya dan … memang menyenangkan. :setan1: Itu, duluuuu. Namun, sesungguhnya saya merasa nyaman saja ketika dalam suasana hati seperti apa pun bisa melampiaskannya melalui gitar. Ada yang bilang, saya terlihat lebih tampan dan tampak melankolis kalau sedang bermain gitar. (Huehehe, anda boleh muntah …!!)

Adalah sahabat-sahabat saya di SMP yang mengajari saya bermain gitar. Lagu pertama yang saya mainkan dengan lancar adalah “Kuberkhayal” dari Five Minutes yang waktu itu kemana-mana memakai sarung. Menyusul kemudian lagu “Kemesraan” dari Iwan Fals. Dari pergaulan dengan sahabat-sahabat saya, kemudian menyusul berbagai macam lagu lainnya yang bisa saya mainkan. Jadi, saya belajar secara otodidak.

Ketika SMA saya mulai membentuk Band dengan teman-teman sekelas. Namun, selama 3 tahun, hanya tiga kali naik panggung. Kelas 1 sekali, kelas 2 sekali dan kelas 3 sekali … alias setahun sekali. Pernah bergabung dengan beberapa band, dari yang paling hancur sampai yang sedikit lebih baik dari pada yang paling hancur 😀 . Dari yang pop-melankolis sampai yang nge-rock abis. Herdyan pernah latihan juga dengan saya. Ketika perpisahan kelas 3, saya jadi gitaris untuk membawakan 3 buah lagu dari Helloween, band rock asal Jerman. Saat itu saya sepanggung dengan Funky Kopral formasi awal, dimana Bondan Prakoso dan Onci “Ungu” masih tergabung didalamnya.

Saking tergila-gilanya ingin menjadi musisi, saya kemudian berlangganan tabloid musik. Saat itu ada Mumu (Muda Musika), tabloid musik yang terbit seminggu sekali. Saya pelajari tips-tips yang ada di tabloid tersebut. Jadilah saya orang yang agak melek soal musik saat itu.

Saat SMA Kelas 3, biasanya tiap kelas memiliki nama. Saya masuk ke kelas 3 IPA 3, yang diberi nama Xtreme (eXacta Three Milenium). Kebetulan saya bisa memainkan lagu “More Than Words” dari Extreme. Jadilah lagu tersebut sebagai lagu “kebangsaan” kelas tersebut dan termasuk lagu yang paling sering dinyanyikan bersama-sama. Sekarang, saya sudah lupa sama sekali dengan chord lagu tersebut.

Gitaris favorit saya adalah Dewa Budjana dan Pay, sementara gitaris luar negeri saya tergila-gila dengan permainan gitar John Petrucci. Sempat juga terpengaruh oleh Paul Gilbert dan Nuno Bettencourt. Saya sangat menyukai lagu instrumental bertajuk “Wanita” dan “Selamat Tidur … Sayang!” dari Budjana, serta “Lost Without You” dari John Petrucci. Beberapa bagian solo gitar John Petrucci di beberapa lagu Dream Theater dan Liquid Tension Experiment sampai membuat saya terkagum-kagum. Namun, sesungguhnya saya sangat ingin sekali bermain gitar seperti Naudo. Gitaris Spanyol kelahiran Brazil yang sudah bermain gitar sejak berumur 5 tahun.

Budjana petrucci02.jpg

Ketika mendengarkan musik, sesungguhnya bukan hanya gitar saja yang menjadi perhatian saya. Bass dan ketukan Drum serta permainan Keyboard atau Piano -jika ada- juga sering saya perhatikan. Saya sangat menyukai gaya permainan drum Ronald ketika masih tergabung di GIGI, terutama di album 3/4.

Pada dasarnya, saya menyukai segala jenis musik. Dari musik sunda sampai rock cadas. Akan tetapi, lagu-lagu yang saya suka adalah yang melodius dan tidak membosankan. Apa pun jenis musiknya. Terutama jika lagu tersebut agak menonjolkan kemampuan musisinya. Terlebih jika unsur gitarnya menonjol, terutama gitar akustik. Beberapa contoh lagu adalah “Have You Ever Really Loved a Woman” dari Bryan Adams, “Merepih Alam” versi Audy, “Khayalku” versi Chrisye dan Nicky Astria serta “The Spirit Carries On” dari Dream Theater. Entah mengapa, rasanya sulit sekali mendapati lagu-lagu Indonesia sekarang yang seperti itu.

Arrrggghhhh, sepertinya saya harus beli gitar lagi…

Bandung, 22 Juni 2008. 01.00

Daftar Gambar:

loading...

Darussalam: Masjid yang Patut Dicontoh

DSCF0670

Masjid Darussalam berlokasi di Karang Tengah, Cianjur. Sekitar 1 KM dari Terminal Baru Cianjur (Rancabango) atau sekitar 2 KM dari Terminal Lama Cianjur. Terletak di tepi jalan raya Cianjur – Bandung. Berada dari sisi kiri jika dari arah Cianjur, atau sisi kanan dari arah Bandung. Masjid tersebut adalah salah satu tempat peristirahatan favorit saya jika melakukan perjalanan menuju Bogor atau Bandung.

DSCF0669
Reklame Masjid Darussalam yang bisa terlihat jelas
di pinggir jalan raya Bandung – Cianjur

Masjid tersebut merupakan salah satu masjid percontohan kelurahan setempat. Saya lupa lagi nama kelurahannya, Karang Tengah kalau tidak salah. Berada di bawah pengurusan Nahdlatul Ulama (NU) cabang kelurahan tersebut.

Apa yang patut dicontoh dari Masjid tersebut? Masjid tersebut memberikan pelayanan yang sangat baik kepada para pengunjung atau para musafir yang sekedar beristirahat di sana. Karena letaknya yang dipinggir jalan, maka sebagian besar pengunjung adalah para musafir atau mereka yang sedang melakukan perjalanan jauh. Sepengetahuan saya, Masjid tersebut tidak pernah sepi.

Tidak terlalu istimewa sebetulnya apa yang pengurus Masjid tersebut lakukan. Hanya menyediakan minuman seperti kopi, teh manis hangat atau wedang jahe. Pengunjung tidak perlu merasa sungkan untuk membuat sendiri minuman tersebut atau minta dibuatkan oleh para pengurus Masjid tersebut. Mereka akan langsung membuatkan minuman yang dipesan. Dan -inilah luar biasanya- tidak dipungut biaya sepeser pun.

DSCF0663
Pengurus Masjid yang sedang melayani membuatkan minum

 

DSCF0665
Pengunjung yang membuat minum sendiri

Memang ada kotak amal di sana. Namun tidak ada keharusan untuk memberi infaq kepada Masjid tersebut. Saya sudah beberapa kali berisitirahat di sana. Pernah memberi infaq, lebih sering tidaknya 😀 . Biaya parkir pun digratiskan. Hanya satu yang menurut saya kurang… tukang pijat :)) . Padahal, jika saja ada dan dikenakan biaya jasa pijat pun, rasanya akan banyak yang minta dipijat.

Jika memasuki waktu shalat, para pengurus Masjid tersebut akan segera menyiapkan minuman tersebut. Sehingga, ketika para pengunjung selesai melakukan shalat berjama’ah, mereka tinggal mengambil minuman yang diinginkan. Meskipun hanya minuman saja yang disediakan, akan tetapi menyenangkan sekali bisa mendapati Masjid seperti itu. Para pengunjung pun bisa beristirahat dan bersantai sepuasnya di sana. Apalagi ditambah dengan adanya pepohonan yang meneduhkan disekitarnya.

Menurut saya, seperti itulah seharusnya sebuah Masjid. Persoalannya bukan adanya sesuatu yang digratiskan di sana. Akan tetapi, sebagai sebuah usaha pelayanan kepada masyarakat dan mendekatkan masyarakat kepada Masjid. Di sisi lain, jika setiap musafir bisa selalu menemukan Masjid seperti itu dalam perjalanannya, rasanya travelling akan semakin mudah dan menyenangkan. Jika saja setiap Masjid di pinggir jalan seperti itu semua dan buka 24 jam, saya pasti akan berkeliling Indonesia :)) .

DSCF0666
Suasana santai di Masjid Darussalam

 

DSCF0673
Masjid Darussalam, agak tertutup pepohonan

Seluruh gambar bisa dilihat di SINI.
C 1 h 3 u l 4 17 6. 150608. 23.00.

Ruang Foto

Ruang Foto adalah sebuah usaha saya menyeriusi fotografi. Memang belum ada foto yang terlalu istimewa di sana, mengingat saya memegang kamera yang agak ‘bener’ saja baru seminggu ini. Mengikuti jejak Andri, saya pun menyediakan ruang khusus untuk menyimpan foto-foto yang menurut saya bagus dibanding yang lainnya. Cuma bedanya kamera saya masih kamera amatiran 😀 .

Dari 5 foto yang pertama kali diangkat, saya yakin banyak ditemukan kesalahan-kesalahan minor atau mayor. Saya sendiri merasakannya. Gaya memotret saya yang kurang menyukai penggunaan flash seringkali menyebabkan gambar-gambar menjadi kabur. Terutama di dalam ruangan. Bukti lain kalau saya belum ahli.

Namun, apa pun yang terjadi, the show must go on.  Tadinya sih mau saya pasangi label donnyreza.net atau ruangfoto.donnyreza.net pada foto-foto tersebut.  Namun, setelah dipikir-pikir lagi, lebih baik dibiarkan saja. Barangkali foto-foto saya ada yang mau menggunakannya dan bisa berguna buat orang lain.  Bahkan kalau ada yang minta ukuran aslinya pun, akan saya beri.  Hanya saja yang perlu ditegaskan adalah setiap penggunaan karya cipta siapa pun, perlu menyertakan nama yang membuatnya. 🙂

Lebih Baik Menolak

Bukan tanpa alasan ketika saya menolak permintaan Ochi untuk menulis atau berbicara lebih banyak tentang kasus Monas yang melibatkan FPI dan AKKBB. Meskipun, sebetulnya saya juga ingin sekali menulis soal kejadian tersebut.

Setidaknya ada dua alasan. Pertama, saya tidak berada di sana ketika kejadian. Kedua, saya tidak percaya 100% media massa. Dengan dua alasan tersebut, saya tidak berani memberikan penilaian tentang siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kasus tersebut. Bahkan mereka yang hadir di sana pun bisa saja salah. Akan tetapi, sikap saya jelas. Saya sangat menyesalkan terjadinya kasus tersebut.

Kekhawatiran saya hanya satu. Prasangka. Su’udzhan. Tentunya kepada dua pihak yang terlibat. Jangan sampai ketika saya menggebu-gebu membela salah satu pihak, saya malah membela yang seharusnya dihujat.

Ketika terjadi pertikaian, dipastikan akan selalu terbentuk minimal dua kubu dengan versi ceritanya masing-masing. Ada kalanya cerita yang kita dengarkan lebih bombastis daripada kejadian yang sesungguhnya. Bahkan seringkali ditemukan ‘fakta’ baru dalam cerita tersebut, entah benar adanya atau diada-adakan.

Sama halnya dengan sejarah. Satu hal yang pasti dari sejarah adalah -biasanya- tempat, waktu dan peristiwanya. Soal jalan cerita bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, tergantung pada siapa anda percaya atau -mungkin- tergantung selera anda juga.  Bagi saya, kejadian Monas sudah jadi bagian dari sejarah.

Belum lagi munculnya teori-teori konspirasi dari mereka yang membela salah satu kubu. Semakin ruwet. Dengan minimnya data dan fakta yang saya miliki, mana berani saya menentukan siapa benar dan siapa salah. Jadi, silahkan saja yang berwajib yang mengurusi persoalan ini.

Lalu, ketidakpercayaan saya pada media massa lebih dikarenakan keyakinan saya bahwa tidak ada satu pun media yang benar-benar netral. Setiap media punya ideologi atau ‘sikap politik’. Keduanya ditentukan oleh’ pemegang duit’ di perusahaan media massa tersebut. Yah, memang senaif itu lah pikiran saya.

Lagipula, televisi atau koran hanya menampilkan frame-frame yang menurut mereka ‘menjual’. Padahal, suatu cerita selalu memiliki awal, tengah dan akhir cerita. Tidak selalu yang kita lihat sebagai pihak yang tertindas di televisi atau koran adalah mereka yang benar-benar tertindas. Bisa juga yang terjadi adalah sebaliknya, sebuah perlawanan terhadap suatu penindasan. Lantas, apa mungkin kita bisa menyimpulkan suatu kejadian hanya melihat satu bagian saja?

CTM61. 060608. 05.00.

Para Tetangga

Keinginan saya untuk menampilkan semua link alamat bloger yang pernah memberikan komentar di sini terwujud juga. Terima kasih pada SQL yang mempermudah kerja saya sehingga tidak perlu repot-repot membuat seluruh tautan sendiri atau melakukan add link satu persatu di blogroll.

Tercatat ada 280 tautan dari seluruh bloger yang pernah memberikan komentarnya di blog ini. Termasuk yang redundan, trackback, tautan kosong dan punya saya sendiri. Tautan-tautan yang berisi spam sudah saya bantai sebelumnya, jadi tidak ikut terseleksi. Seluruh tautan dari bloger yang pernah memberikan komentar di blog ini, saya simpan di sini.

Nama yang tercantum berdasarkan nama yang dimasukan di dalam form komentar. Kecuali beberapa nama yang saya edit, selebihnya saya biarkan apa adanya.

Saya belum pernah mencobanya di blog yang ikut hosting di WordPress. Karena sewa hosting sendiri, saya tinggal membuka phpmyadmin yang disediakan oleh penyedia hosting. Kemudian ketikan perintah SQL berikut pada form yang tersedia:

SELECT CONCAT( ‘<a href=”‘, `comment_author_url` , ‘” target=”_blank”>’, `comment_author` , ‘</a>’ ) Link FROM `wp_comments` GROUP BY `comment_author_url`

Contoh hasil seleksi akan menjadi kode HTML seperti ini:

Linklist

Setelah melakukan sedikit seleksi lagi, buka write page pada Dashboard WordPress. Copy seluruh tautan di atas dan paste pada text editor wordpress. Oopps, hampir lupa. Pada text editor ada dua bagian, visual dan code. Copy seluruh tautan di atas pada bagian code. Publish, jadi deh.

code

Saya tidak tahu apakah ada plugins untuk ini, belum pernah mencari tahu.

Selain itu, ada juga kabar yang cukup menggembirakan bagi saya. Beberapa teman dekat saya sudah mulai sering menulis blog. Mudah-mudahan bisa seterusnya rajin menulis.

Ada Herdyan Fajar, sobat masa SMA yang diam-diam sudah mulai rajin posting dan sebentar menyempurnakan setengah dien-nya. Ada Dela, sobat di kampus saya. Deden, yang saya beri motivasi untuk berani menampilkan diri dan jangan terlalu memedulikan apa yang orang lain pikirkan tentang karya kita. Juga Wahyu, sobat SMA dan teman berbagi cerita mengenai fotografi. Selain itu, Ochi yang akhirnya memilih untuk menggunakan WordPress juga, setelah sebelumnya menggunakan blog Friendster dan Blogspot. So, ayo kunjungi mereka … hehe.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén