Lakukan Saja Pak Menteri!

Saya belum selesai membaca Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE). Malas sebetulnya. Akan tetapi, saya perlu tahu karena bagaimanapun saya ‘orang IT’, ditambah sekarang di tempat kerja sedang mengurusi hal yang berhubungan dengan perundang-undangan. Meskipun cuma mengurusi kulitnya saja.

Berhubungan dengan UU-ITE tersebut, manuver pertama yang dilakukan oleh pemerintah kita adalah dengan mengeluarkan kebijakan untuk menangkal situs-situs p0r170 (supaya nggak kena sensor) :setan1: . Bahkan sampai mengeluarkan perangkat lunak untuk membantu menyensor situs-situs parno tersebut. Timbul pro dan kontra :setanvsangel: . Seperti biasa. Ada yang optimis, ada yang pesimis. :balancing: ada juga yang masa bodoh :bingung: . Saya sudah pasti setuju. Niat baik perlu didukung. Bicara masalah teknis, nanti saja dulu.

Pihak yang kontra mengatakan bahwa pemerintah seharusnya jangan dulu mengurusi hal-hal ‘kecil’ semacam itu. Lebih baik urus saja masalah kemiskinan, pengangguran dan masalah lain yang ‘lebih besar’. Jadi, kasus seorang wanita diperkosa oleh 30 orang pria di Mataram setelah nonton VCD parno, yang dalam 2 hari terakhir ramai di berita-berita televisi kita adalah masalah kecil. Atau kasus seorang anak SD diperkosa oleh teman-teman sekelasnya, akibat VCD parno, juga masalah kecil. Hmmm. :bayipreman:

Masih dari pihak kontra, mereka berpendapat bahwa informasi tidak perlu disaring. Sebaiknya yang perlu dilakukan pemerintah adalah berfikir untuk memberikan edukasi dan pembinaan mental yang baik. Dengan begitu, setiap orang tahu mana yang baik dan mana yang buruk sehingga memiliki filter sendiri.

Lha, bukankah apa yang dilakukan oleh pemerintah sekarang juga sebuah edukasi? Bahwa pornografi -bagaimanapun bentuknya- tidak bisa dibenarkan. Lagipula, sekuat dan sebesar apa sih ‘lubang’ saringan yang kita miliki?! Kalau lubangnya besar-besar, sama saja bohong kalau kita gunakan untuk menyaring yang katanya ‘kecil’ itu, masih tembus juga. Kalau kurang kuat, jebol juga kan? Jadi, mengandalkan filter dalam diri saja tidak cukup.

Garbage in, Garbage out. Sebuah istilah yang sangat familiar dalam dunia pemrograman. Sederhananya, input (informasi) yang baik (benar) akan menghasilkan output yang baik (benar) pula. Juga sebaliknya, yang dimasukan sampah, keluarannya sampah juga. Orang-orang yang berkecimpung di dunia IT mestinya sangat paham. Kalau istilahnya AA Gym, “teko hanya mengeluarkan apa yang dimasukan ke dalamnya“. Komputer memang tidak sama dengan manusia. Komputer tidak punya hati sebagai filter untuk menimbang mana yang benar dan mana yang salah. Akan tetapi, hati manusia juga bisa ‘mati’ jika otak disesaki oleh informasi yang salah apalagi informasi yang termasuk ke dalam kategori sampah.

Dari sisi ekonomi, ada yang berpendapat bahwa maraknya situs-situs p0r170 tersebut juga karena banyaknya permintaan. Sayangnya, pendapat ini juga tidak sepenuhnya benar. Ada kalanya -bahkan sering- sebuah produk menjadi laku karena bagusnya branding atau marketing meskipun awalnya konsumen tidak tertarik untuk melakukan permintaan. Maraknya peredaran pornografi di Indonesia -saya kira- justru karena faktor branding dan marketing ini. Apalagi, orang Indonesia ini terkenal dengan sifat penasaran dan latah. Ada yang rame…ikut ngeramein, padahal nggak ngerti apa yang diramein.

Kalau kata Bang Napi, “kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan“. So, inilah yang pemerintah kita lakukan. Mengurangi kesempatan itu. Perihal masih ada yang mencuri-curi kesempatan, bukan hal yang aneh lagi.

Kekhawatiran lain dengan dilakukannya bloking terhadap situs-situs p0r170 tersebut adalah akan membuka jalan untuk dibloknya informasi lain seperti politik. Disinilah kita perlu mengawal pemerintah. Jangan sampai pemerintah terlalu berlebihan dan masuk ke ranah non-pornografi. Caranya? Organisasi ke-internet-an di Indonesia kan lumayan banyak. Ada AWARI (Assosiasi Warnet Indonesia), IndoWLI, RuangKopi (loh, emang masuk? :p ), dll. Bersuaralah lewat itu, saya kira Pak Menteri akan memahami.

Itu baru non-teknis. Soal teknis, ya perlu diakui, ini adalah tantangan bagi kita, terutama para praktisi IT di Indonesia. Saya rasanya kurang setuju dengan sebagian orang yang meremehkan pemerintah kita. Memang benar bahwa hal ini akan menghabiskan biaya yang besar, sumber daya yang tidak kecil dan teknologi yang lebih canggih. Akan tetapi, itu adalah ongkos belajar, jika kemudian terbukti tidak efektif, setidaknya kita pernah berbuat salah. Daripada tidak pernah berbuat salah, kita tidak akan pernah belajar. Saya pikir, akan lebih besar lagi uang yang terbuang percuma hanya gara-gara mengakses situs parno. Bikin ‘macet’ bandwidth pula. :setanngambek:

Jadi daripada bersikap pesimis, bukankah lebih baik jika kita membantu pemerintah dalam hal ini? Daripada sekedar berbicara,”mustahil, sistem yang dibangun pasti jebol…“. Well, itu benar, tapi itu sebuah tantangan kan bagi anda-anda yang merasa paham networking? Atau, jangan-jangan, saking mengertinya makanya berbicara seperti itu? Saya pun mengerti bahwa tidak ada sistem yang 100% aman, tidak mungkin 100% situs seperti itu kena bloking. Pemerintah pun pasti paham soal ini, tapi setidaknya kita bisa meminimalisir hal-hal semacam itu. Barangkali om Andri bisa berbicara lebih banyak soal teknis?!

Kalau kita menyikapi secara berbeda, mungkin Pak Nuh selaku Menkominfo secara tidak langsung ingin berkata seperti ini, “kami ingin menyensor situs-situs pornografi, tapi kami sadar bahwa itu bukan pekerjaan yang mudah. Jadi bagi anda-anda yang mengerti, tolong bantu kami dengan skill anda, dengan pikiran anda, demi kemajuan bangsa Indonesia….”. Halah!

Jangan diartikan bahwa saya dan orang yang mendukung langkah pemerintah sebagai orang-orang yang “sok suci”. Kata-kata yang selalu digunakan untuk ‘menyerang’ orang-orang yang mengajak kebaikan. Padahal, jujur saja, tidak ada pikiran bahwa saya adalah “orang suci”. Tidak sama sekali. Justru karena saya sudah sangat muak dengan kesalahan-kesalahan yang saya lakukan, saya ingin mengajak anda untuk menemani saya bersama-sama berjalan ke arah yang lebih baik. Itu saja.

Jadi, lakukan saja Pak Menteri!! I support U. Btw, Pak Menteri, blog saya jangan diblok ya?! Halah!

C 1 H 3 U L 4 17 6. 290308. 05.30.


Pernak-Pernik

Memangnya cuma om Riyo saja yang punya smiley baru, saya juga punya :bayikiss: tapi memang smiley yang saya gunakan belum mewakili seluruh emosi. Masih akan ditambah dan diatur lagi, saya masih pilih-pilih yang bagus dan unik.

Tadinya saya kurang berminat dengan macam-macam plugins yang ditawarkan oleh WordPress dan para kreator plugins wordpress di seluruh dunia. Saya lebih tertarik dengan theme atau template yang banyak juga ditawarkan oleh para desainer wordpress theme. Kenyataannya, menurut saya, theme wordpress yang tersedia di jagat maya ini memang menakjubkan. Saya sampai iri dibuatnya. :tweety1: Saya memang sedang membuat dua buah theme, tapi tertunda terus gara-gara di kantor terancam overwork tiap hari. :setansedih:

Namun, setelah dipikir-pikir lagi, tidak ada salahnya mencoba beberapa plugins, terutama setelah belakangan ini blog ini dibombardir oleh berbagai macam spam yang isinya menyebalkan :angelmarah: . Maka, dalam seminggu ini, setidaknya ada 8 plugins yang saya install. Tiga diantaranya saya aktivasi, 5 yang lainnya hanya sekedar pajangan saja. :bayinyengir:

Soal dua buah theme yang sedang saya buat. Rencananya, satu untuk blog ini, tapi juga kalau memungkinkan akan saya share untuk para pemakai wordpress. Cuma, ya itu…desainnya garing. :angelpusing: Yah, saya memang agak lemah dalam hal desain, tapi coding juga sebetulnya nggak bagus-bagus amat :bayingakak: .

Theme kedua yang akan saya buat adalah untuk blog KataPengantar yang saya migrasi dari blogspot ke worpdress. Selain itu, jika sebelumnya saya dan Oci hanya meresensi buku, sekarang kami juga berencana untuk meresensi film dan musik. Entah yang lama atau yang baru.

Soal smiley atau emoticon, saya juga berencana untuk mengajak sahabat kuliah saya yang memang jago gambar untuk bikin emoticon. Saya sih hanya punya ide karakternya saja, tinggal konfirmasi ke yang bersangkutan soal kesediaannya. Biasanya, dia mau-mau saja, soalnya memang hobinya dia bikin karakter unik. Saya bosan saja menggunakan smiley buatan orang lain. Pengen beda, gitu :bayipreman:

Oh, iya. Satu lagi. Saya masih punya beberapa slot sub-domain yang belum terpakai. So, daripada kosong, saya kepikiran untuk membuat sub-domain untuk istri saya nanti. Sambil iseng, saya buat domain nyonya.donnyreza.net :angel2: silahkan saja dilihat kalau mau tahu isinya seperti apa :D Yaaaa, persiapan sebagai hadiah buat sang istri. Kalau istri saya sudah nge-blog, nanti akan saya ‘paksa’ istri saya untuk pindahin blognya ke alamat itu. Kalau belum nge-blog, akan saya ‘racun’ istri saya supaya mau nge-blog. Nah, pertanyaannya sekarang…siapakah yang akan mendapatkan hadiah tersebut?!! :bayingelel:

C 1 T 4 M 1 4 17 6. 260308. 05.20.


Ruang Kosong

Salah satu favorit saya dalam buku Filosofi Kopi karya Dee (Dewi Lestari) adalah tulisan yang berjudul Spasi.

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tak dipakai 2 kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

Dewi Lestari – Spasi

Spasi atau ruang kosong atau jarak. Sudah sejak lama sebetulnya saya ingin menulis tentang ini. Bahkan, sebelum membaca tulisan Dee tersebut. Sebetulnya sudah banyak juga yang membahasnya.

Akan tetapi, beberapa minggu yang lalu untuk kedua kalinya saya menonton Kick Andy episode AA Gym. Kali ini versi lengkapnya. Ternyata, banyak juga quote dan rahasia menarik dari cerita AA Gym yang tidak ditampilkan pada episode sebelumnya. Hanya saja, fokus saya kali ini bukan pada hal itu.

Sehubungan dengan spasi, ada yang menarik dari cerita pengalaman AA Gym di acara tersebut. Berdasarkan pengakuan AA Gym, tidak banyak yang tahu bahwa ternyata kesibukan dakwahnya selama ini malah menjerumuskan dirinya ke dalam rutinitas yang tidak sehat dan menjauhkannya dari keluarga. Tidak ada waktu untuk dirinya dan keluarga. Bahkan dalam dunia dakwah sekali pun, ternyata jika dilakukan terlalu berlebihan berdampak tidak sehat juga. Beliau menganalogikan dirinya dengan gergaji yang digunakan terus-menerus selama 5 tahun tanpa henti. Pada akhirnya gergaji tersebut akan tumpul, rusak dan tidak efektif lagi untuk memotong kayu.

Sudah sangat lumrah jika setiap orang memerlukan waktu untuk bisa menyendiri, merenung dan beristirahat. Itulah spasi, jarak, ruang kosong. Hanya saja, tidak sedikit juga yang menyadari fungsi aktivitas tersebut untuk kesehatan jiwanya. Memang setiap malam kita tidur, tapi itu hanya memenuhi kebutuhan fisik saja. Dan itu pun tidak selalu efektif. Sebab tidak jarang juga kita tidur dengan otak yang sibuk memikirkan pekerjaan dan rutinitas lainnya. Sementara kebutuhan jiwa seringkali tidak terpenuhi.

Oleh sebab itu, saya sangat memahami ketika beberapa orang sahabat saya belakangan ini melakukan kontemplasi. Bagaimanapun, kontemplasi adalah kebutuhan jiwa. Saya termasuk orang yang sering melakukan kontemplasi. Untungnya saya bisa berkontemplasi di mana pun. Bahkan dikeramaian. Paling sering di jalanan. Makanya, saya lebih suka duduk di dekat kaca bus atau kereta. Selain bisa menikmati pemandangan, pikiran saya bisa mengawang-awang. Merenung, muhasabah, berencana…apa saja yang terpikirkan. Itu sebabnya, saya memilih sendiri dan kurang berminat untuk mengobrol dengan orang lain jika melakukan perjalanan. Saya lebih suka membiarkan pikiran saya ‘melayang’ kemana-mana. Ada kalanya, ide muncul ketika itu. Ide apa pun.

Jiwa manusia itu memang unik. Ketika sudah ‘penuh’ yang terjadi adalah kejenuhan, saat itulah perlu ‘dikosongkan’. Ketika sudah kosong, tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Harus diisi kembali. Dengan ilmu, dengan nasihat, dengan membaca. Barangkali, itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa para penulis adalah orang-orang yang sehat jiwanya. Sebab dalam diri penulis terjadi siklus ‘mengisi-mengosongkan’ yang kontinyu. Jiwanya selalu ‘baru’.

Ada saat mengisi jiwanya dengan bacaan-bacaan, dengan pengalaman dan informasi. Lalu, ketika seluruh ‘bahan’ tersebut terkumpul, bisa dipastikan, setiap penulis akan merasakan kegelisahan ketika ide-idenya belum tertuangkan ke dalam sebuah tulisan. Sangat mudah saja jika ingin ‘menyiksa’ penulis atau para blogger. Hindarkan dia dari kertas, dari buku, dari alat tulis, dari komputer, dari mesin tik…seorang penulis sejati akan gila diperlakukan seperti itu. Sebetulnya hal tersebut tidak hanya berlaku bagi para penulis, tapi juga untuk segala profesi yang berbasis karya. Musisi, penyair, pelukis, programer, desainer atau bahkan fotografer.

Dalam mitologi Yunani, diceritakan ada seorang tokoh yang dihukum oleh Dewa. Sisifus namanya. Hukumannya sederhana saja. Dia harus mengangkat sebuah batu yang besar, hingga ke puncak gunung, setelah tiba di atas gunung, batu itu harus digelindingkan lagi. Didorong lagi ke atas, untuk kemudian digelindingkan lagi. Seperti itu, terus menerus.

Bagi saya itu sebuah hukuman yang menyakitkan. Memang hukuman yang sederhana, tapi bayangkan yang terjadi pada jiwa kita. Kehampaan, kejenuhan, kebosanan. Kita melakukan hal tersebut terus menerus, sepanjang hidup, tanpa jeda. Tidak ada kesempatan untuk sekedar berencana. Ditambah lagi apa yang kita lakukan benar-benar tidak ada artinya. Bagi saya mengerikan. Tidak ada harapan, tidak ada impian sama sekali. Padahal impian dan harapan yang menjadikan hidup menjadi ‘sedikit’ lebih indah bukan?

Saya kemudian jadi terbayang, Islam menggambarkan berbagai macam hukuman dalam neraka bentuknya seperti itu. Bahkan, jika misalkan saya masuk neraka dan dihukum persis seperti Sisifus, itu saja sudah bisa membuat saya sangat tersiksa dan menderita. Apalagi pakai api segala…dibakar, hancur lebur, utuh lagi, dibakar lagi, hancur lebur, utuh lagi…neverending. Naudzubillahi.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 230308.10.30

NB: ini sebetulnya draft tulisan yang tertunda sejak 2 bulan yang lalu. Rasanya kok nggak fokus ya? melenceng kemana-mana?


Senangkanlah Hatimu!

Assalamu ‘alaikum…

Apa kabar dunia blogger? :-D

Belakangan sedang kerja rodi, kerja romusa atau yang sejenisnya deh ;-). Sekarang ini waktu saya memang lebih banyak terpakai untuk pekerjaan, even in holiday. Sesuatu yang tidak terlalu saya sukai, tapi itulah tuntutan profesionalisme. Tidak boleh terganggu oleh like or dislike. Dulu saya sempat ‘nyindir’ orang lain, “masa sih nggak ada waktu buat menulis gara-gara kerja?“. Kenyataannya, saya merasakannya sekarang. Betapa nasib selalu dipergulirkan ya? Inginnya sih seperti om Budi Putra yang memilih untuk jadi seorang blogger profesional. Hanya saja, saya belum percaya diri untuk itu. :-D

Saya kerepotan juga jadi satu-satunya orang IT yang harus memberikan pencerahan dan melakukan perubahan di perusahaan tempat kerja saya sekarang. Sebetulnya sebuah tantangan juga, tantangan besar malah. Salah satunya yang ingin saya lakukan adalah meng-edukasi rekan-rekan kerja saya untuk mulai menggunakan produk-produk open source dan mulai melirik Linux daripada menggunakan “Windows Pirated Edition” seperti sekarang. Apalagi untuk level perusahaan, resikonya cukup besar juga. Masalahnya, saya pun belum sepenuhnya menggunakan produk-produk open source. Jadi, sebetulnya saya ingin ‘mengajak’ rekan-rekan untuk bersama-sama belajar menggunakan OSS (Open Source Software). Masalah lainnya, mayorits rekan saya adalah perempuan. Perlu diakui, Linux dan kawan-kawannya masih ‘milik’ kaum adam. Padahal sebetulnya tidak seperti itu juga. Sekarang sudah bukan zamannya lagi menggunakan Linux dengan command-line murni seperti awal-awal kemunculannya dulu.

Di tengah-tengah rasa suntuk akibat mengejar deadline pekerjaan, saya sempatkan diri untuk memberikan pencerahan kepada diri sendiri. Saya buka situs Hidayatullah, buka Catatan Akhir Pekan-nya Adian Husaini. Ada artikel dengan judul “Ilmu dan Kebahagiaan“, di dalamnya saya dapat kutipan dari bukunya HAMKA, “Tasauf Modern”.

Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit….

Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang selalu menimpa orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepada engkau lagi, lantaran kemiskinanmu…

Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu!

Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacatmu...”

Kalau tanah airmu dijajah atau dirimu diperbudak, senangkanlah hatimu! Sebab penjajahan dan perbudakan membuka jalan bagi bangsa yang terjajah atau diri yang diperbudak kepada perjuangan melepaskan diri dari belenggu.

Hehe. Saya punya bukunya, tapi belum masuk ke bagian kutipan tersebut. Pantas saja saya kurang ngeh.

Apalagi ya? Sudah dulu ah. Masih harus ngebut kejar deadline dan shalat maghrib dulu.

C 1 T 4 m 1 4 17 6. 61. 180308. 18.15.

NB: Buat Agah, sabar ya?! Insya Allah, saya akan tulis reviewnya ;-)


Belajar Bijak

Sebuah ‘benturan’ paradigma antara saya dan orang tua pada akhirnya memaksa saya untuk mengambil jalan tengah antara idealisme dan ekspektasi mereka. Ya, saya tidak terlalu bisa meyakinkan kedua orang tua saya perihal ‘jalan pedang’ yang ingin saya tempuh. Saya tidak terlalu menyalahkan mereka, bagaimana pun saya tetaplah ‘anak kecil’ di mata mereka. Mereka ingin yang terbaik bagi saya. Itu saja sudah cukup menjadi pembuktian cinta mereka yang tanpa akhir kepada saya. Pada akhirnya, saya ‘mengalah’. Mudah-mudahan itu pun menjadi bukti cinta saya pada mereka.

Dan, sungguh…hati saya sering luluh dan lidah kerap kali menjadi sangat kelu setiap kali beradu argumen dengan mereka perihal masalah tersebut. Terlebih dengan ayah saya yang tutur katanya halus, namun seringkali menghujam ke dalam hati dan berkali-kali membuat saya terdiam. Saya kenal sekali karakter ayah saya, karena saya mewarisi sebagian besar sifat-sifatnya. Hanya ketampanannya saja yang tidak saya warisi. Anehnya, adik bungsu saya yang mewarisi ketampanannya, tidak mewarisi sifat-sifatnya. Selama ini saya tidak pernah mendapati kata-kata kasar darinya. Dan kata-kata yang menghujam itu, saya tahu pasti berasal dari kelembutan hatinya. Lebih lembut daripada wanita-wanita yang saya kenal, termasuk ibu saya. Oleh sebab itu, beliau sangat dihormati oleh keluarganya, saudaranya, tetangganya dan atasan serta bawahan di tempatnya bekerja. Maka, saya tidak terlalu heran jika kemudian beliau bisa menjadi ‘jalan hidayah’ bagi beberapa orang yang dikenalnya, meskipun pengetahuan ayah saya terhadap agama sangat kurang. Bahkan sampai saat ini, beliau masih terbata-bata membaca Al-Quran.

Akan tetapi, justru ayah saya juga yang menjadi salah satu alasan kenapa saya tidak ingin menjalani hidup seperti yang dijalaninya. Bukan karena saya benci ayah saya, tapi justru karena saya sangat mencintainya. Ayah saya tipikal orang Indonesia pada umumnya. Kurang berani mengambil resiko dan lebih suka untuk berada di dalam comfort zone. Sifat yang menurun pada saya juga sebetulnya. Oleh sebab itu, sepanjang karirnya, beliau memilih untuk menjadi karyawan. Tidak terlalu tertarik untuk berbisnis, karena kapok setiap memulai bisnis selalu ditipu oleh rekan bisnisnya. Saya pun pernah senewen ketika mendengar cerita dari ibu bahwa ayah saya menolak tawaran untuk menjadi CEO di perusahaan tempatnya mengabdi, dan ditempatkan di China. Ketika saya konfirmasi kepada ayah saya, jawabnya “malas, terlalu jauh dan harus belajar bahasa China dulu, lagian sebentar lagi juga pensiun, sementara tanggung jawabnya juga besar“. Ketika saya sindir, “wah, pantas aja kita susah jadi orang kaya“. Beliau hanya tertawa saja.

Soal etos kerja dan loyalitas, saya tidak pernah meragukan beliau. Tentu bukan karena penilaian yang asal-asalan jika ayah saya pernah mendapat penghargaan sebagai “Manager Teladan” di sebuah perusahaan furniture terbesar di Indonesia, tempatnya bekerja selama hampir 20 tahun terakhir. Ketika saya tanya apa alasan perusahaan memberikan penghargaan itu, beliau hanya menjawab, “nggak tahu“. Ternyata, belakangan saya baru tahu kalau penghargaan itu diberikan karena pencapaiannya dalam memenuhi bahkan melebihi target produksi selama 1 tahun. Selain itu, saya juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa beliau sangat dekat dengan bawahan-bawahannya dan pembelaannya terhadap nasib bawahannya jika dirasa ada peraturan atau kebijakan perusahaan yang ‘merugikan’ karyawan.

Akan tetapi, entah kenapa ‘prestasi-prestasi’ yang telah dicapai ayah saya tersebut tidak pernah membuat saya ingin mengikuti jejaknya. Saya lebih tertarik untuk berbisnis meskipun saya tahu bahwa karakter yang saya warisi dari ayah terbukti menjadi ‘penghambat’ untuk terjun ke dunia bisnis. Saya terlalu perasa dan terlalu memikirkan perasaan orang lain, lemah dalam bernegosiasi, introvert dan cenderung menghindari konflik. Dan seperti ayah saya juga, perlu diakui bahwa saya juga kurang berani mengambil resiko. Itulah sebabnya, saya sedang belajar mengikis sifat-sifat yang menjadi hambatan tersebut.

Malapetaka itu datang beberapa minggu yang lalu, ketika paman saya menghubungi ayah saya dan menginformasikan bahwa institusi tempatnya bekerja membutuhkan banyak sarjana komputer. Jika diterima, maka saya akan berstatus menjadi PNS dan ditempatkan di Jakarta. Saya sebut malapetaka karena betapa pun menggiurkannya, menjadi PNS tidak pernah ada dalam daftar pekerjaan yang saya minati. Apalagi sampai ditempatkan di Jakarta, kota yang pernah membuat saya ‘sakit’. Saya bisa gila jika kemudian mengikuti saran dari orang tua untuk melamar ke institusi tersebut dan sampai diterima.

Sementara itu, apa yang saya cita-citakan pun belum memberikan bukti apa-apa kepada orang tua. Saya malah ‘tersesat’ menjadi operator warnet, pedagang kaki lima atau menjadi tenaga outsourcing yang paling lama hanya 1 bulan. Hidup luntang-lantung, tidak jelas arah dan tujuan serta penghasilan yang pas-pasan. Meskipun, sejujurnya saya cukup menikmati hidup yang kurang mapan seperti itu. Lebih banyak kejutan dan lebih dinamis. Wajar jika kemudian orang tua resah dan sangat berharap pada saya untuk mencoba mengirim lamaran ke tempat paman saya tersebut. Oleh sebab itu, berkali-kali ayah saya menelpon dan meminta saya untuk mengirim lamaran ke tempat tersebut. Begitu pun sudah berkali-kali juga saya mengatakan bahwa saya sedang ada pekerjaan, meskipun bukan pekerjaan tetap. Akan tetapi, ayah saya tetap ‘memaksa’ untuk mengirim lamaran tersebut, karena apabila bekerja di sana, saya bisa lebih mapan. Bingung lah saya.

Saya benar-benar tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Satu-satunya cara yang terpikir adalah saya harus dapat pekerjaan dalam waktu 1 minggu. Dengan begitu, orang tua saya tidak akan terlalu resah. Tapi, kerja di mana? Sementara sudah setahun lebih saya tidak pernah mengirim surat lamaran lagi karena sudah malas. Sampai akhirnya, saya nyaris saja ‘menyerah’ sebelum di ‘menit akhir’ pertolongan itu datang. Tepat di hari terakhir deadline yang saya tentukan. Telepon dari sebuah perusahaan meminta saya datang untuk wawancara. Padahal, lamaran ke perusahaan itu adalah lamaran terakhir yang saya kirim, satu tahun yang lalu. Esoknya saya datang dan diwawancara, langsung diterima hari itu juga dan besoknya dikirim tugas ke luar kota.

Ada beberapa pertimbangan kenapa akhirnya saya memutuskan untuk back to office. Pertama, saya sangat menghormati ayah saya dan juga berusaha untuk menjaga kehormatannya. Saya berusaha memahami keresahan ayah saya. Sebagai seorang manager, sudah puluhan orang yang melalui bantuannya bisa masuk ke perusahaan tersebut. Tentunya akan menjadi beban pikirannya jika anaknya sendiri malah ‘menganggur’. Sebuah ironi. Saya sendiri tidak pernah meminta untuk dipekerjakan di sana, meskipun ada jatah untuk anaknya, sebuah fasilitas dari perusahaan. Saya hanya tidak suka mengekor kepada ayah saya, karena itu berarti saya harus menanggung beban nama baik ayah saya. Dan saya juga tidak ingin jika suatu saat dibanding-bandingkan dengan beliau. Terus terang saja, saya seringkali merasa bersalah setiap kali ada acara yang melibatkan banyak orang dan saya selalu kebingungan menjawab pertanyaan “kerja di mana?“. Dan setiap kali itu juga, ayah berusaha “membela” saya, meskipun saya tahu, hatinya terusik.

Kedua, perusahaan tempat saya bekerja sekarang berlokasi di Bandung. Dengan begitu, saya masih bisa tetap membantu teman-teman di SSG Cibeunying, saya masih bisa mengajar anak-anak jalanan, saya masih bisa lari pagi di SABUGA, masih bisa shalat Jum’at di Salman, masih bisa ke Daarut Tauhiid, dll. Meskipun, alokasi waktu untuk hal-hal tersebut akan berkurang. Semua itu cukup mengganggu pikiran saya dalam menimbang-nimbang pengambilan keputusan. Selain itu, rencana lainnya mudah-mudahan akan tetap berjalan sesuai keinginan.

Ketiga, Direktur perusahaan tempat saya bekerja sekarang ketika mewawancarai saya pernah mengatakan bahwa mereka akan mendorong karyawannya untuk berbisnis atau entrepreneur. Ini yang kemudian membuat saya cukup tertarik dan bersedia untuk bekerja di sana. Selain itu, di sana saya juga mendapatkan apa yang selama ini saya cari. Juga peluang lain yang mungkin akan berguna di masa yang akan datang. Termasuk peluang untuk ‘mengunjungi’ kota-kota yang belum pernah saya kunjungi, karena biasanya project yang digarap berada di luar kota. Oh, ya…satu lagi, suasana kekeluargaan di tempat kerja. ;-)

Keempat, saya tetap berpeluang untuk memulai bisnis tanpa mengganggu pekerjaan di kantor. Salah satu yang sedang coba saya garap bersama seorang teman SMA adalah sebuah toko online. Kendalanya adalah saya dan Agus, teman tersebut, terpisah kota. Saya di Bandung, Agus di Bogor. Domain name sudah aktif, untuk hosting sementara menumpang di tempat blog ini. Jika toko online ini berhasil, baru kemudian menyewa hosting sendiri. Saat ini baru trial and error, mudah-mudahan bisa berhasil. Akan tetapi web site belum bisa di launching karena saya dan Agus masih harus mendiskusikan soal produk.  Selain itu ada juga tawaran sebuah project dari mantan dosen saya. Namun, hal ini masih dalam pertimbangan karena khawatir tidak bisa tergarap dan mengganggu pekerjaan sekarang.

Saya hanya berharap bahwa keputusan yang sudah diambil merupakan sebuah win-win solution. Orang tua bisa tenang, saya masih bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang saya suka, anak-anak jalanan masih bisa saya ajar, masih terlibat di SSG dan masih bisa nge-blog pastinya. :-p Disamping itu, saya juga banyak belajar tentang bagaimana ‘sebaiknya’ saya mengarahkan anak-anak saya nanti. Utamanya dalam hal pilih-memilih jalan hidup. Kecuali, tentu saja, saya tidak akan memberi peluang anak-anak saya untuk memilih agama selain Islam. Otoriter memang, tapi saya akan merasa menjadi orang tua yang gagal jika suatu saat anak saya murtad.

Memang ada yang saya korbankan, tapi saya tahu, orang tua saya pun sudah berkorban cukup banyak. Idealisme itu masih ada. Tertanam kuat di hati, mewujud tekad dan sudah tidak sabar untuk merealisasikannya dalam tindakan nyata.

Link Terkait dari Blogger lain:

C 1 H 3 U L 4 17 6. 080308. 07.30.