Month: February 2008

Jangan (Terlalu) Terkejut

notsurprise

Konon, menurut Departemen Per-cenah*-an, Pak Harto muda pernah mendapatkan sebuah petuah dari sang kakek, “Jangan Terkejut!“, katanya. Petuah itu coba diaplikasikan oleh Pak Harto selama hidupnya, dan itulah salah satu kunci mengapa beliau bisa ‘bertahan’ selama 32 tahun menjadi presiden di negeri ini. Itu juga salah satu kunci mengapa kita bisa menyaksikan beliau selalu tampil tersenyum setiap saat. Meskipun pada akhirnya, beliau mengalami post-power syndrome juga.

Kita terkejut jika mengalami atau mendapati sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita duga atau pikirkan. Tidak ada yang salah dengan menjadi terkejut karena itu adalah reaksi yang normal. Hanya saja, terkejut yang berlebihan cenderung menimbulkan kepanikan dan menghasilkan ekses negatif. Ketika seseorang menjadi panik, sikap dan tingkah lakunya cenderung tidak terkendali dan berpikiran pendek, bahkan dalam banyak kasus menyebabkan ‘mati’-nya logika.

Salah satu faktor yang menyebabkan maraknya kasus-kasus penipuan melalui email, SMS dan telepon adalah karena korban penipuan tersebut biasanya terlalu terkejut dengan apa yang ‘sampai’ kepadanya. Sebetulnya, saya sering heran dengan masih banyaknya korban penipuan melalui modus operandi semacam itu. Akan tetapi, saya pun menyadari bahwa tidak semua orang adalah orang-orang yang well informed. Dan ke-terkejut-an itu pula yang menurut saya menjadi faktor dominan pada korban.

Saya pun pernah hampir percaya ketika ada SMS yang menyatakan bahwa saya mendapatkan hadiah sebesar 15 juta rupiah. ‘Hampir percaya’ dalam artian sempat tergoda. Siapa yang tidak tergoda uang sebesar itu datang sendiri? Meskipun akhirnya saya balas,”saya sedang sibuk dan tidak sempat mengurusi, duitnya buat anda saja“. 😀 Belum lagi email yang menawarkan uang sebesar 500 milyar rupiah, bisa kaya mendadak saya. 😀

Saya lupa persisnya kapan, yang jelas dalam beberapa tahun terakhir saya mencoba untuk menjadi orang yang tidak mudah terkejut dalam situasi apa pun. Memang terasa sekali kalau sekarang saya lebih tenang menghadapi apa pun. Setidaknya, itu yang saya rasakan, entah dengan pendapat orang lain. Apalagi, sejak lulus kuliah, saya beberapa kali mendapatkan kejutan yang memang tidak terpikirkan sebelumnya. Dengan ketenangan, hampir seluruh kejutan itu bisa dihadapi dengan baik karena pada saat kita tenanglah pikiran tetap jernih.

Beberapa bulan yang lalu, tidak lama setelah jadi operator warnet, saya mendapat tawaran untuk menjadi operator entry data di Dinas Kependudukan Bandung selama 1 bulan. Tawaran itu tidak langsung saya tolak, saya coba bicarakan dengan pihak warnet soal penjadwalan ulang, dan akhirnya keduanya bisa saya kerjakan. Selama kurang lebih 2 minggu saya bekerja selama 16 jam hampir tiap hari, dan masih harus mengikuti beberapa kegiatan organisasi juga. Kadang-kadang, saya hanya tidur 1 jam dalam sehari.

Kejutan datang ketika salah seorang kawan kuliah menelepon dan menawari saya untuk menjadi tenaga outsource selama 1 bulan di tempatnya bekerja. Dan, sungguh, tawarannya sangat menarik, tour ke beberapa kota di luar Jawa. Meskipun pada awalnya ragu karena bagaimanapun saya harus melepas 2 pekerjaan tersebut, akhirnya saya terima tawaran kawan tersebut. Saya bicarakan dengan pihak warnet dan koordinator tim entry data, alhamdulillah, saya dapat grant untuk tour tersebut. Bahkan, pihak warnet mengijinkan saya cuti selama 1 bulan. Dan…sepanjang bulan Ramadhan 1428H saya melakukan work-tour de Sumatera. Sayangnya, sampai saat ini, saya belum menuliskan pengalaman tersebut.

Adalah sebuah kejutan ketika di suatu pagi Kang Shodiq mengirim SMS dan meminta saya berkontribusi dalam buku “Istikharah Cinta“. Adalah sebuah kejutan ketika om Agus Hery menawari untuk menulis buku tentang beberapa ‘tokoh’ blog Indonesia. Dan sebuah kejutan juga ketika di tengah-tengah mengejar deadline untuk kejar setoran, saya mendapatkan panggilan interview di sebuah perusahaan konsultan di Bandung, diterima bergabung dan hari kerja pertama saya langsung dikirim tugas ke Jakarta. Padahal, seingat saya, setahun yang lalu terakhir kali saya mengirim lamaran pekerjaan. Semua itu bisa saya lalui dengan baik meskipun bukan tanpa hambatan.

Sepanjang hidup kita akan selalu dihadapkan dengan berbagai kejutan. Terkejut apalagi sampai panik, bukanlah cara yang bijak untuk menghadapi setiap kejutan tersebut. Sebab seringkali kesempatan yang baik berlalu begitu saja bukan karena kita tidak bisa mendapatkannya, tetapi karena kita tidak siap dengan kejutan tersebut. Semakin siap seseorang terhadap kejutan, semakin tenang orang tersebut. Itulah yang coba saya terapkan dalam hidup saya, tetap aware dengan apa pun yang mungkin terjadi, apa pun yang ditawarkan oleh ‘kehidupan’ kepada saya.

Setahu saya, ini juga salah satu rahasia orang-orang sukses. Mereka selalu siap dengan peluang atau kejutan yang menghampiri mereka. Bukan hanya siap mengatakan “ya”, tetapi juga siap mengatakan “tidak” terhadap setiap tawaran yang datang. Bukan hanya siap rugi, tetapi juga siap untung. Selain itu, siap terkenal, sebab tidak sedikit orang yang menjadi hancur hidupnya justru setelah menjadi tenar.

Maka, saya pun tidak terlalu terkejut dan masih bisa tertawa riang gembira tersenyum pahit ketika berabad-abad berbulan-bulan yang lalu saya mendapatkan kabar, “Kang Donny, ternyata si teteh yang-namanya-tidak-boleh-disebut itu mah udah ada yang khitbah (lamar)” dan “Wah, telat Don, dia sudah proses sama orang lain“. *Plak!! Kenapa ujungnya jadi begini ya?!* 😀

*cenah (bhs sunda): katanya, konon

** gambar saya culik dari sini

C 1 H 3 U L 4 17 6. 230208. 04.10.

loading...

Pada Suatu Hari Nanti

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

Sapardi Djoko Damono, 1991.

Saya sebetulnya kurang suka menampilkan karya orang lain di blog.  Tapi…tidak bisa tidak, puisi-puisinya si Kakek Romantis ini memang bikin iri.  Gimana sih bikin puisi secanggih karya-karyanya? Elegan sekali.  Saya ‘nyolong’ puisi di atas dari blognya om Jaf.  Biasanya, kalau soal puisi-puisi si Kakek Romantis ini, Oci suka ‘cerewet’ ngebahasnya.  *timpuk Oci pake sendal jepit* :-p

Ceritanya…

Sedang (sok) sibuk.  Belum bisa mengunjungi blog temen-temen yang biasa saya kunjungi.  Maafkan saya belum bisa kasih komentar 🙂  Masih berusaha menyesuaikan diri dengan ritme aktivitas saya yang susah ditebak.  Masih dikejar-kejar deadline.  Sedang menyelesaikan wordpress theme pertama yang saya beri judul BlueSyndrom.   Sedang mengharu biru soalnya.  Sedang merasa bersalah gara-gara telat kirim tulisan.  Tapi merasa senang juga bisa ikutan bantu-bantu penelitian.  Sedang bikin rancangan dan mapping untuk website tempat saya jadi kuli.  Sempat shock gara-gara Catoer ngajak saya kencan malam minggu yang lalu.  :-p Tiba-tiba kangen kota Jakarta dan berdesak-desakan di Kereta Ekonomi Jabotabek.  Duh, gawat ini mah namanya.  Sedang bingung juga, karena…karena…apa ya? hehe.  Lagi pengen nanya, “Mau?” 😀 Berusaha meninggalkan jejak di hati “mereka”.  (Ouch, mereka?) Dan satu pertanyaan yang mengganjal di dalam pikiran saya, kenapa sih tokoh-tokoh komik bajunya cuma satu? Ada yang mau jawab? Bener-bener tulisan nggak penting ya?  Ini tandanya pikiran saya sedang tidak fokus, maklumi saja lah.  Dan, sebagai penutup…nikmati saja satu lirik dari salah satu lagu kesukaan saya berikut ini.

Sungguh, aku minta…

Teruskanlah kau bernyanyi menulis,

kan kudengar kubaca itu pasti,

Teruskanlah kau bernyanyi menulis,

dan jangan lagu-mu tanganmu terhenti.

(Nyanyianmu Tulisanmu – Iwan Fals & Donny Reza) 😀

NB: yang dicoret itu versi aslinya…haha.

Kejar Setoran

Ini hanya tulisan yang dibuat untuk mengisi agar blog ini tidak terkesan kosong. Saya masih melakukan aktivitas blogging, tapi tidak terlalu intens dan kondisinya sedang kurang ‘nyaman’ untuk menulis di blog. Meskipun sebetulnya ada saja yang bisa saya tulis.  Ada project membuat buku lagi, kerjasama dengan Agus Hery dan Jalal. Sebetulnya deadline-nya satu bulan, tapi karena saya keasyikan mengerjakan hal lain, jadinya sekarang kerepotan dan sedang ‘tancap gas’ untuk menyelesaikan seluruh tulisan pada tanggal 15 Februari 2008 nanti. Idealnya sih sebelum tanggal 15 harus sudah selesai, karena masih harus masuk tahap editing. Saya harus menyelesaikan 10 artikel, masing-masing 5 halaman.  Ini merupakan project kedua yang saya kerjakan dengan sesama blogger, meskipun kalau dengan Jalal sebetulnya sudah kenal sebelum kami ke-edan-an ngeblog. 😀

Itu pula sebabnya, saya belum bisa memberikan 3 judul yang ‘diminta’ untuk project buku lain yang ditawarkan oleh Kang Shodiq kepada saya. Maafkan saya ya, kang?! Masih berminat kerjasama dengan saya kan? 😀 Tidak bermaksud untuk mengabaikan niat baik tersebut, saya hanya belum terbiasa mengerjakan sesuatu secara bersamaan. Insya Allah, setelah ini, saya akan ‘ngebut’ lagi dengan rencana tersebut dan menyodorkan 3 judul tersebut.

Kabar baiknya, buku “Istikharah Cinta: Cara Cerdas Mendapatkan Jodoh Ideal” dimana saya terlibat didalamnya, sudah terbit. Saya sampai terharu dan mata saya sempat berkaca-kaca ketika mendapati buku tersebut di toko buku Gramedia. Apalagi setelah membuka buku tersebut dan menemukan nama saya di dalamnya. Saya hanya menyumbang satu artikel di bab III, “Matematika Jodoh dan Istikharah“, sebuah tulisan kolaborasi antara saya dan Kang Shodiq. Naskah awal dari saya, lalu Kang Shodiq yang memberikan koreksi, melengkapi dan tambahan di sana-sini.

Istikharah Cinta
Selain saya, ada Soraya Fadillah dan Lita Mariana yang turut berkontribusi di buku ini.  Uniknya buku ini, karena keempat penulisnya tinggal di 4 kota yang berbeda.  Saya di Bandung, Kang Shodiq di Solo, Soraya di Vienna, dan Bu Lita di Jakarta.  Dengan kang Shodiq dan Soraya, saya tidak pernah bertemu fisik sama sekali.  Dengan Bu Lita, sebetulnya pernah sama-sama bergabung dan tercatat di kepengurusan SSG Wilayah Cibeunying, hanya saja kami tidak pernah berkomunikasi sama sekali.  Hanya karena kang Adam pernah cerita soal Bu Lita saja, saya jadi ‘ngeh’ kalau kami pernah seperjuangan.

Baiklah.  Memang hanya saya yang belum menikah diantara semua kontributor tersebut.  Ada beban berat di pundak saya ketika buku ini terbit.  Satu hal yang pasti, saya selalu berusaha untuk melakukan apa yang ditulis di buku tersebut.  “Lihat apa yang dibicarakan, bukan siapa yang berbicara…“, begitu kata Ali r.a.  Ketika menulis, sebetulnya saya sedang menasehati diri sendiri lewat tulisan tersebut.

Murah.  Hanya Rp.17500.  Masih lebih mahal pulsa yang ‘kita’ habiskan tiap bulan.   Jadi, pada beli ya? ya? maksa niiiihhh…hehe.  Insya Allah, akan sangat bermanfaat sekali untuk orang-orang yang sedang mencari jodoh seperti saya.  Haha 😀

NB:

  • Credit untuk Oci, calon sarjana sastra Unpad, yang sudah bersedia membantu kami untuk mendapatkan endorsment dari M. Irfan Hidayatullah, ketua FLP Pusat, yang notabene adalah dosennya Oci di Fakultas Sastra Unpad.

C 1 H 3 U L 4 17 6.  070208.  07.12.

One Question

Apa kabar keimananmu hari ini, saudaraku? 🙂

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén