Month: September 2007 (Page 1 of 2)

8 September 2007

00:11 Dani Birama

met malam ayangku…dirgahayu bwt engkong dony. smoga mrh rezeki, cita2 tercapai, sehat selalu; slalu dlm lindungan 4JJ1n ga lupa dgn traktirannya. amien. trusin tdurnya ya

>> Amien. Makasih ayangku…:p Yee, gk tidur kok :p orang mau jaga warnet

00:22:38 SMS from Riyantini :

Asw…oh y meef tgh malam nanya he..2x. Kg Doni ada kbr ktny dulu gk nyampe rumah ai? nyasar gt? masa seh? bner gt? dah ah tidur lagi ah 😮 zzzzz

>> Waslm. Gk kok, nyampe, isyu dari mana tuh?
Haduh!! kirain mo ngucapin met ultah…kekeke

00:39:10 SMS from Thez :

Met Ultah ya Bro, smg panjang umur, shat selalu, enteng rjki, n segera menemukan ukhti yg terbaik tuk jadi pendamping hdp, amin.

>> Thanks Bro. Tadinya gua kirain dah nemu ukhti yang nyembunyiin tulang rusuk gua, ternyata dia juga dicurigai nyembunyiin tulang rusuk orang lain. :))

04.28:10 Irma SMS :

Ada yg milad,,ada yg milad,,makan makan,,traktir traktir =D hhe,, met milaD, kang,,smo9a sgera dpertemukan dgn bidadarinya,,^^v dilancarin sgala urusan =)

>> Makasih Im, mau traktir di mana? tapi ajak-ajak teh ***** ya? 😀

05:01:20 SMS dari Oci :

Dlm doaku subuh ini kau mnjelma langit yg smalaman takmmejamkn mata, yg meluas bening siap mnerima chy pertama, yg mlengkung hening krn akn mnerima suara-suara…

>> Kok tau saya gak tidur semalaman? :p

05:26 SMS from EQ :

Met ultah brother

>> Thanks Brother

05:51 My Lovely Father

A slmt ultah ka 25 nya. Mudah2an sagala cita2 aa sing kenging karidloan ALLAH. Kalawan dipasihan sehat + panjang umur. Amiiin,,,,,

>> Amiin….

06:01:07 Poedji said,

True friendship is like sound health;the value of it is seldom known until it is lots. Happy Birthday…my frenz

>> Thanks, my frenz…;)

06:56:44 Arytha said,

08.09.2007 10:00 Assalamu’alaykum.Wr.Wb selamat milad, kang donny. Semoga sgla keinginan positif yang kang donny inginkan, dikabulkan 4JJ1.Kpn nikah? Hehe.

>> Amien…tapi kok jam 10.00 sih? dikirimnya kan jam 7 kurang :p Nikah? eu…;))

07:47:49 Raihana,

wilujeung tepang taun.mudah2an aya dina kawilujeungan sareung aya dina tangtayungan Allah SWT Amien…

>> Haha, kawilujeungan teh naon sih? 😀

08:54 Oecoep

Boss met ultah y, smoga,,,smoga,,,ente teu milu k dufan?

>> Makasih boss, teu bisa euy, keur riweuh didieu 😀

11:53:24 Oci lagi

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang takhenti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana…

15:21:44 Lagi-lagi Oci

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu…

15:38:20 My Lovely Sister, Nenti…

A, selamat ulang tahun nya. Sing dilancarkeun rejeki + jodona, cenah mamah tos hoyong jadi nini. He3. Sing dikiatkeun iman + sehat lahir batin, aamiin…

>> Haha, saya hampir saja tertawa terbahak-bahak selepas shalat ashar baca SMS ini 😀

18:49:10 WIT Nana SMS

Aslm.wr.wb, mat milad ya, pnjng umur + disayang 4JJ1 & hambaNya, mdh rizq, enteng jdh, amin. (atas permintaan Nana, ada yang saya potong, demi kerahasiaan 🙂 )

>> disayang 4JJ1? oh, so sweet…

18:57:29 Oci Lagi Oci Lagi

Magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku…

>> Lha, kok magribnya jam 7 kurang sih? :p

22:06:58 Masih Oci

Dlm doa malamku kau mnjelma denyut jantungku, yg dengan sabar bersitahan trhdp rasa sakit yang entah batasnya, yg setia mengusut rahasia demi rahasia, yg tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku. Aku mengagumimu, itu sbabnya aku takkan pernah slesai mendoakan kslamtanmu (“Dalam Doaku” – Sapardi Djoko Damono)

>> Nah Loh, kirain puisi buatan sendiri :p ternyata dari si kakek romantis ya?

22:07:31 Oci keneh wae…

Sgala mimpimu, smoga terwujudkan. Sluruh harapmu, smoga terpenuhi. Stiap langkahmu, smoga diberkahi 4w1. Met milad ke-25, Kakek! Sing hade lampah sajatining hirup…:)

>> Amien…amien…amin…Nenek! :p

23:01:17 Amy SMS,

Alles gute zum geburtstag! joyeux anniversaire-> Happy bday 2u…wishing u a bday filled with all good things…

>> Thanks, pokona kitu wae lah 😀

Telat 2 hari, Denziro SMS

Waduh waduh boga babaturan teh geus karolot geuningnya, komo aya hiji anu beuki kolot, hehe…met ulang tahun nya don…di doakeun cing sagala weh pokona mah

>> Nuhun, tapi angger weh didinya leuwih kolot :p

Buat semua yang sudah mengucapkan lewat Friendster, SMS, telpon atau langsung saat ketemu. Terima kasih yang sebesar-besarnya 🙂 Tidak banyak yang bisa saya berikan selain do’a, semoga kita selalu diberikan sisa umur yang barakah dan dapat berkumpul lagi di Jannah-Nya. Insya Allah.

S 3 k 3 l 0 4. 100907. 22:40.

loading...

Work-Tour de Sumatera

Terkadang ujian hidup itu memang aneh. Ketika sedang tidak ada yang kita kerjakan, hari-hari dan waktu yang kita miliki benar-benar lowong melompong. Sampai-sampai kita bingung. Akan tetapi, ketika kita sudah mendapatkan atau memiliki sesuatu yang kita kerjakan, datang tawaran lain yang ‘nampaknya’ lebih menarik. Dan bikin kita bingung juga. Saya mengalami hal ini seminggu yang lalu.

Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati pekerjaan jadi operator warnet, datang tawaran untuk menjadi tenaga outsource di Dinas Kependudukan Bandung (Disduk) untuk entry data penduduk Kota Bandung. Lucunya, saya juga masih jadi warga ilegal di Bandung :D. Beruntung, jadwal kedua pekerjaan itu bisa diatur dan tidak bentrok, sehingga bisa saya tangani keduanya. Beruntung juga bos warnet tersebut orangnya fleksibel, mungkin karena menyadari bahwa penghasilan warnet memang sedikit.

Ketika sedang asyik-asyiknya dengan kedua pekerjaan itu, datang lagi sebuah tawaran yang jauh lebih menarik daripada keduanya. Haekal, teman kuliah saya menelepon saya di suatu sore. Dia menceritakan bahwa perusahaan tempatnya bekerja sedang membutuhkan beberapa orang untuk dikirim ke sekitar 50 kota di Indonesia. Tujuannya untuk instalasi sebuah web aplikasi dan training user dalam menggunakan aplikasi tersebut. Aplikasi yang dibuat berupa sebuah e-Library, dibangun dengan PHP dan menggunakan MySQL sebagai Database Server. Rencananya, aplikasi tersebut akan diinstal di mesin dengan platform Linux GSI, sebuah distro turunan Ubuntu yang dimodifikasi oleh Ipteknet.

Menurut Haekal, sebetulnya tenaga di perusahaan tersebut mencukupi dan tidak memerlukan tenaga outsource. Akan tetapi, mereka semua sedang sibuk menyelesaikan proyek yang tidak mungkin ditinggalkan juga. Akhirnya, mereka memutuskan untuk ‘menyewa’ tenaga dari luar, sekitar 7 orang. Salah satu yang dihubungi adalah saya. Awalnya sempat bingung juga, tapi setelah dipikir-pikir lagi, ini adalah sebuah kesempatan yang menarik. Terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja.

Lebih beruntung lagi saya karena kenyataannya bos warnet juga mengijinkan saya, selain itu koordinator tim entry data juga tidak mempermasalahkan, karena kontraknya memang tidak mengikat. Akan tetapi, sebagai pertanggungjawaban saya, saya berusaha untuk mencari pengganti di Disduk dan di warnet, juga menyelesaikan pekerjaan saya sehingga tidak membebani orang yang menggantikan saya. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar.

Proyek instalasi ini terbagi menjadi tujuh rute. Tiap rute terdiri dari 3 orang. Saya kebagian rute B, yaitu ke pulau Sumatera, yang meliputi :
Jakarta – Pekanbaru
Pekanbaru – Dumai
Dumai – Batam
Batam – Tanjung Pinang
Tanjung Pinang – Pangkal Pinang
Pangkal Pinang – Sungai Liat
Sungai Liat – Palembang
Palembang – Kayu Agung
Kayu Agung – Sekayu

Rencananya, saya akan singgah 3 hari di tiap kota, dimulai hari Selasa, 11 September 2007 dan berakhir seminggu menjelang Lebaran. Itu artinya, selama sebulan saya akan melakukan perjalanan tersebut. Beberapa nama kota yang akan saya datangi sebetulnya masih asing buat saya. Akan tetapi, hal ini tidak menjadi masalah buat saya. Kapan lagi bisa ‘mengarungi’ sebagian Sumatera, gratis bahkan dibayar pula? :D Satu-satunya masalah buat saya adalah makanan. Lidah saya memang kurang cocok dengan makanan baru, saya tidak tahu pasti bagaimana nanti mengatasi masalah makanan ini, yang jelas hal tersebut jangan sampai mengganggu perjalanan ini.

Rute yang paling menarik adalah rute E. Beberapa kota yang akan disinggahi oleh rute tersebut adalah Yogyakarta, Denpasar dan Sumbawa. Menarik bukan? Sayangnya rute tersebut sudah diberikan kepada orang lain. Namun, bagaimanapun, saya tetap mensyukuri nikmat ini. :)

Hal yang akan menjadi pengalaman lain bagi saya adalah bahwa perjalanan ini akan bersamaan waktunya dengan bulan Ramadhan. Itu berarti 3/4 waktu Ramadhan saya akan dilalui di tempat yang asing bagi saya. Namun, mudah-mudahan sesuai dengan apa yang saya rencanakan, perjalanan ini akan saya jadikan sebuah perjalanan spiritual bagi saya. Apalagi tepat dengan Ramadhan. Saya berharap ada ’sesuatu’ yang bisa saya ‘temukan’ atau saya dapatkan dari perjalanan ini. Saya juga ingin mengetahui nuansa Ramadhan di tempat lain seperti apa, seumur hidup saya menjalankan shaum Ramadhan di tanah sunda dan dalam nuansa sunda. Kali ini, saya diberikan kesempatan untuk merasakan suasana Ramadhan di tanah Sumatera. Harapannya, ada yang bisa saya ceritakan dan jadikan pengalaman.

Bagi saya, perjalanan ini saya anggap sebagai hadiah ulang tahun yang ke seperempat abad bagi saya. Sekaligus juga sebagai pelarian hiburan karena target saya menikah di bulan September agak mustahil bisa tercapai. Hehe. Di sisi lain, saya pun sedang sangat ingin mengasingkan diri, hiding from everyone, dari teman-teman, dari keluarga, dari semua orang yang saya kenal. Entahlah, sedang ingin saja, tidak ada maksud apa pun. Sejak lama sebetulnya saya berencana untuk melakukan hal ini, pergi ke suatu tempat yang sama sekali baru buat saya, tapi saya tidak tahu caranya dan mau kemana. Alhamdulillah, kesempatan tersebut akan saya dapatkan sebentar lagi. Barangkali, ini adalah jawaban dari Allah atas keresahan saya selama ini. Dan mudah-mudahan, saya bisa kembali ke tanah Sunda dengan spirit baru. Yah, siapa tahu, dalam sebulan itu ada ’sesuatu’ yang benar-benar mengubah diri saya.

Akan tetapi, tetap muncul juga ketakutan, terutama berkaitan dengan masalah transportasi di Indonesia yang masih mengkhawatirkan. Mudah-mudahan semuanya berjalan dengan lancar. Doakan saja.

Oleh sebab itu, karena momentumnya pun cukup tepat, mendekati Ramadhan, sekalian saja saya minta maaf apabila ada kata, sikap dan tingkah saya yang selama ini kurang berkenan. Maaf jika dalam sebulan tersebut ada undangan nikah yang tidak bisa saya hadiri. Maaf jika dalam Ramadhan kali ini tidak merasakan kebersamaan, sahur bersama, buka puasa bersama, shalat tarawih bersama. Maaf jika dalam sebulan ke depan, blog ini tidak saya update karena agak sulit rasanya menulis di tengah perjalanan seperti itu. Halah, kok jadi narsis gini sih akhirnya? :D

S 3 K 3 L 0 4. 090907. 23.03.

Percik-percik Pikiran

Happy Birthday to me…! So, what’s next?

– Heran, berdasarkan teori probability dan melihat realitas yang ada, kemungkinan untuk bisa dengan si ‘dia’ itu kecil sekali…! Nggak lebih dari 10%, tapi kenapa si ‘dia’ bisa muncul tiga kali berturut-turut dalam mimpi? Dan di mimpi itu…doh! Mungkinkah? Atau jangan-jangan…

– Lagi malas bikin puisi dan bingung pilih-pilih syair lagu untuk tema birthday kali ini, tapi kemudian yang terpilih adalah…Lagu Satu dari Iwan Fals

Jalani hidup
Tenang tenang tenanglah seperti karang
Sebab persoalan bagai gelombang
Tenanglah tenang tenanglah sayang

Tak pernah malas
Persoalan yang datang hantam kita
Dan kita tak mungkin untuk menghindar
Semuanya sudah suratan

Oh matahari
Masih setia
Menyinari rumah kita

Tak kan berhenti
Tak kan berhenti
Menghangati hati kita

Sampai tanah ini inginkan kita kembali
Sampai kejenuhan mampu merobek robek hati ini

Sebentar saja
Aku pergi meninggalkan
Membelah langit punguti bintang
Untuk kita jadikan hiasan

Tenang tenang tenanglah sayang
Semuanya sudah suratan
Tenang tenang seperti karang
Bintang bintang jadikan hiasan

Berlomba kita dengan sang waktu
Jenuhkah kita jawab sang waktu
Bangkitlah kita tunggu sang waktu
Tenanglah kita menjawab waktu

Seperti karang
Tenanglah
Seperti karang
Tenanglah

C1H3uL4176. 080907. 2.07.

Self Motivation

Don, kamu harus selalu ingat ini…

Wanita yang baik-baik, untuk laki-laki yang baik-baik!!

Memangnya kamu merasa sudah cukup baik?
Kamu lupa ya kalau selama ini kamu sudah begitu jarang menyapa-Nya?
Wajar aja Dia nggak nolongin kamu!!
Intropeksi diri dulu sana…!!

NB : Sedang menyemangati diri ceritanya, gara-gara 1 kasus yang cukup bikin saya ‘malu’ sebetulnya ^.^

C1h3ul4176. 060907. 2.24. Dalam keadaan kepala pusing karena hanya tidur 1 jam dalam 1 hari.

6 Pernikahan

Bulan lalu, sebagian waktu saya, terutama weekend, habis untuk menghadiri pernikahan 6 orang teman. Sebagian besar, 5 dari 6 acara tersebut, berlangsung di luar kota Bandung. Dan saya menghadiri 5 acara tersebut sendirian. Perjalanan yang melelahkan sebetulnya, karena dalam beberapa hari itu, saya melakukan perjalanan beberapa rute. Rute pertama, Bandung – Ciracas (JakTim) – Cengkareng (JakBar) – Tangerang (Batal) – Bandung. Rute kedua, Bandung – Sukabumi – Bandung. Dan rute terakhir, Bandung – Garut – Sumadra (masih sekitar 2 jam dari Garut).

Berawal dari undangan-undangan yang pernah saya tuliskan di postingan tulisan sebelumnya. Saya kemudian menjadwalkan untuk menghadiri seluruh acara tersebut. Satu hal saja yang paling saya sesalkan, ketika menghadiri acara-acara tersebut tidak ada dokumentasi sama sekali yang saya pegang.

4 Agustus 2007 : Menginjakkan Kaki Lagi di Jakarta
Hari bahagia untuk 3 orang teman saya. Awan, sahabat saya saat kuliah, menikah di Ciracas. Tidak jauh dari terminal bus antar kota Kampung Rambutan. Mumtahah Annisa, menikah di Cengkareng. Terakhir, Fitri (Fievie), menikah di Tangerang. Rencananya, saya berangkat dari Bandung pukul 7 pagi, akan tetapi karena ada gangguan, saya baru berangkat dari kost-an saya pukul 9 pagi. Saya tidak naik bus di terminal Leuwi Panjang, tapi naik dari Cileunyi, lebih murah beberapa ribu rupiah. Dan kalau dihitung-hitung lagi, lama perjalanan Dipati Ukur – Leuwi Panjang + ngetem di Leuwi Panjang, tidak terlalu berbeda dengan perjalanan Leuwi Panjang – Cileunyi menggunakan DAMRI. Selain itu bus jurusan Garut – Lebak Bulus yang saya gunakan juga tidak ngetem.

Tujuan pertama saya adalah Ciracas. Baru berangkat dari Cileunyi pukul 10, dan perjalanan berjalan lancar. Gerbang Tol Pondok Gede yang biasanya macet, hari itu terasa lengang. Begitu juga dari Pondok Gede ke Pasar Rebo, hampir-hampir tidak ada hambatan, kecuali di beberapa titik seperti UKI yang memang jalurnya sempit. Menginjakkan kaki di Pasar Rebo jam setengah dua belas. Seperti biasa, saya selalu paranoid setiap berada di Jakarta. Itulah salah satu alasan saya tidak betah di Jakarta. Selalu saja terasa menegangkan, tidak santai, apalagi di wilayah-wilayah terminal di Jakarta.

Dari Pasar Rebo, menggunakan angkot ke arah Bogor. Saya salah naik angkot, beruntung orang-orang di angkot tersebut ramah dan akhirnya memberi tahu saya angkot yang saya gunakan. Pas adzan dzuhur saya tiba di tempat resepsi pernikahan Awan. Hmm, sempat bingung karena tidak satu pun yang saya kenal, sebelum tiba-tiba adik perempuan Awan menegur saya.
Donny ya?
Eh, iya…
Sendirian aja?
Iya, tapi nanti ada Deden mau ke sini, yang lain pada sibuk soalnya
Tanya-tanya kabar, dan mengobrol sebentar, sebelum akhirnya saya menuju meja prasmanan. Lapar soalnya. Sekaligus mengistirahatkan badan. Heran juga, dalam 2 kali pertemuan saya dengan adik perempuan Awan, tidak sekalipun pernah mengobrol, tapi hari itu begitu akrab. Sambil makan, lihat-lihat situasi dan kondisi (background : lagu jawa). Hmm, tidak satu pun tamu yang saya kenal. Sementara Deden mengabarkan baru tiba di Karawang, menjemput pacarnya. Doh!

Setelah istirahat sekitar 20 menit, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Pamitan kepada kedua mempelai, tapi saya tidak melihat adiknya Awan untuk pamitan. Kemudian, saya menuju masjid terdekat, melakukan shalat Jama-Qashar (Dzuhur – Ashar).

Tujuan selanjutnya, Cengkareng. Whew! Ciracas – Cengkareng itu dari ujung ke ujung, alias bersebrangan. Dari Kp. Rambutan, naik bus jurusan Kalideres. Bukan perjalanan yang menyenangkan, mengingat perjalanan Cileunyi – Pasar Rebo masih jauh lebih cepat dari pada Kp. Rambutan – Cengkareng. Sempat nostalgia sebentar, mengingat-ingat kejadian ketika bekerja di Tebet, sebelum akhirnya tertidur selama beberapa puluh menit. Terbangun di Jalan Daan Mogot. Baru saat itu saya tahu jalan tersebut. Jalan yang teramat panjang, terasa neverending. Tiba di Ramayana Cengkareng pukul 15. Masih harus naik satu kali lagi. Sialnya, saya kebagian angkot yang ngetem cukup lama juga. Ditambah kemacetan sepanjang jalan, sempurna sekali bagi siapapun yang ingin tahu rasanya stress di Kota Jakarta.

Tiba di tempat pernikahan Mumtahah tepat ashar. Datang disambut oleh Chusnia, dan langsung menemui kedua mempelai untuk langsung meminta ijin pulang. Namun, saya ditahan agar tidak cepat-cepat. Setelah dipikir-pikir, benar juga, saya perlu istirahat sebentar. Sambil menikmati jeruk dan segelas air, saya duduk sebentar sambil melihat-lihat situasi dan kondisi. Tidak ada yang saya kenal juga. Akan tetapi, di sana saya dikenalkan dengan orang-orang dari komunitas Kota Santri, sebagian besar datang dari Bandung. Sempat diajak untuk pulang bareng, tapi saya menolak. Melakukan perjalanan, apalagi menumpang, dengan orang-orang yang baru dikenal, tidak membuat saya merasa nyaman. Lebih baik pulang sendirian saja.

Sempat terjadi dilema antara memilih ke Tangerang dulu atau tidak. Saat itu sudah cukup sore, pukul 16. Sementara itu, saya harus berada di Bandung lagi Isya, untuk melakukan Briefing panitia pernikahan teman saya yang lain keesokan harinya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk tidak menghadiri acara pernikahan Fitri. Lagipula, sore hari biasanya acara sudah selesai. Baru 2 hari kemudian saya menelpon Fitri dan mengucapkan selamat sekaligus meminta maaf karena tidak jadi datang.

Setelah mantap, saya memutuskan pulang ke Bandung. Dari Cengkareng naik bus jurusan Kp. Rambutan, berhenti di UKI untuk menunggu bus jurusan Bandung. Dapat bus AC – Ekonomi yang bertarif 30 ribu. Tidak terlalu nyaman, mengingat asap rokok bertebaran di mana-mana. Sempat tertidur sebentar, tapi terbangun ketika memasuki Tol Cipularang. Jalan Tol Cipularang yang bergelombang tidak pernah membuat saya nyaman untuk tidur. Turun di perempatan Pasir Koja – Soekarno Hatta, untuk selanjutnya menuju Sukaluyu menggunakan angkot Caringin – Dago. Saya tiba di gedung Ad-Da’wah pukul 21, terlambat memang, untungnya teman-teman saya masih berada di sana, bahkan ternyata acara baru saja akan dimulai.

Setelah melakukan briefing sekitar 1 jam, saya pulang dengan badan yang terasa lemah, meskipun secara keseluruhan perjalanan tersebut juga menyenangkan buat saya. Belum tentu besok-besok lagi saya bisa menghadiri pernikahan lintas wilayah semacam itu. Meskipun ternyata setelah sampai kostan tidak bisa langsung tidur, tapi hari itu, saya tidur tanpa bermimpi sama sekali.

5 Agustus 2007 : Pernikahan 2 Ketua
Hari bahagia untuk 2 orang teman saya di SSG. Taryadi dan Wulan Yulianti. Jika biasanya dalam sebuah organisasi ‘affair’ yang terjadi melibatkan Ketua dan Sekretaris, pada pernikahan kali ini melibatkan 2 orang ketua. Taryadi selaku Ketua SSG Wilayah Cibeunying dan Wulan selaku ketua keputrian. Seperti halnya pernikahan para aktivis dakwah lainnya, mereka menikah tanpa melalui proses pacaran. Pernikahan Taryadi juga menegaskan sebuah tradisi di organisasi tersebut, siapapun yang jadi ketua, tidak lama kemudian akan menikah. Apa iya saya harus jadi ketua Wilayah dulu baru bisa nikah ya? Haha.

Dalam kepanitiaan, sebetulnya saya ditugasi untuk memisah tamu pria dan wanita. Bukan tugas yang mudah, mengingat tradisi yang sudah melekat di masyarakat tidak mengenal hal-hal semacam itu. Agak mengherankan untuk bangsa yang mengklaim dirinya memiliki Umat Islam terbesar di seluruh dunia. Namun, jika kita pelajari dari sejarah masuknya Islam ke Indonesia, kita bisa memahami mengapa itu bisa terjadi. Beruntung saya mendapat bantuan dari panitia yang berasal dari pihak keluarga. Untungnya, sebagian besar tamu yang hadir juga nampaknya sudah mulai ‘terbiasa’ dengan pernikahan semacam ini yang belakangan sudah tidak terlalu asing.

Sebetulnya saya paling malas jika disuruh menggunakan pakaian adat, kesannya ribet. Ditambah lagi saya paling tidak suka dengan situasi yang formal. Akan tetapi, hari itu, saya mengalah dan merelakan diri untuk memakai pakaian adat sunda. Untungnya tidak ada acara make up segala.

Acara berakhir tepat pukul 14, tapi bagi saya aktivitas hari itu tidak berakhir pada jam tersebut, karena saya harus melakukan kewajiban saya. Bekerja. Agak malas-malas sebetulnya, tapi akhirnya memaksakan diri juga, mengingat hari sebelumnya saya sudah ijin tidak bekerja. Dan hari itu, saya baru sampai kostan lagi pukul 12 malam.

12 Agustus 2007 : Dunia memang sempit
Awalnya, dalam jadwal saya, ada 2 orang teman yang akan menikah pada hari ini. Dini di Sukabumi, dan Ai di Garut. Hal tersebut menimbulkan dilema pada diri saya untuk memilih salah satu, karena tidak mungkin untuk menghadiri kedua pernikahan tersebut. Beruntung, beberapa hari sebelumnya, Ai mengirim kabar bahwa pernikahannya diundur menjadi tanggal 27 Agustus 2007, karena alasan tertentu. Betapa leganya hati saya, karena itu berarti saya bisa menghadiri pernikahan keduanya.

Menjadwalkan untuk berangkat ke Sukabumi pukul 7 pagi, namun saya malah baru berangkat dari Bandung pukul 10 pagi. Mengetahui bahwa saya akan ke menghadiri pernikahan Dini, Adi menitip hadiah. Saya kira hadiah yang harus saya bawa itu akan masuk tas yang saya bawa, ternyata…ya ampun, saya harus menenteng hadiah itu di kantong plastik, karena begitu besar. Padahal, saya paling benci jika melakukan perjalanan, tangan saya menenteng sesuatu, payung, kantong plastik, apa pun itu. Namun, karena saya sudah menyanggupi, dan konon hadiah tersebut merupakan hadiah perpisahan, akhirnya saya bawa juga.

Dalam jadwal undangan, acara tersebut akan berakhir pukul 14 siang, karena menyewa gedung. Semantara, pada jam itu, saya masih berada di Cianjur. “Wah, telat!” pikir saya. Dan saya baru menyadari betapa lambatnya bus yang saya gunakan. Dalam obrolan di SMS, saya tahu bahwa Dini juga sempat menunggu kehadiran saya, namun pada akhirnya, saya disarankan untuk datang ke rumahnya saja.

Tepat pukul 15 saya tiba di Terminal Sukabumi. Seperti biasa, mencari masjid terdekat untuk melakukan shalat Jama-Qashar, sebelum akhirnya meluncur ke rumahnya Dini. Tiba di rumah Dini tepat adzan ashar. Baru kali itu saya melihat suaminya Dini. Tampak jauh lebih tua, karena memang usia yang terpaut cukup jauh, 18 tahun. Sementara Dini sendiri baru lulus SMA. Cukup lama mengobrol dengan mereka berdua, sambil makan tentunya, dan menikmati suguhan makanan ringan khas Jawa Barat yang tidak asing lagi bagi saya. Obrolan berlangsung santai, tapi sayangnya kakak perempuan Dini, sedang tidur. Sempat juga mengobrol dengan orangtua Dini, meski sebentar sekali. Akan tetapi, itu lah hikmah dari keterlambatan tersebut. Situasi yang tidak formal membuat suasana lebih cair.

Tepat pukul 16, saya memutuskan untuk pulang, malahan saya dibekali berbagai jenis makanan ringan. Rezeki. Bentuk hikmah lainnya dari keterlambatan. Hehe. Setelah pamitan dan berterima kasih serta meminta maaf atas keterlambatan yang terjadi, saya meluncur ke terminal Sukabumi untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Bandung. Padahal sebetulnya saya ingin sekali pulang ke Bogor, sayangnya saya masih ada kewajiban lainnya.

Di Bus, saya bertemu dengan seorang teman yang kebetulan sedang bekerja di Sukabumi. Setelah melihat saya, dia pindah dan duduk sebangku dengan saya. Mengobrol banyak hal. Salut atas niatnya datang ke Bandung hanya untuk menghadiri Liqa mingguan yang biasa dia ikuti. Membuat saya cukup malu sebetulnya. Setelah menceritakan tujuan saya ke Sukabumi, ternyata…
Tadi siapa nama perempuan yang menikah itu?
Dini
Yang baru lulus SMA itu bukan?
Iya. Kok tahu…?
Haha. Tadi saya tuh yang ngisi panggungnya bersama tim nasyid saya
Oh ya? Sayangnya saya terlambat, jadi nggak lihat…
Dunia memang sempit ya?

Setelah itu, selama perjalanan kami banyak berdiskusi dan mengobrol. Soal proses khitbah dia, soal pekerjaan dia, soal fenomena pernikahan sekarang…meskipun yang lebih banyak bicara memang dia, karena saya sendiri sudah cukup lelah sebetulnya. Dan hari itu masih cukup panjang buat saya, karena tengah malam, giliran saya untuk jaga warnet. Pyuuhh.

27 Agustus 2007 : Special Date, But Wasn’t For Me
Sempat terjadi kebingungan beberapa hari menjelang tanggal tersebut. Tidak ada kabar yang pasti dari Ai soal pernikahan tersebut, sehingga tidak ada persiapan khusus untuk menghadiri acara tersebut. Bahkan saya sempat memikirkan untuk tidak menghadirinya. SMS yang saya kirim tidak masuk dan tidak dibalas. Untungnya, pagi itu, Aulia mengirim SMS untuk mengabari bahwa acara tersebut jadi.

Terkesan mendadak bagi saya, meskipun akhirnya saya berangkat juga, meskipun dengan keadaan kantong yang pas-pasan. Kebetulan hari itu, pekerjaan di Dinas Kependudukan Bandung belum resmi di mulai karena data-data yang dibutuhkan belum sampai. Inginnya saya berangkat bareng-bareng dengan anak-anak Birama, tapi ternyata ada yang sudah berangkat duluan, sementara Aulia dan Milah juga kemungkinannya telat. Akhirnya, lagi-lagi, saya melakukan perjalanan sendirian.

Berangkat dari kostan pukul 10 pagi, naik bus Dipati Ukur – Jatinangor, dan turun di Cileunyi untuk selanjutnya naik bus Primajasa jurusan Lebak Bulus – Garut. Salah satu alasan saya naik bus AC sebetulnya karena ingin nyaman saja dan terhindar dari gangguan asap rokok. Tidak tahu pasti arah yang harus saya tuju, sepanjang jalan SMS-an dengan Riyantini yang sudah lebih dulu sampai. Berdasarkan ceritanya, dari terminal Garut masih sekitar 3 jam lagi. Itu pun karena kendaraan Elf yang digunakan ngetem selama 1 jam. Walah!!

Sempat terjadi keributan antara saya dengan seorang pedagang di bus tersebut. Berawal ketika bus tersebut berhenti untuk melakukan pengecekan penumpang, naik beberapa pedagang menawarkan barang dagangannya.
Seribu…seribu…Tahu, Gehu“. Kebetulan perut saya juga belum kemasukan makanan apa pun sejak pagi. Sempat ragu untuk membeli makanan tersebut, namun setelah beberapa menit, akhirnya saya memutuskan untuk membeli.
Kang, Satu…“, sambil menyodorkan uang seribu rupiah
Nih, kurang seribu lagi…“, sambil menyodorkan makanan yang saya minta
Lho, katanya seribu?” protes saya
Dua ribu jang, tanya aja semua yang dagang di sini!
Terus tadi yang disebut seribuan itu apa…?” tanya saya
Kalo yang seribu mah bacang, jang…
Ya udah, saya ambil bacang aja…
Eh, ini juga dua ribu…
Terus apa atuh yang seribuan teh..?
Nggak ada, jang…
Kumaha sih? Teu jadi ah…!!” sambil merebut uang yang sudah ditangannya
Selanjutnya, yang saya dengar adalah gerutuan dan usaha mempermalukan saya. Perlakuan biasa dari pedagang yang putus asa, tidak terlalu mengganggu saya, saya malah menertawakan dia sebetulnya. Saya tidak bermaksud untuk dzalim kepada siapa pun, tidak untuk merugikan siapa pun…akan tetapi, saya juga seorang pedagang, dan sebagai seorang pedagang, bagi saya perbuatan tersebut bukanlah perbuatan yang terpuji. Bahkan, lebih sadis lagi, bagi saya hal semacam itu adalah sebuah pengkhianatan terhadap profesi pedagang. Tidak akan menjadi masalah buat saya, dan saya akan tetap membelinya, kalau sejak awal pedagang tersebut menyebut harga dua ribu rupiah. Akan tetapi, yang terjadi adalah dia meneriakan angka seribu rupiah, sementara tidak satupun barang dagangan yang berharga seribu rupiah. Ini penipuan namanya, dimana barakahnya dengan dagang seperti itu? Bisa saja saya memberi lagi seribu rupiah, tapi bukankah dengan begitu saya membantu dia untuk menikmati harta haram?

Tiba di terminal Garut tidak lama setelah adzan dzuhur berakhir. Seperti biasa, cari masjid untuk shalat Jama-Qashar, agar perjalanan lebih tenang. Kebiasaan saya, setiap tiba di daerah yang tidak atau kurang dikenal adalah mencari masjid atau membeli minuman di warung terdekat. Tujuannya untuk memetakan dan mempelajari situasi dan lingkungan dimana saya berada, dan menghindari kesan sebagai pendatang di tempat itu. Untuk menghindari orang-orang yang memiliki tujuan jahat tentunya, tapi hal tersebut hanya berlaku di daerah Jawa Barat, karena saya bisa lebih leluasa menggunakan bahasa Sunda.

Belajar dari cerita Riyantini, saya mempelajari lalu lintas kendaraan di sekitar Terminal Guntur, Garut. Tujuannya adalah mencari jalur dimana kendaraan yang harus saya naiki, dengan begitu, saya tidak harus berlama-lama ikutan ngetem, karena saya bisa menunggu di tempat lain. Meskipun berjalan cukup jauh, sekitar 500 meter, tapi lebih saya sukai ketibang ngetem berpuluh-puluh menit di terminal. Dugaan saya ternyata benar, meskipun di beberapa kilometer pertama kendaraan yang saya gunakan berjalan sangat lambat karena mencari penumpang, tapi setidaknya kendaraan tersebut tidak diam. Setelah itu, semuanya berjalan lancar, meskipun saya masih belum tahu pasti kemana saya menuju.

Meskipun dalam situasi yang serba membingungkan dan waspada karena takut tempat tujuan saya terlewat, saya benar-benar menikmati perjalanan tersebut. Lansekap dan pemandangan daerah yang saya lalui benar-benar luar biasa, selain itu jalan yang saya lalui juga tidak terlalu berkelok-kelok. Segalanya terasa lebih luas. Jenis daerah yang beragam menjadikan perjalanan tersebut tidak membosankan bagi saya. Awalnya persawahan, lalu masuk perkebunan, dan berakhir di tengah-tengah perkebunan teh. Yup, karena rumah Ai tepat di tengah-tengah kebun teh. Jika kita terbiasa di kota yang terasa serba sempit, berada di tempat itu akan terasa serba lapang. Itulah yang sangat saya sukai. Sayangnya, tidak satupun dokumentasi yang bisa dijadikan bukti. Akan tetapi, dari perjalanan tersebut, saya bisa menyimpulkan bahwa sepertinya daerah Jawa Barat bagian selatan akan menjadi tujuan yang menarik untuk melakukan perjalanan.

Seperti juga pada pernikahan Dini, saya datang terlambat, tepat adzan ashar. Tuan rumah sedang membereskan seluruh peralatan yang digunakan. Meskipun masih ada beberapa tamu dan keluarga dari pihak suami Ai, namun saya lah satu-satunya ‘orang lain’ di tempat itu. Sempat merasa kikuk, begitu juga tuan rumah yang berkali-kali meminta maaf karena merasa ‘nyuekin’ saya. Saya tidak pernah merasa dicuekin sebetulnya. Bagi saya, yang penting bisa sampai tujuan dan tiba dengan selamat. Perkara bagaimana sambutan pihak keluarga terhadap saya, benar-benar tidak saya pedulikan. Namun, dari keterlambatan kali ini pun, saya mendapatkan hikmah lainnya.

Dengan Ai sendiri saya malah tidak sempat mengobrol, tapi saya banyak mengobrol dengan beberapa orang dari pihak keluarga Ai. Bahkan sambil makan, santai sekali. Lagipula, kendaraan yang menuju ke Garut juga sangat jarang sekali. Sebetulnya saya masih ingin menikmati pemandangan di sekitar tempat tersebut, namun waktu saya tidak banyak. Ditambah lagi, kendaraan yang datang tidak lama setelah selesai makan, dicurigai sebagai kendaraan terakhir menuju Garut. Waduh!

Terus terang saja, perjalanan terakhir ini merupakan perjalanan yang paling menarik buat saya. Bahkan, tempat tersebut selalu terbayang-bayang sampai sekarang.

Sandal Jepit
Apa hubungannya 6 pernikahan tersebut dengan sendal jepit? Terus terang saja, semakin hari, kaki saya semakin tidak betah jika menggunakan sepatu. Dengan tujuan agar leluasa dan agar kaki tidak terlalu lelah, maka dalam seluruh perjalanan menghadiri pernikahan di luar Bandung, saya menggunakan sandal jepit. Sepatu tetap saya bawa, tetapi saya gunakan hanya saat tiba di acara pernikahan tersebut. Biasanya saya mencari masjid untuk mengganti sandal jepit dengan sepatu. Setelah selesai, saya pakai sandal jepit lagi. Andai saja tidak ada yang keberatan, saya akan tetap menggunakan sandal jepit itu. Akan tetapi, demi kesopanan, entah kesopanan siapa, saya ‘terpaksa’ memakai sepatu.

Dengan cara itu juga saya tidak terlalu khawatir orang-orang yang berfikiran jahat akan ‘memperhatikan’ saya selama perjalanan, orang cuma pake sandal jepit kok. Hahaha.

C1H3UL4176. 100907. 5.20

Page 1 of 2

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén