Nanti akan ada masa mungkin… Dimana tak hanya berdoa,, tapi sholat melalui media sosial… >,< jadi mungkin kayak gini "ayo sholat yok, saya yang ngimami dari malang,siapa mau jd makmum"
Saya sependapat. Doa itu komunikasi yg sangat personal buat seorang umat kepada Rabb-nya. Dan tidak selayaknya diucapkan keras2, & di dinding social media. Nabi pun mengajarkan untuk tidak mengucapkan doa keras2. Apalagi di tulis bagai pengumuman di Media massa. Yang jelas doa di Social Media, jauh dari adab berdoa yg diajarkan oleh Rasullulah SWT.
BTW silakan kang Donih kasih komen di status saya di Facebook tentang doa di social media ini.. :))
hehehe..jadi berfikir ^^
tapi kalau mengajak teman2 berdoa gimana ya
semoga hujan yang dirunkan ini akan penuh barokah (misalnya)
ntar yg comment atau yg baca ikut meng-amini dalam hatinya…
kan bagus jadinya..
ya mmg, semua tergantung niat
lewat media sosial tp kalau niatnya baik, kenapa tidak
segala amal harus..”luruskan niat”
hanya kalau di media sosial mmg org2 banyak tahu
di situlah kt belajar untuk memperbaiki tiap niatan
kalau shalat mmg sdh ada tata caranya , kita melihat bagaimana Rasulullah shalat…itu namanya mengada-ada dalam hal ibadah
kalau doa…
terserah masing-masing mengambil pendapat yang mana
Seolah Tuhan perlu cek FB/Twitter buat tahu doa makhluknya.
Kalau emang demikian, we’re in trouble, soalnya the last time I checked, Tuhan ga punya akun FB! Arya Nasoetion´s last [type] ..1226: "Liburan" Empat Hari ke Bandung
ya ya ya.. saya juga risih dengan perilatu tweeps yang suka berlebihan, menjadikan bahasa di twitter sebagai bahasa sehari2, nulis apa-apa diberi hashtag, diberi tanda mention.. seperti merasa paling gimana gitu..
apalagi kalo sudah menyangkut pertengkatan, berdoa yang khusus seperti yang dijelaskan di artikel ini, ndak layak diucapkan di twitter, juga jejaring sosial yang lain..
Kalau saya sih melihat orang berdo’a di social media tidak lain cuma sebuah ekspresi dari apa yang sedang dia rasakan saat itu. Sama seperti halnya seseorang yang bikin status meratap-ratap memanggil ibu atau ayahnya karena kangen, padahal ayah-ibunya gak punya akun Facebook/ Twitter. Menurut kita yang lihat, buat apa coba? Perbuatan yang sia-sia saja, orangtuanya gak mungkin baca. Tapi buat si pembuat status, dia lega, karena sudah menuangkan isi hatinya di media yang ia rasa nyaman. Jadi kesimpulannya memang bukan mau memention ybs dari socmed, tapi hanya bentuk ekspresi spontan saja.
Bagi saya, tiap orang punya motivasi dan sudut pandang sendiri-sendiri dalam bersosial media. Mungkin Kang Donny menganggap twitter sebagai warung kopi, tapi orang lain belum tentu demikian. Mungkin ada yang menganggap socmed itu tempat sampah yang bebas-bebas saja dibuangi apa saja, dinding buat ‘ngegraffiti’ menulis apapun sekehendak hati yang penting puas, ada yang buat sarana kampanye, dakwah, pencitraan, atau bahkan diary. Dalam diary, saya yakin ada orang yang suka menulis-nulis do’a juga, bikin surat sama Allah. Padahal tak ada tuntunannya berdo’a cara dengan demikian. Jadi saya simpulkan itu adalah ekspresi.
Saya gak terlalu ambil pusing dengan orang-orang yang suka berdo’a di socmed. Gak berani menyatakan hal yang sia-sia juga, gak berani mencap dia riya juga… Biarlah itu menjadi urusan Allah. Saya hanya bisa melihat kalau itu jauh lebih baik daripada status-status nyinyir, menebar permusuhan, provokasi negatif dan sejenisnya.
Jika di kerumunan orang di dunia nyata sangat tak lazim sekali ada orang tiba-tiba datang lalu berdo’a menyayat hati (seperti yang Kang Donny tulis di atas). Sama halnya dengan super anehnya seseorang yang tiba-tiba ngakak guling-guling kejengkang sampe masuk selokan, atau joged pisang goyang pompom nari hula-hula di atas onta, atau menendang orang sampai ke Timbuktu, atau tiba-tiba teriak “semongkoooww!” depan Farah Quinn… Tapi di dunia maya kan sah-sah saja. Jadi, berdo’a di socmed juga saya anggap ‘wajar’. Sewajar ekspresi lainnya.
Tiap orang punya cara sendiri-sendiri dalam mengekspresikan isi hatinya. Yang pasti, siapapun yang melakukan aktivitas apapun di socmed harus siap segala macam konsekuensi. Yang berdo’a di socmed, silakan saja. Apapun motivasinya. Yang tahu persis kan Allah. Jadi biar saja Dia yang memberi ganjaran. Tapi siap-siap aja dapat ejekan, sindiran atau bahkan jempol dan amiin dari sesama manusia ;)
Oh, iya. Sekalian mau tanya nih, jika berdo’a di socmed dianggap sesuatu hal yang ‘terlarang’ karena adab berdo’a tak terpenuhi, bagaimana dengan berdo’a di media massa seperti televisi, radio, dll? Saya rasa itu lebih tak terpenuhi lagi. Diucapkan dengan lantang, nangisnya juga entah betulan karena khusyu atau karena diambil kamera…. ;)
Kalau doa yang personal niatnya cuma buat pamer atau bisa jadi orang itu pengen curhat di fb tapi mentionnya kepada Allah malah bisa jadi syirik. Karena doa itu pada hakikatnya seolah-olah Allah itu ada di hadapannya. Tapi kalau doa yang umum seperti grup-grup d fb itu yang minta diaminkan saya kurang paham kang. Nih cuma sekadar tukar pendapat kang.
November 14th, 2011 at 17:36
November 14th, 2011 at 18:17
November 14th, 2011 at 18:19
November 14th, 2011 at 18:41
BTW silakan kang Donih kasih komen di status saya di Facebook tentang doa di social media ini.. :))
November 14th, 2011 at 18:42
tapi kalau mengajak teman2 berdoa gimana ya
semoga hujan yang dirunkan ini akan penuh barokah (misalnya)
ntar yg comment atau yg baca ikut meng-amini dalam hatinya…
kan bagus jadinya..
ya mmg, semua tergantung niat
lewat media sosial tp kalau niatnya baik, kenapa tidak
segala amal harus..”luruskan niat”
hanya kalau di media sosial mmg org2 banyak tahu
di situlah kt belajar untuk memperbaiki tiap niatan
kalau shalat mmg sdh ada tata caranya , kita melihat bagaimana Rasulullah shalat…itu namanya mengada-ada dalam hal ibadah
kalau doa…
terserah masing-masing mengambil pendapat yang mana
jangan lupa
luruskan niat!!!!! ^^
November 14th, 2011 at 21:50
November 14th, 2011 at 22:09
Seolah Tuhan perlu cek FB/Twitter buat tahu doa makhluknya.
Kalau emang demikian, we’re in trouble, soalnya the last time I checked, Tuhan ga punya akun FB!
Arya Nasoetion´s last [type] ..1226: "Liburan" Empat Hari ke Bandung
November 14th, 2011 at 23:06
November 15th, 2011 at 07:01
apalagi kalo sudah menyangkut pertengkatan, berdoa yang khusus seperti yang dijelaskan di artikel ini, ndak layak diucapkan di twitter, juga jejaring sosial yang lain..
November 15th, 2011 at 20:11
November 16th, 2011 at 01:55
Bagi saya, tiap orang punya motivasi dan sudut pandang sendiri-sendiri dalam bersosial media. Mungkin Kang Donny menganggap twitter sebagai warung kopi, tapi orang lain belum tentu demikian. Mungkin ada yang menganggap socmed itu tempat sampah yang bebas-bebas saja dibuangi apa saja, dinding buat ‘ngegraffiti’ menulis apapun sekehendak hati yang penting puas, ada yang buat sarana kampanye, dakwah, pencitraan, atau bahkan diary. Dalam diary, saya yakin ada orang yang suka menulis-nulis do’a juga, bikin surat sama Allah. Padahal tak ada tuntunannya berdo’a cara dengan demikian. Jadi saya simpulkan itu adalah ekspresi.
Saya gak terlalu ambil pusing dengan orang-orang yang suka berdo’a di socmed. Gak berani menyatakan hal yang sia-sia juga, gak berani mencap dia riya juga… Biarlah itu menjadi urusan Allah. Saya hanya bisa melihat kalau itu jauh lebih baik daripada status-status nyinyir, menebar permusuhan, provokasi negatif dan sejenisnya.
Jika di kerumunan orang di dunia nyata sangat tak lazim sekali ada orang tiba-tiba datang lalu berdo’a menyayat hati (seperti yang Kang Donny tulis di atas). Sama halnya dengan super anehnya seseorang yang tiba-tiba ngakak guling-guling kejengkang sampe masuk selokan, atau joged pisang goyang pompom nari hula-hula di atas onta, atau menendang orang sampai ke Timbuktu, atau tiba-tiba teriak “semongkoooww!” depan Farah Quinn… Tapi di dunia maya kan sah-sah saja. Jadi, berdo’a di socmed juga saya anggap ‘wajar’. Sewajar ekspresi lainnya.
Tiap orang punya cara sendiri-sendiri dalam mengekspresikan isi hatinya. Yang pasti, siapapun yang melakukan aktivitas apapun di socmed harus siap segala macam konsekuensi. Yang berdo’a di socmed, silakan saja. Apapun motivasinya. Yang tahu persis kan Allah. Jadi biar saja Dia yang memberi ganjaran. Tapi siap-siap aja dapat ejekan, sindiran atau bahkan jempol dan amiin dari sesama manusia ;)
Oh, iya. Sekalian mau tanya nih, jika berdo’a di socmed dianggap sesuatu hal yang ‘terlarang’ karena adab berdo’a tak terpenuhi, bagaimana dengan berdo’a di media massa seperti televisi, radio, dll? Saya rasa itu lebih tak terpenuhi lagi. Diucapkan dengan lantang, nangisnya juga entah betulan karena khusyu atau karena diambil kamera…. ;)
December 13th, 2011 at 12:29