Walikota. Kabarnya kata tersebut merupakan gabungan dari kata “wali” dan “kota”. Beberapa saat lalu, dan bahkan sampai hari ini, masih saja terjadi perdebatan soal makna wali, seolah-olah kata tersebut dikreasi oleh alay-alay zaman kiwari.

Kata wali sendiri yang berasal dari bahasa arab, umumnya diartikan sebagai “teman setia”, atau “sekutu”. Akan tetapi, kok ya rasanya kurang pas kalau Ridwan Kamil disebut “Teman Setia Kota Bandung” atau “Sekutu Kota Bandung”, seolah-olah warga Kota Bandung akan bermusuhan dengan Ridwan Kamil di kemudian hari.

Makna lainnya yang disebut-sebut adalah “pelindung”. Masih oke lah kalau Bima Arya disebut “Pelindung Kota” Bogor. Walaupun tidak jelas juga beliau ini pelindung dari apa? Barangkali dari kezaliman sopir angkot yang ngetem semaunya. Maklum, di Bogor sopir angkot itu raja jalanan yang bisa berkehendak semaunya.

Perdebatan mulai seru saat wali diartikan sebagai “pemimpin” yang tentu saja bernuansa politis. Biasa lah, kalau sudah dukung-dukungan di dunia politik, orang-orang cenderung jadi kaku seperti kanebo kering dan sensitif seperti testpack.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang memang besar (tebal) itu, jika dibandingkan dengan komik-komik X-Men, walikota diartikan sebagai “kepala kota madya; kepala wilayah kota administratif“. Lho, bukan pemimpin rupanya? Cuma “kepala”, badan dan buntutnya ya rakyat-rakyat seperti kita ini.

Konon, dahulu kala, pada zaman penjajahan Belanda dan zaman Republik Indonesia Serikat, pernah digunakan frasa “wali negara”, yang diartikan “kepala negara dari negara bagian“. Beda lagi dengan “wali negeri”, yang diartikan 1) kepala negeri; 2) gubernur jenderal. Begitu menurut KBBI daring.

Ah, masih tidak ada kata pemimpin disebut-sebut. Kepala kota, kepala wilayah, kepala negara, kepala negeri atau gubernur jenderal itu rupanya masih belum juga disebut pemimpin. Mungkin mereka-mereka itu cuma sebatas “teman setia” saja, tidak lebih. Korban friendzone rupanya.