Jangan Terlalu Cepat Menyimpulkan

Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa teman berkumpul di Daarut Tauhiid untuk mengadakan rapat persiapan suatu kegiatan sosial. Setelah melakukan shalat ashar, ustadz Komar, salah satu ustadz dan pimipinan di Daarut Tauhiid, berdiri di depan jama’ah dan menuturkan sebuah cerita hikmah. Dibandingkan AA Gym, sebetulnya saya lebih menyukai cara bertutur ustadz Komar dalam bercerita. Setelah sedikit bercerita tentang mulai bergeliatnya kembali Daarut Tauhiid setelah setahun terakhir ‘istirahat’, baru kemudian beliau bercerita. Jika ada yang sudah membaca atau mendengar cerita ini, ya…nikmati saja lah 😀

Alkisah, ada seorang petani yang memiliki seekor kuda yang sangat bagus. Saking bagusnya, petani tersebut sangat menyayangi kuda tersebut dan menganggapnya sebagai sahabat. Tetangga-tetangganya banyak yang menginginkannya dan mencoba membujuk sang petani untuk menjual kudanya. Namun, dia selalu menolak tawaran tersebut, berapa pun nilainya. “Saya tidak mungkin menjual sahabat saya“, katanya. Bahkan, tawaran seorang raja pun ditolaknya.

Suatu hari, petani tersebut mendapati kuda tersebut tidak ada di kandangnya. Mengetahui keadaan tersebut, tetangga-tetangganya mencemoohnya. “Tuh, kan…rasain, akhirnya kudanya hilang juga. Musibah tuh. Coba kalau dulu dijual saja.” Dan kalimat-kalimat sejenisnya. Namun, petani ini dengan tenangnya menjawab, “Ini bukan musibah. Yang terjadi sekarang, kuda saya sedang tidak ada di kandangnya. Itu saja. Titik.

Benar saja. Seminggu kemudian, kuda tersebut datang kembali dengan segerombolan kuda lain yang sama bagusnya. Tetangga-tetangganya kembali berbicara, “wah, kamu benar, ternyata kamu malah mendapatkan anugerah yang lebih banyak.” Lagi-lagi, petani tersebut hanya menjawab, “kita tidak tahu dengan apa yang akan diberikan oleh kuda-kuda tersebut. Sekarang ini, kuda tersebut kembali dengan beberapa ekor kuda. Itu saja.

Setelah kedatangan serombongan kuda tersebut. Petani dan seorang anaknya memiliki kesibukan baru, melatih kuda-kuda tersebut. Namun, ketika melatih salah satu kuda tersebut, anaknya terjatuh dan kedua kakinya patah. Lagi-lagi tetangganya ramai,”wah, benar, ternyata kuda-kuda itu malah jadi musibah buat kamu dan anakmu.” Petani tersebut hanya berkata,”kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Pokoknya yang terjadi sekarang, anak saya patah kakinya.

Waktu berjalan, dua tahun berlalu. Kerajaan di mana petani tersebut tinggal terlibat dalam peperangan. Seluruh pemuda di dalam kerajaan tersebut diwajibkan untuk mengikuti wajib militer. Hanya anak petani itu yang tidak ikut karena cacat kakinya. Tidak lama, terdengar kabar bahwa seluruh pemuda tersebut tewas dalam perang. Lagi-lagi tetangga-tetangganya berkomentar,”wah, kamu beruntung…anak kamu tidak ikut perang, sementara anak kami meninggal dalam perang.

Di akhir cerita, ustadz Komar menutup cerita tersebut,

Kita seringkali menyimpulkan sesuatu terlalu cepat, padahal bagaimana mungkin kita bisa menyimpulkan sebuah buku dengan hanya membaca satu halaman saja?

Kalau dipikir-pikir lagi, kita rasanya sering seperti itu ya? Terlalu cepat menyimpulkan sesuatu itu musibah atau anugerah. Padahal sebetulnya kita tidak pernah tahu dengan apa yang akan kita dapatkan selanjutnya dari sesuatu itu. Inginnya punya pekerjaan, setelah bekerja malah tersiksa. Inginnya punya ini, punya itu, melakukan ini, melakukan itu. Setelah mendapatkan itu semua, ternyata malah menyesal. Sebuah tanda bahwa sesungguhnya kita belum bersyukur dengan apa yang kita miliki.

Dulu, ketika terjadi bencana tsunami di Aceh, saya dan seorang teman berdiskusi soal kejadian tersebut. Bukan membicarakan tentang apakah kejadian tersebut bencana, ujian atau musibah. Akan tetapi, kami melihat tentang masa depan Aceh. Meskipun, kami juga menyimpulkan bahwa yang terjadi di Aceh adalah sebuah cara Allah melakukan ‘potong generasi’. Dalam pikiran kami, dengan kondisi Aceh saat itu, sebetulnya membuka sebuah peluang yang sangat baik untuk Aceh menjadi sebuah kota percontohan. Aceh rata saat itu. Maka, yang kami pikirkan, bagaimana seharusnya Aceh dibangun kembali dan tata kotanya didesain dengan baik. Sehingga, kota-kota lain dapat mencontoh Aceh. Namun, saya tidak tahu bagaimana dengan nasib tata kota Aceh sekarang. Bukan hanya tata kota sebetulnya. Akan tetapi, soal sistem pemerintahan yang lebih baik juga.

Selain itu, kami juga membayangkan nasib generasi muda Aceh selanjutnya. Dengan banyaknya orang tua yang meninggal saat itu, dan banyaknya anak-anak yang tersisa, membuka peluang untuk menciptakan sebuah generasi baru yang lebih baik. Tentunya jika dididik dan dikader dengan baik pula. Secara psikologis, mereka sudah ‘teruji’, kejadian tsunami tersebut tentunya meninggalkan efek yang sangat mendalam. Tinggal bagaimana pintar-pintar ‘kita’ menjadikan kejadian tersebut sebuah ‘titik balik’ dari kondisi terpuruk menjadi sebuah kebangkitan.

Begitu pula dalam memandang bencana-bencana yang terjadi belakangan ini dan permasalahan di Indonesia secara keseluruhan. Dari bencana alam tersebut, sebetulnya ‘kita’ dipaksa untuk terus berpikir untuk mencegah kejadian tersebut. Jepang, kita tahu, pada akhirnya menemukan teknologi yang bisa mengurangi efek gempa, justru dari seringnya mereka mendapatkan gempa. Dan dari kejadian bencana alam tersebut, sebetulnya saya juga melihat tentang masa depan Indonesia. Masa sih kita akan seperti ini terus? Rasanya tidak mungkin. Suatu saat, cepat atau lambat, akan muncul generasi yang lebih tangguh dari sekarang.

Generasi Rasulullah juga pada awalnya berasal dari kelompok atau suku yang saling bertikai selama puluhan tahun. Akan tetapi, dari sana juga kemudian muncul sebuah generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi ini dan sulit terulang lagi. Dari tiap kelompok tersebut ‘diambil’ kader-kader terbaiknya, kemudian dikumpulkan untuk bersinergi. Dan jadilah sebuah generasi unggul. Begitu juga dengan Indonesia, ‘kita’ hanya perlu mengumpulkan orang-orang terbaik ini dan mensinergikannya. Barangkali masalahnya sekarang, orang-orang terbaik itu belum mau bersinergi, lebih suka bertikai, entah sampai kapan.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 070108. 05.00

Link dari blog lain yang terkait:

loading...

Previous

Partner

Next

Kiamat Itu Ilmiah

22 Comments

  1. Akhirnya muncullah teori kepiting

    Yaitu, bila kepiting disimpan dalam suatu wadah, dan ada satu yang mau naik keluar dari wadaha, ternyata si kepiting tersebut ditarik rame2 oleh tamn2nya.

    Sinergis adalah tahap selanjutnya dari sikap saling menghargai kelebihan dan kekurangan saudara kita.

    Jadi inget saat seseorang menyebutkan kelebihan Pak Habibie dulu, tetep aja ada yang berkomentar

    “Iya sih Pak Habibie hebat, tapi orangnya pendek”

  2. eh sori kang, pesan yang disampaikan teh tentang “jang terlalu cepat menyimpulkan” ya?

    kok saya malah ngomentarin tentang “sinergi”

    sori sori, salah…

  3. kita gampang menyimpulkan itu bukti kreativitas atau sok tahu, yak? repotnya lagi kalau gampang menyimpulkan itu keluar dari mulut para pejabat, *halah*. musibah kecelakaan pesawat ato banjir sisimpulkan begene begitu, eh, setelah diteliti ternyata ndak begitu. akhirnya harus ngralat pernyataan. wah repot juga. emamg bener mas doni. kayaknya kita perlu juga belajar yak agar tak gampang menyimpulkan.

  4. Oecoep

    Hmm… Aceh jadi percontohan, kalo hasilnya 10 taun lagi Aceh jadi maju, gimana kalo penduduk pulau Jawa dan Indonesia umumnya di potong satu generasi juga, hehehe…. peluangnya bagaimana menurut bapak Doni ?

  5. kalo potong satu generasi, berarti ada 1 generasi yang harus jadi korban dong don, apakah anda siap

  6. Tapi setiap orang memang memiliki persepsi yang berbeda dalam menyimpulkan suatu masalah kan mas Donny… 😀

  7. iin

    ada aksi–> ada reaksi. mereka mungkin hanya Cepat beReaksi tp tdk Cepat Berpikir Panjang. kadang2 reaksi cepat dibutuhkan lho, urusan bijaksana atau tidak, nah itu dia.

  8. iin

    ketinggalan, kalo cuma ‘menyimpulkan’.. itu termasuk beReaksi tanpa ‘berAksi’ ya? postingan Dony-Reza yg ini membuatku ‘berkesimpulan’ bahwa mungkin anda ini termasuk org2 terbaik yg perlu di sinergikan untuk menyikapi sesuatu secara bijaksana. Tapi mungkin saya tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan.. nanti yg baca jd GR hahaha. Keep on writing ya, i enjoy it so much reading those posts, it seems to me that you’re wiser everyday.

  9. Barangkali masalahnya sekarang, orang-orang terbaik itu belum mau bersinergi, lebih suka bertikai, entah sampai kapan.

    Semoga kesimpulan tersebut tidak terlalu cepat penyimpulannya..halah..

  10. buku bisa kok disimpulkan dengan ngebaca satu halaman saja, baca ada bagian akhirnya, pasti dapet intisari semuanya 🙂

  11. trus, akhir ceritanya gimana dong?

  12. syukuri apa apa yg kita punya, serta apa apa yg diberikan oleh sang pencipta kepada hambanya

  13. Donny Reza

    @Agah: ah, bebas weh gah mau komentarin yang mana juga 😀

    @Sawali: mungkin karena terlalu kreatif, jadinya malah sok tahu ya? :))

    @Oecoep: hihi, nggak mau juga sih kalau kejadian potong generasi lagi, takutnya ‘kita’ yang dipotongnya :p

    @Chatoer: gak siap juga sih, tapi soal ide meratakan beberapa kota seperti jakarta dan bandung sih asyik2 aja :)) maksudnya diratakan dulu, terus dibangun lagi bareng2 :p tapi, mahal pastinya :))

    @Praditya: memang sih, setiap orang punya persepsi berbeda, karena banyak persepsi itulah ‘kita’ mesti hati2 menyimpulkan. Ah, kok malah jadi menyimpulkan begitu ya? :p

    @iin: me…? wiser? *hidung kembang kempis*

    @mr.bambang: ah, situ kali yang terlalu cepat menyimpulkan kalau itu sebuah kesimpulan :p

    @dodot: intisari iya, tapi tetap tidak mendapatkan gambaran buku seluruhnya 😉

    @bank al: akhir cerita? semua mati pada akhirnya :p

    @andi bagus: iya, terima kasih…

  14. pencerahan yang mengena!
    Hm… kadang seperti itulah saya, orang jawa bilang grusa-grusu

  15. Mas donny hal ini mungkin juga bisa berarti jangan terlalu cepat menyimpulan bahwa apabila AA’ gym turun pamornya gara-gara poligami mungkin yah.. dan juga poligami itu bukan sesuatu yang negatif *Setuju tapi bukan pendukung poligami mas :p*

  16. Misiii.. agak pengen ikut2an neh ceritanya.. hehehe.. Bimillah… Ehem2..
    Jangan terlalu cepat menyimpulkan… Hadoowhhh.. kalo di dakuw pribadi kynya agak susah yakk.
    Hmmm.. Emang dasarnya prempewi.. Yang udah2 bawaannya selalu ‘cepet’ tuh kalo ambil kesimpulan.
    Jelekkah ini?? hmm belum cencuuw…
    Saya pribadi kalo kelamaan mikir buat narik kesimpulan yg ada malah nyari jawaban yg bisa melebar dan meleber kemana2… Buntut2nya malah makin pusiynk… suudzon.. dan another judgement yg ga penting…
    Mo sharing aja boleh yakk.. Bagaimana kalo ginih… Mau cepet mau lelet.. Kalo ambil keputusan tuk menilai sesuatu itu harus kudu wajib yg bermuatan positif aliass… PRASANGKA BAIK…
    Masalahnya sekarang adalah ‘metode’ untuk berpositif thinking ini yang sering belum tepat…
    Karena kalo cara ber-positif thinking ini salah akibatnya ternyata bisa fatal juga loh.. Been there, done that..Alhamdulillah…
    Cara yang ini lebih cuco’ siy di saya.. 🙂
    Yaudinn… semoga bisa membantu…

    ^_^
    _cheers_

  17. bwt,, itu darut tauhid mana?? walaupun Aa Gym udah turun pamornya,, ridu tetep dengerin tausiyah dia kok..

    soalnya dulu ridu juga ngikutin dia dari awal.. waktu dia masih siaran di radio paramuda bandung pas subuh2

  18. ronny

    Ayo berlomba-lomba ikutan kompetisi Pass The Torch dari sini http://www.hitmansystem.com/index.php?news=144 Hadiahnya sangat menarik!

  19. Betcyul sekali. Tidak bisa berkesimpulan tentang sesuatu dalam sekali jalan. Ada banyak persepsi dan point of view yang bisa jadi mirip, berbeda, berbeda total, atau bahkan 180 derajat bertolak belakang.

  20. Cerita pak Ustadz Komar merupakan cerita favorite saya yang pertama kali saya baca di majalah Intisari beberapa tahun silam. Dan telah saya postingkan dengan judul Nasib baik atau nasib buruk dari sudut pandang yang berbeda dengan esensi postingan ini.

    Mudah2an kisah ini bisa menjadi pelajaran buat kita untuk lebih arif dalam menjalani kehidupan ini.

  21. menurut saya, wajar saja kalau ada yang terkadang terlalu cepat menyimpulkan.. karena saat itu tentunya kondisi dan suasana hati mereka berbeda-beda.. dan isi kepalanya pun beda.. pa lagi pengetahuan, kesabaran, dan kedewasaan, serta hal-hal lainnya..

    tapi yang terpenting lagi, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa yang disimpulkan orang lain itu salah.. 😀

    best regard. bagus banget tulisannya..
    ijin untuk link yah.. 😀

  22. Baru semalam famili saya bincang pasal hal nie.
    .. hari nie jumpa blog awak… terima kasih atas penerangan nie.
    ..

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén