Jangan Terlalu Cepat Menyimpulkan
Refleksi January 7th, 2008
Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa teman berkumpul di Daarut Tauhiid untuk mengadakan rapat persiapan suatu kegiatan sosial. Setelah melakukan shalat ashar, ustadz Komar, salah satu ustadz dan pimipinan di Daarut Tauhiid, berdiri di depan jama’ah dan menuturkan sebuah cerita hikmah. Dibandingkan AA Gym, sebetulnya saya lebih menyukai cara bertutur ustadz Komar dalam bercerita. Setelah sedikit bercerita tentang mulai bergeliatnya kembali Daarut Tauhiid setelah setahun terakhir ‘istirahat’, baru kemudian beliau bercerita. Jika ada yang sudah membaca atau mendengar cerita ini, ya…nikmati saja lah
Alkisah, ada seorang petani yang memiliki seekor kuda yang sangat bagus. Saking bagusnya, petani tersebut sangat menyayangi kuda tersebut dan menganggapnya sebagai sahabat. Tetangga-tetangganya banyak yang menginginkannya dan mencoba membujuk sang petani untuk menjual kudanya. Namun, dia selalu menolak tawaran tersebut, berapa pun nilainya. “Saya tidak mungkin menjual sahabat saya“, katanya. Bahkan, tawaran seorang raja pun ditolaknya.
Suatu hari, petani tersebut mendapati kuda tersebut tidak ada di kandangnya. Mengetahui keadaan tersebut, tetangga-tetangganya mencemoohnya. “Tuh, kan…rasain, akhirnya kudanya hilang juga. Musibah tuh. Coba kalau dulu dijual saja.” Dan kalimat-kalimat sejenisnya. Namun, petani ini dengan tenangnya menjawab, “Ini bukan musibah. Yang terjadi sekarang, kuda saya sedang tidak ada di kandangnya. Itu saja. Titik.”
Benar saja. Seminggu kemudian, kuda tersebut datang kembali dengan segerombolan kuda lain yang sama bagusnya. Tetangga-tetangganya kembali berbicara, “wah, kamu benar, ternyata kamu malah mendapatkan anugerah yang lebih banyak.” Lagi-lagi, petani tersebut hanya menjawab, “kita tidak tahu dengan apa yang akan diberikan oleh kuda-kuda tersebut. Sekarang ini, kuda tersebut kembali dengan beberapa ekor kuda. Itu saja.”
Setelah kedatangan serombongan kuda tersebut. Petani dan seorang anaknya memiliki kesibukan baru, melatih kuda-kuda tersebut. Namun, ketika melatih salah satu kuda tersebut, anaknya terjatuh dan kedua kakinya patah. Lagi-lagi tetangganya ramai,”wah, benar, ternyata kuda-kuda itu malah jadi musibah buat kamu dan anakmu.” Petani tersebut hanya berkata,”kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Pokoknya yang terjadi sekarang, anak saya patah kakinya.”
Waktu berjalan, dua tahun berlalu. Kerajaan di mana petani tersebut tinggal terlibat dalam peperangan. Seluruh pemuda di dalam kerajaan tersebut diwajibkan untuk mengikuti wajib militer. Hanya anak petani itu yang tidak ikut karena cacat kakinya. Tidak lama, terdengar kabar bahwa seluruh pemuda tersebut tewas dalam perang. Lagi-lagi tetangga-tetangganya berkomentar,”wah, kamu beruntung…anak kamu tidak ikut perang, sementara anak kami meninggal dalam perang.“
Di akhir cerita, ustadz Komar menutup cerita tersebut,
Kita seringkali menyimpulkan sesuatu terlalu cepat, padahal bagaimana mungkin kita bisa menyimpulkan sebuah buku dengan hanya membaca satu halaman saja?
Kalau dipikir-pikir lagi, kita rasanya sering seperti itu ya? Terlalu cepat menyimpulkan sesuatu itu musibah atau anugerah. Padahal sebetulnya kita tidak pernah tahu dengan apa yang akan kita dapatkan selanjutnya dari sesuatu itu. Inginnya punya pekerjaan, setelah bekerja malah tersiksa. Inginnya punya ini, punya itu, melakukan ini, melakukan itu. Setelah mendapatkan itu semua, ternyata malah menyesal. Sebuah tanda bahwa sesungguhnya kita belum bersyukur dengan apa yang kita miliki.
Dulu, ketika terjadi bencana tsunami di Aceh, saya dan seorang teman berdiskusi soal kejadian tersebut. Bukan membicarakan tentang apakah kejadian tersebut bencana, ujian atau musibah. Akan tetapi, kami melihat tentang masa depan Aceh. Meskipun, kami juga menyimpulkan bahwa yang terjadi di Aceh adalah sebuah cara Allah melakukan ‘potong generasi’. Dalam pikiran kami, dengan kondisi Aceh saat itu, sebetulnya membuka sebuah peluang yang sangat baik untuk Aceh menjadi sebuah kota percontohan. Aceh rata saat itu. Maka, yang kami pikirkan, bagaimana seharusnya Aceh dibangun kembali dan tata kotanya didesain dengan baik. Sehingga, kota-kota lain dapat mencontoh Aceh. Namun, saya tidak tahu bagaimana dengan nasib tata kota Aceh sekarang. Bukan hanya tata kota sebetulnya. Akan tetapi, soal sistem pemerintahan yang lebih baik juga.
Selain itu, kami juga membayangkan nasib generasi muda Aceh selanjutnya. Dengan banyaknya orang tua yang meninggal saat itu, dan banyaknya anak-anak yang tersisa, membuka peluang untuk menciptakan sebuah generasi baru yang lebih baik. Tentunya jika dididik dan dikader dengan baik pula. Secara psikologis, mereka sudah ‘teruji’, kejadian tsunami tersebut tentunya meninggalkan efek yang sangat mendalam. Tinggal bagaimana pintar-pintar ‘kita’ menjadikan kejadian tersebut sebuah ‘titik balik’ dari kondisi terpuruk menjadi sebuah kebangkitan.
Begitu pula dalam memandang bencana-bencana yang terjadi belakangan ini dan permasalahan di Indonesia secara keseluruhan. Dari bencana alam tersebut, sebetulnya ‘kita’ dipaksa untuk terus berpikir untuk mencegah kejadian tersebut. Jepang, kita tahu, pada akhirnya menemukan teknologi yang bisa mengurangi efek gempa, justru dari seringnya mereka mendapatkan gempa. Dan dari kejadian bencana alam tersebut, sebetulnya saya juga melihat tentang masa depan Indonesia. Masa sih kita akan seperti ini terus? Rasanya tidak mungkin. Suatu saat, cepat atau lambat, akan muncul generasi yang lebih tangguh dari sekarang.
Generasi Rasulullah juga pada awalnya berasal dari kelompok atau suku yang saling bertikai selama puluhan tahun. Akan tetapi, dari sana juga kemudian muncul sebuah generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi ini dan sulit terulang lagi. Dari tiap kelompok tersebut ‘diambil’ kader-kader terbaiknya, kemudian dikumpulkan untuk bersinergi. Dan jadilah sebuah generasi unggul. Begitu juga dengan Indonesia, ‘kita’ hanya perlu mengumpulkan orang-orang terbaik ini dan mensinergikannya. Barangkali masalahnya sekarang, orang-orang terbaik itu belum mau bersinergi, lebih suka bertikai, entah sampai kapan.
C 1 H 3 U L 4 17 6. 070108. 05.00
Link dari blog lain yang terkait:



January 7th, 2008 at 6:11 am
Yaitu, bila kepiting disimpan dalam suatu wadah, dan ada satu yang mau naik keluar dari wadaha, ternyata si kepiting tersebut ditarik rame2 oleh tamn2nya.
Sinergis adalah tahap selanjutnya dari sikap saling menghargai kelebihan dan kekurangan saudara kita.
Jadi inget saat seseorang menyebutkan kelebihan Pak Habibie dulu, tetep aja ada yang berkomentar
“Iya sih Pak Habibie hebat, tapi orangnya pendek”
January 7th, 2008 at 6:19 am
kok saya malah ngomentarin tentang “sinergi”
sori sori, salah…
January 7th, 2008 at 7:44 am
January 7th, 2008 at 8:24 am
January 7th, 2008 at 10:47 am
January 7th, 2008 at 11:42 am
January 7th, 2008 at 4:18 pm
January 7th, 2008 at 4:24 pm
January 7th, 2008 at 4:57 pm
Semoga kesimpulan tersebut tidak terlalu cepat penyimpulannya..halah..
January 7th, 2008 at 8:17 pm
January 8th, 2008 at 12:06 am
January 8th, 2008 at 8:37 am
January 8th, 2008 at 6:12 pm
@Sawali: mungkin karena terlalu kreatif, jadinya malah sok tahu ya? :))
@Oecoep: hihi, nggak mau juga sih kalau kejadian potong generasi lagi, takutnya ‘kita’ yang dipotongnya
@Chatoer: gak siap juga sih, tapi soal ide meratakan beberapa kota seperti jakarta dan bandung sih asyik2 aja :)) maksudnya diratakan dulu, terus dibangun lagi bareng2
tapi, mahal pastinya :))
@Praditya: memang sih, setiap orang punya persepsi berbeda, karena banyak persepsi itulah ‘kita’ mesti hati2 menyimpulkan. Ah, kok malah jadi menyimpulkan begitu ya?
@iin: me…? wiser? *hidung kembang kempis*
@mr.bambang: ah, situ kali yang terlalu cepat menyimpulkan kalau itu sebuah kesimpulan
@dodot: intisari iya, tapi tetap tidak mendapatkan gambaran buku seluruhnya ;)
@bank al: akhir cerita? semua mati pada akhirnya
@andi bagus: iya, terima kasih…
January 9th, 2008 at 8:52 am
Hm… kadang seperti itulah saya, orang jawa bilang grusa-grusu
January 9th, 2008 at 6:02 pm
January 9th, 2008 at 6:31 pm
Jangan terlalu cepat menyimpulkan… Hadoowhhh.. kalo di dakuw pribadi kynya agak susah yakk.
Hmmm.. Emang dasarnya prempewi.. Yang udah2 bawaannya selalu ‘cepet’ tuh kalo ambil kesimpulan.
Jelekkah ini?? hmm belum cencuuw…
Saya pribadi kalo kelamaan mikir buat narik kesimpulan yg ada malah nyari jawaban yg bisa melebar dan meleber kemana2… Buntut2nya malah makin pusiynk… suudzon.. dan another judgement yg ga penting…
Mo sharing aja boleh yakk.. Bagaimana kalo ginih… Mau cepet mau lelet.. Kalo ambil keputusan tuk menilai sesuatu itu harus kudu wajib yg bermuatan positif aliass… PRASANGKA BAIK…
Masalahnya sekarang adalah ‘metode’ untuk berpositif thinking ini yang sering belum tepat…
Karena kalo cara ber-positif thinking ini salah akibatnya ternyata bisa fatal juga loh.. Been there, done that..Alhamdulillah…
Cara yang ini lebih cuco’ siy di saya..
Yaudinn… semoga bisa membantu…
^_^
_cheers_
January 9th, 2008 at 10:37 pm
soalnya dulu ridu juga ngikutin dia dari awal.. waktu dia masih siaran di radio paramuda bandung pas subuh2
January 10th, 2008 at 11:36 am
January 10th, 2008 at 2:16 pm
January 10th, 2008 at 7:51 pm
Mudah2an kisah ini bisa menjadi pelajaran buat kita untuk lebih arif dalam menjalani kehidupan ini.
January 15th, 2008 at 3:19 pm
tapi yang terpenting lagi, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa yang disimpulkan orang lain itu salah..
best regard. bagus banget tulisannya..
ijin untuk link yah..