Sudah 2 malam terakhir ini, sahabat saya Chris menelpon saya, memanfaatkan fasilitas 5000-an dari sebuah operator. Meskipun hanya 15 menit lebih, tapi hal itu ternyata cukup menjadi sebuah penawar kerinduan saya terhadap kehadiran sahabat yang rasanya sudah lama sekali menghilang. Chris hanya salah satu dari sekian sahabat dekat saya, tapi hampir seluruh sahabat saya sedang sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri sekarang. Saya kadang merasa kesepian sekali.
Obrolan tersebut barangkali merupakan obrolan pertama kami sejak beberapa bulan terakhir. Kami mengobrol tentang pekerjaan, aktivitas, bisnis, jodoh dan langkah-langkah dakwah. Sudah lama sekali saya tidak mengobrol dan berdiskusi tentang banyak hal dengan sahabat saya yang satu ini. Barangkali, hanya dia satu-satunya orang yang paling tahu tentang aib-aib saya. Saya pernah ‘berbagi’ kamar cukup lama juga dengannya, sebelum kesibukan akhir masa kuliah menyita waktu kami.
Keakraban kami dimulai ketika ‘terdampar’ di sebuah pesantren di Solo, tidak jauh dari Universitas Muhammadiyah Surakarta. Saat itu kami sedang melakukan perjalanan study-tour ke beberapa Universitas di Jogja. Berawal dari diskusi menyoal kehidupan kampus kami, kemudian berujung sampai kepada strategi dakwah, termasuk juga soal wacana untuk mengoptimalkan dan memberdayakan potensi Zakat di kampus. Meskipun memiliki kesamaan visi soal dakwah, juga sama-sama ‘pemberontak’ dan moderat, pada kenyataannya, kami berjalan sendiri-sendiri di lapangan.
Salah satu yang menjadi sorotan kami saat itu adalah kondisi Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang menurut kami kurang aspiratif dan kurang menyentuh objek dakwah. Langkah yang saya lakukan adalah membentuk FORMASI (Forum Mahasiswa Islam) bersama beberapa orang teman, yang ketika didirikan masih berupa sebuah gerakan bawah tanah. Sebetulnya, tujuan FORMASI saat itu bukan untuk menciptakan tandingan LDK, tapi untuk memberikan alternatif dan ‘menggarap’ objek-objek yang tidak tersentuh LDK. Selain itu, kami juga melihat cukup banyak pelaku-pelaku dakwah yang sangat potensial, namun tidak cocok dengan visi dan misi LDK. Nah, FORMASI bertujuan untuk mengumpulkan potensi-potensi yang berserakan tersebut. Sementara Chris berjuang dengan caranya sendiri, tapi cukup tahu juga perkembangan FORMASI.
Setiap dengan Chris, saya ingat beberapa ‘kegilaan’ yang pernah dilakukan bersama. Salah satunya, yang paling saya ingat, adalah ketika naik lift di Bandung Indah Plaza (BIP). Bertiga bersama Widi, kami menaiki lift itu sebanyak 5 kali bolak-balik, tanpa pernah keluar dari lift tersebut. Dan bertiga pula kami menaiki motor Vespa milik Widi yang berjalan tanpa rem. Atau ketika menghabiskan sekeranjang tahu Sumedang -yang niatnya untuk jadi oleh-oleh- di atas sebuah motor, di pinggir jalan di Cileunyi.
Saya dan Chris sama-sama berambut ikal, sama-sama berjenggot, itulah sebabnya kadang-kadang kami disebut kembar. Hanya saja, saat itu rambut gondrong saya keburu dicukur, jadi kami tidak sempat gondrong bareng-bareng. Meskipun, sudah disepakati bahwa saya lebih tampan daripada Chris. Bhahaha. *Duh, Donny…jangan gila deh…!!*
Bicara soal partner, rasanya sudah cukup lama juga saya tidak memiliki partner lagi. Teman-teman yang ada sekarang belum ‘memadai’ untuk dikatakan partner. Jika belajar dan melihat perjalanan orang-orang yang sukses, biasanya mereka memiliki partner yang bisa saling mengisi. Helmy Yahya dalam bukunya yang saya lupa judulnya, pernah mengakui bahwa partner ini ternyata cukup penting. Keberadaan partner ini sebetulnya bertujuan untuk saling menutupi.
Saya, misalnya, bukan orang yang terlalu menyukai hal-hal yang berhubungan dengan ke-humas-an, lobby-lobby, tawar-menawar dan paling malas membuat proposal, surat menyurat atau urusan kontrak dan MoU. Dalam urusan bisnis, saya membutuhkan dan sedang mencari orang-orang seperti ini untuk dijadikan partner. Barangkali karena saya juga orang yang tidak suka berbelit-belit. Tahunya jadi saja. Terlalu berbahaya jika urusan seperti itu diserahkan kepada saya, karena saya cenderung mengalah dan kurang tega serta mudah kasihan. Akan tetapi, kalau persoalan teknis, saya bisa diandalkan, insya Allah.
Namun, jika berbicara soal partner kerja, saya lebih cocok dengan laki-laki. Saya sering merasa tidak cocok saja jika bekerja dengan perempuan. Seringnya merasa tidak enak kalau mau mengajak ‘gila’
Tidak boleh terlalu malam, tidak bisa diajak terlalu capek, harus hati-hati menjaga perasaan. Meskipun ada juga perempuan yang dengan mengikuti alur aktivitasnya, saya yang kerepotan
Cukuplah perempuan itu dijadikan partner di rumah saja. Heuheuheu.
C 1 H 3 U L 4 17 6. 050108. 07.30
Tulisan dari Blog lain yang terkait:



January 5th, 2008 at 9:52 am
January 5th, 2008 at 10:16 am
January 5th, 2008 at 11:08 am
Ha.ha.ha
Mungkin tutur sapa mas Donny halus, hingga banyak perempuan tertarik….
Wassalam.
January 5th, 2008 at 1:04 pm
Udah ada neh critanya…
January 5th, 2008 at 2:10 pm
January 5th, 2008 at 3:47 pm
ngajak mas adit ajah dech hehe
January 5th, 2008 at 7:50 pm
weleh-weleh
wakakakaka
January 5th, 2008 at 10:00 pm
jadi, kapan atuh resepsi peng-halal-annya
hehehe…
NB : tengkyu udah ngelink postingan diriku, terharu euy, selem IMB mau2nya masang link ke blog sayah
January 5th, 2008 at 10:54 pm
tambah salam buat yang di rumah juga… ihihhiii…
January 5th, 2008 at 11:33 pm
gak mau berpartner ama cewe, paingan weh teu kawin2
January 5th, 2008 at 11:37 pm
January 6th, 2008 at 3:45 pm
January 6th, 2008 at 8:15 pm
January 7th, 2008 at 12:05 am
*membayangkan*
January 7th, 2008 at 3:39 am
@Dy: iya, barangkali itu hikmah dari sebuah ‘perpisahan’ ya? agar saling merindukan…:D
@Haniifa: wah, justru terbalik pak, saya seringnya ceplas-ceplos. Malah kadang nggak dipikirin dulu kalau ngomong
@Praditya: belum dit, masih nyari…:D
@erander: saya sedang nyari partner yang mau merintis dari awal bersama-sama *lirik agah* kalau manager kan belum sanggup bayar juga. Kalau di koran, hmm…agak sangsi juga saya, masih belum percaya.
@LiezMaya: sebetulnya sih nggak masalah, hanya seringnya saya yang ‘kagok’ :))
@dodot: kenapa, gak boleh?
@agah: bukan soal ‘ngaji’ atau ‘belum’ sih gah, dari sejak sebelum ngaji juga udah kayak gini. Kurang sreg aja. Barangkali itu juga yang nyebabin kenapa sampai sekarang sedikit sekali teman wanita yang ‘akrab’ sama saya :))
@niez: insya allah disampaikan ke chris, yang di rumah? ibu dan bapak saya maksudnya?
@chatoer: ah, kelupaan tur, padahal emang penggemar sendal jepit sejati kita teh…btw, lu tahu kan orangnya?
@landy: apalagi saya
@suprie: iya, asyik banget kayaknya…haha
@harry: kalau sekarang, partner forever…:p
@ale: *ikut membayangkan…* kekekeke
January 11th, 2008 at 3:03 pm
January 28th, 2010 at 4:19 pm
I just couldn’t wait for it to go in to paper back.