Dia yang Kurindu
, , March 3rd, 2008
Dia yang kurindu
yang bibirnya selalu menyebut asma-Nya
yang hatinya terpaut pada-Nya
yang hidupnya diabdikan untuk-NyaDia yang kurindu
yang cintanya adalah cinta-Nya
yang ridhanya adalah ridha-Nya
yang senyumnya adalah senyum-NyaDia yang kurindu
Muhammad sang terpercaya
shalawat dan salam untuknya
selalu…
Hmm, sudah berapa lama ya saya nggak nulis puisi? Lumayan lama rasanya. Inspirasi awalnya sebetulnya gara-gara kangen sama seorang manusia yang sudah lama tidak pernah bertemu, hampir 2 tahun atau bahkan lebih. Laki-laki atau perempuan? Ah, nggak penting…!! Bait pertama itu bercerita tentang manusia tersebut. Namun, di tengah-tengah penulisan…saya jadi kepikiran Rasulullah SAW. Ya, sudah…saya dedikasikan saja puisi itu untuk beliau. Tadinya mau saya kasih judul “Ode Buat Rasulullah“, tapi merasa kurang cocok. Ciri khas saya sekali. Too much repetition. Maklum lah, saya agak kesulitan berpuitis-puitis ria. Waktu puisi ini masih dalam proses, Catur sempat melihatnya, karena ketika saya ‘tinggalkan’ untuk istirahat, Catur main ke-kostan saya, tapi tidak ada komentar sama sekali.
Agak aneh juga sebetulnya, mengingat belakangan ini saya lebih sering mendengarkan musik rock. Lho, apa hubungannya? Ya, jelas ada. Biasanya musik berpengaruh terhadap kondisi jiwa. Saya juga menulis puisi tersebut ditemani lagu-lagu dari Dream Theater, Liquid Tension Experiment (LTE), Hoobastank serta Linkin Park. Meskipun di tengah-tengah geberan musik mereka yang cadas dan eksploratif itu, saya juga menyelipkan lagu-lagu yang kontemplatif dari Opick, Chrisye dan Iwan Fals, lagu sunda Doel Sumbang, atau musik instrumental dari Budjana, Jubing Kristianto, String Quartet, Yanni dan instrumentalis lain yang tidak saya kenal. Tidak ketinggalan juga Al-Matsurat, beberapa surat di Juz 30 dan ceramah-ceramah dari Athian Ali, Hussein Umar atau Adian Husaini. Winamp disetel dengan mode shuttle, jadilah sebuah kombinasi bunyi-bunyian yang ‘aneh’ dan unpredictable, penuh kejutan.
Menarik sebetulnya, sebuah cara untuk ‘mempermainkan’ mood dan mengatasi kebosanan. Coba saja rasakan sensasinya ketika setelah berbising-bising dengan musik rock instrumental berdurasi 16 menit semacam “When The Water Break” dari LTE, lalu mood anda diajak ‘melayang’ oleh komposisinya Budjana, dan tiba-tiba anda diajak bertafakur oleh lirik-lirik semacam “Bila Waktu telah Berakhir” dari Opick, sebelum akhirnya telinga anda diajak ‘berlari’ lagi mendengarkan lagu “Home” atau “Forsaken” dari Dream Theater. Cara seperti ini, mungkin bisa juga digunakan sebagai latihan agar tidak mudah terkejut.
Puisi “Dia yang Kurindu” di atas dihasilkan di tengah-tengah suasana semacam itu. Kalau bagi saya sih aneh, karena setahu saya, sebuah karya puisi biasanya tercipta di tengah-tengah suasana yang hening dan tenang. Apalagi jika dalam puisi itu memuat unsur ke-ilahi-an, spiritualitas atau ajakan untuk berkontemplasi. Jangan-jangan, hal semacam itu sudah biasa dan memang bukan hal yang aneh? Kalau seperti itu, saya yang aneh…WEIRD!! :-p
S 3 K 3 L 0 4. 030308. 22.30
March 3rd, 2008 at 11:22 pm
sebenarnya nggak ada yang aneh kok mas donny. setiap orang beda2 dalam menciptakan mood penciptaan. jangankan musik mas donny. di perjalanan buka laptop, saya pernah bikin satu cerpen, wew… lucu juga yak? tapi puisi religi mas donny oke juga kok. mantab. meski masih sedikit vulgar *halah sok tahu yak* kalu sedikit sublim, nakal saingan sama pak taufik ismail, hehehehe salam kreatif!
March 3rd, 2008 at 11:23 pm
kang, lagi ngobrol apa sih, teu ngarti
March 4th, 2008 at 1:42 am
mantap puisi religinya, terusin dengan tulisan-tulisan lainnya.
March 4th, 2008 at 6:50 am
jadi terharu….
March 4th, 2008 at 10:55 am
zaman sekarang memang begini yah kang??
March 4th, 2008 at 11:31 am
puisinya keren..

kalo saya malah lebih suka ‘the spirits carries on’ nya DT..
lagu paling sempurna menurut saya..
March 4th, 2008 at 3:33 pm
Aslkm…hehe…..
puisi nan indah, mempunyai makna mendalam tentang sebuah kerinduan..
gimana khabar mas?
March 4th, 2008 at 3:36 pm
Lagi patah hatikah?
Aaaaah, lama tercebur dunia nyata, sekalinya masuk ke dunia maya, udah ketinggalan banyak ya?
Jadi kangen nulis lagi nih. Udah lama gak–meskipun sekedar—curhat…
[Just say hi...]
March 4th, 2008 at 6:29 pm
Wah lagu-lagunya banyak, berarti pengeluaran untuk beli kaset atau CD di toko musik lumayan juga ya..
*sok polos*
March 4th, 2008 at 6:50 pm
lah… kenapa ga ciheulang lagi don?
suffling beragam jenis lagu emang lumayan buat latihan untuk tidak kaget sekaligus buat maenin emosi (sok tau mode on)
March 4th, 2008 at 7:01 pm
puisi reliji. cool!
March 4th, 2008 at 8:55 pm
Hahaha, elu ngeh juga pas gw liat puisi lu di Komputer yah, sebenarnya gw mau komentar cuman gw gak tau kalo tu puisi mau di publish di blog, gw lagi konsen ama yovie Nuno n nyari2 yg aneh di hardisk elu
nantikan saja deh postingan gw ttg cerita di kosan lu
March 5th, 2008 at 8:42 am
@sawali: huehehe, berarti saya yang aneh karena ngerasa aneh ya?
sebetulnya kalau inspirasi kan bisa datang kapan saja ya? hanya yang sering jadi persoalan, ketika inspirasi itu ‘datang’ kita sering kali kesulitan menuliskannya apabila suasananya tidak mendukung.
@*****: teu ngarti bagian mana na?
@th: siap, tulisan yang lain menyusul
@sherlanova: Wuidih! siapa yang patah hati? :-p kamana wae atuh bu…:D
@kumanz: duh, jangan sampai nangis ya…:D
@ridu: waks!! :-p jadi salah persepsi deh…hihi
@tehaha: yup, ‘The Spirit Carries On’ juga merupakan salah satu lagu favorit saya. Salah satu lagu terbaik yang pernah ada di muka bumi…*halah*
@olangbiaca: wa alaikum salam. Alhamdulillah, luar biasa…:D
@mr.bambang: Ih, nggak kok…saya mah ada yang ngasih *sok polos juga* :-p mancing2 nih…;))
@dajal007: lha, si gua kan nulisnya juga gk di ciheulang…:p
@puty: as cool as me…*halah*
@chatoer: ya ngeh lah, monitor gua matiin pas bagian itu, kalau dinyalain, ya pasti langsung baca itu
March 5th, 2008 at 9:00 am
He… keren keren…
March 6th, 2008 at 1:18 am
Ternyata … roker juga manusia
Eh … puisinya bagus!
March 6th, 2008 at 1:20 pm
Go-od lah kang
March 6th, 2008 at 2:27 pm
pernah nonton film Rindu Kami Pada-Mu ga mas?
aku pingin banget nonton film itu, beli/pinjem di mana ya yg ada?
March 6th, 2008 at 3:53 pm
wah, puisinya keren, menyentuh banget.
jadi ingat nasyid nya BPM yang begini:
“ku rindu padamu yang Rasul”
“Ku rindu ada di dekatmu..”
dst..
dst..
so touched..
March 6th, 2008 at 7:22 pm
Ternyata bisa berpuisi juga.
Katanya, cowok yg bisa puisi itu romantis.
*Katanya loh
March 7th, 2008 at 8:47 am
kereeeeen euy!!!..kapan yah bisa bikin yg seindah itu..no talent i guess ahahaha…tp mendadak jd ikutan rindu ma Rasul..seandainya aja beliau ada… *tampang menghayal* ;)
March 13th, 2008 at 11:26 pm
salam kenal ya dari saya
April 11th, 2008 at 10:11 am
hehe… puisinya lumayan bagus, dibanding puisi hujan yang dl tuh… ndak romantis blas!!
August 8th, 2008 at 1:34 pm
duuuhh… jadi makin
ma rasulullah hikkz… kangeeeenn… eeuuy… moga di akhir jaman qt semua mendapat syafaat dari beliau yacch… amiiiiiieenn 
Ly’s last blog post..Grogi….