Males

Kalau diperhatikan, kesemrawutan di jalan itu akar masalahnya cuma satu: males.

Males muter, jadi mending lawan arus.
Males berhenti di belakang garis putih, enakan di zebra cross dong, kan asyik bikin kesel penyeberang jalan.
Males ngerem, jadi kalau ada yang nyebrang tarik gas aja.
Males nunggu, serobot aja lampu merah.
Males macet, jadi sikat aja jalur trotoar, kalau selokan bisa dilewati, mungkin disikat juga.
Males pake lampu sein, paling yang kaget cuma pengendara di belakang *kemudian tabrakan beruntun*
Males pake helm, gak masalah juga kalau kepala pecah… kalau helm kan mahal, tapi kepala dapat gratisan, murah.

Semrawut – Sumber: antarafoto.com (digunakan tanpa izin, males)

Bikin SIM lewat jalur resmi mah lama, males.
Pak Polisi juga males sih nguji, cepetan lewat jalur gak resmi aja. Kalau ada yang melanggar, males ah ngurusin surat tilang, mending beresin di jalan aja. Bantuin pak hakim supaya gak terlalu pusing urusin sidang.

Males banget deh nganterin anak sekolah, bellin motor aja… mumpung uang muka kredit murah, yang penting hutang makin banyak. Kalau ugal-ugalan, namanya juga anak muda, sekali-kali nabrak orang sih biasa. Kan nyawa orang juga pemberian Allah, gratisan.

NB: seharusnya “malas”, tapi males benerin ah.


Jodoh

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini, pertimbangkan untuk memutar lagu “Cari Jodoh” dari Wali. Heu heu. Sudah? Lanjuuuuttt…

Sudah terlalu lama saya menunda menulis tentang topik yang satu ini: jodoh. Akan tetapi, kesibukan dan kemalasan saya membuat tulisan yang saya rencanakan itu tidak pernah terwujud. Sebelum terjadi kesalahpahaman, saya tidak bermaksud menjadikan tulisan ini sebagai sebuah tips dan trik atau tutorial mencari jodoh. Saya pun sesungguhnya bodoh dalam hal tersebut. Namun, barangkali tulisan ini bisa menjadi sebuah masukan, bahan pemikiran atau diskusi bersama. *PD banget*

Sebagai informasi saja, pengunjung yang  masuk ke blog saya paling banyak karena melakukan pencarian dengan kata kunci: “jodoh” atau “takdir” pada mesin pencarian, utamanya Google. Halaman yang paling banyak dikunjungi adalah sebuah halaman yang berisi tulisan lama saya, tulisan yang saya pindahkan dari blog lama ke blog ini. Tulisan itu berjudul: “Takdir: Rezeki, Jodoh dan Kematian“. Jika Anda melakukan pencarian dengan kata “takdir” di google.co.id, link tulisan itu akan muncul di halaman pertama. Perlu diketahui, tulisan tersebut saya buat tahun 2006. Lebih dari 5 tahun yang lalu! Jadi, dalam beberapa hal yang muncul di tulisan tersebut, mungkin sudah tidak relevan lagi dengan apa yang saya pikirkan sekarang.

Tulisan tersebut, juga tulisan lain berjudul “Seri Takdir“, merupakan pemahaman saya tentang bagaimana takdir “bekerja”, yang juga menjadi spirit dari tulisan ini. Ya, tentu saja, pemahaman saya sangat terpengaruh oleh Islam, meskipun tidak sempurna. Intinya, bagi saya, takdir itu merupakan sesuatu yang telah terjadi pada diri kita. Cerita hidup kita merupakan sekumpulan takdir, yang ditentukan oleh pilihan-pilihan yang telah kita lakukan. Meskipun, ada masa di mana takdir kita ditentukan oleh pilihan orang-orang di luar diri kita. Misalnya, saat memulai sekolah dasar, sekolah tersebut dipilihkan oleh orang tua kita, atau baju yang kita gunakan saat bayi. Kita bahkan tidak dapat memilih saat dilahirkan oleh orang tua kita. Itulah sebabnya ada masa aqil baligh dalam Islam, saat seseorang sudah dianggap dapat mempertanggungjawabkan segala yang dilakukannya. Maka dari itu, persoalan jodoh sudah pasti merupakan bagian dari takdir itu sendiri.

Semangat untuk mewujudkan tulisan ini salah satunya dipicu dari aktifitas di twitter. Namun pemicu utamanya karena melihat fenomena pencarian jodoh itu sendiri. Pada suatu sore, Teh Ratna mengomentari sebuah kicauan dari akun twitter yang banyak memiliki follower. Status twit tersebut dapat dibaca pada gambar di bawah:

twitjodoh

Melihat twit tersebut, pikiran iseng dan jail saya terpicu. Entah mengapa, setiap kali membaca kata-kata mutiara, saya sering tergoda untuk mencari celah dari maksud tulisan tersebut, sehingga kata-kata mutiara tersebut jadi kehilangan maknanya. Ah, intinya sih saya suka merusak suasana dan mood orang lain :)). Segera setelah membaca twit Teh Ratna itu, saya pun iseng mengomentari:

twitjodoh2

Obrolan tersebut kemudian berlanjut, dengan melibatkan juga yang lain. Namun, seluruh obrolan itu tidak akan saya tampilkan di sini. Intinya yang ingin saya sampaikan adalah sering kali kita mengeluhkan susahnya mendapatkan jodoh, lalu mencoba mencari pembenaran seolah-olah Tuhan menunda pertemuan kita dengan jodoh terbaik yang sudah Tuhan siapkan untuk kita. Sementara, barangkali yang sesungguhnya terjadi adalah Tuhan sudah ‘mengirim’ seseorang terbaik ke hadapan kita, lalu kita menolaknya karena tidak sesuai dengan kriteria yang ada di benak kita. Mungkin saja orang tersebut sudah sangat dekat, tapi ‘makhluk sempurna’ di dalam benak kitalah yang membutakan mata dan pikiran kita. Mungkin juga, jika Anda seorang wanita, orang tersebut sudah berniat melamar Anda, tapi Anda menolaknya karena, “kurang sreg di hati“. Begitu alasan Anda. Padahal, bisa jadi Anda sendiri tidak yakin dengan alasan tersebut karena sudah terlalu dibutakan oleh angan-angan Anda. Lucunya, setelah itu, Anda masih mengeluh betapa susahnya mencari jodoh. Jodoh yang sempurna, tentu saja.

Tentu, setiap orang memiliki kriteria jodoh yang diidam-idamkannya. Itu hak azasi setiap orang. Saya pun memiliki kriteria, namun sedapat mungkin kriteria tersebut tidak membelenggu dan menyulitkan dalam mencari jodoh. Sayangnya, yang terjadi pada sebagian orang, kriteria tersebut betul-betul menjadi belenggu, karena kriteria yang ditentukan terlalu sempurna dan jodoh yang diinginkan harus memenuhi kriteria tersebut. Jika Anda merupakan salah satu dari orang tersebut, yakinlah proses pencarian jodoh Anda akan sangat sulit. Salah seorang kawan saya pernah mengatakan, “pasangan sempurna bagi kita itu ada 2 orang, satu orang meninggal saat kita dilahirkan, dan satu orang lagi  dilahirkan saat kita meninggal“. Saya tidak tahu dia mendapatkan quote tersebut dari siapa, tapi sangat jelas kebenaran kata-katanya.

Selain kriteria, masalah lain yang mengganggu saya adalah dari usaha dan proses yang dilakukan. Dalam generasi saat ini, tertanam sebuah pemikiran bahwa proses perjodohan -di mana sebuah pasangan dijodohkan oleh orang tua mereka- itu sudah sangat ketinggalan zaman. Kuno. Primitif. Melanggar HAM. Siti Nurbaya adalah simbol negatifnya proses perjodohan tersebut. Padahal, jika pun ada, Siti Nurbaya hanya setitik di antara seluruh proses perjodohan yang hasilnya merupakan orang-orang generasi sekarang. Anda mungkin perlu sesekali bertanya pada orang tua atau kakek-nenek Anda, bagaimana proses mereka bertemu dan menikah? Dijodohkan? Mencari sendiri?

Orang-orang masa kini merasa harga dirinya jatuh, jika untuk masalah jodoh saja masih dicarikan atau dijodohkan. Mereka merasa sangat yakin dengan kemampuannya untuk mencari jodoh sendiri. Percaya diri boleh saja, tapi terlalu percaya diri bisa mengantarkan pada kesombongan. Dengan kesombongan itu, mereka kemudian mulai menganggap bahwa dijodohkan adalah tabu. Dicarikan jodoh adalah hina. Lalu ‘pintu-pintu’ tersebut mereka tutup sama sekali, padahal bisa jadi, calon jodoh terdekat atau terbaik berasal dari pintu itu. Hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan serta tahun-tahun selanjutnya, mereka masih mengeluh susahnya mendapatkan jodoh. Dijodohkan tak mau, mencari sendiri tak menghasilkan. Selamat!

Saya pun pernah berada dalam kondisi tersebut. Merasa mampu mendapatkan jodoh sendiri, namun tak menghasilkan sama sekali, sampai merasa putus asa dan kehilangan kepercayaan diri. Proses perenungan yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk … kompromi. Saya tidak memiliki masalah dengan kriteria, karena pada dasarnya kriteria yang saya tentukan fleksibel, meskipun ada poin-poin yang wajib dipenuhi, tapi tidak menyulitkan karena sifatnya umum saja dan fungsinya untuk memudahkan pada saat penyeleksian yang pada akhirnya terjadi secara alami. Dalam kasus saya, wanita berjilbab adalah salah satu poin yang harus dipenuhi, sehingga sadar atau tidak sadar, saya benar-benar tidak pernah tertarik untuk ‘mengejar’ wanita yang tidak berjilbab.

Kriteria tidak bermasalah, maka yang menjadi perhatian saya adalah usaha dan proses. Akhirnya, saya mulai membuka diri terhadap usaha orang tua mencarikan jodoh buat saya. Saya memberanikan diri untuk minta dicarikan jodoh pada teman-teman saya. Saya juga ingat dengan nasihat-nasihat lain dari kawan atau dari ceramah-ceramah, silaturahim alias gaul!

Seorang kawan pernah menasihati saya. Kenali banyak lawan jenis tapi jangan terlalu cepat apalagi  langsung menaruh hati pada mereka, karena saat hati mulai terlibat, segalanya akan menjadi mulai sulit. Kenali, tapi tidak terlalu dekat, tidak juga terlalu berjarak. Dalam proses tersebut, usahakan tidak terlalu dibebani oleh masalah-masalah jodoh tersebut. Bersenang-senanglah! Itu menurut kawan saya. Mohon tidak disalahpahami, bersenang-senang di sini bukan dalam arti negatif seperti playboy, tapi lebih ke diri sendiri dalam menikmati proses tersebut yang dilakukan dengan kesabaran, tidak terburu-buru. Meskipun sebetulnya hal ini lebih ‘mudah’ dilakukan oleh laki-laki daripada oleh perempuan.

Itulah yang saya lakukan kemudian. Membuka pintu-pintu datangnya jodoh tersebut. Mencoba untuk lebih rendah hati dengan menyadari kelemahan-kelemahan yang saya miliki. Apa yang terjadi kemudian cukup menarik. Orang tua saya, misalnya, diam-diam berusaha menjodohkan saya dengan beberapa perempuan yang merupakan anak dari teman atau tetangga. Beberapa teman saya menawari juga beberapa orang yang mereka pilihkan. Lucunya, saya menjatuhkan pilihan pada istri saya sekarang, yang merupakan proses pencarian sendiri.

Masalah lain barangkali definisi jodoh itu sendiri. Bagi saya, jodoh adalah istri, bukan pacar. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap proses pencarian jodoh tersebut. Sehingga, yang saya cari adalah seseorang untuk dijadikan istri, dan yang saya siapkan sesungguhnya adalah mental untuk menjadi suami. Oleh sebab itu, proses pernikahan saya termasuk cepat dan terkesan mendadak, bahkan bagi orang tua saya. Akan tetapi, proses pembentukan mental menjadi suami itulah yang sudah lama saya bangun, bahkan sejak masih SMA.

Dalam pengambilan keputusan menikah, tentu bukan tanpa keraguan. Akan tetapi, yang saya lakukan adalah mengupayakan agar keyakinan saya tidak sampai diambil alih oleh keraguan saya. Saya mempercayai bahwa pernikahan adalah ibadah, maka saya yakin Allah akan membimbing. Saya tahu bahwa -saat itu- calon istri saya adalah seseorang yang baik, dilihat dari sikapnya, harapan-harapannya, orang-orang di sekitarnya, maka saya yakin bahwa kami bisa membangun sebuah keluarga yang baik. Saya tahu calon istri saya pasti memiliki kekurangan yang setelah menikah baru akan terungkap, tapi siapa yang tidak memilikinya? Oleh sebab itu, saya merasa mantap untuk melangkah dan mengikis keraguan-keraguan itu sampai sekecil mungkin. Dan di titik takdir ini lah saya sekarang, sebagai seorang suami, seorang ayah, masih dalam proses membangun keluarga yang barokah. Bagaimana dengan Anda?

(itu kalimat terakhir ngeledek banget sih, mudah-mudahan gak ada yang doa’in keburukan buat saya. heu heu.)


Berdo’a, di Media Sosial?

Media-media sosial semacam Facebook dan Twitter memang telah mengubah perilaku penggunanya, dari apa yang biasanya dilakukan di dunia nyata (offline). Kadang -atau sering(?)- terjadi, di dunia maya sudah tidak jelas lagi batasan apakah sesuatu itu lazim bagi publik atau tidak. Bertengkar dan disaksikan ratusan orang, di dunia nyata, mungkin hanya terjadi pada kegiatan debat terbuka. Akan tetapi, di media sosial, semua orang bisa menjadi pelaku … sekaligus ‘penonton’ dan komentator. Memang tidak semua orang juga melakukannya, penekanan saya ada pada kata “bisa”. Sebab, tidak semua orang benar-benar bisa berdebat di dunia nyata. Saya, misalnya, cenderung tidak nyaman berdebat langsung berhadap-hadapan dengan lawan debat dan lebih suka menghindari perdebatan, tapi di dunia maya, saya bisa melakukannya, meskipun belakangan mulai saya kurangi.

Saya sendiri, ketika membaca sebuah ‘kicauan’ di Twitter, sering membayangkan apa yang dituliskan tersebut, diucapkan di dunia nyata. Sebab, saya memposisikan Twitter dan Facebook seperti sebuah forum terbuka atau bahkan … warung kopi :p. Skenarionya sederhana saja. Saat seseorang menulis sebuah kicauan: “duh, lapar, pengen ayam bakar“. Jika kalimat tersebut diucapkan di tengah sebuah kumpulan manusia di warung kopi atau bahkan di tempat nongkrong, masih terdengar lazim, orang lain mungkin akan menimpali, “sama, gue juga“, yang lain mungkin akan ikut juga menimpali, “cari makan, yuk?“.

Bahkan, ketika seseorang melakukan kultwit sekalipun, masih dapat diterima dan lazim terjadi. Anggap saja sebuah kelompok diskusi, di mana salah seorang menjadi pembicaranya. Apa itu kultwit? Kultwit -atau Kuliah Twit(ter)- biasanya merujuk pada kicauan di twitter yang membahas suatu masalah dan sengaja dibuat berseri atau dipecah oleh penulisnya, karena keterbatasan karakter di twitter yang hanya bisa 140 karakter sekali kicau. Bayangkan tulisan ini dipecah per kalimat untuk dijadikan kicauan di twitter … itulah kultwit.

Sekarang bayangkan jika seseorang menulis seperti ini: “sedang pipis, lega sekali rasanya“. Pernahkah terjadi seseorang mengatakan itu di tengah sebuah kelompok? saat sedang pipis? tidak pernah terjadi, kan? Saya sih belum pernah menemukan tulisan seperti itu di Facebook atau Twitter. Beda kasusnya kalau misalkan seseorang menulis, “baru beres pipis” atau “duh, kebelet, kepengen pipis“. Sangat lazim terjadi di dunia nyata.

Kasus lain lagi, misalnya saat sedang berkumpul dengan teman-teman, risih gak sih kita kalau ada pasangan suami-istri bertengkar di tengah-tengah kita? Sama halnya di media sosial. Meskipun rasanya seperti hanya bertengkar berdua saja, tapi kenyataannya banyak orang yang menyaksikan. Sebagianorang akan bertepuk tangan sambil tertawa, sebagian mengelus dada, sebagian lagi tidak ambil pusing atau masa bodoh. Kenyataannya, saya sering menjadi orang yang disebut pertama itu: tepuk tangan dan menertawakan. Jarang-jarang kan ada hiburan suami-istri bertengkar di media sosial? :D Lagipula, yang namanya sedang emosi, baik itu di facebook, di twitter atau pun di dunia nyata, hasilnya hampir sama saja: caci maki, ungkapan kekesalan, galau, amarah … ya, yang begitu-begitu itu lah. Ya, saya juga pernah terjebak menjadi pelaku dalam situasi semacam itu, meskipun sejak awal tidak suka melihat orang yang mengumbar masalah rumah tangganya di media sosial, saya juga pernah melakukannya, dan ternyata memang tidak menyelesaikan masalah. Menambah masalah sih iya, malah akhirnya diolok-olok teman dan dipermalukan. Paling minimal, disindir… seperti saya menyindir mereka yang pernah melakukannya.

Bagaimana dengan status atau kicauan yang berisi do’a? Misal, “semoga Timnas Indonesia juara kali ini“? Iya, ini do’a, hanya redaksinya umum saja, diungkapkan di depan rekan-rekan sekantor yang sedang makan siang bersama pun akan dianggap biasa saja. Bahkan kemudian akan menjadi bahan diskusi seru. Begitu pula dengan do’a seperti ini, “hey, kamu ulang tahun? semoga Allah mempertemukan kamu dengan jodoh terbaik …”. Ini juga lazim terjadi di tengah-tengah kumpulan manusia, bahkan yang tadinya tidak tahu akan menjadi tahu dan akhirnya mendo’akan juga. Begitu pula dengan do’a seperti ini: “hari ini teman saya si Fulan menikah, semoga keluarganya diberkahi …“. Ini juga -rasanya- masih lazim, bagi sebagian orang akan dianggap sebuah informasi.

Lantas, bagaimana dengan do’a seperti ini: “Ya, Allah … mengapa masalah ini terasa begitu sulit? berilah Hamba jalan keluar dari masalah ini…”. Atau, “Ya Allah, berilah hamba jodoh terbaik yang Engkau pilihkan untukku“. Serius, pernahkah Anda menemukan orang yang berdo’a seperti itu di tengah-tengah sebuah kerumunan manusia? Saya belum pernah. Kalau pun ada yang melakukannya, paling di dalam hati. Oleh sebab itu, hal semacam ini tidak lazim terjadi. Jika di dunia nyata saja langka terjadi, mestinya di media sosial pun berlaku hal yang sama. Apalagi, do’a semacam itu bersifat sangat personal. Do’a yang bersifat personal seperti itu, mestinya tidak keluar dari wilayah personal juga, apalagi dalam redaksi do’anya, memanggil (mention, dalam twitter) nama Allah. Ini yang saya sebut dengan salah tempat. Meskipun Allah Maha Mengetahui isi hati seluruh manusia, Twitter dan Facebook, bukan media yang tepat. Media sosial pada dasarnya hanya diciptakan untuk berkomunikasi dengan manusia.  Bukankah ada adab berdo’a? Saya sendiri sering tidak yakin, do’a seperti itu, yang dilakukan di media sosial, sungguh-sungguh sebuah do’a atau hanya sebuah pamer masalah dan penderitaan? Sedang bersungguh-sungguh, atau dilakukan sambil lalu? Sedang tengkurep atau sambil jalan kaki? Hanya si penulis saja yang tahu. Memang, segalanya tergantung pada niat. Justru, kalau tergantung niat, bukankah sebaiknya do’a tersebut cukup diketahui diri sendiri dan Allah saja? Haruskah orang lain tahu dengan do’a kita yang sangat personal tersebut? Mengapa tidak sekalian dilakukan sungguh-sungguh, dengan adab yang benar, daripada dituliskan sebagai sebuah kicauan di twitter atau status di facebook? Saya khawatir, jangan-jangan do’a tersebut hanya berhenti sampai ke server saja karena dilakukan secara sambil lalu. Sederhana saja, orang yang berdo’a secara sungguh-sungguh, secara khusyu, dengan adab yang benar, mungkin tidak akan pernah terpikir -apalagi sempat- untuk menuliskan do’a-do’a tersebut ke dalam Twitter atau Facebook.


Harmoni

Terus terang saja, saya termasuk terlambat mengetahui sebuah program musik di SCTV yang menurut saya luar biasa. Harmoni, nama program tersebut, tayang setiap tanggal 20, satu bulan sekali. Sebelumnya, saya sempat menonton acara itu, tapi hanya sekilas saja. Belakangan saya tahu nama program tersebut, setelah timeline di twitter saya selalu ramai membicarakan Harmoni setiap tanggal 20.

Saya pertama kali menontonnya saat Audy dan beberapa artis lainnya membawakan lagu-lagu ciptaan Dewiq. Saya pikir, saat itu, acara tersebut merupakan sebuah tribute untuk Dewiq, khusus untuk Dewiq saja, karena memang lagu-lagu ciptaan Dewiq termasuk lagu-lagu dengan kualitas bagus, meskipun tidak semua lagu ciptaannya saya suka. Subyektif, soal selera. Maka, wajar jika ada acara khusus digelar untuk menghargai Dewiq. Belakangan, saya tahu acara tersebut berjudul Harmoni, dan tidak hanya membawakan lagu-lagu ciptaan Dewiq. Malahan sangat beragam: rock, pop, r&B,rapp, dll.

Harmoni ‘diasuh’ oleh Andi Rianto, dengan dukungan Magenta Orchestra. Andi Rianto bukan nama sembarangan. Dia merupakan lulusan Berklee College of Music, Boston jurusan Film Scoring, lulus dengan predikat cum laude, dan mengantarkannya mengenyam pengalaman sebagai asisten profesor di tempat studinya tersebut. Di Indonesia, Andi Rianto dipercaya untuk menggarap score film-film layar lebar, sesuai dengan bidang studinya tersebut. Salah satu album yang pernah digarap adalah OST Badai Pasti Berlalu (2007), yang merupakan cover album dari album dengan judul yang sama, setelah sebelumnya Erwin Gutawa melakukan remake pada tahun 1999. Keduanya merupakan karya-karya yang patut diacungi jempol.

Musisi yang terlibat dalam program Harmoni juga bukan nama-nama sembarangan. Dua nama yang paling saya kenal adalah Edi Kemput dan Ronald. Edi Kemput adalah gitaris Grass Rock, group yang pernah berkibar di awal tahun 90-an, sekaligus seorang session player untuk mendukung album beberapa orang artis, antara lain: Chrisye dan Iwan Fals, dan tentunya di berbagai konser. Sementara Ronald merupakan mantan drumer GIGI dan DR.PM, juga pernah terlibat mendukung album Nicky Astria dan Chrisye. Gebukan drum Ronald juga pernah mewarnai beberapa lagu Dewa 19. Keduanya, Edi Kemput dan Ronald, juga terlibat dalam penggarapan album Badai Pasti Berlalu versi Erwin Gutawa.

Konsep musik orchestra yang digunakan menjanjikan beberapa hal: indah, elegan, megah. Lebih dari itu, Harmoni seringkali menampilkan berbagai kejutan yang dapat membuat penonton -pada akhirnya- terkagum-kagum. Misalnya: saat Tantri ‘Kotak’, seorang rocker wanita, yang ‘dipaksa’ tampil sangat feminim, atau saat mengaransemen ulang lagu ‘Lupa-Lupa Ingat’ dari Kuburan Band menjadi sebuah lagu yang luar biasa. Di saat lain, musik orchestra dan pop dikolaborasikan dengan pantomim. Vina Panduwinata sampai ‘dikerjai’ dengan menyanyikan lagu yang saat ini sedang populer, C-I-N-T-A dari D’Bagindas. Juga ada unsur humor, seperti ketika menampilkan Wawan, vokalis band parodi Teamlo, yang berhasil menghibur dan membuat tertawa penonton dengan menyanyikan lagu-lagu dari Chrisye dan Iwan Fals, dengan gaya seperti mereka.

Saya kemudian mulai membayangkan lagu-lagu yang ingin saya dengar dan diaransemen ulang oleh Andi Rianto dalam acara Harmoni. Ternyata, ada banyak lagu, meskipun sebagian besar lagu yang saya ingat merupakan lagu-lagu yang cukup lawas.

Beberapa lagu yang -sepertinya- akan menjadi luar biasa di antaranya: Gerangan Cinta (Java Jive), Damainya Cinta, Terbang dan Nirwana (GIGI), Buku Ini Aku Pinjam (Iwan Fals), Satu Kata (Adegan). Bahkan saya membayangkan lagu ‘Sekedar Bertanya’ (Dina Mariana), juga lagu-lagu Benyamin S. Tentu saya tidak lupa dengan lagu ‘Tentang Kita’ dan ‘Semoga’ dari Kla Project. Masih banyak lagi yang saya bayangkan. Hey, saya tidak tua kok, hanya soal selera musik saja yang ‘ketinggalan’. He he.

Kehadiran Harmoni ini membuktikan satu hal: pada dasarnya setiap lagu itu berpotensi menjadi lagu bagus jika digarap dengan benar, dan kita merindukan musik berkualitas yang sekarang mulai redup digilas kepentingan industri. Kualitas yang saya maksud adalah: aransemen yang baik, ditunjang dengan skill musisi yang baik, lirik lagu yang bagus dan berpotensi ‘abadi’. Enak didengar saja tidak cukup, sebab lagu enak seringkali jadi sangat membosankan. Dalam bidang apa pun memang akan selalu terjadi benturan antara idealisme dan pragmatisme. Banyak musisi yang bagus, tapi tidak disukai industri musik karena tidak menjanjikan keuntungan. Pada saat yang sama, muncul musisi yang biasa saja, tapi berpihak pada kepentingan bisnis perusahaan rekaman, yang artinya: menguntungkan.

Kenyataannya, program Harmoni juga tidak lepas dari benturan tersebut. Kita bisa melihat dari jam tayang acara tersebut, yang ditempatkan menjelang tengah malam, setelah ‘mengalah’ pada sinetron. Selain itu, durasi iklan yang nyaris sama bahkan lebih lama dari waktu tayang acara tersebut. Tentu saja, hal tersebut bukan tanpa alasan. Sinetron -pastinya- dinilai lebih menguntungkan bagi stasiun televisi tersebut jika dibandingkan dengan Harmoni, dan deretan iklan yang saya rasa terlalu panjang tersebut, sudah jelas ‘menyumbang’ pundi rupiah yang tidak sedikit. Bandingkan juga dengan acara musik lainnya seperti ‘Dahsyat’ dan ‘Inbox’ yang cenderung menampilkan lagu secara minus one. Meskipun, kalau bagi saya, jam-jam menjelang tengah malam justru waktu terbaik untuk menontonnya, karena seisi rumah sudah tidur, tinggal saya sendiri menguasai televisi. Haha.

Namun, kita masih harus bersyukur karena masih ada itikad baik untuk membuat acara yang berkelas. Semoga saja kehadiran Harmoni dapat ‘membuka mata’ penyedia ‘layanan tontonan’ untuk dapat menyajikan musik-musik yang lebih berkualitas dan beragam.

Catatan:

Gambar Andi Rianto diambil tanpa ijin dari http://andirianto.com

Gambar Ronald diambil tanpa ijin dari sini


Prosedur Memanusiakan Manusia

Kehidupan masa kini, rasa-rasanya, semakin dibikin rumit dari waktu ke waktu. Karena dibikin rumit, manusia seperti kehilangan selera humor. Barangkali lebih parah, nuraninya mati. Gara-gara kentut, orang bisa dipenjara. Gara-gara memungut kakao yang jatuh, sebuah perusahaan menuntut seorang nenek ke pengadilan. Segalanya dibuat harus prosedural.

Lucunya, semakin prosedural suatu sistem, seringkali jadi bikin rumit. Acara open house presiden misalnya. Orang miskin mustahil bisa masuk apalagi bertemu sang presiden, karena untuk menghadiri acara semacam itu, seseorang harus berpenampilan sesuai prosedur. Harus memakai kemeja, harus memakai sepatu, dan lain-lain. Ironinya, presiden tersebut dipilih juga oleh mereka yang kesehariannya bersendal jepit dan berkaos oblong. Bayangkan, hal tersebut terjadi di sebuah negara yang memiliki falsafah ‘Bhinneka Tunggal Ika‘ dan sangat gemar meneriakkan demokrasi, toleransi, pluralisme, dan anti-diskriminasi. Lucu, bukan?!

Seorang yang menjadi korban kecelakaan, misalnya tertabrak mobil, tidak bisa langsung mendapatkan perawatan dari rumah sakit, meskipun sekarat, jika tidak ada orang lain yang bertanggung jawab dan menanggung biaya perawatan. Padahal, bisa jadi orang tersebut hidup seorang diri, atau keluarganya jauh. Mungkin perawat dan dokter ingin menolong, tapi prosedur melarang. Di sisi lain mereka pun belum tentu sanggup menanggung biaya sang korban. Prosedural, tapi amoral.

Lalu, bukankah cerita korupsi di negeri ini juga bermula karena segala sesuatunya harus prosedural?! Bukannya anti-prosedur, tapi sebuah prosedur semestinya tidak menghalangi seseorang untuk bersikap sebagai manusia. Atau barangkali lebih baik jika suatu prosedur dibuat untuk memanusiakan manusia. Misalnya, jika Anda sebagai seorang Lurah, Anda tidak layak menyalahkan seseorang yang tidak mau membuat KTP karena penghasilan orang tersebut setiap bulannya belum tentu mencukupi untuk kebutuhan makan sehari-hari, sementara proses pembuatan KTP di kelurahan yang Anda pimpin bisa mencapai harga setengah dari penghasilan orang tersebut. Justru tugas Anda lah -sebagai lurah- untuk membuatkan KTP bagi orang tersebut. Meskipun menyalahi prosedur.

Sebuah prosedur dibuat pada dasarnya untuk memudahkan, bukan menyulitkan. Agar suatu proses dilakukan secara bertahap, teratur serta ‘adil’. Akan tetapi, manusia sebagai unsur terpenting dari suatu proses yang dilakukan secara prosedural, seringkali dilupakan. Kondisi manusia yang berbeda-beda sering menjadi unsur penyebab suatu prosedur tidak berjalan sempurna. Sayangnya, penyusun prosedur, yang juga manusia, selalu melupakan hal ini.

Contoh sebuah prosedur yang baik, yang dapat kita temukan adalah prosedur shalat. Normalnya, shalat wajib dilakukan dengan berdiri. Akan tetapi, prosedur normal itu boleh dan malah dianjurkan untuk dilanggar jika seseorang dalam kondisi sakit, atau tidak mampu untuk melakukan shalat. Misalnya sambil duduk. Jika tidak mampu duduk, boleh berbaring. Anda juga boleh bertayammum dalam keadaan sakit atau dalam situasi tidak ada air sama sekali. Justru ketika seseorang tidak mampu, tapi memaksakan diri, maka orang tersebut wajib untuk diberi peringatan.

Prosedur semacam itu, terus terang saja, sulit ditemukan. Entah dengan sekarang, tapi bertahun-tahun lalu kita sering menemukan seorang anak yang berhenti sekolah gara-gara belum membayar uang bulanan sekolah. Itu terjadi di sekolah, lembaga yang bidang utamanya mengajar dan mendidik manusia. Maka, tidak mengherankan jika dari sekolah tersebut menghasilkan manusia-manusia yang ‘kejam’, tapi dibenarkan oleh prosedur.

Komputer dan robot adalah contoh benda-benda yang bisa melakukan segalanya sesuai prosedur, dan harus sesuai prosedur, karena keduanya diciptakan untuk itu. Maka, jika manusia dituntut harus selalu melakukan segalanya sesuai prosedur dan tidak boleh sedikitpun keluar dari prosedur tersebut, bukankah itu sebuah cara untuk menjadikan manusia sebagai benda?! Yakin, siapa pun tidak ingin hal tersebut terjadi.